Nanda baru selesai makan malam begitu pintu kamar terbuka. Arman ucapkan salam dan masuk. Pria itu tepati janjinya. Ia sudah makan malam juga hingga tidak perlu pusing lagi dan tinggalkan Nanda sendirian. Kali ini, ia datang dengan pakaian lebih santai.
Arman langsung bantu ambil wadah makan yang sudah kosong. Ia letakkan di atas meja di luar kamar.
“Sebentar lagi Dewi juga akan datang.”
“Saya jadi tidak enak karena merepotkan Bapak dan juga Dewi.”
“Apa pesan saya sudah dibaca oleh Rico?”
“Sudah, barusan. Katanya salam saja untuk Pak Arman,” jawab Nanda berbohong. Ia sangat merasa bersalah karena tidak berkata jujur pada orang yang sudah begitu baik. Tapi, memang ia tidak bisa katakan yang sebenarnya saat ini.
“Syukurlah. Saya akan duduk di sofa. Bilang saja kalau butuh sesuatu, jangan sungkan.”
“Terima kasih, Pak.”
Hening suasana di kamar rawat inap itu. Masing-masing dengan pikirannya. Arman dengan rasa senang karena punya kesempatan temani Nanda sepanjang malam. Nalurinya untuk melindungi Nanda begitu kuat.
Arman berharap, mereka bisa lebih dekat setelah kejadian ini. Ia ingin Nanda lebih leluasa ceritakan kehidupan pribadinya untuk ia ketahui. Ia rasa, selama ini Nanda sangat tertutup, apalagi setelah menikah. Berbeda dengan bawahan lainnya yang akan terbuka dalam batasan wajar, soal orang tua dan atau pasangan mereka.
Sedang Nanda sedang berandai-andai harapkan Arman adalah Rico. Rasa rindunya tiba-tiba kambuh. Tapi ia tidak bisa menangis karena ada Arman di dalam ruangan yang sama. Ia harus bersikap wajar agar tidak timbul tanda tanya dari Arman.
Ketenangan di kamar Nanda rupanya tidak bertahan lama. Dewi muncul dengan kerempongannya. Ia sampai bawa satu tas koper. Arman jadi mual sendiri melihat keanehan dari Dewi. Harusnya ia tadi tidak ijinkan wanita itu ikut menginap di rumah sakit. Tapi, sudah terlanjur.
“Aku tahu kalau aku bawa banyak barang. Tapi, aku memang butuh semua ini kalau ingin tidur,” katanya setelah pintu dibukakan oleh Arman.
“Terima kasih banyak Dewi. Aku jadi merepotkanmu,” sahut Nanda sambil tersenyum.
“Kamu sudah baikan?” balas Dewi berusaha lembut. Di hadapan Arman ia memang harus bersikap manis demi menarik perhatian pria itu.
“Lumayan. Lemas karena malas makan. Tapi, aku berusaha untuk perbaiki dietku.”
“Begitu lebih baik. Jadinya, kita tidak harus berlama-lama di rumah sakit ini.”
“Iya, tepat sekali. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau bersusah payah temani aku.”
“Paling tidak, Pak Arman ada temannya. Tidak bagus juga kalau dijadikan perbincangan para petugas medis. Istri orang ditunggui oleh seorang pria lajang.”
Dewi pastikan suaranya lantang dan tegas saat ucapkan kata-kata penting untuk menyindir Nanda yang sudah repotkan atasan sendiri.
“Iya, setuju. Saya memang sudah sangat merepotkan.”
“Dewi, pasien butuh istirahat. Kita bisa berbincang di luar kalau kamu belum mengantuk,” sela Arman mulai jengah dengan kata-kata Dewi. Lagi-lagi, dalam diam ia menyesal mengijinkan Dewi ada di rumah sakit.
Arman berpikir untuk hubungi perawat esok pagi. Agar datang menegur mereka, dengan alasan hanya satu orang saja yang boleh menginap. Jadi, terkesan bukan Arman yang melarang tapi memang aturan klinik demikian. Masih ada satu malam lagi kesempatan Arman untuk jadi pahlawan bagi Nanda.
Malam itu Arman tidur di sofa sedangkan Dewi di matras tambahan yang disediakan oleh rumah sakit. Namun, Arman tidak bisa tidur karena Dewi ternyata mendengkur. Arman harus beberapa kali mengecek Nanda di tempat tidurnya karena takut wanita itu terganggu. Dengkuran dari Dewi juga cukup keras seperti gergaji listrik.
Untungnya, Nanda tidak terganggu. Justru Arman yang memang sangat menderita. Dia semakin kukuh untuk minta Dewi tidak usah lagi ikut di malam kedua. Hal pertama yang akan ia lakukan beberapa jam lagi.
Arman juga sudah kirimkan kabar untuk ambil cuti dua hari lagi demi pastikan Nanda akan keluar dan pulang dengan selamat.
Arman pun harus hadapi keriuhan dari Dewi untuk kedua kalinya. Di pagi hari, Dewi mandi untuk bersiap ke kantor langsung dari rumah sakit.
Ia ada di dalam kamar mandi hampir enam puluh menit padahal Arman sudah berharap untuk masuk juga. Perkiraan Arman, dengan jangka waktu yang lama tadi, harusnya sudah selesai berdandan. Ternyata, polesannya itu ia lakukan di luar.
Tanda tanya besar untuk Arman, apa saja yang Dewi lakukan selama satu jam tadi di dalam. Tingkah laku Dewi yang ajaib seperti ini yang menurut Arman, tidak akan buat dirinya betah untuk ada di dalam satu ruangan yang sama dengan gadis itu.
‘Hati-hati, bisa jadi dia adalah jodoh kamu,’ ia membatin.
Arman bergidik. Amit-amit jabang bayi, jangan sampai benar apa yang ia pikirkan.
Singkat cerita, Arman berhasil minta seorang perawat untuk menegur mereka di kamar, karena menginap lebih dari satu orang. Sepeninggal si perawat, Arman jelaskan bahwa Nanda sudah bisa pulang sore ini.
Hanya agar Dewi bisa bawa pulang kopernya pagi itu juga.
Dewi tersenyum canggung. “Pak Arman tidak bersiap untuk ke kantor hari ini?”
“Saya ambil cuti dua hari. Lusa baru saya masuk kantor.”
Dewi melongo. Ia masih ingin ucapkan sesuatu tetapi memandang paras Arman yang dingin buat dirinya urungkan niatnya. Atasannya itu hanya menatapnya tanpa berkedip dan tidak ada senyum ramah di sana.
Dewi memandang Nanda yang diam saja dari tadi. “Saya pamit. Semoga kita bisa cepat bertemu di kantor.”
“Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan,” sahut Nanda tidak tahu harus bereaksi seperti apa untuk puaskan Dewi.
Arman melambai pada Dewi tanda selamat jalan.
Ruang rawat inap kembali hening. Tersisa hanya mereka berdua.
Arman hampiri tempat tidur. Ia menatap lembut pada Nanda sembari bertanya, “Apa bayimu baik-baik saja?”
Nanda sedikit jengah. Ekspresi Arman sangat berbeda dari biasanya. Tapi, ia tidak ingin berpikir terlalu jauh.
“Kami baik-baik saja.”
“Apa kamu bisa tertidur dengan nyenyak semalam?”
“Tidak ada masalah sama sekali. Ada apa, Pak?”
“Dewi mendengkur sangat keras. Syukurlah kalau kamu dan bayimu baik-baik saja. Aku yang butuh tidur sekarang karena baru terasa ngantuk. Dewi seperti membawa mesin ke dalam kamar ini tadi malam.”
Nanda trenyuh. Pria ini benar-benar telah korbankan waktu istirahatnya.
“Mungkin sebaiknya Bapak bisa pulang saja sehingga tidurnya lebih nyaman.”
“Di sofa saja. Saya tidak kuat menyetir.”
“Saya janji tidak akan ribut. Tapi, Bapak butuh sarapan sebelum tidur.”
“Bisa menyusul.”
Nanda hanya bisa mengangguk. Ia tidak ingin berdebat lagi. Atasannya tahu persis apa yang ia butuhkan.
Arman benar terbujur kelelahan di atas sofa. Dokter kunjung mampir lakukan pemeriksaan pun, pria itu tidak terjaga.
Malam itu, Arman berakhir menemani Nanda sendiri. Para perawat benar mengira bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Nanda tidak begitu peka dengan situasi tersebut. Ia hanya berharap bisa cepat keluar hingga tidak buat susah atasannya.
Arman dengan sabar tunggui Nanda lewati malam kedua. Tubuh Arman lebih nyaman karena tidak ada keributan seperti malam pertama.
Hari ketiga di klinik.
Pukul sebelas siang Nanda akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Arman harus bujuk wanita itu untuk mau diantar.
Nanda bersikeras untuk pakai taksi saja. Ia sungguh tidak ingin repotkan Arman. Apalagi rumah mereka sangat berlainan haluannya. Tapi, Arman tidak ingin ditolak. Nanda dengan terpaksa ikuti permintaan atasannya.
Nanda juga minta untuk turun di depan gang tetapi Arman tidak indahkan permintaan wanita itu. Akhirnya Arman tahu alamat dari Nanda. Selama ini Arman tidak pernah diberitahu dan memang tidak ada alasan khusus untuk bertandang.
Arman puas dengan langkah maju yang ia capai. Mengenal lebih dekat bawahannya. Informasi penting untuk dirinya pribadi. Tindakan yang ia ambil tanpa maksud apa pun. Arman tidak sadar kalau, semesta sedang menggiringnya. Ia baru saja mulai terseret dalam kemelut panjang rumah tangga Nanda.