Bab 8 Pengakuan Suami Nanda

1120 Words
Nanda menolak untuk bawa bekal makanan berat. Ia berkelit kalau sudah bawa paket makanan tambahan untuk ibu hamil. Maya agak bingung dengan pola makan dari majikannya ini. Maya sangat paham kalau masa awal kehamilan menjadi waktu yang berat bagi para ibu. Rasa mual dan muntah sering terjadi di tiga bulan pertama hamil, sehingga buat calon ibu menjadi malas makan. Berbeda dengan ibunya Leo yang justru rewel makan menjelang dua bulan kelahiran si jabang bayi. Sungguh Maya amat khawatir. Ia hanya berusaha terus ingatkan kalau mereka sedang bersama di rumah. Tak bisa ia kontrol kalau Nanda sudah tiba di kantor. Maya hanya bisa pasrah melihat majikannya keluar dari rumah seperti biasa, kecuali tanpa bekal makan siang. Di sepanjang jalan di atas bis, Nanda rasakan sedikit pusing. Ia abaikan karena memang semalam, ia hanya bisa tidur nyenyak selama empat jam. Sisanya ia menutup matanya tetapi setengah terjaga. Nanda tahu kekuatan tubuhnya dan ia masih baik-baik saja. Ia sampai juga di meja kerjanya. Satu botol air minum sudah ia bawa untuk pelega dahaga. Kalau nanti ia harus ke kamar mandi barulah ia mampir untuk buat teh manis tinggi, di dapur mereka. Tak terasa waktu terus berlalu dan saatnya untuk makan siang. Nanda mulai ambil makanan paket instan yang ia bawa. Ia harus panaskan di dapur terlebih dahulu. Saking asyiknya di depan komputer, ia bahkan tidak butuh ke kamar mandi sejak tadi. Artinya ia kurang minum air putih dan ia tidak sempat minum teh manis juga. Sarapan hanya lima sendok dengan satu botol air minum yang mengisi tubuhnya selama empat jam. Ia sangat yakin kalau tubuhnya kuat. Ia segera berjalan menuju dapur. Beberapa langkah melewati mejanya, Nanda tiba-tiba melihat sekelilingnya berputar-putar. Nanda merasa pusing. Ia seperti akan jatuh. Lalu, semua menjadi hitam. Matanya tertutup dan ia tidak sadarkan diri. Beberapa saat sebelumnya tak jauh dari meja kerja Nanda adalah bilik kecil tanpa pintu, ruang kerja Arman. Menjelang jam makan siang sehingga Arman juga sudah bergeser dari kursi berodanya. Ia sampai di pintu saat Nanda melewatinya lalu terlihat sempoyongan dan akan jatuh. Dengan sigap Arman melangkah lebar menahan tubuh karyawannya itu agar tidak terjatuh di lantai. “Tolong, siapa pun di sana!” seru Arman untuk dapat bantuan. Seorang staf pria, dipanggil Yeri menghampirinya dan bantu memegang kedua belakang lutut dari Nanda sambil Arman memegang kedua lengan wanita itu untuk didudukkan di salah satu kursi. “Sepertinya dia pingsan,” kata Yeri. “Kamu bisa bawa mobil?” tanya Arman cepat, sambil serahkan kunci mobil yang dengan sigap Arman keluarkan dari dalam saku celananya. “Bisa, Pak.” “Kita ke rumah sakit sekarang! Kamu tolong ambil semua barang penting di atas meja dan barang pribadi milik Nanda lainnya, serta masukkan dalam tasnya. Tolong dibawa langsung ke mobil di parkiran sekarang. Pindahkan mobil ke depan pintu masuk. Saya akan menggendong Nanda sesaat lagi setelah kamu sudah siap dengan pintu mobil yang dibuka.” “Baik, Pak. Saya kerjakan sekarang!” Selang beberapa menit setelah Yeri pergi, barulah Arman menggendong tubuh Nanda. Tidak terlalu berat tetapi kalau berjalan cukup jauh, tetap pegal juga. ‘Kenapa kamu seringan ini padahal sedang hamil? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?’ batin Arman sepanjang menggotong salah satu bawahannya tersebut. Hampir mendekati pintu keluar, berpapasan dengan Dewi yang terlihat kaget melihat Arman sedang menggendong Nanda. “Eh, Bapak mau ke mana? Kenapa Nanda?” “Pingsan. Mau ke rumah sakit sekarang!” balas Arman agak ketus karena Dewi mengganggu fokusnya. “Aku juga mau ikut!” balas Dewi antusias. Ia tidak rela melihat Arman berdua sendiri dengan Nanda. Walaupun teman seruangannya itu sudah bersuami dan sedang hamil, Dewi tetap cemburu pada Nanda. “Menyusul saja. Kami akan kirimkan alamat rumah sakit.” Arman berusaha meladeni Dewi di tengah konsentrasinya membawa Nanda. Setiap detik sangat berharga. Kalau Nanda tidak hamil, Arman tidak akan sekhawatir ini. Dewi masih katakan sesuatu tetapi tidak Arman perhatikan lagi. Yeri sedang buka pintu mobil Arman, di jok tengah. Dengan perlahan, Arman baringkan tubuh Nanda dan mengatur agar kakinya tidak tertekuk. Beruntung, hari itu Nanda memakai celana kulot karet dan bukan daster cantik. Setelah beres, pintu segera ia tutup sambil berkata, “Ayo, Yeri. Kita berangkat sekarang.” Keduanya langsung duduk di depan. Yeri di belakang kemudi. ”Sepertinya ada klinik untuk ibu dan anak tak jauh dari kantor kita ini,” ucap Arman pada Yeri. “Iya, Pak. Saya tahu. Kita menuju ke sana saja?” “Iya. Kalau ke rumah sakit takutnya akan lebih lama penanganannya karena jumlah pasien yang banyak.” “Baik, Pak. Ibu Nanda sebenarnya kenapa sampai pingsan seperti ini?” tanya Yeri. “Saya juga tidak tahu. Tapi, saya merasa ia terlalu kurus untuk seorang ibu hamil. Apa dia sedang terkena sindrom para ibu hamil yang kadang malas makan, dan jadinya kehabisan tenaga seperti sekarang?” “Semoga kita tidak terlambat, Pak. Juga, semoga memang hanya pingsan karena kehabisan tenaga bukannya hal yang lain.” “Ya, kamu benar. Semoga semuanya baik-baik saja. Saya kabari Dewi dulu, dia juga ingin ikut tadi.” “Sebenarnya kita tinggal nyalakan penanda lokasi saja, Pak. Biar dia bisa ikuti jejak kita.” “Ah, kamu benar. Anak muda memang lebih canggih dalam penggunaan setiap fitur teknologi.” “Semua juga bisa, Pak. Kebetulan karena sering kami pakai saja, makanya langsung terpikirkan.” Perjalanan mereka tempuh selama hampir tiga puluh menit. Ada begitu banyak kendaraan di jalan tapi Yeri mampu menyetir dengan mulus. Arman langsung turun terlebih dahulu dan melapor pada petugas klinik untuk bisa menjemput pasien ibu hamil yang sedang pingsan di atas mobil. Untung saja, para petugasnya ramah dan tanggap. Tanpa paksaan dan pemberitahuan berulang, dua orang petugas sudah muncul dengan brankar. Arman lega telah bawa Nanda ke fasilitas kesehatan yang tepat. Gerakan sigap dari para petugas berikan keyakinan tersendiri pada Arman kalau, Nanda ada di tangan paramedis yang profesional. Arman tidak berdiam diri. Setelah Nanda dibawa ke dalam ia langsung menuju ruang pendaftaran dan selesaikan semua urusan administrasi. Nomor ponselnya ia tinggalkan sebagai orang yang akan dikontak oleh klinik jika terkait dengan pasien yang baru masuk. “Apakah istri Bapak yang akan dirawat?” Arman melihat ke sekelilingnya. Ia seperti sedang memastikan agar perkataannya tidak didengar oleh orang lain yang mengenalnya. “Saya harap ini hanya rahasia di antara kita. Tidak boleh ada yang tahu. Pernikahan kami tidak direstui oleh keluarga istri saya, jadi, kami melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.” “Oh, tentu saja Pak. Memang kami tidak boleh sembarangan bicarakan tentang data pasien.” “Terima kasih banyak atas pengertiannya. Tolong rawat istri saya dengan sebaiknya.” “Bapak boleh tunggu sebentar. Nanti kami panggil. Jadi, ibu akan kami tempatkan di kamar VIP?” “Iya. Tolong berikan kamar terbaik.” Entah ide gila darimana yang tetiba merasuki Arman. Mengaku sebagai suami dari Nanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD