Bab 11 Arman Enggan Jauhi Nanda

1157 Words
Setelah perawat pergi, Arman mendekati tempat tidur Nanda. “Boleh saya minta satu hal?” “Tentu saja, Pak.” Nanda menatap atasannya itu dengan sedikit penasaran. Wajah pria di depannya ini terlihat berekspresi sangat serius tapi sepertinya masih ragu dengan apa yang akan ia sampaikan. “Apa saya bisa minta nomor telepon suami kamu, Rico?” “Kalau boleh tahu, untuk apa, Pak?” tanya Nanda sedikit cemas. Bukannya ia pelit tapi ia tidak ingin rahasia rumah tangganya terganggu. Biar bagaimana pun, ia dan Rico masih menyandang status sebagai suami dan istri. Setidaknya, itulah yang Nanda yakini. “Saya ingin menginap di sini untuk menjaga kamu, setidaknya sampai ada keluarga kamu yang bisa menggantikan saya.” “Oh, ya ampun, Pak Arman. Saya pikir ada niat yang lain.” “Saya hanya ingin ijin padanya.” “Saya bukannya tidak ingin berbagi nomor ponsel suami saya, tapi percuma Pak. Dia pulang ke kampung mertua saya yang jauh dari jaringan telepon seluler. Dia juga hanya menelepon saya kalau kebetulan lagi ke kota kecamatan. Tidak perlu sebenarnya, Pak. Apa justru bukannya saya yang harus ijin pada keluarga Pak Arman, karena harus menjaga saya di sini?” “Saya lajang. Tidak punya keluarga. Mereka bahkan tunggu kabar, kapan saya bisa tunggui pacar saya. Jadi, kalau saya tidak ada di rumah, tidak akan ada yang cari saya.” “Bapak bisa saja. Saya malu karena Pak Arman itu atasan saya. Apa kita tidak jadi gunjingan orang-orang kalau Pak Arman ada di sini menjaga saya?” “Maka dari itu, sebaiknya suami kamu tahu tentang hal ini sebelum dibicarakan oleh orang-orang.” Sambil berbicara, Arman sembari berdebat dengan diri sendiri. Ia sebenarnya sudah berikan informasi yang bertolak belakang, pada pihak rumah sakit. Ia tidak mau, pegawai klinik menganggap Nanda perempuan yang hamil di luar nikah. Dengan adanya dia setiap malam di kamar Nanda, mempertegas kebohongan yang sudah ia sampaikan sejak awal. Jujur, dari lubuk hati yang paling dalam ia memang ingin menjaga Nanda. Melihat keadaan perempuan ini sekarang, ia merasa ada yang tidak beres. Pingsan di kantor karena stres dan juga tubuhnya yang begitu ringan padahal sedang hamil besar membuat Arman bertanya-tanya dalam diam. Saat Nanda barusan bicarakan tentang kepergian suaminya juga terlihat begitu antusias. Sepertinya ia ingin agar semua orang tahu kalau ia sedang baik-baik saja setelah ditinggal Rico. “Kalau Pak Arman mau, bisa tuliskan pesan Pak Arman, lalu kirimkan ke ponsel saya. Nanti, saya akan langsung teruskan ke nomor suami saya. Jadi, saat ia beruntung sedang berada di tempat yang dekat dengan jaringan seluler, suami saya bisa baca pesan Pak Arman.” “Ide cemerlang. Itu juga baik. Biar saya merasa lega. Kalau begitu, saya akan lakukan sambil duduk.” “Terima kasih, Pak Arman.” Tepat Arman selesai menulis dan mengirim pesannya ke nomor ponsel milik Nanda, pintu kamar diketuk dari luar. Arman bergegas membukanya dan muncul seseorang dengan rompi tulisan jasa kurir. Arman terima barang yang dibawa dan bubuhkan paraf di kuitansi tanda terima. Lalu pintu ia tutup kembali. “Barang kamu dari rumah sudah ada.” “Eh, saya belum bayar kurirnya, Pak!” seru Nanda baru sadar. “Sudah lunas tadi kurirnya bilang.” “Saya ganti uang Bapak kalau begitu.” Nanda sudah sibuk dengan tasnya karena ia sangat sungkan pada Arman. “Eh, bukan saya yang bayar. Dari pengirim sudah lunas!” seru Arman memperjelas ucapannya. “Oh, berarti Maya yang sudah bayar. Pak, apa tidak sebaiknya saya biar ditinggal sendirian saja. Apa kata pegawai rumah sakit kalau tahu Bapak akan jaga saya malam ini?” “Sepertinya saya nanti tidak akan sendiri. Bisa jadi Dewi akan ke sini juga. Kamu tidak akan keberatan, bukan?” “Wah, kalau seperti itu bahkan lebih baik. Jadi, nama baik Pak Arman tidak akan tercemar karena menunggui ini. Saya malah sangat berterima kasih. Bisa ada Pak Arman dan Dewi yang mau berbagi kepedulian dengan saya. Saya sangat terharu.” “Setidaknya, nanti kalau saya juga kebetulan alami hal yang sama, maka kamu juga bisa balas jasa saya saat ini.” “Tentu, Pak. Saya catat. Tentunya kalau istri Pak Arman terima bantuan saya dan tidak cemburu.” “Saya tidak minta sakit untuk dalam waktu dekat. Tapi, rencana menikah untuk saya masih jauh sekali. Jodohnya masih belum ada.” “Saya bantu doa biar cepat ya, Pak.” “Amin!” Arman sudah masukkan paket tadi ke dalam laci lemari agar rapi. “Sepertinya Pak Arman sudah bisa pulang sekarang. Bukan maksud saya tidak sopan, tapi tadi sudah janji untuk pulang beristrahat, setelah kiriman saya datang.” “Ada yang kamu inginkan untuk saya bawa saat malam nanti? Kamu harus makan lebih banyak.” Arman bersungguh-sungguh dan tulus saat bertanya. Ia merasa Nanda terlalu kurus untuk seorang ibu yang sedang hamil tujuh bulan. “Terima kasih, Pak. Semua kebutuhan saya sudah cukup. Tolong pikirkan kebutuhan Bapak juga. Saya yakin menu yang diatur rumah sakit akan pas dengan kebutuhan tubuh saya.” Arman mengangguk. Ia akhirnya tinggalkan kamar Nanda untuk berbenah diri dan tidur sebentar sebelum kembali beberapa jam lagi. Tadi Dewi sudah kirimkan pesan kalau ia akan temani Arman kalau ingin jaga Nanda di rumah sakit. Tapi, belum ia balas. Sesampainya di mobil, Arman balas pesan dari Dewi terlebih dahulu. Menentukan jam agar mereka bisa bertemu nanti malam. Setidaknya kehadiran Dewi bisa buat Nanda tenang. Ibu dari Leo itu berbaring sambil pikirkan kejadian sepanjang hari. Perhatian Arman padanya sedikit mengobati rasa sepi yang ia alami dalam dua bulan belakangan ini. Ternyata ia keliru. Ia tidak sendiri. Masih ada saudara, teman dan atasan di kantor yang peduli dan sayang padanya. Apalagi, Maya dan kedua anaknya. Ia harus berjuang dan berusaha untuk terima fakta yang ada sekarang, tanpa mengeluh. Ia tetap tunggu suaminya kembali. Lambat atau cepat. Prioritasnya sekarang adalah kuatkan diri untuk bisa melahirkan anak keduanya yang butuhkan kasih sayangnya. Mungkin, ia harus biarkan Rico pergi sebentar agar bayi keduanya bisa lahir dengan selamat. Ada yang pergi dan ada yang akan datang sebagai pengganti. Nanda percaya bahwa setiap tahapan dalam hidupnya bukan kebetulan tetapi sudah diatur oleh Allah SWT. Ia di antara banyaknya penduduk di dunia yang mungkin tak terhitung jumlahnya, memiliki peran sekecil apa pun itu di bumi yang ia pijaki. Debu yang terlihat tak berguna itu saja, perlu ada dan diciptakan untuk keseimbangan dunia ini. Apalagi dirinya yang adalah manusia dengan kecerdasan tak terselami oleh makhluk hidup lainnya. Nanda mulai menyusun rencana di kepalanya. Ia mulai merasa nyaman dengan klinik tempatnya dirawat saat ini. Bisa jadi, ia ingin kembali untuk lahirkan anaknya di sini lagi. Nanda belum tahu apakah bayi berikutnya akan sama jenis kelaminnya seperti Leo ataukah bukan. Mungkin, besok ia akan minta cek ultrasound scan atau USG agar ia tahu harus mempersiapkan peralatan bayi yang seperti apa. Menjadi ibu tunggal tidak begitu menakutkan seharusnya. Sementara saja sampai Rico kembali lagi. Pikiran positif yang terus Nanda gaungkan dan yakini untuk ringankan beban hidupnya. Hanya saja, kenyataan yang akan menyongsongnya, jauh panggang dari api.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD