Keputusan

1502 Words
Aku, Satria dan Papah pun bercanda bersama. Yaa kami bertiga mengobrol hal ringan. Tapi aku merasa mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu dari ku. Heeemmm apa mereka bersekongkol untuk mengerjai ku yaa? Ntah lah, selama Papah dan Satria dekat dan baik baik saja berarti obrolan mereka berjalan lancar. Hubungan ku dan Satria berarti mendapat lampu hijau. Itulah yg aku pikirkan. " Oh iyaa Om sampai lupa. Satria mau ijin mau bawa Ayara pergi besok boleh ngga? " ijin Satria " Pergi kemana? Bukan kawin lari kan? " tanya Papah bercanda. Aku dan Satria tersenyum mendengarnya " Bukan Om tenang aja. Aku mau bawa Ayara ke Purwokerto Om. Ketempat almarhum Nenek. " jelas Satria menyakinkan Papah Aku hanya ber Oh dalam hati saat Satria menjelaskan. Yaa akhirnya aku tau Purwokerto itu tempat siapa. Dan ternyata tempat almarhum Nenek Satria. Tapi tunggu, kalo almarhum berarti kan sudah meninggal. Berarti aku dan Satria hanya akan pergi ke makam beliau? Terus nanti aku dan Satria akan bermalam dimana? Berbagai pertanyaan baru pun muncul dalam hati. " Eeemmmm gimana yaa? Nenek kamu udah meninggal Sat? Terus kalian bermalam dimana? Berapa hari kalian disana? " Tanya Papah yg mulai mengeluarkan posesifvitasnya hehehehe " Iyaa Om, Nenek saya sudah meninggal. Tapi rumah beliau masih terawat dg baik. Ada bibi dan penjaga yg menempati dan merawatnya. Karena Nenek dulu berpesan untuk jangan menjual rumah itu. Nenek ingin selalu di tengok makamnya. Jadi kalo kita kesana ngga bingung akan bermalam dimana. Karena Nenek sudah menyediakan rumahnya yg dulu untuk persinggahan kami saat ke Purwokerto. Aku sekeluarga juga sering kesana. Karena disana juga adalah kota aku dilahirkan. Kota itu juga menjadi saksi perjuangan Mamah dan Papah Satria. " jelas Satria panjang lebar Lagi lagi aku hanya ber Oh dalam hati. Ternyata seperti itu. Tapi kenapa Satria ngga mau cerita duluan ke aku yaa? Eeemmmm yaa mungkin biar ngga dua kali menjelaskan jadi sekalian aja cerita di depan Papah. Iyaa mungkin begitu. Aku mencoba untuk positif thinking. " Ooohhh gitu yaa. Yaa boleh kalo gitu, Om ijinin kalian pergi. Tapi ingat, harus hati-hati dan selalu kasih kabar ke Om. Ini nomor Om, Satria. " kata Papah tegas sambil memberikan kartu nama pada Satria " Oke baik Om. Makasih yaa Om. " jawab Satria senang sambil menerima kartu nama Papah dan mencium tangan Papah " Yaa udah, obrolan kita udah selesai kan Satria? Om mau ke kamar dulu yaa. Kalian berdua lanjut ngobrol aja. " kata Papah sambil beranjak dari duduknya " Iyaa Om silahkan. Sekali lagi makasih yaa Om. " kata Satria sangat bahagia karena mendapatkan lampu hijau. Papah hanya mengangguk dan tersenyum Lalu Papah meninggalkan gazebo dan pergi ke kamar. Langkah Papah terhenti saat melihat sebuah flashdisk diatas meja. Itu memang flashdisk Papah. Tapi Papah tau, flashdisk itu masih di Evan. Karena tadi pagi saat di kantor, Evan yg mempresentasikan rapat. " Loh bukannya flashdisk ini di Evan yaa? Tapi kenapa bisa ada disini? Apa tadi Evan kesini? Lah mana anaknya, ko ngga ada? Eeemmmm apa Evan mendengar pembicaraan ku dan Satria, jadi dia pergi gitu aja? Heeemmm dasar anak muda. Yaah biarlah ini menjadi urusannya. Om tau kalo kamu suka Ayara, Evan. Tapi maafin Om. Om cuma mengikuti keinginan Ayara. Ayara mencintai Satria, mereka saling mencintai. Om lebih mengutamakan kebahagiaan Ayara. Karena Ayara bahagia bersama Satria. Sekali lagi maafin Om yaa Van. " ucap Papah dalam hati sambil melihat dan menggenggam flashdisk itu Papah pun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Papah melihat Mamah belum tidur dan masih asyik bermain Hp. Jadi Papah mencoba untuk menanyakan tentang Evan pada Mamah. " Mamah dari tadi kamar? " tanya Papah to the poin " Ngga Pah, tadi Mamah nonton Tv dibawah. Terus bosen, jadi ke kamar deh. Kenapa emang Pah? " tanya Mamah heran dg pertanyaan Papah. Karena ngga biasanya Papah bertanya hal itu " Apa Evan habis dari sini Mah? " tanya Papah sambil duduk di samping Mamah " Iyaa Pah. Katanya mau ngasih flashdisk. Mamah suruh ke gazebo aja tadi. Lah emang ngga ketemu sama Papah? Apa Evan ngga jadi nemuin Papah? Tapi Mamah ngga tau dia pulang. " kata Mamah yg mulai cerewet " Berarti bener dugaan Papah. " jawab Papah singkat " Dugaan apa Pah? Mamah ngga ngerti deh. " kata Mamah mengerutkan kening karena tidak mengerti dg ucapan Papah " Iyaa Mah. Evan sebenernya udah sampai di gazebo. Tapi karena mendengar Papah lagi ngobrol Satria, mungkin dia menunggu sebentar. Dan akhirnya dia pergi karena mendengar percakapan kita Mah. Terus dia ninggalin Flashdisk ini di meja dan ngga jadi nemuin Papah. Mungkin Evan pulang waktu Mamah udah di kamar. " jelas Papah " Ooohhh tapi kenapa malah pulang gitu aja dan ngga jadi nemuin Papah? " tanya Mamah yg masih belum mengerti dg situasi yg di ceritakan Papah " Iyaa karena Evan mendengar kalo Satria akan melangsungkan pertunangan dg Ayara Mah. " kata Papah " Hah Satria mau melamar Ayara Pah? Alhamdulillah akhirnya yaa Pah. Tapi apa hubungannya sama Evan yg pulang gitu aja Pah? " kata Mamah yg belum mengerti juga, membuat Papah geregetan " Iyaa Mah tadi Satria udah ngomong sama Papah. Tadi kita ngobrol banyak. Hubungannya sama Evan yg pulang gitu aja yaa karena Evan suka sama Ayara Mamah. Mamah ini gimana si kaya ngga pernah muda aja. " jawab sedikit menggunakan penekanan " Ooohhh iyaa ampun jadi Evan suka juga sama Ayara. Waduh kasian dong yaa Pah kalo gitu. Kira kira Ayara tau ngga yaa perasaan Evan ke Ayara? " kata Mamah sambil berfikir " Kalo itu Papah ngga tau Mah. Kayaknya si Ayara ngga tau Mah. Di lihat dari sikap Evan, kayaknya Evan memendam perasaannya sendiri. Apalagi Evan tau kan kalo Ayara bersama Satria. " kata Papah menganalisis " Iyaa bisa jadi si Pah. Tapi yaa udah lah Pah, itu urusan dia. Yg penting anak kita bahagia dg pilihannya. " kata Mamah sambil mengibaskan tangannya " Iyaa Mah. Papah juga mikir gitu. Yaa semoga aja Evan mendapatkan yg lebih baik lagi. " kata Papah sambil menghembuskan nafas berat " Amin Pah. " jawab Mamah singkat ( di gazebo ) " Ooohhh jadi gitu kamu ngga cerita dulu ke aku malah cerita ke Papah. " ucapku pura pura kesal dg Satria " Iyaa kan tadinya aku mau ceritain besok sayang di lokasinya. Tapi biar Papah kamu ngijinin jadi aku jelasin dulu deh hehehehe. Maaf yaa sayang. " kata Satria sambil memegang tanganku " Heeemmm iyaa deh iyaa. Terus besok kita berangkat jam berapa Sat? " tanyaku " Eeemmmm pagi aja kali yaa biar ngga panas di jalan. Jam 6an deh aku jemput, Oke? " kata Satria sambil mengedipkan sebelah matanya " Oke deh kalo gitu. Nanti aku siap siap. " jawabku antusias " Yaa udah kan semuanya udah clear, jadi aku pulang sekarang aja yaa. Biar kamu bisa siap siap buat besok. " kata Satria " Eh tunggu dulu. Kamu kan belum cerita tentang obrolan kamu sama Papah, Sat. " cegah ku " Pengen tau banget nih, Hm? Hm? " tanya Satria sambil menaik turunkan alisnya, meledek ku " Yaa iyaalah Sat. Buruan ayoo cerita. " jawabku sambil menggoyangkan tangan Satria " Iyaa iyaa sayang. Jadi gini ceritanya.... bla bla bla. " Satria menceritakan dg detail padaku. Aku pun mendengarkan dg sangat serius " Jadi selama ini aku cuma salah paham? Yg aku pikir Papah ngga merestui, ternyata itu salah? " tanyaku excited " Iyaa sayang. " jawab Satria singkat sambil tersenyum " Berarti ngga ada perjodohan dan kita di restui? " tanyaku lagi memastikan " Iyaa sayang. " jawab Satria sama " Yeeey Akhirnya. Alhamdulillah yaa Sat. " ucapku sambil memeluk Satria tanpa sadar. Satria pun membalas pelukan ku " Eh yaa ampun maaf Sat. Saking senengnya sampe lupa hehehehe maaf yaa. " kataku saat sadar sudah memeluk Satria. Aku pun melepaskan pelukanku " Iyaa ngga papa sayang. Aku juga seneng ko. " jawab Satria tersenyum " Seneng di peluk? " tanyaku spontan " Hahahaha kalo itu pasti sayang. Tapi kan belum muhrim. Aku juga seneng kalo akhirnya kita dapet lampu hijau. " jawab Satria " Hehehehe iyaa Sat. Kirain. " jawabku sedikit malu " Dasar. Udah mulai m***m nih yaa. " kata Satria menggodaku " Iiiiihhhh enak aja. Ngga yaa. " jawabku kesal " Yaa udah aku pamit pulang yaa. Udah malem juga, biar kamu bisa siap siap terus istirahat juga. " kata Satria sambil tersenyum jail " Ngga usah senyum senyum gitu. Iyaa udah. " jawabku sedikit kesal " Hehehehe abis kamu lucu si lama lama. Iyaa udah pamitin sama Mamah Papah kamu yaa? " kata Satria sambil beranjak dari tempat duduknya " Iyaa nanti aku pamitin. Kamu hati hati yaa Sat. " jawabku yg juga ikut beranjak dari tempat dudukku " Iyaa sayang. " jawab Satria singkat sambil tersenyum Aku pun mengantarkan Satria sampai ke depan pintu. Aku menunggu sampai mobil Satria berlalu. Satria melambaikan tangan sambil tersenyum dan membunyikan klakson saat mobilnya berlalu di depan ku. Aku pun membalas lambaian tangannya dg tersenyum. Setelah Satria pulang. Aku langsung masuk ke kamar untuk menyiapkan bawaan yg akan aku bawa besok ke Purwokerto bersama Satria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD