Arman cemas karena tidak melihat Nanda di atas tempat tidur pasien. Ia yakin sudah mengatur waktu dengan baik. Tidak terlalu lama di kantin tadi. Ia menuju pintu kamar mandi. Harapannya, Nanda ada di sana. Kalau tidak ada, barulah ia keluar dan mencari di sekitar klinik.
Ia tidak dengarkan suara apa pun dari dalam kamar mandi. Ia tempelkan telinganya di daun pintu. Ingin ia buka tapi masih ragu, takut Nanda tersinggung nanti kalau ternyata bawahannya itu ada di dalam sana.
Arman berjalan mundur menjauh dari pintu. Ia menuju lemari kecil dan membukanya. Tempat ia letakkan tas milik Nanda tadi. Ia lega karena apa yang ia cari itu masih teronggok di laci.
Arman memilih untuk duduk di sofa. Ia tidak ingin mengagetkan Nanda dengan mengetuk pintu kamar mandi.
Tapi pandangannya tak lepas dari daun pintu. Ia hanya ingin sigap membantu jika wanita itu membutuhkannya. Tak terbayangkan ribetnya Nanda harus memikul tiang infus saat di kamar mandi sambil menjaga perut buncitnya tidak tertekan.
Arman ingin sekali bisa melakukan peran yang sesungguhnya sebagai seorang suami yang menjaga istrinya yang sedang sakit.
Tak lama kemudian terdengar bunyi dari dalam kamar mandi. Arman bernapas dengan leluasa. Ia sudah berdiri dari kursi dan bersiap membantu Nanda bawa tiang infus.
“Astaghfirullah, Pak Arman? Saya kaget Bapak ada di sini!” seru Nanda agak terkejut melihat atasannya yang ada di dalam kamarnya sekarang. Ia pikir tadi perawat atau dokter. Ia tidak mengira justru Arman yang telah menolongnya.
“Maaf, kalau membuatmu kaget. Syukurlah kamu sudah sadar. Saya sangat khawatir tadi.” Arman berbicara setelah sudah dekat. Ia sambil meraih tiang infus dan mengangguk menyatakan kalau ia akan bantu membawanya.
“Maaf juga karena merepotkan, Bapak.”
Nanda sudah duduk di atas ranjang. Arman hanya diam dan mengatur agar selang infus tidak terlipat dan bisa kembali di posisi awal sehingga nyaman untuk pasien juga.
“Saya masih belum menghubungi siapa pun kerabat kamu. Saya tidak punya kontak untuk hubungi mereka.”
“Tidak apa-apa, Pak. Kalau boleh tahu, siapa yang bawa saya ke sini?” sanggah Nanda.
“Kamu tadi pingsan di kantor. Hanya ada saya dan Yeri tadi, jadi kami berdua yang membawamu ke sini. Kami tidak berani membiarkan kamu hanya duduk di kursi, menunggumu sampai siuman di kantor dengan hanya memberimu minyak angin dari kotak P3K.”
“Saya benar-benar sudah buat susah semua orang.”
“Ini tas kamu. Semoga semua barang penting kamu ada di dalam. Kalau memang ada yang masih tertinggal di meja kerja kamu, bisa saya ambilkan sekarang.”
Arman berikan tas Nanda setelah ia menunduk sebentar dan berdiri tegak kembali. Laci kabinet itu ada di samping tempat tidur pasien.
Nanda mengangguk. Ia masukkan tangannya untuk mencari ponselnya. Ia harus hubungi Maya sebelum wanita itu cemas dengan keberadaannya.
“Semuanya sudah ada di sini, Pak. Terima kasih.”
“Saya punya satu masalah lagi. Saya lupa sediakan pakaian salin untuk kamu.”
“Oh, tidak usah, Pak. Saya akan telepon saudara saya di rumah agar bisa kirimkan kurir dengan pakaian saya. Tapi, saya butuh alamat rumah sakit ini.”
“Saya bisa bicara dengan saudara kamu untuk jelaskan alamat dari klinik ini. Kata mereka, kamu butuh istirahat dua malam di sini.”
Nanda hubungi nomor Maya. Suasana di luar menunjukkan sebentar lagi matahari akan terbenam.
Nanda sampaikan dengan perlahan kalau ia baik-baik saja. Tapi, ia butuh di rawat dua malam di sebuah klinik.
Maya langsung tunjukkan kepanikannya di telepon tetapi Nanda berbicara dengan tegas agar Maya tidak terlalu cemas.
Nanda minta Maya untuk kirimkan barang-barangnya. Ia juga tidak ingin mereka datang untuk menengoknya apalagi bersama Leo. Sebelum percakapan mereka putus, Nanda serahkan ponselnya pada Arman agar bisa jelaskan alamat pada kurir yang akan datang.
Ponselnya segera ia tutup setelah selesai berbicara dengan Maya.
“Apa kamu tidak ingin menghubungi suami kamu?” tanya Arman penasaran.
“Rico sedang tidak ada di rumah. Dia pergi jenguk ibunya yang sedang sakit di kampung. Gejala strok.”
“Sudah berapa lama dia pergi?”
“Hampir dua bulan. Dia memang ingin merawat ibunya sampai sembuh barulah ia kembali.”
“Tapi jenis sakit seperti strok itu tidak serta merta bisa cepat sembuh,” imbuh Arman. Ia mulai curiga kalau ada yang tidak beres dengan relasi Nanda dan suaminya.
“Aku paham kalau, sebagai anak sulung ia sangat sayang pada ibunya. Aku juga mungkin menuntut hal yang sama dari anak-anakku kelak.”
“Baiklah. Kata perawat tadi, kamu harus menginap di sini selama dua malam. Lalu, perawatan di sini bisa dengan kartu asuransi kantor kita. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Bapak tidak perlu temani saya. Semuanya akan baik-baik saja walaupun saya sendirian.”
Nanda merasa sungkan karena Arman yang justru harus sibuk karena keras kepalanya. Padahal tadi pagi ia sudah diingatkan oleh Maya untuk makan lebih banyak. Nanda menyesal telah membantah perkataan dari pengasuhnya Leo.
“Saya menanti sampai kurir itu tiba. Setelah itu saya akan pulang.”
“Apa yang perawat katakan tentang kondisi tubuh saya, Pak?”
“Tidak boleh stres. Makannya yang banyak dan lebih teratur lagi. Kamu tadi terlalu lemah sehingga langsung pasang infus.”
“Saya hanya tidak punya selera untuk makanan karbohidrat yang butuh kunyah. Saya agak malas mengunyah, Pak.”
“Setiap kehamilan memang akan buat ibu melewati masa-masa yang berat dan berbeda-beda dari anak pertama dan yang berikutnya. Kamu harus tetap kuat dan pikirkan hal-hal yang membuat kamu tertawa. Jangan sebaliknya.”
Nanda mengangguk. Ia biarkan Arman kembali duduk di sofa. Ia sendiri mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Maya. Satu-satunya kerabat yang ia miliki.
Nanda iseng mencoba mengontak nomor Rico lagi. Tetiba, ia ingat pria itu setelah melirik Arman yang juga sedang sibuk dengan tabletnya.
Sayangnya, ia harus terus kecewa karena hasilnya masih sama. Papa dari Leo tidak bisa dijangkau posisinya.
Pintu kamar terkuak dan seorang perawat masuk dengan nampan untuk makan malam, diikuti temannya yang bertugas untuk mengecek keadaan pasien per dua jam.
Prosedur tetap dari rumah sakit untuk memantau keadaan pasien dan mengetahui keluhan mereka. Klinik yang sangat baik pelayanannya.
Semua aktivitas perawat tidak luput dari pengamatan Arman meski ia duduk di sofa.
“Ibunya sudah mulai lebih bersemangat ya, Pak,” seru si perawat sambil menoleh sekilas pada Arman.
Ditanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Arman.
“Tapi, kita akan tetap pasang infus dan tambahkan satu botol lagi sesuai petunjuk dokter IGD tadi. Karena, Ibu sedang berbadan dua.”
Nanda tidak mengatakan apa pun. Apalagi sampai membantah. Ia sudah terlalu keras kepala sehingga hampir menyakiti anaknya sendiri.
Nanda mengusap perutnya perlahan sambil membatin, ‘Maafkan, bunda sayang karena sudah malas makan. Tidak akan bunda ulangi lagi.’
Arman berdiri dan bukakan pintu untuk para perawat. Lalu ia mendekati Nanda dan hendak bertanya pada wanita itu. Sesuatu yang sudah ingin ia tanyakan dari tadi, tapi belum sempat ia utarakan.