BMSPH Bab 1
mobil Pajero sport hitam melesat dengan kecepatan sedang di jalanan Bandung sore hari seperti ini tidak ada bedanya dengan kota kota lainnya jam jam pulang kerja padat merayap hingga tiba di sebuah Rumah berlantai dua yang asri dengan berbagai tanaman hijau di sekeliling rumahnya, setelah pintu gerbang di buka Kenji masuk ke halaman rumah kemudian memarkirkan mobil kesayangannya dengan rapih.
"assalamualaikum Ummi," teriak Kenji sambil masuk kedalam rumah, "waalaikumussalam" jawab ummi dari arah dapur, "sudah pulang kak?" ummi menghampiri, "iya ummi" Kenji mengulurkan tangannya mencium punggung tangan umminya "hari ini tidak ada jadwal oprasi jadi cepet" jawabnya, "kakak mandi dulu ya ummi" setelah cium tangan Kenji melangkahkan kakinya naik ke atas tangga menuju kamarnya.
Kenji langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri seperti biasanya setelahnya ia keluar dan mengambil baju Koko dan sarung mengingat sebentar lagi adzan magrib,
"ummi kakak ke masjid dulu ya" pamit kenji setelahnya ia pergi ke masjid di komplek rumahnya dengan menggunakan motor matic yang biasa di pake untuk keperluan yang dekat dekat rumahnya.
setelah isya Kenji baru tiba di rumahnya dan Abi Rama telah tiba di rumah ada juga Kanaya yang pulang bersama Abi.
jam 8 malam mereka semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama, "ummi abi kakak mau ngomong sesuatu,," Kenji menjeda ucapannya, ummi dan Abi melihat ke arah Kenji bersamaan, "hmmm besok kakak akan ikut jadi dokter sukarelawan ke daerah yang terdampak bencana ummi, abi kakak mohon ijin dan mohon doanya agar kakak selalu dalam lindungannya,"
" iya kak semoga anak anak ummi dimanapun berada selalu di beri perlindungan dan keselamatan aamiin."
"jadi kakak ikut jadi salah satu relawan? ko Naya ga tau sih kakak curang" Kanaya mengerucutkan bibirnya, Kenji tersenyum melihat adik manjanya ini, "kakak tadi daftar paling Ahir Naya,"
" Naya boleh ikut ga kak? "
"cekk kalau kamu ikut siapa yang jaga umi sama Abi di rumah," Kenji mengulurkan tangannya sambil mengacak rambut Kanaya , "ih Kaka kebiasaan sih entar aku jadi ga cantik kalo rambutku berantakan," Kenji hanya terkekeh geli melihat kelakuan adik satu satunya ini, "ya sudah kakak siap siap dulu ya," Kenji melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
setelah merapihkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk di bawa, Kenji duduk di tepi ranjang dia menatap bingkai foto di atas nakas kemudian meraihnya, foto seorang gadis manis berkacamata dengan rambut lurus sebahu bernama Intan Ardina yang kini telah bahagia di alam sana, Intan pergi karena penyakit jantung yang dideritanya, Kenji Sampai saat ini belum berani membuka hati karena masih merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kekasihnya, 3 tahun sudah intan pergi tapi Kenji tidak pernah tau dimana letak kuburnya karena orang tuanya membawa jenazahnya ke luar kota konon katanya di kuburkan di kampung halamannya.
huhhhh Kenji menghela nafas panjang sambil mengeluarkan foto itu dan membuangnya ke tempat sampah sudah saatnya dia melupakan masa lalunya.
kenji membaringkan tubuhnya ia berusaha memejamkan matanya agar bisa melupakan semuanya...
ku harap besok akan lebih baik, Kenji bergumam setengah sadar kemudian ia terlelap.
Bandara internasional Soekarno-Hatta kini mereka semua telah berkumpul untuk pergi ke daerah terdampak bencana para dokter yang semuanya berjumlah 20 orang kini tengah menuju check in desk, setelah melewati proses check in mereka semua menuju gate 5 dan menunggu sambil menunggu pengumuman take off, tak lama kemudian suara operator mempersilahkan para penumpang untuk segera naik ke pesawat dan mereka mengambil tempat duduk masing masing yang sudah di sediakan.
turun dari pesawat kini para dokter di bawa menggunakan mobil offroad karena jalanan yang terjal berbatu menuju tempat penampungan sementara di balai desa para dokter di kasih tenda khusus yang sudah di beri tanda palang merah.
Kenji dan teman teman sejawat nya sampai di tempat tujuan yang langsung di sambut para warga sekitar, para warga yang antusias menyambut kedatangan para dokter muda itu yang terdiri dari 15 dokter laki laki dan 5 dokter perempuan itu kini telah menempati tendanya masing masing.
mereka juga membawa berbagai macam obat obatan yang di perlukan di tempat ini.
hari sudah mulai gelap dan para dokter akan mulai bekerja esok pagi setelah beristirahat.
setelah menunaikan sholat isya Kenji keluar untuk menikmati udara pegunungan yang masih segar belum tercemar oleh polusi udara.
"orang gilaaaa..... orang gilaaa..... orang gilaaa..... " anak anak tampak sedang mengikuti seorang wanita dengan pakaian lusuh dan rambut gimbal seperti setahun ga pernah keramas, tubuh tinggi kurus krempeng, badan yang di penuhi dengan tanah tanah yang menempel dan rumput semak sana sini sungguh sangat mengenaskan.
"heh awas kamu ya... haha..haaa..haa.." wanita itu mengejar anak anak sambil tertawa tawa dengan tanpa alas kaki, Kenji yang melihat kejadian itu hanya geleng geleng kepala,,
"Tiaraaa... Tiaraaa... " seorang wanita berusia sekitar 40an berteriak teriak memanggil nama Tiara ia berjalan kebingungan melewati Kenji sambil terus memanggil manggil nama Tiara, Bi Rina tidak menyadari ada orang di sana, saking paniknya karena kehilangan keponakannya.
"ah ahirnya ketemu juga, Tiara sayang ayo pulang nak sudah malam bibi dari Tadi cari cari kamu," Bibi Rina adalah adik kandung dari almarhum Rani ibunya Tiara, ia kemudian menarik Tiara yang masih tertawa tawa karena mengejar anak anak yang suka menggodanya,
saat melewati Kenji bibi Rina membungkukkan badannya tanda hormat, dia baru menyadari ternyata ada orang di sana, "permisi pak dokter" ucap Bi Rina sambil tersenyum, Bi Rina tau kalau Kenji adalah salah satu dokter muda yang jadi sukarelawan di desanya karena tadi dia pun ikut saat ada acara penyambutan para dokter muda itu, Kenji ikut membungkukan badannya sambil tersenyum silahkan Bu jawabnya, ketika melewatinya Tiara menatap Kenji dengan tertawa tawa kemudian melotot dan lalu menunduk takut, Kenji menatap kasihan dengan wanita itu terlihat masih muda tapi mentalnya sudah terganggu, Kenji juga mencium bau amis dari tubuh Tiara yang membuatnya jadi mual, ya ampun berapa lama dia ga mandi sampai bau amis begini ... batinnya berkata.
"ampun Tiara kenapa badan kamu bau sekali apa yang kamu lakukan sih Tiara Bibi heran sama kamu padahal setiap hari Bibi mandiin tapi kenapa tubuh kamu bau sekali, Bi Rina terus mengomel sepanjang jalan, hingga sampai di sebuah rumah panggung sederhana yang masih terbuat dari kayu, "hayo kamu mandi lagi gimana mau tidur kalo kamu bau begini," Bi Rina mengantarkan Tiara ke kamar mandi di samping rumahnya, "aku mandi sendiri ya Bi " kata Tiara habis mengatakan hal itu dia loncat loncat seperti anak kecil, Bi Rina hanya geleng gelang kepala saja melihat keponakannya ini, kadang dia berbicara seperti orang normal lainnya kadang ya begitu bi Rina juga heran, hanya saja selama ini Tiara tidak pernah di bawa ke dokter karena ketiadaan biaya, sebenarnya dia ga tega melihat keponakan nya setiap hari di ejek orang lain karena di anggap gila tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa, "kamu mandi yang bersih ya Bibi ambilkan baju kamu dulu" katanya sambil berlalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil baju untuk Tiara.
"ngapain orang gila ini kamu bawa pulang lagi hah..." teriakan dari mang Jaka suami Bi Rina, Tiara yang ketakutan bersembunyi di balik tubuh bi Rina, gapapa sayang kamu masuk ke kamar ya Bi Rina menenangkan Tiara, Tiara berlari ke kamar kemudian menguncinya dari dalam.
"jangan kasar sama Tiara pak dia sudah tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini dia hanya punya kita,"
" Halah anak gila itu hanya menyusahkan saja bikin malu, "
"Tiara ga gila pak dia hanya sedikit terganggu mentalnya karena merasa trauma terhadap sesuatu, "
"Halah anak gila tetap aja gila" mang Jaka pergi ke luar rumah sambil membanting pintu, "astaghfirullahaladzim,,, " seru bi Rina sambil mengelus dadanya, suaminya ini semenjak Tiara mentalnya terganggu jadi sering marah marah dan selalu ingin mengusir Tiara dari rumah.
"Bu... ibu... aku lapar" teriak Dina anak bi Rina yang masih berusia 10 tahun, " iya sebentar ibu ambilkan sekalian kamu makan sama kak Tiara ya, " bi Rina gegas ke dapur mengambil kan makanan untuk Tiara dan Dina, semenjak Tiara mentalnya terganggu dia selalu makan di kamar tidak pernah mau makan di dapur, "kak Tiara ayo kita makan kak," Dina menyodorkan makanan untuk Tiara dan mengambil jatah makannya sendiri, Dina belum memahami apa yang terjadi hanya saja yang dia tau Tiara adalah saudara nya yang harus dia jaga, "ayo kak makan nih aku suapin ya " ujar Dina lagi sambil menyuapkan nasi berikut lauknya ke mulut Tiara, Tiara tidak menolak dia memakan makanannya sampai habis, "kapan kamu bisa sembuh lagi ceria seperti dulu nak ..." Bi Rina membatin dia sedih melihat anak almarhum kakak nya harus tumbuh menjadi gadis yang mentalnya terganggu, "semoga suatu saat nanti kamu bisa sembuh dan hidup berbahagia ya nak...'