Bab 5 Nanda Kehilangan Jejak Rico

1135 Words
Nanda masih berbaring di tempat tidur, setelah memesan tiket untuk kepulangan ibunya. Ia menelepon suaminya tetapi tidak ada nada sambung berupa lagu atau lantunan berirama yang enak untuk disimak. Hanya terdengar nada panjang tanpa jeda. Nanda hembuskan napasnya. “Mungkin jaringan yang memang sedang tidak bersahabat. Sebaiknya aku segera siapkan makan malam.” Waktu memang hampir menjelang pukul setengah delapan malam. Tak terasa, lamunannya di kamar telah menyita waktu. Tidak banyak yang ia lakukan tadi selain bersedih, menelepon temannya dan juga mencoba menghubungi ponsel Rico. Ia sampai di dapur dan ternyata Maya masih ada di sana. Dengan semua kejadian yang mereka lalui, Maya jadinya agak telat selesaikan tugas malamnya. Biasanya Nanda yang siapkan makan malam, tapi Maya paham akan situasi di rumah belakangan ini, jadi ia langsung berinisiatif meski agak lambat. “Di mana Leo, May?” tanya Nanda. “Eh, Kakak. Leo sedang bermain dengan ibu di kamar. Setelah bangun tidur, mandi dan saya suap, dia ingin bermain dengan neneknya.” “Apa yang bisa aku bantu?” “Tidak perlu. Sudah hampir selesai, Alhamdullilah. Aku hanya tambahkan masak sup untuk malam ini. Lauk siang juga masih tersisa.” “Ibu sedang marah padaku.” Nanda berbicara sambil duduk di kursi yang ada di dapur. Mereka membeli rumah tipe 45 sehingga tidak terlalu besar tapi juga tidak mungil. Masih ada tempat untuk mereka bisa berbincang sambil masak. “Astaga, kenapa ibu bisa marah pada Kakak?” “Nanti aku ceritakan penyebabnya. Setelah ibu pulang dulu.” “Iya, ibu masih ingin jalan-jalan di sini. Tadi dia senang waktu bersama Leo di taman bermain.” “Karena marah, dia ingin pulang besok pagi. Ia sangat kecewa padaku.” “Kakak tidak boleh terlalu banyak pikiran. Tidak bagus buat kandungan. Aku memang belum pernah hamil, tapi itu yang aku dengar kalau lagi nonton di televisi.” “Aku tahu. Tidak mudah memang jadi perempuan dan jadi ibu. Nanti, saat makan bersama tolong ajak ibu bicara. Dia pasti tidak mau menanggapi perkataanku.” “Apa ibu akan sekeras itu kalau sedang marah?” “Sejak dulu wataknya seperti itu. Akan diam saja kalau ada hal yang tidak sesuai harapannya.” “Semoga hatinya cepat melunak, Insya Allah.” Sementara di terminal. Rico dan saudarinya itu sedang menunggu jadwal bis untuk berangkat pukul tujuh nanti. Rico baru kembali dari toko kecil tempat jual kartu seluler dan pulsa. Rico membuka ponselnya dan memasukkan kartu seluler yang baru. Rupanya, kartunya yang lama sudah tidak ia pakai lagi. Entah dibuang atau ia simpan dan diganti sementara. Tidak heran jika ia tidak bisa dilacak oleh orang-orang yang tidak tahu nomor barunya. Dan, Nanda termasuk di dalamnya. Pria itu tampak puas. Ia hidupkan ponselnya setelah kartu terpasang. Ia sepertinya bahagia karena sudah bebas dari masa lalunya. Pernikahan dengan satu lembar kontrak yang mungkin berkekuatan hukum tapi ia tidak merasa terikat. Rico sebenarnya seorang karyawan di pabrik konveksi. Itu pun hanya beberapa bulan. Terhitung sejak Leo berusia empat belas bulan. Ia sebenarnya punya jiwa berdagang yang kuat. Lebih suka menjadi pemilik usaha daripada karyawan. Ia pernah jalankan usaha simpan pinjam uang dan berhasil. Pada saat ia akan meminta modal pinjaman di koperasi, syaratnya diprioritaskan untuk nasabah yang berpasangan. Ia ingin mengembangkan bisnisnya. Di situlah ia dipertemukan dengan Nanda. Rico sebenarnya tidak mencintai Nanda sepenuh hati. Tapi, karena Nanda sangat baik dan lembut, makanya ia bertahan mendampingi wanita itu. Sekitar tiga tahun mereka hidup bersama. Dua hari setelah bertemu, mereka langsung dinikahkan di depan saksi notaris. Surat keterangan bukti bahwa mereka menikah itulah yang diserahkan dan akhirnya pinjaman modal usahanya bisa cair. Nanda tidak pernah ikut campur dalam bisnis Rico. Sebagian uang Rico satukan dengan tabungan Nanda dan mereka jadikan uang muka untuk rumah yang ditempati sekarang. Tapi masih ada cicilan sekitar enam puluh bulan lagi. Rico terbilang sangat menikmati hidupnya. Ia dan Nanda berjumpa di malam hari sampai sebelum berangkat kerja karena sama-sama pegawai. Mereka belum punya kendaraan sendiri jadi akan ke tempat kerja masing-masing dengan kendaraan umum. Kadang dengan taksi kalau sudah terlambat. Setiap pagi, mereka akan keluar bersama-sama lalu berpisah karena rute yang berbeda. Lalu apa arti kontrak pernikahan yang sudah ia tandatangani bersama Nanda. Ia anggap itu sebagai pintu masuk untuk mengembangkan usahanya. Ia penuhi semua butir dalam kontrak. Kesepakatan hanya untuk lima tahun. Tinggal di kamar terpisah. Tidak ada sentuhan fisik. Saling menghargai dan masih ada beberapa pernyataan lagi. Catatan pentingnya, kalau sampai mereka memiliki anak, maka harus ada pernikahan resmi di depan penghulu. Saat itu mereka tidak ke penghulu karena Nanda masih belum yakin. Nanda setuju untuk menikah waktu itu di depan notaris karena sungkan pada temannya. Juga, karena tujuan awalnya untuk membantu Rico. Jadi, semua kesepakatan itu dibuat. Jangka waktunya disesuaikan dengan proposal peminjaman uang yang Rico ajukan. Tapi, seiring waktu berjalan, Rico melanggar salah satu poin dalam perjanjian. Ia meniduri Nanda. Seingat Rico, kejadian itu terjadi bukan karena paksaan. Benar karena rasa suka sama suka. Kalau karena paksaan, Nanda pasti sudah mengusirnya dari kamar. Kejadian sesungguhnya adalah mereka baru pulang dari pesta ulang tahun temannya. Mereka tiba pukul sembilan malam di rumah. Karena lelah, masing-masing langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Entah apa yang mereka makan di sana, setelah mandi keduanya sangat mengantuk. Lalu sama-sama tertidur di kamar masing-masing. Menjelang dini hari, Rico terjaga. Ada keinginan sangat besar baginya untuk menengok Nanda di kamarnya malam itu. Celakanya, Nanda juga lupa mengunci pintu. Biasanya akan ia kunci tapi yaitu tadi, karena sudah letih seharian bekerja dan disambung undangan dari teman mereka, membuat Nanda lupa akan rutinitasnya yang satu itu. Dengan mudah Rico masuk ke dalam kamar Nanda. Jiwa mudanya berdesir melihat gaun tidur Nanda yang tersingkap. Rico mendekat berniat untuk merapikan selimut Nanda agar rapi lagi menutupi tubuh istri kontraknya. Tapi, niatnya itu malah berubah. Bukan cuma tangannya yang terulur meraih ujung selimut, tapi tubuhnya juga ikut ia baringkan di samping Nanda. Aroma tubuh dari Nanda membuai Rico. Ia merapatkan raganya dan melingkari pinggang dari Nanda. Rico ingat betul, Nanda langsung terjaga. Tapi bukan marah tapi berbalik dan masuk dalam dekapan Rico. Kesempatan berharga itu Rico gunakan untuk menebarkan pesonanya. Gerakan tangannya yang lincah mulai beraksi. Tentu saja dengan penuh kelembutan. Perkataan Nanda yang sempat Rico tangkap waktu itu adalah Nanda mengingatkan Rico tentang pernikahan yang sesungguhnya, kalau sampai mereka lewati malam bersama. Demi menuntaskan keinginannya yang sudah tak terbendung lagi, tentu saja Rico langsung setuju. Tidak mungkin ia batalkan apa yang sudah begitu mendesak untuk segera disalurkan. Kata-kata rayuan di telinga Nanda bersama usapan lembut akibat gesekan permukaan kulit yang beradu membuat keduanya lupa akan batasan di antara mereka. Sekat itu terkuak sudah. Apa yang tertutup rapat selama ini akhirnya dibuka dengan manisnya. Sayangnya, setelah tiga tahun Rico merasa bosan. Telepon dari kampung menjadi celah baginya untuk mencari pengalaman lain yang berbeda. Mungkin, ia akan kembali ke kota Surabaya suatu hari nanti, tapi belum pasti kapan waktunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD