-*-*-*-
Keesokan harinya.
Di tempat yang sama di pagi yang cerah, Geno mengantarkan Gianna.
"We've arrived." Kata Geno begitu mobilnya berhenti di depan gerbang kampus.
"Yeah i see. Thanks, Geno." Gianna melepaskan seatbeltnya dan bersiap keluar.
"Oh, wait! Don't come out yet." Geno menahan Gianna, membuat Gianna menatap heran. Tanpa berbasa-basi lagi, Geno segera keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan pintu mobil di samping Gianna. Meskipun kemeja putih nya ia tutupi dengan jaket jeans hitam. Dengan celana seragam abu putih dan kacamata hitamnya, Geno menjadi sedikit terlihat mencolok jika berada di depan kampus Gianna. Belum lagi dengan gayanya yang saat ini sedang membukakan pintu untuk Gianna dari luar mobilnya. Hal itu membuat kedua mata Gianna melotot lebar.
"Apa-apaan Geno!" Gianna segera keluar dari mobil dan langsung menutup pintu mobil Geno. Kepalanya bahkan tak ketinggalan berubah menjadi CCTV otomatis yang mengawasi sekitarnya.
"Kenapa lo bukain pintu buat gue?!" Protes Gianna menuntut penjelasan.
"Biar buktinya makin kuat, kalo gue beneran sepupu lo yang tiap hari nganterin lo ke kampus." -Jelas Geno membalas dengan tenang. Namun melihat ekspresi tak senang dari wajah Gianna membuat Geno bertanya-tanya.- "Why?" Ucapnya.
"Oh please! OMG! Lo kebanyakan nonton ftv ya? Ngga perlu di bukain pintunya juga kali!" Sembur Gianna dengan suaranya yang amat tertahan karena ia tidak ingin terlihat heboh di pagi hari.
"Terus? Gue harus gimana? Keluar dari mobil, terus berdiri, abis itu lambaikan tangan ke lo sambil bilang. See you again Ji~. Have a nice day~ Begitu? Sekalian aja di tambah. Silahkan datang kembali di lain waktu." Tanya Geno menatap heran pada Gianna yang wajahnya semakin gemas menahan malu.
"Itu lebih menjijikkan sebenernya." Imbuh Gianna dengan bibir menyebik terlihat jijik.
"Si kampr*t." Geno spontan menjitak kening Gianna.
"Aw!" Pekik Gianna kaget.
"Terus mau lo apa?" Pungkas Geno meminta penjelasan.
"Ah ngga tau. Pokoknya gue geli liat lo begitu. Udah bye! Gue mau ke perpustakaan!" Gianna menggeleng kepala nya cepat-cepat dan segera beranjak pergi.
"Heh! Jangan lupa ngumpul sama Ina!" Seru Geno begitu Gianna beranjak meninggalkannya.
"Mereka belum ada yang berangkat!" Balas Gianna ikut berteriak.
"Lah?! Terus ngapain elo berangkat pagi?! Cari mati!?" Sergah Geno berteriak makin keras sementara Gianna masih terus berjalan dengan Geno yang terus berteriak padanya sampai suara Geno tidak begitu terdengar jelas lagi. Gianna tidak peduli. Sudah cukup malu memiliki sepupu yang kelakuannya seperti Geno. Keinginannya hanya satu. Tidak dekat-dekat dengan Geno.
"Tsk! Kebiasaan anak itu. Selalu berangkat pagi walaupun bukan jadwal nya. Hobi sendirian pula." Dumelnya masih menatap Gianna sampai akhirnya Gianna menghilang dari pandangan. Geno kemudian meraih ponsel pintarnya dari saku celananya lalu berjalan ke pintu di samping kemudinya.
"Hai~" Sebuah suara dari seorang gadis tiba-tiba menghentikan langkah Geno, membuat wajahnya langsung menoleh. Geno tersenyum mengetahui penampilan gadis itu terlihat seperti mahasiswa di kampus yang sama dengan Gianna.
"Hi too, beautiful." Dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, Geno menatap lembut mata gadis itu. Gadis yang ditatap sedikit tersipu ketika Geno menyebutnya beautiful, alias cantik.
"Ng ... lo bener sepupunya Dirandra?" Ucapnya bertanya.
"Iya bener. Ada apa ya?" Kata Geno balas bertanya. Bibirnya pun tak ketinggalan memberi senyuman. Gadis itu terasa melambung seisi tubuhnya begitu mendapat respon dan senyuman Geno yang positif seperti itu
"Aah~ suara lo lembut banget sih. Ngga nyangka Dirandra punya sepupu seganteng lo." Seru gadis itu bersuara manja dengan bibir yang tak berhenti tersenyum senang.
"Thank's pujian nya. "Gue juga ngga nyangka Gianna punya teman kampus yang cantiknya sama dengan bidadari surga." Kini Geno memperlihatkan senyum smirk yang semakin membuat bunga di dalam gadis itu bermekaran indah.
"Ah makasih juga pujiannya. Gue kan jadi malu." Ujar gadis itu menahan senyum.
"It's okay. Apa salahnya muji bunga yang memang cantik untuk di pandang?"
Terus dan terus. Ucapan Geno terus membuat hati gadis itu melambung tinggi bak balon yang baru saja terisi oleh gas helium.
"Yaampun, sepupu Gianna sweet banget sih. Astaga, kenapa selama berteman dengan gue di kampus, Dirandra ngga pernah curhat soal sepupu nya? Padahal dia sering banget kalo curhat itu sama gue. Tapi kenapa dia ngga pernah cerita soal elo ya?" Cerocosnya membuat Geno yang menyimak dengan teliti seketika kaget mendengarnya.
"Hah?" Respon itu seketika terlontar begitu saja dari mulut Geno dengan ekspresi tak percaya.
"Iyaa. Padahal dia sering loh konsul sama gue kalo dia ada masalah di kampus." -Dengan pedenya, gadis itu bicara dengan senyuman bangga seakan Gianna benar-benar teman akrabnya.- "Dia juga ngga pernah cerita soal gue kah? Apa dia ngga mau sepupu nya yang ganteng di gebet cewek lain ya?" Mendengar pernyataan bodoh itu, Geno hanya bisa membuang muka dengan senyuman yang tak tertebak. Kemudian kembali berpaling pada gadis itu. Geno mengedikkan bahunya sekilas menanggapi dan tersenyum manis.
"How do i know? I have no idea." -Pandangan Geno yang sebelumnya lembut, tiba-tiba saja berubah, ia menatap mata gadis itu teramat tajam dengan bibir yang datar.- "Atau mungkin aja ... dia takut terjadi sesuatu sama lo, kalo lo kenal gue atau sebaliknya." Gadis itu sejenak terdiam mendengar ucapan Geno yang diikuti tatapan yang tiba-tiba menjadi horror
"Karena seinget gue, sekitar satu atau dua tahun yang lalu, mungkin? Dua atau tiga temannya saat itu yang bermasalah dengan Gianna, masuk rumah sakit karena kenal sama gue."
Glek!
Air liur gadis itu seketika tertelan dengan cepat begitu mendengar kata rumah sakit. Geno kemudian kembali tersenyum.
"Gimana ya? I just want you to know. Jujur aja gue lumayan perhatian kalau soal relasi pertemanan Gianna. Gue juga paling benci, kalo sampai ada yang buat cewek sakit hati. Entah itu dalam sebuah hubungan pertemanan, cinta, bahkan keluarga." Terang Geno masih menatap Gadis itu, yang seketika menjadi bergetar tubuhnya karena mendengar ucapannya.
"Ah iya ... gue lumayan bingung belakangan ini. Gianna keliatannya ada masalah tapi ngga mau curhat sama gue. Tapi ternyata kata lo, dia sering konsul masalahnya sama lo. Syukur deh kalo gitu. Nanti gue tinggal tanya sama Gianna siapa yang udah buat dia sedih kalo perasaannya udah baikan karena sering curhat sama lo. Siapa yang tau kan, kalau orang yang udah buat Gianna sedih butuh tumpangan untuk ke rumah sakit besar? Silahturahmi dengan dokter operasi bedah misalnya? Oh, atau mungkin elo tau siapa yang bikin Gianna sedih belakangan ini?" Tanya Geno retoris kembali tersenyum dengan tambahan memperlihatkan barisan giginya pada gadis di hadapannya yang sudah cukup gemetar ketakutan.
"Yaudah, gue harus pergi. Kayaknya gue udah telat masuk kelas." -Geno kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Namun ia tiba-tiba membuka kaca jendela mobilnya.-"Ah iya satu lagi."
"Belakangan ini gue suka banget nonton film genre Gore dan pembunuhan yang tokoh utamanya psychopath. Kalo lo juga suka, mungkin aja kita bisa nonton bareng. Kebetulan gue ada bioskop langganan yang tempat nya dekat rumah sakit." Jelas Geno mengakhiri dengan senyum manis andalannya. Ia kemudian menutup kaca mobilnya dan segera pergi dari sana.
"Cewek jaman sekarang menyeramkan. Bisa-bisanya ngarang di depan gue. Gue rasa untuk beberapa waktu dia bakal diem dan ngga berulah ke Jian." Gue harus hubungin Kenan."
*
*
*
Sementara Gianna di kampusnya.
"Geno sebenernya habis makan apa? Ngga sehat emang anak itu." Dengan langkah yang terhitung cepat, Gianna berjalan menuju perpustakaan dengan wajah yang tercetak jelas betapa kesal hatinya sekarang. Begitu sampai di perpustakaan, ia tentunya segera menuju tempat dimana buku yang akan ia pelajari materinya berada. Seperti biasanya, setelah mengambil buku yang ia butuhkan, ia akan duduk di lantai dan membaca bukunya sampai waktu kelasnya dimulai. Selang beberapa waktu setelah ia membaca.
Cekrik!
Sebuah suara jepretan dari kamera membuat Gianna spontan menoleh.
"Gue masih belum bisa terbiasa sama suara kamera lo rasanya." Ujar Gianna begitu ia melihat siapa pelaku yang mengambil fotonya diam-diam. Kenan tersenyum mendengar ucapan Gianna dan segera menghampiri seraya ikut duduk di sebelahnya.
"Kalau gitu mulai sekarang lo harus biasakan. Gue bakal rajin-rajin motret lo kapanpun dan dimana pun." Kata Kenan masih tersenyum, kemudian mengecek hasil fotonya.
"Oh ya?" Gianna justru tersenyum remeh memandang Kenan yang kini fokus dengan kameranya.
"Terus kalo gue ke toilet cewek? Lo masih mau ikut? Palingan juga elo di bawa ke kantor polisi." Ujarnya meremehkan. Kenan yang awalnya masih ingin fokus dengan kameranya, kali ini menoleh dan menatap Gianna.
"Kalo di toilet cuma ada elo ngga masalah. Yang penting, elo jangan laporin." Timpal Kenan dengan nada menggoda.
"Sembarangan! Ngga boleh!" Seru Gianna dengan nada berbisik seraya memukul bahu Kenan. Tapi ternyata hasil pukulannya tidak mendarat di tempat semestinya. Kenan sudah lebih dulu menangkap tangan Gianna dan menahannya.
"Kalo gitu nanti gue bakal nungguin elo di depan pintu aja deh. Biar ada yang jagain elo. Boleh?" Tanya Kenan.
"Eh?" Gianna terdiam mendengar ucapan Kenan. Ia tidak paham maksud dari kata-katanya.
Menjaganya? Kenapa Kenan ingin menjaganya?
"Jagain gue? Ngapain lo jagain gue di depan toilet?" Sahut Gianna balas bertanya dengan sorot mata tak paham.
"Ngga cuma di toilet. Kapanpun kalo elo lagi sendirian. Boleh gue jagain elo?" Ucap Kenan masih dengan tangannya yang menahan tangan milik Gianna.
"Ah stop stop stop"
Batin Gianna kini ikut bicara.
"Maksud kata-kata Kenan ngga seperti yang gue pikir kan? Bukan bermaksud ge-er. Tapi gue bukan orang yang ngga peka dengan ucapan orang-orang terhadap gue. Situasi, kondisi dan bahasa tubuh Kenan sekarang ini terlalu jelas. Apa gue kepedean?"
Batin Gianna terus saja bertanya dengan matanya yang tak kunjung berkedip menatap Kenan.
"Ah ... boleh aja." Dengan teramat hati-hati, Gianna berusaha memilah seluruh kosakata yang tersimpan di kamus dalam kepalanya. Ia tidak ingin salah bicara dan berujung menjadi canggung di antaranya dan Kenan. "Apa salahnya mau jagain orang lain?"
"Okay. Lo udah kasih izin. Jadi lo ngga bakal bermasalah kalo gue rajin ngekorin lo, kemanapun elo pergi kan?" Ujar Kenan seraya menyelipkan senyumnya di akhir kalimat.
"HA-" Hampir saja Gianna berteriak karena ucapan Kenan. Tetapi tangannya yang bebas secara otomatis menutup mulutnya sendiri. Ia pun spontan menoleh ke segala arah dan beruntung saja orang yang ada disana hanya ada mereka berdua, karena masih terlalu pagi.
"Heh!" -Hardik Gianna tegas, namun masih dengan berbisik seraya menoyor bahu Kenan.- "Ngapain elo mau ngekorin gue? Elo bukan anak ayam kan? Kalaupun elo anak ayam, gue ini bukan induk ayam." Protes Gianna terlihat tidak percaya dengan ucapan Kenan.
"Emangnya yang bisa jadi perumpamaan mau jagain elo harus anak ayam ya? Anak ayam ngekorin karena dia tau itu Mamanya. Gue mau ngekorin elo, karena mau jagain elo. Ngga ada perumpamaan yang bagus ya?" Kata Kenan menatap sayu kedua mata Gianna. Melihat sorot mata Kenan yang tidak sama seperti biasanya membuat Gianna bungkam. Terasa seperti ada sedikit sengatan listrik yang menyentuh organ tubuhnya yang terdalam, yang ingin memacu jantungnya untuk berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Apa-apaan ini?"
Protes Gianna di dalam hatinya
"Apa hari ini Kenan salah makan juga?"
"Kenan?"
"Ya?" Jawab Kenan dengan sorot mata yang masih sama sayunya.
"Elo, sama Geno kemarin. Apa kalian salah makan waktu di kantin? Ada yang aneh sama tingkah elo soalnya sekarang ini." Ungkap Gianna menyatakan apa yang baru saja ia perhatikan.
"Apa jagain lo itu salah? Aneh ya kalo gue mau jagain elo?" Terangnya seraya perlahan tangannya berpindah untuk menggenggam telapak tangan Gianna tanpa Gianna sadari.
Deg deg deg deg deg deg ...
Perasaan ini. Entah mengapa, Gianna seperti merasakan suatu hal yang baru. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ada apa?Kenapa saat bersama dengan Alvaro dulu, Gianna tidak pernah merasakan hal ini? Terakhir kali jantungnya berdegup kencang karena Alvaro, itu saat Alvaro mengatakan dirinya di terima dalam audisinya. Tapi itu degup jantung yang berbeda. Ada semacam rasa takut kehilangannya saat itu karena tau, kalau ia akan berpisah dengan Alvaro.
Tapi kali ini?.
Gianna tidak tau perasaan apa ini. Gianna tidak pernah merasakan hal ini disaat dirinya bersama Alvaro sebelumnya. Bibirnya membeku, Gianna tidak bisa berkata-kata. Hanya gerakan bola matanya yang tak berhenti menatap Kenan yang balas menatap matanya juga. Sampai saat Gianna tersadar, kalau saat ini tangan kirinya sudah menempel dipipi kanan Kenan dengan tangan Kenan yang menggenggamnya.
Seakan baru saja berlari mengitari lapangan, jantung Gianna berpacu semakin cepat. Sangat cepat sampai rasanya tubuh mungilnya ikut bergetar saking keras dan cepat jantung itu berdebar di dalam tubuhnya. Darahnya pun tak ketinggalan berdesir kuat dibawah kulit nya seakan ingin membuat tubuh Gianna meremang dan merinding. Untuk beberapa saat, mereka saling memandang dengan pikiran yang masing-masing di kepala mereka.
Keadaan perpustakaan yang sunyi dan tidak adanya penambahan personil di dalamnya membuat mereka lebih leluasa untuk saling memandang tanpa ada rasa canggung. Pagi itu adalah pertama kalinya Gianna merasakan sesuatu yang baru dengan seorang laki-laki.
*
*
*
"Eh, elo ngga apa-apa? Gue ... gue tadi denger semua nya dari tempat gue sembunyi. Elo ngga di apa-apain kan?" Seorang gadis yang terlihat seperti mahasiswa terlihat muncul tidak jauh dari tempat Geno mengobrol dengan seorang perempuan sebelumnya.
Sementara gadis yang sebelumnya bicara dengan Geno tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan terduduk begitu saja di atas aspal.
"Gue ... gue ngga baik-baik aja." -Nada ucapan gadis itu kini bergetar terlihat cukup ketakutan.- "Gue rasa, orang itu saiko dan mungkin ... Glgue beruntung karena dia pergi. Gue ... gue harus jauh-jauh dari Gianna! Lo harusnya tadi liat, gimana matanya saat mandang gue. Dia Saiko!" Seru gadis itu dengan sorot mata yang begitu ketakutan.
"Gue ... setuju sama lo. Dengan dengerin percakapan lo sama dia aja gue udah cukup merinding. Yaudah ayo berdiri. Jangan duduk disini." Ajaknya seraya berusaha membopong tubuh temannya.
"Gue ngga bisa. Gue ngga kuat berdiri. Kaki gue lemes." Ujar gadis itu memandang kakinya yang menjadi alas untuk duduk di atas aspal.
"Oke, sekarang tenangin diri lo. Anggep aja, elo abis nonton film tentang psychopath. Jadi, apa pun yang elo lihat itu ngga nyata oke?"
*
*
*
07.15
-Chat-
-Kenan-
Geno
-p
-p
-dimana lo?
07:20
Geno
-heh
-dimana lo ken
Kenan
-Apa
-Di deket kampus
Geno
-lama banget bales
-sok ngartis
Kenan
-Heh
-Masih untung gue bales lo ya
Geno
-ya harus dong elo bales
-jian di sekolah sendirian
-temenin sana
-gue ngga bisa karna harus masuk kelas
Kenan
-Ceilah yang masih SMA
-Masih harus masuk pagi"
Geno
-lo ngajak berantem?
Kenan
-Hahaha
-Ngga
Geno
-btw
-minta nomor kembaran elo dong
Kenan
-For what?
Geno
-gue sebar di group cowok
-ya buat gue chat lah
Kenan
-Ngapain lo nge chat Tia?
-Ada urusan apa?
Geno
-ada yang perlu gue sampein soal jian
Kenan
-Serius lo?
Geno
-elah
-lu ternyata kalo di chat banyak bacot juga ya
-padahal kalo ketemu diem" bae macem orang mules
-hampir aja lu, gue beliin obat cuci perut
Kenan
-Elo sendiri nyablak kampr*t
-Beruntung Gianna ngga ketularan nyablaknya elo
-Jadi males gue mau kirim nomornya Tia
Geno
-heh heh heh
-kirim
-elo mau jian kenapa"?
Kenan
-Emang mau ngomongin apaan sih elo?
Geno
-cukup Ina yang tau
-karna dia cewek
Kenan
-Terus?
-Elo juga cewek?
Geno
-sembarangan
-udah cepet kirim
-keburu mulai kelas gue
Kenan
-Ck
Kenan send a contact
Kenan
-Tuh
-Puas lo
Geno
-oke
-jangan lupa temenin jian
-bye
Genoveva Ivander went offline
Kenan
-Ck
-Dasar anak baru puber
-Kenan already deleted this message
Read
Geno
-heh
-joychat gue pake app khusus
-percuma lo hapus pesan lo
-gue masih bisa baca
Kenan
-Yaudah
-Malah bagus kalo lo baca
-Bye
Alfonsus Kenan Kalandra went offline
Geno
-sial*n
Genoveva Ivander went offline
-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-