Goodbye Corona and Welcome To The Future
Tak terasa dua bulan sudah gadis periang dengan tinggi 162 cm yang berambut pendek sebahu ini masuk SMA offline untuk pertama kalinya setelah virus Corona dinyatakan sudah menurun.
Di sini Siska seakan menemukan dunia barunya. Dunia di mana dirinya sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Ini pertama kalinya Siska mengenakan seragam SMA.
Siska merasa masa SMA tidak akan menarik. Bagaimana tidak? ia menghabiskan masa kelas 10 di rumah saja padahal sedari SMP ia telah membayangkan indahnya masa-masa SMA yang biasa dilengkapi dengan manisnya kisah asmara remaja.
"Siskaaa!" Seru Lidya semangat ketika Siska melangkah menuju kelas.
"Apa lo" jawab Siska yang masih terbayang-bayang dengan kasur kesayangannya di rumah.
"Eitss santai dong" Nada bicara Lidya terdengar kaget dengan jawaban Siska yang terdengar dingin.
"Gue senang banget tau, akhirnya bisa ngerasain jadi siswa SMA juga" gumam Ciga yang melihat Kedua sahabatnya Lidya dan Siska.
"Asli sih nggak sabar banget lihat hari-hari berikutnya, say goodbye to Corona " balas Uci yang entah darimana datangnya.
"Kebiasaan nih bocah datang tiba-tiba" kaget Siska.
"Nggak sabar kenapa sih lo?" Tanya Ciga penasaran.
"Yaelah Ciga kayak nggak kenal teman lo aja. The one and only nggak sabar lihat kisah percintaan dialah". Lidya yang sudah tahu jalan pikiran si wibu Uci.
"Si Ciga pura-pura nggak tahukan lo?, aslinya mah dia udah cape" Canda Siska yang membuat Lidya dan Ciga tertawa.
" Tahu aja lo" balas Ciga.
"Ejek gue terus aja" gumam Uci pasrah.
" Woi diam, Bu guru udah Dateng tuh!" Kata Ojang selaku ketua kelas.
"Yah... Nggak asik ih" balas Uci lalu kembali ketempat duduknya.
Seperti kelas-kelas pada umumnya pagi itu kelas XII MIPA 1 mengikuti proses belajar mengajar. Jam pertama diisi oleh mata pelajaran Matematika.
"Ini masih lama ya?" bisik Siska kepada Lidya ketika waktu pelajaran matematika sudah dihabiskan selama 2 jam 55 menit
"Tinggal 5 menit lagi, tapi berasa lama banget" keluh Lidya
"Eh angkatan kita banyak juga ya yang lumayan gitu mukanya".
"Siapa emang?". Lidya mulai penasaran dengan ucapan Siska.
"Nggak tau juga sih, ngarang soalnya" Canda Siska yang sebenarnya sudah stress melihat rumus matematika.
Tringgg!!
"Yes akhirnya" seru Lidya yang mendengar bell istirahat berbunyi.
"Girls ke kantin yuk" ajak Uci
"Let's go". Lidya, Siska, Ciga tertawa. Kompak banget jawab ajakan Uci.
Jam istirahat diisi dengan canda tawa para remaja SMA yang baru merasakan rasanya menjadi pelajar SMA. Nasib menjadi angkatan Corona sih ini.
"Banyak banget belanjaan lo" ucap Uci yang melihat belanjaan Lidya di kantin
"Mau buat stok sebulan gue, banyak tanya banget sih lo" balas Lidya. Lidya memang sensitif jika berkaitan dengan makanan.
"Yuhuuu yang katanya mau diet siapa sih tuh?"
"Hmmmm yang tau tau aja" balas Ciga yang memang pernah mendengar Lidya curhat ke Siska tentang berat badannya yang naik.
"Diem nggak lo pada" jawab Lidya. Lidya memang mempunyai kesabaran setipis tissue.
Setelah berbelanja di kantin Lidya, Uci, Ciga, dan Siska kembali ke kelas. Bisa dibilang kisah SMA mereka mirip dengan SMP. Mereka memang selalu sekelas.
Bruggg!!
"Woi kalau jalan lihat lihat dong" Ucap Siska yang baru saja ditabrak seseorang
"Maaf ya" balas orang itu
Siska dengan cepat memperjelas penglihatannya kepada orang yang baru saja menabraknya. Ah suara ini, ini suaranya?
"Oh iya nggak papa, lain kali lo lihat-lihat kalau jalan" sebenarnya Siska berusaha menahan untuk tidak salting
"Buset dah kenapa teman lo?" Kata Lidya heran melihat Siska yang sepertinya Salting
"Tumben nggak marah-marah, curiga gue sama nih laki" Feeling Lidya dan Ciga sepertinya sama
"Mencium aroma-aroma misteri cinta anak SMA nih" bisik Uci
"Sekali lagi maaf ya, gue buru-buru tadi" Cowok itu merasa bersalah telah menabrak perempuan
"Oh iya nggak papa" balas Siska. Seperti biasa cinta diatas segalanya
Tanpa mendengar balasan cowok itu Siska langsung saja berjalan melewatinya. Siska memang belum siap memberi tahu ketiga sahabatnya tentang orang yang mencuri perhatiaannya dihari pertama sekolah itu.
Lidya berjalan menuju kelas dengan perasaan curiga. Nggak biasanya si Siska bersikap seperti itu. Lidya tahu persis sahabatnya. Ada yang Siska sembunyiin dari gue?
"Woi lo kenapa?" Ucap Ciga yang memperhatikan Lidya tengah senyum-senyum sendiri
"Nggak papa, ini snacknya enak" balas Siska bohong. Tentu saja ia senang karena si cowok tadi dan bukan karena sebuah Snack
"Gue setuju sih, Snack ini enak banget" jawab Uci mengangguk. Uci yang polos main percaya-percaya aja lagi sama Siska.
Lidya dan Ciga menatap Siska curiga. Ada yang dipendam gadis manis itu sendirian
"Guys yuk nongkrong di depan kelas" ajak Uci
"Gaskeun" persahabatan yang kompak
Di depan kelas mereka menikmati snack-snack yang dibeli di kantin tadi. Seru juga ya kisah SMA, setidaknya tidak di rumah aja.
"Ngapain lo?" Tanya Siska yang melihat Zainal teman kelasnya dulu ketika di SMA.
"Asik banget kelihatannya" lanjut Ciga yang melihat Zainal asik bersama hpnya
"Game for life" jawab Zainal yang tengah duduk juga di depan kelasnya.
"Main game apa?" Siska yang penasaran menghampiri Zainal
"Mobile Legends"
Suara itu lagi? jodoh nih gue
"Oh, game bocil sih ini" Siska lagi-lagi harus menahan Salting
"Lho?" kata cowok itu yang seakan-akan mengenal wajah Siska
"Ngapa lo?" balas Zainal kepada cowok itu.
"Gue tadi nabrak dia" cowok itu menatap Siska
"Santai aja kalo Siska mah" balas Zainal ngasal.
Awas lo Zainal!!
"Lo sakit?" ucap Uci tiba-tiba kepada Siska. Wajah Siska sekarang memerah, tidak heran wibu satu ini bertanya seperti itu.
"E..ee..enggak kok" balas Siska panik. Ia harus sebisa mungkin menutupi kesaltingannya.
"Wajah lo merah banget buset" kali ini Lidya juga menyadari.
"Apaan sih nggak" teman-teman gue ngapa dah, ini gue nggak boleh Salting.
Cowok itu tiba-tiba berdiri dan masuk kekelas MIPA 2 yang berada tepat disampingnya kelas gue. Oh dia sekelas sama si Zainal? Asik gue bisa dengan mudah gali informasi.
"Woi dia teman sekelas lo?" tanya Lidya kepada Zainal
"Siapa? Yang disamping gue tadi?" balas Zainal yang masih fokus dengan gamenya.
"Yoi bro" Lidya sepertinya sangat penasaran
"Iya" jawab Zainal singkat
"Oh"
"Namanya Azka, dia tuh benar-benar tertutup orangnya mana jarang banget ngomong" lanjut Zainal.
Sepertinya Zainal kali ini benar.
"Lho tadi dia ngomong" Siska sedikit syok dengan perkataan Zainal.
"Gue juga heran sih, tumben banget dia ngomong mungkin merasa bersalah karena nabrak lo aja kali" ucap Zainal meluruskan.
Gue kok aneh ya? Kenalan nggak pernah, chattan apa lagi, cuman ditabrak doang gue baper. Eh tapi tunggu? Gue tertantang sih kalo tentang misteri seseorang, apa lagi kalo itu lo Azka.