Bab 4 Kejujuran Nanda

1079 Words
Setelah ditinggal oleh Maya, Nanda masih mendekam di kamarnya. Semua peristiwa menyedihkan yang ia alami di sepanjang hari itu tidak bisa ia lupakan. Terus saja hadir dalam ingatannya meski ia berusaha untuk abaikan. Apalagi saat ia tahu reaksi ibunya. Semua kronologi kepergian Rico secara rinci kembali Nanda ingat. Naluri Nanda tepat. Ibunya, Lidya, Maya, pengasuh Leo putranya, ada di dalam taksi yang baru berhenti di depannya. Pengasuhnya yang duduk di depan langsung berlari mendekatinya dan membantunya berdiri lalu memapahnya ke dalam rumah. Ibu Lidya yang menggendong Leo, baru turun dari taksi. Tidak begitu perhatikan apa yang sedang terjadi pada putrinya. Berjalan santai tapi tidak lambat karena sisa panas matahari siang menyengat di permukaan kulitnya. Maya langsung meraih Leo dan membujuknya untuk istirahat di kamar, tinggalkan kedua majikannya. “Ada apa, Nak? Kenapa kamu berlinangan air mata? Mana Rico?” “Dia pergi, Bu. Baru saja. Taksi yang tadi berpapasan dengan mobil yang Ibu tumpangi. Rico dengan saudarinya itu.” “Lalu, apa yang buat kamu sedih?” Lidya masih belum paham dengan keadaan yang sebenarnya. “Rico pergi dengan bawa ijazahnya. Ia bahkan tidak bisa menunda hanya untuk pamit pada Ibu atau pun putranya Leo. Ia tidak akan kembali, Bu!” ucap Nanda lirih di tengah isakannya. “Apa alasannya ia pergi?” “Mamanya di kampung jatuh dan sedang dibawa ke rumah sakit. Katanya ada gejala stroke. Dia ingin merawat ibunya sampai sembuh.” “Apa ia tidak akan kembali nanti saat kamu melahirkan anak kedua kalian?” “Aku tidak tahu, Bu. Tapi, ia tadi bilang kalau ia tidak ingin berjanji. Ia juga masih belum yakin kapan bisa kembali lagi ke sini. Makanya, ijazahnya juga ia bawa.” “Bagaimana mungkin seorang suami begitu saja tinggalkan istrinya tanpa berikan kepastian tanggal pulang? Ada apa sebenarnya, Nanda? Hubungan seperti apa yang kalian miliki hingga ia bisa pergi tanpa rasa beban sedikit pun?” “Ibu, maafkan Nanda.” Ada jeda sekian detik sebelum Nanda bersuara. “Kami memang belum menikah secara resmi di depan penghulu. Kami dijodohkan oleh teman Nanda.” “Apa maksud kamu?” Nanda enggan menjawab tetapi wajah ibunya sudah menuntut. Ia sangat sedih karena harus katakan yang sebenarnya pada Lidya. Tapi, ia memang harus ceritakan pada seseorang tentang nasibnya. Selama ini ia pendam sendiri. Bahkan Maya juga tidak tahu, padahal mereka sudah sangat dekat. Maya selalu ada di sampingnya. Nanda meraih tisu di atas meja dan bersihkan hidungnya. Ia lalu berusaha memilih kata-kata yang tepat agar tidak buat ibunya lebih sakit kepala lagi. “Kami hanya menikah di depan notaris karena Rico harus masukkan dokumen untuk bisa akses modal usaha. Pasangan suami istri yang diprioritaskan sehingga untuk menangkan proposalnya, maka kami menikah di atas kontrak tertulis.” “Ibu malu dengar semua yang kamu sampaikan. Kalau hanya sebatas kontrak, mengapa kamu malah hamil sampai dengan dua orang anak?” “Di dalam kontrak sudah disebutkan jika sampai ada anak, maka artinya telah tumbuh rasa suka, jadi pernikahan resmi harus diadakan. Dengan demikian kontrak yang pertama itu akan dianggap tidak berlaku lagi. Rico sudah berjanji untuk menikahiku di kampungnya setelah aku melahirkan.” “Ini terlalu rumit untuk ibu pahami. Ibu mau pulang ke kampung besok. Ibu tidak ingin tunda lagi.” Lidya langsung masuk ke dalam ruang tidur cucunya. Selama menginap, ia memang tidur bersama Leo. Waktu sudah di dalam, ia baru sadar kalau cucunya itu ternyata sedang berada di kamar Maya. Ia segera mengemasi barang-barangnya agar siap untuk berangkat. Sedang Nanda hanya bisa mengangguk. Dari ekspresi wajah dan sikap Lydia, Nanda sadar benar kalau ibunya kecewa berat padanya. Sudah banyak yang orang tuanya telah korbankan untuk bisa menyekolahkannya. Mengetahui bahwa dirinya menikah tak resmi seperti ini, tentu sangat memalukan. Nama baik keluarga mereka di kampung pasti akan tercoreng. Selama ini Nanda selalu dijadikan contoh sukses karena berhasil meraih gelar sarjana di ibu kota provinsi. Nanda menelan rasa kecewanya sambil masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mungkin meminta ibunya untuk tinggal lebih lama lagi. Ia sudah tahu kalau ia akan lewati masa melahirkan tanpa dukungan siapa pun selain Maya dan anaknya. Air matanya sudah mengering. Ia berusaha untuk tegar. Meski hanya secercah saja, ia masih punya harapan bahwa Rico akan kembali. Bisa jadi keadaan mertuanya di kampung tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia masih paksa dirinya untuk berpikir positif. Apa yang mereka lewati selama tiga tahun bersama, cukup kuat bagi Rico untuk mengingat dirinya dan anak-anak. Nanda yang terlalu terbawa emosi karena kehamilannya. Ia terlalu khawatir sehingga merasa Rico tidak akan kembali lagi padahal bukan demikian yang akan terjadi. Nanda rebahkan diri di atas kasur dan akhirnya tertidur sampai Maya membangunkannya. Di sela lamunannya, setelah bisa menguasai dirinya, barulah Nanda berupaya untuk bisa berpikir logis. Nanda baru sadar kalau ibunya pasti akan marah kalau ia tidak jadi pulang besok hari. Nanda hampir lupa memesan tiket. Ia bergegas menghubungi temannya untuk memesan satu kursi di armada travel bagi ibunya agar pulang ke kampung tempat, dirinya lahir dan kerabatnya tinggal. Ia berikan alamat kompleks perumahan mereka agar bisa dijemput di rumah. Tiket mobil travel pagi yang ia ambil. Nanda sudah hafal betul dengan watak ibunya. Jika ia katakan bahwa akan pergi maka tidak bisa ditahan lagi. Agar tidak terjadi ketegangan yang panjang di antara mereka, Nanda memilih untuk menuruti permintaan ibunya. Satu masalah selesai. Saatnya ia berpikir tentang cara memberitahu putranya, Leo jika ia ingin bertemu dengan papanya. Matanya jatuh pada keberadaan ponselnya. Nanda mengambil benda pipih itu dan menggunakannya. Sambil mengelus perutnya, ia mencoba mengontak nomor kontak suaminya, Rico. Ia simpan rasa kecewanya dulu agar bisa berbicara dengan lancar pada suaminya itu. Kalau dalam keadaan marah tidak akan bisa ia menyampaikan rasa ingin tahunya dan rasa khawatirnya. Ia pandang ponselnya untuk meyakinkan diri kalau tidak ada masalah dengan dayanya. Ia juga mengecek jumlah pulsanya agar cukup waktu berbicara tanpa putus di tengah. Meski bagaikan satu cahaya lilin yang temaram, harapan masih bisa mengontak Ricolah yang memacu Nanda untuk mengutak-atik ponselnya. Sementara itu, Lidya sedang mengemasi barang-barangnya. Ia siap pulang ke kampung. Rasa kecewa yang hinggap dalam dirinya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sudah ratusan kali Lidya berikan peringatan pada putrinya, dulu sebelum Nanda berangkat kuliah ke kota. Lidya ingat kalau Nanda waktu itu berjanji untuk tamat kuliah dan tidak membuat malu keluarga. Terbukti, ia memang bisa selesai menyandang gelar sarjana. Tapi, memiliki dua orang anak dari pernikahan yang tidak resmi itu bukan hal yang membanggakan. Lidya tidak ingin melihat tampang putrinya lagi. Ia sudah putuskan untuk pulang ke rumahnya, pagi-pagi sekali. Tinggalkan cucunya dan putrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD