Flashback (2)

2057 Words
-*-*-*- Pagi hari menjelang siang.   Suasana di sebuah ruangan khusus jurusan permodelan terlihat tidak terlalu ramai. Beberapa mahasiswi terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Begitu pula Aghata. Dia terlihat sedang mengerjakan tugas jurusannya. Ia cukup fokus sampai seorang gadis menghampirinya dengan wajah bersungut-sungut bersama ponsel di genggamannya.   "Naya!" Panggilnya dengan suara yang amat keras. Aghata yang sedang fokus tentunya terkejut mendengar suara bentakan yang menyebut namanya.   "Astaga. Apaan sih sin? Elo kok teriak-teriak. Gue nya kaget!" Protes Aghata tak suka.   "Sorry deh sorry." Ucap Cindy.   "Kenapa?" Tanya Aghata kembali melanjutkan tugasnya.   "Eh iya. Elo udah liat ini belum?!" Cindy langsung menyodorkan layar ponselnya yang sejak tadi stand by di akun Kenan ke hadapan Aghata. Aghata awalnya tidak peduli, ia pun mendongak dengan malas.   "Apa-" Dalam sekejap, mata Aghata membulat sempurna melihat unggahan Kenan yang menandai Gianna. Aghata awalnya berniat menyambar ponsel Cindy saking terkejutnya. Namun dia berusaha menahan diri dan mengambilnya dengan santai. Dengan hati yang bergemuruh, Aghata meremas kuat ujung roknya menahan diri saat membaca kolom komentar yang memperlihatkan ke akraban mereka.   "Gue barusan liat, karna lo tunjukin." Ujarnya dengan nada seperti tidak tertarik, lalu menyerahkan kembali ponsel Cindy. Padahal di dalam hatinya, dia benar-benar menahan emosi yang semakin tidak karuan bentuknya. Melihat Aghata yang biasa saja, Cindy langsung bertaut alisnya.   "Kok lo santai aja sih? Elo kan suka sama si Kenan?" Sergahnya   "Kalo si Kenan lebih suka sama si Gianna, gue bisa apa? Ngga papa kok." Tuturnya dengan senyum pasrah. Sedangkan di balik senyumannya ia berusaha mati-matian agar tidak meledakkan amarahnya kepada Cindy.   "Ish! Kenapa sih lo pasrah begini aja? Yang jadi permasalahannya disini, si Kenan mau aja di tempelin tu cewek murah! Pake guna-guna apa coba tuh cewek? Kalo jadi elo ya, gue bakal emosi setengah mati." Protes Cindy bersungut-sungut.   "Entah lah. Gianna kan emang lebih cantik dari gue. Gue mending pasrah aja." Jelas Aghata tak antusias.   "Ih! Cantik dari mananya?! Mau di liat dari sela garpu juga tetep lebih cantikan elo! Elo itu tinggi, putih, mulus, cantik, body goals, andalan jurusan model. Lah dia ngga ada apa-apanya! Please deh, kalo lo mau rendah hati tuh liat-liat dulu." Semburnya tidak terima.   "Selera orang kan beda-beda, Cindy. Gue ngga bisa paksain dong kalo gue bukan tipenya Kenan. Biar aja kalo dia suka sama si Gianna." Aghata memasang senyuman miris menatap Cindy. Meskipun di dalam hatinya dia benar-benar mendidih bak magma yang siap meledak.   "Yaampun Naya ... kok lo bisa bijak banget sih mikirnya. Gue harap lo bisa dapet cowok yang lebih dari Kenan." Puji Cindy terlihat salut pada Aghata. Aghata tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya.   "Sialan." Pikirnya "Anak itu ngga takut dengerin semua gossip yang udah nyerang dia? Berani banget dia hangout sama si Kenan. Lo ngga pantes sama dia, Ji! Ngga sama sekali!" Serunya di dalam hati.   "Eh iya! Gue lupa! Ada satu lagi!" Seru Cindy kembali menaikkan suaranya. Aghata tersentak. Seruan Cindy yang cukup keras membuatnya terus-terusan kaget.   "Kenapa? Apa yang lupa?" Tanya Aghata masih berusaha sabar.   "Bentar!" -Cindy membuka Joystagramnya yang sempat ia keluarkan. Ia pun mencari akun Kenan lagi.- "Ini!" Cindy menunjukan foto Geno di unggahan milik Kenan.   "Baca komentar teratasnya. Masa cowok se muda dan se ganteng ini sepupunya cewek itu?! Terus katanya ada yang bilang kalo cowok ini tuh yang nganter cewek itu tiap pagi. Ngga mungkin kan?" Cerocos Cindy cepat-cepat membuat alis Aghata bertaut. Ia kemudian meraih ponsel Cindy lagi. Ia pun kembali membaca unggahan Kenan yang kini berisi foto Geno dan akhirnya Aghata terdiam.   "Naya?"   "Eh? Ya?"   "Gimana menurut lo?" Tanya Cindy.   "Mungkin bener sepupunya. Itu buktinya di komentar, si Gianna ngakuin kalo cowok itu sepupunya." Kata Aghata mengangguk-angguk membuat Cindy menatap kecewa.     "Ih. Tapi gue masih ngga nyangka! Masa cowok se ganteng dan seimut ini sepupunya." Cibirnya mendengus tak suka.   "Lo ini gimana sih? Giannanya aja cantik. Wajar dong kalo sepupunya ganteng." Senyum Aghata lalu mengembalikan ponsel Cindy.   "Tsk. Heran deh gue sama lo. Udah jelas-jelas lo tertikung. Tapi lo masih sabar aja. Salut gue." Puji Cindy menggelengkan kepala.   "Gue mah cuma bisa ngalah kalo sama cewek model Gianna yang disukain banyak cowok." Ungkap Aghata memuji Gianna.   "Ih tuhkan. Lagi-lagi lo ngerendah! Gue ngga suka ya kalo lo lebih-lebihin tuh cewek!" Sergah Cindy marah pada Aghata.   "Loh kenapa? Gianna emang cantik kan?" Tanya Aghata.   "Ngga! Jelas-jelas dia yang suka cari perhatian sama cowok geh. Makanya cowok pada ngumpul ke dia. Udah, gue mau pergi." Dengan wajah kesal, Cindy meninggalkan Aghata sendirian. Aghata terpaku. Tangannya mencengkeram kuat pensil di tangannya sampai akhirnya ujung pensil itu patah   "Sekali lagi, Gianna." Batin Aghata "Untuk ketiga kalinya lo udah rebut orang yang gue suka!"   Flasback ON   Sekolah Menengah Pertama.   "Rafa, kamu udah baca surat dari aku kan?" Ucap seorang siswi SMP di belakang kelas kepada anak laki-laki seumurannya di hadapannya.   "Ah ... soal surat itu ya ... ." Alvaro menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia terlihat bingung untuk menjawab.   "I-iya ... uadi jawaban kamu apa?" Gadis itu tersenyum malu-malu.   "Ng ... maaf ya Ghata. Aku seneng kok kamu suka sama aku. Tapi maaf, aku ngga bisa pacaran sama kamu." Jelas Alvaro tersenyum kecut. Sebenarnya ia merasa sedikit tak enak harus menolak pernyataan cinta seorang gadis seperti ini.   "Hah? Kenapa?" -Senyum Aghata sirna berubah menjadi kecewa.- "Kamu pasti ngga di bolehin sama si Jian ya?! Kenapa sih, dia nempel terus sama kamu?! Aku ngga suka!" Terka Aghata protes dengan penolakan Alvaro kepadanya.     "Sekali lagi maaf ya Ghata." Alvaro memilih untuk tidak menggubris pertanyaan Aghata dan segera meninggalkannya.   "Ish! Tuhkan. Jian pasti yang ngga ngebolehin!" Aghata merengut melihat Alvaro pergi begitu saja   *   "Ghata. Gimana? Udah jadian sama Rafa kan?" Tanya seorang gadis di kantin pada Aghata.   "Ngga. Aku di tolak." Jawab Aghata tegas.   Teman Aghata terkejut mendapat jawaban yang terkesan kesal dari Aghata. "Kok gitu? Kamu kan cantik. Masa di tolak? Dia mikir-mikir dulu mungkin." Ujarnya tak yakin.   "Ngga ... dia beneran tolak aku." Ucapnya lirih. Wajah Aghata tiba-tiba berubah sedih.   "Iih ... kok Rafa gitu sih ... ." Gadis itu kemudian mendekat, lalu merangkul Aghata.   "Hiks ... padahal aku udah lama suka sama dia ... aku suka sama dia sejak pertama masuk di sekolah ini. Udahh hampir tiga tahun ... bahkan, aku rasa dia tau ... hiks ... kenapa dia tolak aku ... ?"  Isaknya mulai menangis.   "Dah ... cup cup." Ujarnya menepuk punggung Aghata menenangkan.   "Kurang lama kah aku nunggu dia?" Air mata kini mengalir deras dari pelupuk mata Aghata. Terlihat sekali dari sorot matanya kalau dirinya benar-benar menyukai Alvaro.   "Udah ... cowok ngga cuma Rafa kok. Jangan nangis ya." Teman Aghata dengan baik hati mengusap-usap punggung Aghata. Sementara Aghata justru menangis sesengukan. Sampai sepasang laki-laki dan perempuan datang membuat teman Aghata menoleh. Mereka adalah Gianna dan Alvaro. Mata teman Aghata membulat.   "Mm ... Ghata. Kita ke kelas aja yuk. Biar kamu lebih tenang." Ajak teman Aghata, ia tidak ingin Aghata melihat apa yang di lihatnya saat ini.   "Kenapa? Disini aja. Aku ngga mau ke kelas." Tolak Aghata masih sedikit terisak.   "Udah ngga papa, yuk.Kalo di kelas enak, kamu nanti bisa lebih tenang. Lebih bebas kalo mau nangis." Ajak teman Aghata lembut masih berusaha membujuk.   "Emang kenapa sih Maria? Kok kamu tiba-tiba gini." Aghata yang sebelumnya tertunduk langsung mendongak. Teman Aghata terkejut.   "Ngga ... ngga papa kok. Aku cuma mau kamu lebih tenang aja." Ujar teman Aghata berbohong. Tapi tetap saja, pandangan matanya tidak bisa mendukung. Ia tidak pandai jika harus berhubungan dengan yang namanya berbohong.   "Tingkah kamu kok aneh. Ada apa sih." Aghata pun akhirnya berusaha menengok. Tapi temannya langsung menahan wajahnya. Membuatnya semakin jelas kalau ada yang aneh.   "Ke kelas aja yuk. Udah mau masuk." Ajaknya.   "Ih apasih. Kamu kok tahan-tahan aku. Emangnya kenapa ... ." Tepat saat Aghata memaksa menoleh. Ia bisa melihat jelas Gianna dan Alvaro yang sedang duduk berdua dengan romantisnya. Teman Aghata menghela nafas. Ia merasa bodoh tidak bisa mengalihkan Aghata dengan benar.   "Uhuk. Jadi bener. Dia nolak aku karna Jian. Ayo ke kelas aja." Tanpa menunggu, Aghata langsung saja berdiri dan meninggalkan kantin dengan hati yang terasa amat sakit.   "Aghata ... ." Teman Aghata merasa semakin bersalah melihat Aghata meninggalkannya begitu saja.   "Semoga kamu bahagia sama Rafa, Jian." Batin Aghata "Aku harap kamu ngga sia-sia'in dia."   Sekolah Menengah Atas. Di koridor.   "Gimana Rey? Hari minggu lo jadi kan pergi sama gue?" Tanya Aghata kepada seorang pria di hadapannya. Terlihat senyum penuh harap terpasang di wajah Aghata.   "Sorry gue ngga bisa. Gue ada urusan keluarga mendadak. Nanti kalo gue senggang deh gue kabarin." Pria itu tersenyum masam seperti tak enak sudah menolak Aghata. Sementara Aghata, senyumnya menjadi sirna.   "O- ooh ... oke." -Ucap Aghata sedikit kecewa.- "Santai aja kalo emang ada urusan." Aghata melemparkan senyumnya menandakan ia baik-baik saja dengan keputusan laki-laki itu.   "Yaudah, kalo gitu, gue ke kelas dulu ya? Ada PR yang belum selesai." Laki-laki itu sempat tersenyum pada Aghata sebelum akhirnya pergi ke kelasnya. Aghata membalas senyumannya dan mengiringi kepergiannya dengan tatapan yang lekat sampai akhirnya sosok laki-laki itu menghilang dari pandangan. Aghata kemudian membuang nafasnya.   "Yah udah lah. Mungkin keluarganya ada urusan penting." Aghata pun kembali ke kelasnya. Sore hari nya, saat pulang sekolah. Aghata berjalan melewati pelataran parkir yang ramai bersama salah satu teman kelasnya.   "Hari minggu lo bisa ngga temenin gue ke toko buku?" Tiba-tiba sebuah suara yang teramat tidak asing di telinga Aghata membuat tubuhnya berhenti berjalan dan segera menoleh.   "Rey ... ." Mata Aghata menatap tak percaya dengan apa yang yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.   "Ya Jian? Lo besok luang kan?"   "Maaf, gue ada urusan." Gianna tak memperdulikan laki-laki itu dan langsung berlalu meninggalkannya.   "Ayolah Jian, gue bayarin ongkosnya, ya?" Laki-laki itu mengejar Gianna yang terus saja berjalan tak menghiraukannya.   "Jian ... ." Dengan mata yang hampir menteskan airnya, Aghata masih menatap Gianna. Ia tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja di lihat nya. Kedua tangan Aghata pun mengepal. Laki-laki itu adalah seseorang yang sangat di sukai oleh Aghata belakangan ini. Melihat pemandangan tadi tentu membuat hati Aghata terluka. Karena untuk kedua kalinya laki-laki yang ia sukai ternyata menyukai orang lain dan orang itu adalah orang yang sama.   Sampai akhirnya, pandangan mata Aghata yang tadinya akan menangis berubah menjadi sebuah tatapan amarah dan mungkin juga terdapat benci.   "Maafin gue kalo nantinya elo di benci orang, Gianna."     Flashback OFF   "NAYA!!!"   Lagi dan lagi. Suara seruan Cindy membuat Aghata terkejut.   "Astaga Cindy! Kenapa lo kagetin gue terus sih?!" Bentak Aghata dengan wajah kesal. Karena pastinya ia terkejut karena tadi dirinya sedang melamun.   "Ah sorry deh. Tapi yang jelas, gue mau kasih tau. Cowok yang katanya sepupu si cewek murah itu ada di kantin!" Seru Cindy heboh sampai-sampai hampir semua manusia yang ada di situ menoleh padanya akibat kehebohan yang dibuatnya.   Aghata mendelik. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.   "Oh ya?" -Aghata berhenti sejenak, menarik nafas.- "Kata siapa?" Aghata berusaha agar terlihat tenang dengan senatural mungkin.   "Iya! Gil*! Aslinya lebih ganteng! Gue liat sendiri!" Ocehnya terlihat sangat bersemangat.   "Hmm ... yaudah, gue juga mau liat langsung." -Aghata membereskan barang-barangnya di atas meja lalu segera berdiri.- "Ayo." Ajak Aghata menghampiri Cindy. Lalu mereka meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kantin.   "Gue rasa sih itu bohong." Batin Aghata "Kenapa sepupu Jian ke kampus? Buat apa?" Batin Aghata heran.   Mereka pun berjalan menuju ke kantin. Aghata terus mengikuti Cindy karena ia tidak tau di mana sepupu Gianna duduk. Sampai akhirnya saat mereka sudah di kantin. Aghata bisa melihat kalau suasana kantin menjadi lebih ramai dari biasanya. Ada banyak perempuan yang duduk dan bergossip sambil menatap pada satu arah. Aghata mengikuti kemana arah pandang itu sampai akhirnya sebuah pandangan yang tidak ia percaya membuatnya berhenti. Aghata melihat dengan jelas saat Kenan memotret Gianna. Yang dimana kalau hal itu adalah sesuatu yang amat di inginkan oleh Aghata selama ini. Di tambah dengan cara Kenan memandang Gianna. Hal itu kembali membuat hati Aghata yang hampir sembuh kembali terluka. Tangannya mengepal kuat dan matanya menatap penuh sejuta emosi yang teramat sukar di jelaskan apa arti dari tatapannya.   "Kenapa lo diem aja? Katanya lo mau liat langsung? Ayo kita samperin mereka." Ujar Cindy menyadarkan Aghata.   "Ah ya? Sorry, gue habis liat pemandangan yang buat gue jijik."   Mendengar ucapan Aghata, Cindy sedikit terkejut. "Hah? Apa?" Tanya nya.   "Eh?" -Aghata terkejut, ia kemudian menoleh. Ia kembali pada kenyataan dan kepalan tangannya langsung melunak.- "Ngga." -Aghata seketika melemaskan tubuhnya begitu teringat kalau Cindy masih ada di sampingnya. Ia pun kembali memandang ke arah di mana Gianna duduk.- "Bukan apa-apa."   -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD