Akhirnya kami sampai di Cafe biasa kami menghabiskan waktu bersama. Bertukar cerita dan bercanda tawa. Kami pun memesan meja yg menjadi langganan kami duduk. Kemudian kami memesan makanan dan minuman favorit. Yaa berhubung tadi kita semua sudah sarapan dari rumah, jadi kami memesan makanan ringan.
Aku memesan vanilla latte. Sedangkan Fay dan Freya memesan cappucino. Karena masih tergolong pagi. Jadi kami memesan minuman hot bukan ice. Untuk makanan, kami memesan makanan dalam jumlah sedang. Yg pas untuk kami bertiga. Kami memesan croissant, stroopwaffle, French fries, dan Jamur crispy.
Sambil menunggu pesanan datang. Kami membahas banyak hal lagi. Dari mulai membicarakan tentang ujian, wisuda, rencana kerja sampai membahas tentang hubungan ku dan Satria. Yaa termasuk membahas Evan. Setelah pesanan datang, kami pun berbicara sambil sesekali meminum kopi dan memakan camilan.
Tak terasa 1 jam sudah kami di cafe itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Fay berencana untuk mengajak jalan-jalan ke mall. Tapi aku mencegahnya, karena Satria semalam bilang kalo ingin menyusul ku. Jadi aku berinisiatif untuk menelponnya.
" Assalamualaikum Satria. " sapaku mengawali pembicaraan
" Waalaikumsallam Ayara. Ada apa? " tanya Satria seperti tak mengingat janjinya semalam
" Iiiiihhhh ko ada apa si? Katanya kamu mau nyusul aku ke Cafe. Kan aku udah share lokasinya dari tadi. Ko belum sampe sampe. " kataku cerewet
" Ternyata Ayara ku ini selain suka ngambek cerewet juga yaa. Hehehehe. " kata Satria tertawa kecil
" Iiiiihhhh Satria serius. Ni Fay tadi udah ngajakin pulang tau, tapi aku cegah. " kataku sedikit kesal
" Iyaa sayang iyaa. " jawab Satria santai
" Jangan iyaa iyaa doang Satria. Kamu udah otw belum? " tanyaku masih dg nada kesal
" Udah aku udah otw dari tadi. " jawab Satria sambil tersenyum
" Tapi ko belum sampai sampai si Sat. " kataku heran
" Kata siapa belum sampai? " tanya Satria sambil tersenyum di belakang ku
" Kamu udah sampai? Terus kamu diman... " ucapanku terhenti saat aku membalikkan badan dan ternyata sudah ada Satria disana
Yaa ternyata Satria sudah ada dibelakang ku sejak tadi. Tapi kenapa aku tak menyadarinya yaa? Dan kenapa Fay dan Freya ngga bilang?
" Iiiiihhhh Satriaaaa... hobby banget si ngisengin anak orang. Kalian juga kenapa ngga ngomong. " kataku sambil memukul d**a Satria tapi di hadang tangannya, jadi aku memukul telapak tangan Satria. Yaa kita seperti sedang melakukan tos
" Udah berani mukul mukul, Hm? " kata Satria sambil tersenyum dan menaikkan alisnya
" Hehehehe maaf khilaf. " kataku sambil unjuk gigi
" Aku mau dong di khilafin. Tapi khilaf yg lain. " kata Arvin meledek
" Ni khilaf yg lain. " kata Satria sambil menunjukkan tangannya yg mengepal. Semua pun tertawa melihatnya
" Khilaf sama aku aja mau ngga? " Goda Fay dg centilnya sambil berniat memegang tangan Arvin. Tapi Arvin menghindar, namun Fay tetap berusaha mengejarnya. Alhasil mereka pun berkejaran
" Noh mamam tuh khilaf. Hahahaha. " ucap Arion sambil tertawa puas melihat Arvin di kejar Fay. Kami pun ikut tertawa terbahak-bahak
Setelah acara bercanda selesai. Kami semua kembali duduk dan berbincang. Aku menceritakan pada Satria tentang yg tadi aku ceritakan pada Fay dan Freya. Yaa aku menceritakan tentang Evan yg berkata jika setiap hari dia akan ke rumah ku dan ada di rumah ku. Saat Satria seperti biasa saja saat mendengarkan cerita itu. Tapi aku tidak tau hatinya. Mungkin sebenarnya dia takut, khawatir atau cemburu. Tapi semua itu tak bisa tertebak oleh ku.
" Emang Evan dirumah kamu ngapain Ayara? Ko sampe setiap hari. " tanya Arvin
" Aku juga ngga tau. Tapi keliatannya si masalah bisnis sama Papah. " jawabku sedikit ragu. Karena memang aku ngga tau alasan Evan di rumah untuk apa
" Belajar bisnis? " tanya Arion menebak
" Ntah. " ucapku sambil menaikkan bahu
" Kenapa ngga kamu tanya ke Evan atau Papah kamu langsung si Ayara. Daripada nebak nebak gini kan takutnya kita salah paham gimana hayoo? " kata Freya memberi saran
" Kalo tanya ke Evan aku males. Kalo ke Papah aku takut nanti Papah ngomongin soal perjodohan. " ucapku lirih
" Males nanya apa takut kalo bakal jatuh cinta sama Evan? " ledek Arvin
" Iiiiihhhh Arvin. Ngga gitu, males aja ngomong sama orang baru apalagi dia yg mengancam hubungan ku dan Satria. Udah gitu Evan gitu orangnya. " kataku kesal pada Arvin
" Gitu gimana sayang? " tanya Satria
" Iyaa gitu lah Sat pokoknya. " jawabku ambigu. Membuat Satria mengerutkan kening, bingung
" Kaya semacam Evan suka sama Ayara gitu. Tadi aja pas mau kesini, dia nawarin buat nganterin. Untung Ayara nolak dg cepat. " kata Fay to the poin. Aku hanya mengangguk angguk
" Waaahhhh bahaya bro. " ucap Arion sambil menepuk pundak Satria
" Kalo gitu aku selesai ujian, aku yg akan nanya langsung sama Papah kamu Ayara. " kata Satria tegas. Arvin dan Arion mengacungkan jempolnya ke arah Satria. Sedangkan Fay dan Freya bertepuk tangan
" Tapi Sat... " kataku yg ragu dg tindakan Satria. Aku takut jika Satria yg akan terluka mendengar jawaban Papah
" You trust me, Ayara? " tanya Satria menggenggam tanganku. Aku hanya mengangguk kecil
Jujur aku ragu dg tindakan Satria. Karena aku takut jika yg aku dan Satria harapkan tidak akan sesuai. Tapi jika diantara aku dan Satria ngga ada yg bertanya. Semuanya akan terus abu abu. Ngga ada kejelasan. Hanya saling menerka. Yaa bismillah semoga jawaban yg Satria dapatkan adalah jawaban penuh kelegaan untuk kita. Kita tunggu aja beberapa hari kedepan saat ujian selesai.
Setelah berada di suasana yg tegang. Semua merilekskan diri dg minum ice coffe sesuai selera masing-masing. Dan kami merubah topik menjadi lebih ringan dan penuh canda tawa.
Jam sudah menunjukkan pukul 12. Waktu Dzuhur telah tiba. Satria mengajakku ke masjid untuk menunaikan sholat fardhu 4 rokaat itu. Kami pun menerima dg senang hati ajakan Satria. Setelah membayar semua pesanan. Yg seperti biasa, semua dibayar oleh Satria. Padahal dia hanya memesan ice coffe hehehehe. Pacarku emang the best. Kami semua pergi menuju masjid.
Berhubung masjidnya tidak terlalu jauh. Kami semua berjalan kaki menuju kesana. Sampai di masjid, kami mengambil air wudhu ditempat yg sesuai mahramnya. Setelah selesai wudhu. Kami masuk melalui pintu sesuai mahram juga. Kami memakai perlengkapan sholat. Dan karena saat itu tidak ada imam yg memimpin sholat. Maka Satria lah yg menjadi imam untuk ku dan untuk semua orang yg ada di masjid. Dalam hati berucap, saat ini kamu memang menjadi imam sholat ku dan imam semua orang. Tapi suatu saat nanti kamu juga yg akan menjadi imam dalam hidupku. Amin.