Bab 6 Merasa Sebatang Kara

1276 Words
Bis yang Rico akan tumpangi akhirnya berangkat juga sesuai jadwal. Memang tidak tepat pada pukul tujuh tapi juga tidak terlalu telat. Masih ada sekitar empat jam lagi baru Rico tiba di kampungnya. Sekitar pukul sebelas malam, ayah dari Leo itu tiba di tujuan juga. Rico tidak akan ke rumah sakit tapi ke rumah terlebih dahulu. Keuntungan dari mereka naik bis malam adalah langsung di antar ke alamat rumah masing-masing. Rico sudah merancang untuk tinggalkan Nanda sejak lama. Tepatnya begitu Nanda katakan kalau ia hamil anak kedua. Rico masih ingin bersenang-senang. Dia belum siap terikat dengan banyak anak. Seorang Leo saja tidak begitu menarik simpati dari Rico. Dia pada dasarnya tidak begitu suka punya banyak anak. Aneh memang. Tidak ingin punya anak tapi tetap menghamili wanita. Biar pun itu adalah istri sementara. Sangat egois. Itulah yang ada dalam benak Rico. Dari sini sangat jelas bahwa Rico ingin bebaskan diri dari Nanda dan Leo. Dia pergi dengan sadar dan sakit mamanya itu hanya alasan yang kebetulan ada untuk mempermulus rencananya. Rico sudah terlepas dari Nanda dan kota Surabaya. Ia sebentar lagi sudah kembali ke dalam pelukan ibu kandungnya. Masa depan antara Rico dan Nanda sudah tamat. Sangat berbeda dengan Nanda. Malam pertama ditinggal oleh Rico, Nanda tidak bisa tidur. Ia terus gelisah dan bolak balik di atas kasurnya. Ia mencoba mengontak nomor ponsel Rico dan masih dapatkan jawaban yang sama. Dering panjang tanpa jeda yang lama-lama seperti memekakkan telinga. Ia mengatupkan mata tapi tidak terlelap pulas untuk waktu yang lama. Nanda tidak sanggup keluarkan air mata lagi. Ia harus bisa terlihat segar keesokan harinya karena ia harus bekerja. Ia juga akan sangat rindu pada ibunya. Wanita yang hampir renta itu tidak ingin berbasa basi dengannya. Sedih sekali rasanya. Ditinggalkan suami dan dicuekin ibu kandung. Nanda turun dari ranjang karena panggilan alam. Sudah pukul tiga dini hari. Sebentar lagi matahari terbit. Demi membunuh waktu, ia menuju dapur. Memasak untuk sarapan dan juga bekal untuk ibunya bawa. Jam setengah delapan, travel yang jemput ibunya akan tiba. Bukan menu yang rumit tapi cukup untuk buat Nanda sibuk. Nasi goreng, kerupuk, sambal dan acar mentimun. Tak lupa bubur ayam untuk putra sulungnya. Nanda bersyukur, bayinya dalam kandungan tidak ada masalah sama sekali. Tenang tanpa membuatnya sibuk. Saat mengusap perutnya, Nanda jadinya teringat lagi pada Rico. Biasanya, mereka akan ada di dapur pagi-pagi sekali. Walau Rico tidak selalu membantunya memasak, tapi ia akan duduk menungguinya. Belum juga dua puluh empat jam berpisah. Ia sudah rindu pada suaminya itu. Setelah semua menu tertata rapi di atas meja makan, hampir pukul lima pagi. Nanda beranjak ke kamarnya. Ia berpapasan dengan Maya yang baru terjaga dan hendak ke dapur. “Pagi, May. Aku sudah masak sarapan. Kamu bisa lakukan yang lain. Jam tiga subuh tadi aku terjaga dan tidak bisa tidur lagi.” “Pagi Kak. Masya Allah. Baiklah kalau begitu aku coba rapikan rumah saja sekarang. Terima kasih banyak ya, Kak.” “Aku balik ke kamar dulu. Nanti kita sarapan sama-sama, ya. Sebelum ibu dijemput travel.” Pagi yang cukup mengharukan bagi Leo dan Nanda. Ibu Lidya meninggalkan kota Surabaya. Leo menangis ingin ikut dengan neneknya sehingga harus dibujuk oleh Maya. Sedang Nanda cukup mengecup kening ibunya. Lidya tetap tidak tanggapi apa pun perkataan putrinya. Tapi, dia tidak menolak atau menepis saat keningnya dikecup. Nanda pun tidak menuntut. “Terima kasih sudah berkunjung, Bu. Hati-hati di jalan. Kami akan coba mengunjungi Ibu suatu saat nanti.” Travel tersebut tinggalkan kompleks tempat tinggal mereka. Nanda juga pamit pada Maya untuk ke kantor. Walau pun tidak tidur cukup semalam, tapi Nanda tetap harus bekerja. Ia mengabdi di sebuah perusahaan properti milik salah satu dari dua puluh orang terkaya di kota Surabaya, sebagai staf admin. Hampir empat tahun lamanya. Ia harus tempuh sekitar tujuh puluh menit setiap hari kerja dengan kendaraan umum. Nanda sebenarnya bisa kendarai motor tetapi sempat dijual saat sudah menikah. Rencananya mau beli yang baru tapi belum kesampaian. Belum punya cukup modal untuk miliki kendaraan sendiri lagi. Ia fokus pada kumpul uang muka untuk beli rumah, pada waktu itu. Ia sampai di kantor tepat waktu. Berpapasan dengan Arman, atasan langsungnya yang juga baru tiba. “Hari ini lebih awal dari biasa?” sapa Arman saat sudah beriringan masuk lewat pintu depan. “Pagi Pak. Lumayan cepat tadi bis umumnya dan penuh penumpang, sehingga tidak banyak berhenti di jalan.” “Leo apa kabar?” “Syukurlah sehat, Pak. Sempat rewel ingin ikut jalan, tapi untung ada Maya.” “Pertahankan Maya itu. Jarang bisa dapat teman di rumah bagi anak-anak di jaman modern seperti sekarang. Terlalu banyak kejahatan merajalela.” “Itulah, Pak. Saya memang beruntung.” Arman seorang lajang yang pekerja keras. Fokus pada kerjanya dan sangat profesional. Tidak semena-mena dengan kuasanya. Tidak hanya asal perintah tetapi berikan contoh pada bawahan agar mampu selesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Tanpa sepengetahuan Nanda, Arman menaruh perhatian besar padanya. Ia adalah salah satu saksi pernikahan di atas kesepakatan antara Nanda dan Rico. Ia pikir, pernikahan dua orang muda yang tidak melewati masa perkenalan mendalam dan pacaran itu akan bubar dalam waktu singkat. Tapi, asumsinya keliru setelah melihat kehamilan Nanda. Bawahannya itu dan suaminya, ternyata saling jatuh cinta. Tanpa cinta tak mungkin akan ada anak. Dua orang pula. Selain Arman dan Nanda, dalam ruangan mereka ada beberapa orang lagi. Salah satu yang paling heboh adalah Dewi. Wanita lajang yang menunjukkan perhatiannya secara terang-terangan pada Arman. Saat waktu makan siang, Nanda buka bekal yang ia bawa. Selalu seperti itu apalagi sejak ia hamil. Terlalu malas untuk cari makan di luar. Harus bergerak keluar dari kantor. Padahal warung dan restoran cukup banyak di sekitar tempat kerja mereka. Sempat berjalan kaki saat datang dan pulang kerja saja sudah cukup untuk Nanda. “Pak Arman, aku traktir makan siang, ya? Aku ulang tahun hari ini soalnya.” Dewi berseru dengan nyaringnya sehingga seantero ruangan bisa mendengar perkataannya. “Teman-teman lain apa tidak ingin diundang juga?” tanya Arman sudah keluar dari bilik kecilnya. Dewi menatap sekeliling ruangan sembari berkata. “Ayo, kalau ada yang mau ikut sebelum aku berubah pikiran.” “Selamat ulang tahun, Dewi. Terima kasih undangannya, tapi bumil lagi lelah berjalan. Kebetulan aku juga bawa bekal.” Nanda dengan santun mengangkat kotak makan yang ia sedang pegang. ‘Baguslah sadar diri, siapa juga yang mau ajak kamu. Rugi!’ batin Dewi dengan menatap sekilas pada Nanda sebelum tersenyum sumringah pada Arman. “Aku ikut!” seru salah satu teman pria. Nanda hanya tersenyum mengiring kepergian teman-temannya. Ia habiskan bekalnya perlahan-lahan. Karena sudah sendirian di ruangan, ia coba kontak Rico lagi dengan menyalakan speaker ponselnya. Telinganya masih sakit dengan dengingan nada sambung ponsel yang panjang tanpa jeda. Tidak tersambung. Langsung putus begitu saja. Tidak ada nada apa pun. Raut wajah Nanda langsung sedih. “Di mana kamu sebenarnya, Rico. Nomormu tidak bisa aku jangkau sejak kemarin. Leo pasti akan menanyakanmu, karena ibu sudah tidak ada lagi di rumah.” Demi mengalihkan pikirannya, Nanda kirim pesan ke ponsel ibunya untuk ucapkan maaf dan berharap ibunya tiba dengan selamat sampai di kampung sore nanti. Tapi, ia kembali teringat pada Rico. Selera makan Nanda sudah hilang sebenarnya. Tapi, ia paksa untuk habiskan. Demi bayi dalam kandungannya dan orang-orang yang kelaparan di luar sana. Satu dua tetes air mata jatuh. Ia seka sesegera mungkin. Ada gumpalan rasa kecewa, marah, putus asa dan sedih di dalam sana. Nanda merasa sebatang kara dan sendirian. Ia benar-benar hanya didukung oleh Maya sekarang. Ia mengusap perutnya perlahan sambil bergumam, “Maafkan Ibu karena tidak bisa memberikan kamu ayah. Tapi, kamu punya kakak Leo dan tante Maya yang akan selalu mencintaimu.” Nanda tidak pernah merasa sepi seperti saat ini. Sungguh, dia harus bertahan agar bisa melewati hari-hari selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD