3 Insan 1 Rasa

1093 Words
Tak terasa mobil Satria sudah berhenti di depan rumah ku. Saat kami keluar mobil. Aku dan Satria melihat Evan keluar dari rumah ku. Aku berkata dalam hati, yaa ampun sampai jam segini Evan di rumah? Berarti seharian dia disini? Ngapain aja si? Masa iyaa nanti setiap hari akan begitu? Tanya ku dalam hati. Kami pun berjalan memasuki rumah dg bergandeng tangan. Saat di depan pintu. Aku, Satria dan Evan saling berpapasan. " Baru pulang? " tanya Evan datar sambil melihat ku dan Satria dari atas sampai bawah " Iyaa. " jawabku singkat " Mau ujian belajar yg bener jangan pacaran Mulu. " kata Evan sambil berlalu begitu saja " Iiiiihhhh apaan si. " kataku sambil jutek. Satria pun menenangkan ku dg mengusap tanganku " Gih masuk. Belajar buat besok. Biar IPK nya tinggi, dan cepet wisuda. " kata Satria sambil tersenyum " Terus abis wisuda ngapain? " tanyaku sambil menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Satria " Kerja lah sayang. Emang mau ngapain. " jawab Satria santai sambil tersenyum jail " Abis kerja? " tanyaku lagi berharap Satria menjawab sesuai dg keinginan ku " Eeemmmm abis kerja, beli rumah beli mobil. " jawab Satria sambil sedikit berpikir " Terus abis itu? " tanyaku lagi yg belum menyerah " Abis itu?? Udah tinggal menikmati hidup. " jawab Satria sambil tersenyum lalu unjuk gigi " Iiiiihhhh ko gitu si. Terus aku ngga masuk dalam daftar kamu gitu? " kataku kesal sambil memanyunkan bibirku " Emang maunya gimana? " tanya Satria yg pura pura ngga tau maksud pembicaraan ku " Au ah sebel sama kamu. " kataku kesal lalu membuang muka dan melepaskan tanganku dari genggamannya " Gemesh deh kalo lagi ngambek gitu. " kata Satria membujukku " Bodoamat. " jawabku singkat dan jutek " Tunggu aja setelah wisuda. Aku punya beberapa surprise buat kamu. " kata Satria " Surprise apa? " tanyaku penasaran " Kalo dikasih tau bukan surprise dong sayang. " kata Satria sambil menaikkan alisnya " Ah ga seru ah Sat. Udah gitu lama banget lagi pake nunggu abis wisuda segala. " jawabku masih dg nada kesal " Sabar sayang. Orang sabar pasti di sayang Tuhan dan di sayang aku. " rayu Satria sambil tersenyum " Bisa aja kamu. " jawabku sambil tersenyum " Gih masuk terus belajar. Besok aku jemput. Oke? " kata Satria. Aku hanya mengangguk menanggapinya " Aku pamit pulang yaa. Salam buat Papah Mamah kamu. Bilangin tunggu aku selesai ujian. Hehehehe. " kata Satria sambil unjuk gigi " Siap bos. Hati hati yaa Satria. " jawabku sambil memeragakan layaknya seorang prajurit menerima perintah komandannya " Assalamualaikum sayang. I love you. " kata Satria sambil tersenyum dan melambaikan tangan " Waalaikumsallam. Love you too. " jawabku membalas senyumnya dan melakukan kissbye Setelah Satria pulang. Aku pun masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Selesai membersihkan diri, aku duduk di depan meja belajar. Membuka buku, tp tak dibaca. Melihat tulisan, namun tak berkata. Yaa pikiran ku ntah melayang kemana. Bayangan Satria dan Evan silih berganti. Tunggu tunggu kenapa aku jadi membayangkan Evan? Ngga mungkin kan aku jatuh cinta sama Evan? Ngga lah ngga mungkin, aku cuma cinta dan sayang Satria. Mungkin aku cuma penasaran dg kehadirannya di rumah dan di sekitar ku. Yaa hanya itu, karena sampai saat ini Papah ngga ada omongan apapun sama aku. Saat aku sedang melamun. Dering Hp ku menyadarkan ku. Ada pesan manis dari Satria. Satria : Jangan ngalamun. Belajar yg bener. Selesai semuanya, aku akan ajak kamu ke sesuatu tempat yg spesial buat aku. Tapi lebih spesial kamu si. Eh lebih spesial lagi martabak telor hehehehe Semangat yaa sayang Aku tersenyum membaca pesannya. Yaa Satria paling bisa membuat hatiku tenang dan senyum ku kembali mengembang. Aku mencintaimu Satria. Sangat mencintaimu. Ucapku dalam hati Aku tak membalas pesannya. Aku melanjutkan belajar ku. Semangat ku kembali berkobar setelah mendapat pesan dari Satria. Aku memusatkan pikiran ku untuk ujian. Aku memfokuskan diri ku pada buku yg ada di depan. ( di kamar Satria ) Satria yg berada di depan meja belajar pun sama seperti Ayara. Membayangkan kejadian saat berpapasan dg Evan. Benar kata teman temannya tadi. Evan terlihat menyukai Ayara. Ancaman berat kalo itu sampai terjadi. Kemungkinan Satria bersama Ayara akan semakin kecil. Yaa begitulah pikir Satria. Sebenarnya belum tentu apa yg di pikirkan Satria maupun Ayara adalah benar. Bisa saja semua hanya sebuah salah paham. Salah paham karena tak pernah ada yg mau menanyakan kepastiannya. Tapi bisa jadi juga apa yg mereka pikirkan terjadi. Yaa semua kemungkinan memang bisa terjadi di dunia ini. Tapi satu yg mereka tau pasti adalah Evan memang menaruh hati pada Ayara. Setelah melamun dan merenung cukup lama. Kemudian Satria mengirimkan pesan kepada Ayara. Pesan yg romantis tapi lucu. Yaa itulah Satria. Yg selalu bisa mencairkan suasana. Setelah mengirimkan pesan itu. Satria berkata dalam hati... " Ayara, jika kemungkinan kita bersama semakin kecil. Maka aku akan semangat memperjuangkan dg caraku. Jika dari berbagai sisi aku kalah. Aku hanya berpangku pada takdir. Yaa semoga takdir akan berpihak pada kita Ayara. " kata Satria dalam hati sambil memejamkan matanya Kemudian Satria pun melanjutkan belajarnya. Kembali serius berpaku pada buku. Karena saat ini bukan cuma Ayara yg harus di perjuangkan. Tapi IPK tinggi dan wisuda cepat pun harus di perjuangkan. Yaa Ayara dan Satria. Dua insan yg tengah kasmaran dan berjuang. Untuk hubungan mereka dan masa depan mereka. Mereka menginginkan cepat selesai kuliah. Agar hubungan mereka bisa selangkah lebih maju. ( di kamar Evan ) Evan sedang berbaring di atas tempat tidur. Menatap layar Hp yg menampilkan foto seorang wanita yg dia ambil secara diam-diam. Yaa siapa lagi kalo bukan Ayara. Ia tersenyum senyum melihatnya. Ia berkata dalam hati... " Ayara, dari awal aku melihat mu. Aku sudah jatuh hati padamu. Meski saat itu juga aku tau, ternyata kau sudah punya kekasih. Ayara, aku tau rasaku ini tak mungkin terbalaskan meski setiap hari aku ada di dekatmu. Aku juga tau jika kalian saling mencintai. Aku melihat sorot matanya yg begitu takut kehilanganmu, saat aku berada di antara kalian. Begitu pun sebaliknya. Kamu takut kehilangannya, hingga kamu terlihat begitu menjaga cintanya. Dan aku tak akan memaksa rasa ini. Mungkin memang lebih baik aku menyimpan semua ini sendiri. Karena lebih baik aku tak memiliki mu. Daripada aku tak mencintaimu. " ucap Evan dalam hati sambil terus menatap gambar Ayara di ponselnya Yaa tiga insan dg satu rasa, yaitu rasa cinta. Larut dalam perasaan, harapan dan pikiran masing-masing. Mereka memasrahkan semua pada takdir. Mereka mengikuti kemana alur semesta akan membawanya. Yaa manusia hanya bisa berharap dan berencana dalam cerita hidupnya. Tapi untuk akhir cerita itu sendiri, Tuhan lah yg menentukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD