Aksi Carl 2

421 Words

“Oh, akhirnya lo sadar juga,” ujarnya santai sembari memutar kunci di pintu. Thalia menelan ludah susah payah. Situasi ini pelak meningkatkan guncangan pada tubuh si perempuan. Tanpa di komando, cairan bening melaju cepat melintasi pipi. Ia terisak hebat sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Ja-jangan… jangan mendekat,” lirihnya terbata-bata. Ia ingin kabur dari sana, tetapi tak ada ruang untuknya melakukan itu. Tak ada jendela sama sekali, seperti kamar isolasi bagi pasien di rumah sakit jiwa. Pun tak ada benda yang bisa ia gunakan sebagai perlawanan, sebab di sana hanya ada sebuah ranjang. Selain itu, anggota penggeraknya benar-benar terasa kaku, lemas, sulit di gerakan. Senyum itu Thalia temukan lagi di belah bibir Carl. Sama persis dengan apa yang ia lihat di mimpinya. Karenanya, ro

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD