Pelukan Wanita Lain

1343 Words
Dua kaki jenjang beralaskan sepatu hak tinggi berwarna putih serta dihiasi berlian, bergerak perlahan di atas karpet berwarna serupa. Di atas karpet tersebut, bertaburan kelopak-kelopak bunga mawar merah dan putih yang di atur dengan pola zig zag melengkung. Seorang gadis bergaun sutra yang dipercantik dengan aksen brokat serta train panjang, menatap penuh binar kebahagian pada sosok laki-laki jangkung yang berdiri di depan sana menantinya, dari balik kerudung transparan yang mengurung wajah anggunnya.  Para tamu undangan yang menghadiri pesta pernikahan, sukses dibikin tak mengedip saking terpanannya akan kecantikan sosok mempelai perempuan. Sementara mereka tak mengetahui betapa gugupnya saat ini, gadis yang mereka tatapi. Bahkan buket bunga cascade—yang tersusun dari bunga mawar putis serta anggrek berwarna senada menyerupai air terjun—digenggam sangat erat olehnya sebagai pengalih kegugupan. Thalia akhirnya sampai di hadapan sosok yang mulai hari ini tidak lagi berstatus sebagai kekasihnya, melainkan naik pangkat menjadi suami. Kedua manik dari anak adam dan hawa bertemu, memancarkan kehangatan. Lantunan janji-janji pernikahan lantas keduanya ucapkan di altar pernikahan yang di dekorasi dengan selendang chiffon warna merah muda serta rangkaian bunga mawar berwarna senada, di tambah lampion-lampion kecil. Menambah kesan romantisme serta keteguhan dari prosesi yang tengah berlangsung. Cincin emas bermahkotakan berlian, saling tersemat di jari manis tangan kanan masing-masing. Sorakan tepuk tangan pengiring euforia pun terdengar dari berbagai sudut. Tidak lupa dengan celetukan-celetukan yang sukses bikin Thalia memerah setelahnya. “Ayo, Jared. Tunggu apa lagi, Thalia istrimu sekarang.” “Hei, jangan buat kami menunggu.” “Astaga, kamu lama sekali, Jared. Tidak ingin ku wakilkan bukan?” Jared terkekeh tanpa suara, manis sekali. Ketika tatapan si laki-laki yang kini sah menjadi suaminya, berubah semakin intens. Thalia praktis mengigiti bibir bagian dalamnya. Jantungnya berdentum-dentum tak karuan, apa lagi setelah Jared menyingkap kerudung transparan Thalia. Si gadis menyusuri setiap lekuk wajah yang kian mendekat, dari mata gelap Jared, hidungnya yang lancip, lalu berakhir pada bibir tebalnya. Kedua telapak tangan lebar Jared menangkup lembut pipi Thalia. Kemudian begitu saja, sepasang belah bibir berbagi kehangatan. Thalia memejamkan mata. Meresapi sensasi ini dan menyimpannya baik-baik dalam bagian memori terindah yang pernah dia miliki. Ia bahkan sudah melupakan seluruh rasa malu yang sempat mendera. Hanya harapan yang tersisa dalam benaknya. Berharap awal yang bahagia ini, mampu bertahan lama. Detik ini, babak kehidupan barunya baru saja di mulai.   *   “Selamat atas pernikahannya, Thalia. Paman harap kalian berdua bisa langgeng.” Thalia menyambut jabatan tangan salah satu kolega ayahnya dengan ramah. “Terima kasih, Paman.” Pria paruh baya itu beralih pada Jared, menepuk pundak suaminya lalu mencondongkan kepala ke arah telinga Jared. Membisikan sesuatu. Jared meliriknya sekilas, lalu kekehan kecilnya tercipta. Begitu sosok itu menjauh, Thalia mengungkap rasa penasarannya akan apa yang mereka bicarakan. “Paman itu bilang apa?” Jared mengerling. “Dia berbisik. Tandanya cuma aku yang boleh tahu.” Thalia seketika memberengut tak suka. “Nggak ada rahasia antara suami dan istri, Jared.” Jared tertawa tanpa suara, mengelus kepala Thalia. “Bener ingin tahu?” Thalia mendesah pendek. Memandang si laki-laki dengan tatapan penuh penuntutan. Sikap Jared yang seperti ini justru membuatnya semakin penasaran. Jared menyeringai, mendekatkan belah bibirnya ke telinga Thalia yang digelayuti batu intan. “Paman tadi berbagi tips-tips untuk seorang suami di malam pertama.” Udara yang berembus dari rongga mulut Jared, menyapa bulu-bulu halus Thalia di sekitaran leher. Sukses bikin ia merinding. Apa lagi dengan kalimat yang baru saja si laki-laki ucapkan, pipi si gadis langsung memerah serupa kepiting rebus. Refleks Thalia mendorong d**a Jared menjauhinya, sedangkan pria itu kini tertawa. Rupa-rupanya puas sekali karena berhasil menggoda istrinya. “Kamu semakin cantik kalau memerah begini, Sayang.” Jared membelai pipi Thalia. “Kalau tahu begini, aku akan lebih sering menggodamu.” Thalia mendelik. “Jangan macam-macam.” Kedua alis Jared terangkat nakal. “Kenapa nggak boleh macam-macam, aku ‘kan suamimu sekarang.” Thalia mencubit perut Jared memintanya berhenti. Namun alih-alih menurut, Jared justru semakin gencar menggodannya dengan berteriak kesakitan. “Aaaw, sakit, Sayang. Baru beberapa jam menikah, kamu udah KDRT-in aku. Ini pelanggaran undang-undang, loh. Kamu bisa dipenjara. Tapi karena kamu istriku, masuk penjaranya di penjara hati suamimu aja, ya?” “Jared...,” bisik Thalia memperingati. “Iya, Sayang.” Jared menyahut dengan suara yang begitu halus nan lembut. Thalia memberengut, membuang muka ke arah lain. Tidak mengerti sejak kapan laki-laki itu bisa begitu menggelikan seperti sekarang, tetapi Thalia jelas menyukainya dan Jared mengetahui itu. “Sayang, ngadep sini, dong. Jangan buang muka gitu, nanti tamu ngiranya aku ngapa-ngapin kamu lagi.” Jared mencolek-colek lengannya. Thalia mengembuskan napas, berupaya menahan senyum serta berpura-pura jengkel. Ketika dia menoleh ke arah si laki-laki, secepat kilat sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Thalia membeku, syok akan getaran yang hinggap dalam hitunga detik itu. “Jangan ngambek lagi, ya, ‘kan udah aku cium.” Astaga. Pastilah banyak pasang mata yang menangkap tindakan Jared barusan. Thalia super malu, tetapi dia juga suka. Thalia harus bagaimana?! “Ehm.” Thalia tersentak mendengar dehaman serak seseorang. Memalingkan wajah menuju sumber suara, Thalia menemukan ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka, bersama seorang wanita paruh baya di sisinya. Itu Ratih, ibu tiri Thalia. Mereka berdua sama-sama memasang wajah polos, lalu ia menelisik raut muka putrinya. “Kamu apain aja anak saya sampai mukanya merah begini, Jared.” Bola mata Thalia memelotot, ia semakin malu. Semerah itukah? Jared menggaruk belakang kepalanya tak gatal. “Biasa, Om, Tante. Thalianya malu-malu kucing.” “Ayah, Jared. Panggil saya ayah sekarang. Kamu ‘kan sudah sah menjadi suami anak saya, itu artinya sekarang kamu juga anak saya.” “Dan panggil saya, Mama.” Ratih menambahkan, menunjukkan senyum serta tatapan keibuan. “Eh, iya, Ayah, Ma.” Jati menepuk bahu Jared sekali, lantas menarik kedua pengantin untuk ia perkenalkan kepada rekan-rekan bisnis serta eksekutif-eksekutif di bawah Tumenggung Group. Beberapa sudah ada yang Thalia kenal, beberapa lagi tidak. Selama itu pula, pikiran Thalia tak benar-benar fokus. Sebagian dari dirinya mengawang-awang. Kembali meratapi ketidakhadiran ibu kandungnya, di tengah-tengah euforia serta momen penting dalam hidupnya ini. Kesenduan tersebut terperangkap dalam lensa Jared. Ia mendekap bahu gadisnya, bertanya dalam aksen lembut. “Kenapa?” “Nggak. Aku cuma ngerasa kalau semua ini akan lebih sempurna kalau ada Bunda di sini.” Senyuman Jared terukir manis sekali. Ia mempererat dekapan di bahu Thalia. Melempar pandangan ke depan. “Bundamu ada di sini, Sayang. Hanya saja kita nggak bisa melihat beliau. Aku tahu, beliau pasti sama bahagianya sama kamu sekarang. Jadi jangan sedih, nanti beliau malah ikutan sedih.” Thalia menatapi side-profile suaminya. Jared benar. Tidak semestinya dia merusak suasana dengan menjadi mellow seperti ini. Apa yang dia rasakan pasti lah tidak sebanding dengan apa yang Jared rasakan. Ia masih beruntung sebab mempunyai ayah serta ibu tiri di sampingnya, sedangkan Jared? Besar di panti asuhan, membuat ia tak tahu menahu soal siapa yang telah membawanya ke dunia ini. “Maaf.” Jared kembali menoleh pada Thalia. Senyum lembutnya betah bertengger di sana. “Kamu nggak perlu meminta maaf, Sayang. Memangnya kamu habis lakuin kesalahan apa?” “Ya, tapi ‘kan—“ “Mau aku cium?” Thalia mendelik, memekik kecil. “Jared!” Jared tanggapi dengan tawa lebar.   *   Thalia mengayun-ngayunkan lengannya, beriringan dengan hitung mundur yang pembawa acara lakukan. Tepat di hitungan terakhir, ia menghempaskan lengannya ke belakang bersamaan dengan terlepasnya buket bunga dari genggaman. Sorak sorai terdengar dari balik punggungnya, buru-buru ia memutar tubuh untuk menemukan siapa si beruntung yang berhasil menangkap lemparan buket bunga pengantin yang selalu menjadi incaran banyak insan ketika menghadiri pesta pernikahan seseorang. Seorang gadis dengan dress yang pas di lekuk tubuhnya yang semampai, meloncat-loncat kecil sembari memegang buket bunga yang Thalia lempar. Thalia tak mengenal siapa dia, barangkali tamu Jared, ayahnya, atau ibu tirinya. Namun menyaksikan betapa girangnya sosok itu, tak pelak menularkan senyum padanya. Kemudian detik berikutnya, sosok itu mengarahkan pandangan ke arah dirinya dan Jared berdiri. Berlari kecil mendekati mereka, dan apa yang terjadi selanjutnya sukses membuat Thalia terperanjat.  Bagaimana tidak?! Perempuan itu memeluk erat suaminya di depan mata kepalanya sendiri! Lebih-lebih penuturan si perempuan berikutnya, telak memanaskan wajah Thalia. “I got it, Babe.”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD