Selesai sholat Dzuhur. Fay mengajak jalan-jalan ke mall. Akhirnya kita pun mengikuti keinginannya. Ntah apa yg ingin Fay beli. Sampai ia terkesan ngebet banget ke mall. Aku pribadi tidak begitu suka membeli barang barang branded. Jadi saat yg lain masuk ke tempat baju, tas dan sepatu. Aku lebih memilih untuk mencari buku.
" Ayara ngga beli baju juga, Hm? " tanya Satria
" Ngga ah males. " jawabku singkat
" Kalo mau ambil aja. Ntar aku yg bayar. " kata Satria
" Ngga mau. " jawabku lalu pergi begitu saja
" Dih ko malah ngambek si sayang. Hey Ayara tungguin. " kata Satria sambil mencoba menyamai langkah ku
Aku terus berjalan menuju toko buku. Lalu aku masuk dan mencari cari buku. Aku mangabaikan Satria.
" Serius nih mau nyuekin aku terus. Nanti aku diambil mba mba disini Lo. " kata Satria membujukku
" Emang kamu mau sama mba mba selain aku? " tanyaku pada Satria kesal
" Emang kamu ngijinin? " tanya Satria sambil tersenyum dan menaik turunkan
" Iiiiihhhh Satria.. Yaa ngga lah ngga bakal ngijinin. " jawabku kesal
" Yaa udah makannya jangan ngambek mulu. " kata Satria lembut
" Dih siapa yg ngambek. " jawabku jutek
" Lah tadi ditawarin beli baju bilang ngga mau dan malah pergi aja. " kata Satria
" Orang aku mau nyari buku bukan nyari baju wle. " jawabku lalu menjulurkan lidah dan berlari menjauhi Satria
" Heeemmm ngeledek nih yaaa. " kata Satria sambil berjalan cepat mengejar ku
Lalu aku berhenti di salah satu barisan buku Novel. Yaa aku melihat lihat judul Novel yg bagus yg isinya menarik yg akan aku beli. Aku membaca satu persatu bagian belakang Novelnya. Aku menemukan sebuah novel yg menceritakan tentang kisah cinta seorang laki-laki dan perempuan yg terhalang restu orang tuanya. Dan akhirnya mereka bisa hidup bersama karena campur tangan dari Sang Maha Cinta. Novel itu berjudul Aku, Kau dan Sang Maha Cinta.
Aku memilih novel itu karena bisa untuk referensi hubungan ku dan Satria ke depannya. Aku ingin belajar dari novel itu bagaimana akhirnya dua insan dalam novel mendapatkan restu dan bersatu . Saat aku mau membawa ke kasir untuk membayar. Tiba-tiba Satria memberikan ku sebuah buku novel berjudul Senja. Di situ di ceritakan tentang pengorbanan seseorang yg harus rela melepaskan seseorang yg di cintainya karena sebuah takdir.
Aku sempat menolak pemberian novel itu. Karena aku berpikir buat baca novel itu. Karena yg sedang aku alami adalah tentang terhalang oleh restu. Tapi Satria terus memaksa. Hingga akhirnya menerima buku itu.
" Iiiiihhhh buat apa si baca buku ini. Kita kan ga ada yg berniat mau merelakan dan melepaskan. " kataku sedikit kesal karena diberi buku novel yg berkisah tentang seperti itu
" Siapa bilang membaca buku harus sesuai yg kita alami aja. Kan ini juga bisa buat pelajaran. Kalo kita juga harus siap menerima takdir yg sudah tertulis. " kata Satria dg lembut
" Iyaa si tp kan Sat. Aku lebih suka yg ini. " kataku sambil menunjuk buku yg aku pilih tadi Aku, Kau dan Sang Maha Cinta
" Sayang baca aja yaa. Aku udah pernah baca. Dan aku punya bukunya di rumah. Ini aku hadiahin buat kamu. Jadi kamu ngga boleh nolak, Oke. Biar hati kamu bisa jauh lebih lapang menerima setiap takdir Tuhan nanti. " kata Satria seperti mengisyaratkan sesuatu
" Apaan si Satria ko gitu ngomongnya. " jawabku masih dg nada kesal karena Satria selalu berbicara seolah dia menyerah pada takdir
" Gitu gimana si sayang. Ambil aja yaa please. " bujuk Satria
" Iyaa udah deh iyaa. " jawabku yg akhirnya mengalah dan menerima buku itu
" Makasih yaa sayang. " kata Satria sambil tersenyum
" Sama sama. " jawabku membalas senyumnya
Ntah apa maksud Satria berbicara seperti itu. Aku merasa Satria sedang mengisyaratkan sesuatu. Tapi aku ngga tau pasti sesuatu apa itu. Yg aku tangkap, Satria ingin aku siap menerima takdir apapun yg terjadi dg hubungan kita nanti.
Yaa Satria menatapku yg sedang berjalan. Ia menatap punggung ku. Dalam hati dia berkata...
" Maafin aku Ayara. Kalo aku terkesan memaksa kamu buat baca buku itu. Aku ingin kamu belajar dari cerita itu. Aku ingin kamu menjadi pribadi yg lebih tangguh dan tegar nantinya dalam menerima setiap takdir perjalanan hidup. " ucap Satria dalam hati sambil tersenyum dan terus menatapku
Lalu kami pun menuju meja kasir. Lagi lagi Satria yg membayar semua buku yg pilih. Yaa katanya dia menghadiahkan satu buku. Ini malah dia yg bayar semua bukunya. Kan berarti semua bukunya dari dia. Satria Satria.
" Makasih yaa Sat. Malah kamu yg jadi bayarin semuanya. " kataku tidak enak hati
" Ngga papa sayang. Kan ngga setiap hari. Tapi harus di baca semua yaa bukunya terutama yg Senja. " jawab Satria tegas sambil tersenyum
" Iyaa pasti aku baca ko. " jawabku sambil membalas senyumnya
Tak terasa waktu sudah semakin sore. Tapi Satria tak mengajak untuk pulang. Ia mengajak untuk ke pantai melihat Senja sekalian makan di tepi pantai. Kayaknya Satria sangat suka senja. Semenjak aku dekat dg nya, aku pun jadi menyukai senja. Apalagi jika di nikmati bersama dg nya. Sungguh kesan yg tak pernah terlupakan. Meski berulang kali kami menyaksikan.
Ketika Fay, Freya, Arion dan Arvin duduk di tempat makan yg menghadap pantai. Aku dan Satria berjalan menyusuri pantai. Lalu duduk di atas pasir putih dan melihat senja. Sungguh senja kali ini begitu indah. Semburat jingga yg sempurna. Memancarkan cahaya yg indah.
Merahnya tajam tapi bukan amarah.
Dan tidak pula membara.
Justru sangat menenangkan jiwa.
Itulah langit jingga.
Berpamitan dg cara mempesona.
Meski akan tenggelam.
Ia pergi dg indah.
Meski akan menjadi malam.
Ia tetap meninggalkan cinta.
Pengorbanan yg begitu mengesankan.
Karenanya tercipta sebuah kenangan.
Itulah kata yg keluar dari mulut Satria. Sangat puitis. Puisi yg indah tp lagi lagi mengisyaratkan sebuah pengorbanan, dan perpisahan. Ntah apa yg ada di dalam pikiran Satria. Dari tadi selalu keluar kata yg menyiratkan tentang itu.
" Jadilah seperti senja Ayara. Meskipun sementara tapi ia selalu indah. Ia melakukan tugasnya dg sepenuh hati. Meski akhirnya ia akan tenggelam berganti malam. Malam tak selalu berbintang. Tapi senja akan selalu bisa di kenang. " kata Satria sambil menoleh ke arah ku dan tersenyum
" Tapi aku ngga mau jadi senja untukmu Satria. Karena aku ngga mau hanya sesaat bersama mu. Biarlah aku menjadi langitmu. Yg menerima setiap keadaan mu. Panas terik, Hujan badai, Senja yg indah bahkan Malam yg kelam sekalipun. Aku akan selalu ikhlas menjadi tempatmu. " jawabku sambil tersenyum manis
" Kamu pinter Ayara. Jika kamu ingin menjadi langitku maka kamu harus siap dg segala takdir yg Tuhan beri Ayara. Karena percaya lah, keindahan dan kesedihan itu hanya bersifat sementara. Semua akan silih berganti sesuai dg waktunya. " kata Satria sambil menggenggam tanganku
" Pasti Satria. Karena takdir itu akan kita jalani bersama. Aku dan Kamu. " jawabku sambil tetap tersenyum. Satria hanya membalas senyum ku
Ntah ada apa dg Satria yg selalu berbicara tentang takdir. Berkata harus selalu siap menerima setiap takdir. Jujur aku merasa Satria seperti menyerah ditengah perjuangan kita. Atau ia sedang mengajarkan ku untuk menjadi lebih tangguh dan tegar seperti katanya. Mungkin ia juga sedang membesarkan hatinya sendiri. Tapi aku tetap optimis dg semuanya. Aku kuatkan dan yakinkan Satria dg pernyataan ku. Yaa meski sesungguhnya aku juga ngga tau apa yg akan terjadi nanti.
Warna jingga yg perlahan memudar. Berganti menjadi malam berbintang. Aku dan Satria memutuskan untuk bergabung dg teman teman yg lain yg ternyata juga menikmati senja. Lalu kami makan dulu sebelum pulang.
Selesai makan, kami pun memutuskan untuk pulang. Kali ini aku diantar oleh Satria. Yaa seperti biasa, Fay dan Freya pun bertukar pasangan dg Arion dan Arvin. Kami pun melajukan mobil menuju jalan pulang masing masing.