Thalia memaksakan senyum pada tamu undangan yang terakhir. Memastikan senyum itu terlihat setulus mungkin. Tidak seperti isi hatinya yang berkecamuk serta isi kepala yang berantakan. Selama berjam-jam dia telah menahan gejolak emosi yang mendadak membumbung tepat di detik pertama seorang perempuan asing memeluk suaminya. Kini akhirnya Thalia bisa melampiaskannya lewat remasan botol, lalu melemparnya ke sembarang arah. Naas botol tersebut mendarat di tempat yang tak tepat—atau malah sangat tepat.
“Sayang, kamu masih marah?” Jared mengikis jarak antara dirinya dengan sang istri, sembari membuang botol plastik yang tadi sempat mengenai pundaknya. “Jangan buang sampah sembarangan. Cuma mereka yang nggak terdidik yang buang sampah sembarangan. Kamu bukan bagian dari mereka ‘kan?”
Thalia mendengkus, menjauhkan diri dari Jared sebanyak lima langkah. “Terus anak yang terdidik itu anak yang meluk cewek lain dan dipanggil babe di pesta pernikahannya sendiri?”
Jared mengembuskan napas panjang, menarik tungkai kaki satu langkah mendekati Thalia. Namun sebanyak itu pula si gadis kembali menjauhinya. Mereka terus melakukan aksi dekati-jauhi, sampai akhirnya Thalia terhenti lantaran dinding yang menjulang di belakangnya. Jared kembali mengambil kesempatan, tetapi Thalia sigap mempringati agar Jared tidak melangkah mendekat lagi. “Berhenti di sana, Jared. Untuk sekarang aku nggak mau berada dalam radius satu meter sama kamu, harus lebih.”
Jared menghela napas, memilih menuruti permintaan sang istri. “Aku sudah jelasin sama kamu bukan? Aku dan Ella nggak ada hubungan apa pun. Dia cuma sekretarisku, dan kami memang dekat dalam artian pertemanan. Ella memang seekspresi itu orangnya, di tambah dia tergerus budaya barat. Jadi dia mudah memeluk orang ketika dia pikir itu wajar aja.”
Thalia memutar bola mata hiperbolis. Dia sudah mendengar penjelasan itu tadi saat setelah pelukan antara Jared dan perempuan bernama Ella terlepas. Jared segera menjelaskan apa yang terjadi waktu menyadari bagaimana banyak pasang mata yang terperanjat menyaksikan adegan di depannya. Ella pun juga turut meminta maaf. Beberapa ada yang percaya, meski Thalia tahu pasti kebanyakan yang tidak. Namun mereka memilih tutup mulut. Thalia pun memilih percaya sejenak, supaya pestanya tak hancur. Masalah seperti ini harus dia selesaikan tanpa mengundang keributan. “Jadi, baginya wajar meluk suami orang di pesta pernikahannya dan manggil babe?”
“Kayak yang aku bilang, Sayang. Ella memanggil babe semua orang.”
“Bahkan ke atasannya?”
“Aku memang atasannya di kantor, tapi di luar itu? Nggak ada status atasan dan bawahan yang berlaku.”
Thalia membuang muka, tak ingin menatap wajah Jared yang memelas. Sebenarnya sebagian besar dari dalam dirinya memercai penjelasan Jared. Dia mengenal Jared sudah dua tahun lamanya, jadi ia yakin kalau Jared tak akan menghianatinya. Namun di sisi lain, hatinya masih memanas membayangkan adegan pelukan tadi. “Sayang, kamu percaya sama aku ‘kan?” Tahu-tahu Jared sudah berdiri di hadapannya. Thalia pun tak menolak kala Jared mengelus rambutnya.
“Kunci dari pernikahan itu kepercayaan, Sayang.” Kepala Thalia dan Jared praktis tertoleh menuju suara wanita yang baru saja terdengar, di saat berbarengan. Di sana Ratih bersama Jati berjalan mendekati pengantin baru itu.
“Nggak ada satu pun pernikahan yang bisa beridiri kokoh kalau pilar kepercayaan yang membentuknya cacat, walau cuma satu milimeter.” Ratih menyentuh lembut pundak Thalia. “Mama kenal betul Jared seperti apa jauh sebelum kamu mengenal Jared, Sayang. Jadi Mama yakin kalau Jared nggak akan berbuat begitu. Kalau nanti dia benar-benar terbukti menghianati kamu, Mama sendiri yang akan memenggal kepalanya karena sudah berani-beraninya menyakiti anak Mama ini.” Pada kalimat terakhirnya, Ratih menatap tajam Jared membuat pemuda itu langsung bergidig ngeri.
Thalia menyeringai ke arah Jared. “Sebelum Mama penggal kepalanya, aku pastikan memotong lengannya lebih dulu supaya dia nggak bisa memberontak.”
“Dan sebelum kamu memotong lengannya, Ayah pastikan akan memotong kakinya lebih dulu supaya Jared kita nggak bisa kabur.” Jati menimpali.
“Astaga, sepertinya aku sudah menikahi keluarga psikopat.”
Berikutnya, gelak tawa keempat manusia itu memenuhi ruangan. Ketika tawa terhenti, Jati melemparkan sebuah kunci kepada Jared, yang ditangkap dengan sigap. “Itu kunci rumah kalian. Hadiah pernikahan dari, Ayah. Kalian sudah bisa menempati rumah itu hari ini.”
Thalia serta Jared saling berpandangan sesaat. Mereka jelas bingung, sebab Jati bilang malam pertama mereka harus mereka lewati di kamar VVIP hotel itu, yang telah pria paruh baya itu siapkan. Thalia sendiri pun tak ada niatan untuk pisah rumah dengan ayahnya, inginnya dia tinggal dalam satu rumah saja walau telah menikah. Tetapi kini tiba-tiba Jati memberi mereka kunci rumah.
“Surprise! Kejutan!”
Thalia dan Jared masih melongo tak percaya. Jati terkekeh, mendorong punggung kedua insan tersebut. “Sekarang lebih baik kalian segera pulang, di depan udah ada supir yang bakal nganter kalian ke rumah baru kalian. Kamar yang sudah terlanjur di booking, biar Ayah yang Mama yang nempatin.”
“Tapi, Ya—“ Kata-kata Thalia dipotong Jati.
“Nggak ada tapi-tapian. Cepat sana pulang, jangan istirahat dulu. Ayah pengen cepet-cepet nimang cucu.”
Jati lalu mengisyaratkan pada Jared, agar segera membawa Thalia pergi, yang sigap laki-laki itu turuti. Thalia melambaikan tangan setelahnya, dibarengi teriakan terima kasih. Sesampainya di lobi hotel, sebuah mobil yang dihiasi pita serta karangan bunga pada bagian kapnya, telah menanti pengantin baru itu.
Selama perjalanan menuju rumah mereka, kalimat Jati terus-terusan terngiang-ngiang di kepalanya.
Cucu, ya? Pandangan Thalia turun ke perutnya, sebelah tangannya mengelus perutnya yang datar itu. Ayah memang akan segera punya cucu, Yah.
*
“Kamu hamil?”
Demikianlah respon yang Jared berikan tepat setelah Thalia memberitahukan perihal kehamilannya yang telah berumur satu bulan. Mereka baru saja sampai di rumah megah pemberian Jati. Rumah itu sangat luas, terdiri dari dua lantai, meski masih kosong. Ketika mereka sampai tadi, sudah ada asisten rumah tangga yang menyambut dan mengarahkan keduanya ke kamar mereka. Thalia dan Jared sepakat langsung bertandang ke kamar, tak berkeliling memeriksa sekitar. Mereka terlampau lelah untuk itu. Berjam-jam berdiri menyambut serta meladeni ribuan tamu yang menghadiri pernikahan mereka, sukses membuat betis mereka keram.
Begitu keduanya sampai di kamar yang telah dihias sedemikian rupa untuk pengantin baru, Thalia langsung mengatakan kalau ia hamil anak Jared. Bahkan keduanya belum sempat bersalin pakaian pun duduk. Thalia begitu tak sabar menyaksikan reaksi Jared. Tetapi sayangnya, bukan reaksi seperti ini yang ia harapkan. Nada suara serta ekspresi Jared, lebih terlihat seperti tak menyukai kabar itu.
“Iya. Aku hamil. Anak kamu. Udah satu bulan ini.”
Jared mengerutkan keningnya. “Bagaimana bisa? Kita bahkan—“
“Kita melakukannya Jared. Malam itu,” potong Thalia. Masih berharap bahwa Jared akan sama senangnya dengan dirinya. Namun Jared menggeleng tak percaya.
“Hanya sekali, Thal. Nggak mungkin bisa hanya sekali.”
“Bisa. Buktinya aku hamil.”
“Bisa jadi itu bukan anakku.”
Thalia tercengang, ada sesuatu yang terasa meremas jantungnya saat ini. Perih.