Bab 9 Nanda Menghilang dari Kamar Pasien

1174 Words
Arman masih belum bergerak dari ruang tunggu klinik. Setelah brankar didorong masuk ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat, belum ada kabar lagi dari para tenaga medis. Yeri sudah ia minta untuk kembali ke kantor dengan berikan ongkos taksi. Tas milik Nanda sedang ia pegang. Tak lama kemudian terdengar suara yang ia kenal. Nampak Dewi sedang berbicara dengan petugas di dekat pintu masuk. “Ibu Dewi!” teriak Arman sambil melambaikan tangannya. Dewi menoleh dan langsung pamit pada lawan bicaranya. “Bagaimana keadaan Nanda, Pak?” tanya Dewi saat mereka sudah duduk berdampingan. “Masih di IGD.” “Dia sebenarnya kenapa?” “Belum tahu juga. Tiba-tiba pingsan tadi kantor.” “Apa suaminya sudah dihubungi, Pak?” tanya Dewi membuat Arman sedikit tersentak. Tapi ia sembunyikan apa yang ia pikirkan. ‘Dari awal memang aku tidak berpikir untuk menghubungi laki-laki itu. Aku malah mengaku sebagai suaminya tadi. Semoga Dewi atau Yeri tidak sampai tahu apa yang aku lakukan. Untuk melindungi Nanda sebenarnya. Tapi, benar kata Dewi. Suami Nanda yang sebenarnya harus tahu keadaan Nanda. Tapi, aku tak punya nomor kontaknya.’ “Coba kamu kontak personalia di kantor untuk bisa hubungi nomor darurat dari biodata Nanda. Saya tidak punya kontak suaminya.” Belum tuntas apa yang mereka perbincangkan, sudah teralihkan dengan suara petugas. “Keluarga pasien Nanda!” seru salah satu perawat. Arman bergegas maju untuk berbicara dengan petugas. Dewi menanti. Dia hanya melihat kalau Arman dan perawat sedang berbincang tapi ia tidak tahu apa yang dibicarakan. Tidak ada yang bisa ia dengar dari jarak duduknya sekarang. ‘Apa Arman akan menjaga Nanda di sini? Suaminya Nanda mana, sih? Sebaiknya aku hubungi staf personalia kantor sekarang,’ batin Dewi. Ia tidak suka dengan perhatian yang Arman berikan pada rekan kerjanya itu. Ia sangat cemburu dan ia harus lakukan sesuatu untuk jauhkan Nanda dari Arman. Arman tidak kembali ke tempat duduk. Ia menanti petugas mendorong brankar keluar menuju kamar rawat inap. Arman ikuti dua orang petugas yang menarik tempat tidur beroda tersebut dengan Nanda yang masih mengatup matanya seperti sedang tidur. Satu botol infus menggantung di samping kiri. Saat melewati tempatnya duduk dengan Dewi tadi, Arman hanya berikan tanda pada Dewi yang sedang berbicara di ponsel. Menurut petugas tadi, Nanda sempat terjaga beberapa menit sebelumnya. Tetapi dari matanya terlihat masih sangat lemah, jadi mereka berikan obat agar ia bisa beristirahat kembali. Sekaligus, biarkan cairan infus memasuki tubuh Nanda. Dengan demikian akan berikan keseimbangan penuh saat bangun nanti. Sampai di ruang VIP, para petugas mengatur agar Nanda bisa nyaman di ranjang pasiennya setelah dipindahkan dari brankar. Arman memilih menanti di luar sampai petugas sudah keluar dengan brankar kosong. Bertepatan dengan Dewi yang juga tiba di depan pintu. “Saya sudah telepon ke kantor, Pak. Mereka akan hubungi nomor ponsel yang tertera di sana nanti secepatnya.” “Baguslah. Terima kasih Dewi. Saya mau masuk dulu.” Dewi mengekori Arman. Ruang itu lumayan luas. Ada sofa panjang juga yang melingkar di sudut ruangan. Dewi dekati tempat tidur dan lihat Nanda masih tertidur. ‘Ah, kamu ini pasti hanya pura-pura cari perhatian dari Arman. Harusnya kamu kabari suamimu kalau sakit. Bukannya, paksakan diri tetap masuk tapi kemudian menyusahkan atasan. Dasar perempuan penggoda!’ cibir Dewi membatin. Ia sungguh tak terima kalau Arman begitu perhatian pada Nanda yang sudah jelas-jelas bersuami. Dewi bergeser dari posisinya dan dekati Arman yang langsung duduk di sofa. Tas milik Nanda ia sudah masukkan ke dalam lemari kecil yang ada di samping tempat tidur. “Bosku, Sayang. Mau makan siang apa biar Dewi belikan. Ini sudah lewat jam makan sebenarnya. Aku tidak mau kamu juga ikut sakit,” ucap Dewi setengah meliukkan suaranya untuk terkesan manja. Ia duduk di samping Arman dan pria itu bergeser tidak ingin bersentuhan dengan Dewi. Kalau ada di depan banyak orang tentu Arman tidak akan segan untuk menegur Dewi. Arman sudah bosan dengan sikap wanita itu yang tidak juga mau berubah. Dia selalu saja menggoda Arman. Capek juga rasanya selalu bicara hal yang sama setiap saat. Akhirnya Arman memilih untuk diam. Dewi baik dan pegawai yang rajin. Tapi masalahnya, pria sekaligus atasannya Dewi dan Nanda itu, tidak suka pada Dewi. Tidak mungkin cintanya ia paksakan hanya karena kebaikan dari Dewi yang kadang, terkesan menyogok. Dewi seperti berbuat baik karena ada pamrihnya. “Kamu bisa tunggu di sini saja. Saya akan keluar sebentar. Kalau ada dokter yang berkunjung, tolong kontak saya. Ada hal penting yang ingin saya konsultasikan dengan dokter,” balas Arman yang memang sudah merasa lapar. Dia harusnya tadi cari makan tapi ia enggan tinggalkan Nanda sebelum pasti dapat kamar. “Saya mau ikut saja. Nanda juga masih tidur. Tidak mungkin ia bangun dalam waktu cepat,” tandas Dewi ancang-ancang untuk bangkit mengekori Arman. “Tapi nanti akan ada perawat yang ke sini, Dewi!” “Saya bukan keluarganya Nanda, Pak.” “Terus, untuk apa kamu ke mari kalau tidak ingin ikut bantu jaga Nanda?” tanya Arman telak pada motivasi Dewi sebenarnya. “Ikut Bapak. Saya ke sini karena Bapak. Bukan karena Nanda,” tegas Dewi melirik sekilas ke tempat tidur lalu memasang wajah memelasnya pada Arman. Pria itu menggeram dalam diam. Dia sudah lapar tapi wanita ini malah berulah. “Kalau begitu, kamu tolong saya saja sekarang!” Arman lihat pergelangan tangannya. Jam yang menempel di sana menunjukkan hampir pukul empat sore. “Boleh, Pak. Dengan senang hati.” Dewi tersenyum. Bangga karena merasa menjadi orang yang paling dibutuhkan oleh Arman. “Kembali ke kantor, tolong serahkan berkas di dalam amplop coklat pada ibu kepala. Saya letakkan di atas meja kerja saya. Barusan pesan dari bos masuk, dan sudah saya sampaikan kalau kamu yang akan mengantarnya. Sekalian kamu juga bisa pastikan lagi pada staf personalia soal mengontak suami Nanda.” “Tapi… Pak.” Dewi melancarkan protes, tapi Arman memasang wajah wibawanya. “Kali ini saya tidak ingin ada tawar menawar lagi, Dewi. Berkas itu untuk pencairan gaji bulan ini dan harus masuk sore ini juga.” “Baik, Pak. Saya ke kantor sekarang.” Dewi masih ingin merengek tapi soal berkas yang ia harus ambil itu sangat penting. Hal menyangkut nasib bulanan mereka, maka ia tidak bisa beradu argumen lagi dengan atasannya. ‘Sabar Dewi. Kamu masih bisa kembali ke sini setelah semuanya beres,’ batin Dewi kesal sambil melirik ke tempat tidur pasien. Arman lega karena Dewi tidak lagi berkeliaran di sekitarnya untuk sementara waktu. Ia menarik pintu kamar Nanda dan menutupnya kembali sebelum bergegas mencari kantin. Arman menyantap soto panas di kantin secepat yang ia bisa. Sudah sangat telat tetapi ia berharap dengan kuah panas bisa melebur gas dalam lambungnya. Kurang dari lima belas menit, Arman sudah selesai makan. Ia meregangkan tubuhnya sesaat sebelum kembali ke kamarnya Nanda. Arman buka pintu perlahan lalu langsung ditutup kembali. Ia tidak ingin bangunkan Nanda. Ia berbalik dan langsung panik. Ia tidak temukan Nanda di atas tempat tidur pasien. Tiang infusnya juga tidak ada di sana. Arman berpikir kalau tiang gantungan botol infus, menyatu dan jadi bagian dari tempat tidur. Arman berharap apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Pasti Nanda tidak pergi jauh dan masih ada di sekitar klinik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD