Bab 13 Arman Sebagai Sopir Taksi

1219 Words
Nanda turun dari mobilnya Arman. Ia tidak mau pria itu ikut menapakkan kaki di rumahnya. “Terima kasih banyak, Pak. Tidak usah turun lagi untuk antar saya. Semua kebaikan dan perhatian Bapak, tidak akan saya lupakan.” “Minggu depan saja baru kamu masuk. Saya sudah kantongi surat keterangan dari rumah sakit. Besok akan saya masukkan ke bagian personalia.” Arman ingin pastikan Nanda punya waktu yang cukup untuk merawat diri dan kandungannya. “Baik Pak. Terima kasih sekali lagi.” Arman tinggalkan kawasan rumah Nanda setelah dengar respon patuh bawahannya itu. Wanita berbadan dua itu perlahan melangkah menuju pintu rumahnya. Tidak perlu mengetuk karena Maya sudah muncul untuk mengambil tas pakaiannya. “Assalamualaikum May.” “Waalaikumsalam, Kak. Alhamdullilah, Kakak akhirnya pulang juga. Langsung berbaring saja, Kak?” ujar Maya sudah berjalan lebih dahulu dengan bawaannya. “Tidak May. Aku istirahat yang cukup di klinik, biar aku main dengan Leo. Sudah kangen aku.” “Syukur pada Allah SWT. Kakak mau makan apa, biar aku siapkan.” “Kamu punya bayam? Ingin kerupuk daun bayam.” “Insya Allah, ada. Oke, Kak, sambil Kakak temani Leo, aku masak untuk makan siang kita.” Nanda masuk ke dalam kamar putranya. Leo sedang bermain dengan bola-bola plastik yang diatur di sudut kamarnya. Asyik sendiri. “Halo, Sayang. Mama kangen. Maafkan mama karena tinggalkan kamu dan bibi Maya sendirian. Leo main apa?” Putranya tertawa senang. Matanya berbinar-binar sambil membalas pelukan Nanda erat. Lalu bocah dua tahun itu sibuk menggumamkan kata-kata untuk jelaskan apa yang sedang ia lakukan. ‘Rico, di manakah kamu. Tidakkah kamu ingat pada, Leo. Darah daging kamu sendiri. Begitu cepatnya engkau melupakan kami. Entah apa pengaruh yang begitu kuat di luar sana, hingga anakmu sendiri bisa kamu lupakan begitu saja,’ batin Nanda melihat kelincahan putranya. Perutnya sendiri juga mengalami pergerakan. Nanda akhirnya berusaha mengimbangi ekspresi Leo, sekaligus mengelus-elus perutnya sesekali. Nanda seperti bayangkan dirinya dalam situasi dari para wanita yang dulunya sering ia lihat menggendong satu orang anak lalu menarik yang lainnya. Berjalan sendirian tanpa pasangan di samping. Pikiran orang awam pastilah, suaminya sedang membanting tulang mencari nafkah. Tanpa peduli kalau nyatanya, tidak selalu seperti itu kejadiannya. Memang ada yang bekerja, tetapi ada juga yang sedang sibuk dengan wanita lain. Masih bagus kalau memang sang pria sudah meninggal. Nanda termasuk dalam kelompok yang ditinggal suami karena sedang sibuk dengan keluarga kandung si suami. Nanda tenggelam dalam lamunannya sembari memperhatikan Leo. Tak terasa, waktu bergulir terus. Ketiga penghuni rumah sederhana itu menyantap makan siang mereka. Maya menyuap Leo terlebih dahulu. Nantinya mereka akan bergantian menemani bocah gempal menggemaskan itu. “Siapa yang mengantar tadi, Kak? Padahal aku dan Leo sudah berencana pesan taksi untuk jemput Kakak.” “Teman kantorku. Atasanku tepatnya. Bukan bos tertinggi tetapi dia kepala divisi kami.” “Masya Allah, baiknya.” “Pak Arman. Dia ternyata yang melihat aku pingsan di kantor. Akhirnya dibawa ke klinik. Bahkan ia temani selama dua malam di sana.” “Oalah, pria yang aku sempat bicara di telepon. Itu super baik, Kak. Istrinya tidak marah?” “Kebetulan masih lajang.” “Alhamdulillah sekali, Kak. Berarti masih ada banyak orang yang tulus di bumi ini.” “Iya, May. Pak Arman salah satunya. Ia juga minta nomor kontak Rico untuk ijin menjagaku di rumah sakit.” “Terus?” “Tentunya tidak aku berikan. Aku hanya minta dia kirimkan pesan biar aku teruskan. Jadinya aku berbohong.” “Memang salah tapi Kakak memang dalam posisi terjepit, demi kebaikan semua.” “Semoga.” Maya hanya bisa menahan pilu dalam diam. Sungguh malang memang nasib majikannya. “Kakak, apa mungkin mau coba lakukan khatam?” tanya Maya untuk alihkan percakapan mereka dari kenangan Rico. “Sebentar lagi aku sudah mau lahiran. Harusnya, dari bulan pertama hamil sudah aku lakukan, jadi bisa selesai di bulan ke sembilan,” sambung Nanda tidak pernah berpikir sejauh dan sedewasa Maya. “Insya Allah, Kakak belum terlambat kalau memang ingin coba. Setidaknya, ayat-ayat suci itu bisa beri rasa damai dan jauhkan segala kecemasan.” “Kamu benar, May. Aku akan mulai malam ini. Bulan-bulan pertama merawat adiknya Leo bisa berikan waktu untuk selesaikan niatku. Aku akan baca Al Quran yang terjemahan saja, May.” “Apa pun itu, Kak. Tidak masalah. Intinya, ada niat. Pasti, Allah SWT akan bukakan jalan dan tuntaskan apa yang sudah Kakak mulai.” “Terima kasih, May. Kamu memang hebat. Bisa jadi teman, sahabat, rekan kerja dan ibu bagiku saat sedang tidak punya pegangan seperti sekarang ini.” “Amminnn Kak. Kita akan lalui semuanya bersama, Insya Allah segala sesuatunya lancar.” *** Kehamilan Nanda makin membesar. Dia sudah siapkan berkas cuti tapi masih belum ia isi tanggalnya. Sudah ia serahkan pada Arman seperti permintaan pria itu. Nanti, kalau Nanda sudah masuk ke klinik, barulah ia akan isi tanggal dan ditandatangani sekaligus dikirim ke bagian personalia. Dua hari menjelang tanggal perkiraan kelahiran adiknya Leo, Nanda mulai rasakan sakit pinggang. Di akhir jam kerja. “Pak Arman, sepertinya satu atau dua hari lagi, saya akan melahirkan. Kalau saya tidak datang ke kantor, artinya saya ada di klinik di mana saya dirawat waktu pingsan dua bulan yang lalu. Saya suka dengan keramahan tenaga medis di sana.” “Kamu sudah mau pulang?” Arman mengangguk sekaligus bertanya. “Iya, Pak. Saya pamit terlebih dahulu.” Arman menggaruk kepalanya ingin tawarkan bantuan tapi ia tidak terlalu yakin kalau Nanda akan setuju. “Hati-hati di jalan.” Arman hanya bisa menahan keinginannya untuk mengantar wanita yang sedang hamil besar itu. Perasaan Arman rasanya tercabik-cabik bayangkan Nanda harus berdesakan di atas bis dengan penumpang lainnya. Tapi Arman tidak punya hak untuk melindungi Nanda, jika tidak diijinkan. Pria itu kembali masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat berkas cuti Nanda dan amati tanggal yang masih kosong di sana. Ia cantumkan tanggal dua hari lagi. Tapi, malam nanti ia akan minta Nanda untuk bekerja dari rumah saja. Untuk kurangi kecemburuan dari staf yang lain, Arman akan kirimkan banyak dokumen untuk dicek dan data untuk diinput oleh Nanda, tanpa harus ke kantor. Sementara Nanda sudah di atas bis hampir sampai di rumahnya. Rasa sakit pinggangnya mulai bertambah. Nanda masih diam saja. Belum ia sampaikan pada Maya. Setelah makan malam, rasa sakit itu semakin sering frekuensinya. Selang antara tiga puluh sampai dengan empat puluh lima menit. “May, tolong panggilkan taksi. Sepertinya sudah saatnya aku melahirkan.” “Astaghfirullahaladzim, Kakak jangan bercanda.” “Aku serius.” “Baiklah, aku pinjam ponsel Kakak kalau begitu.” Nanda tunjukkan letak ponselnya lalu biarkan Maya hubungi kantor pangkalan taksi. Maya masih mencari nomor kontak, ketika ponsel Nanda dalam genggamannya berdering. “Diangkat saja,” seru Nanda pada Maya. Maya menangkap ekspresi sakit pada wajah Nanda hingga ia langsung menjawab panggilan dari seberang. “Malam Nanda. Saya Arman.” “Malam Pak. Bagaimana?” “Besok kamu tidak usah ke kantor. Nanti saya kirimkan pekerjaan saja. Jangan lupa mengecek surelmu pagi-pagi.” Terbersit ide nakal Maya yang tidak ingin ia diskusikan dengan Nanda. “Pak, bisa tolong ke sini. Saya sepertinya harus bertemu bidan sekarang. Perut saya sakit.” “Oh, tentu saja. Saya akan ke sana sekarang!” Arman langsung memutus panggilan tanpa bertanya lagi. Maya tersenyum senang. Ia ingat perbincangannya dengan Nanda sebelumnya, kalau Arman itu masih lajang. Maksud Maya baik. Meski, ada konsekuensi yang harus ia terima nantinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD