Karma Masa Lalu

1464 Words
Pagi ini terasa berbeda. Karena perjuangan yg sesungguhnya di mulai. Perjuangan meraih masa depan. Awal dari semua perjuangan. Ayara dan Satria bangun dg perasaan yg bercampur aduk. Ada semangat untuk melakukan perjuangan ini, ada rasa bahagia karena sebentar lagi kuliah mereka selesai dan hubungan mereka bisa segera melangkah lebih maju. Tapi ada juga perasaan was was, karena takut semua rencana hubungan mereka tak sesuai dg apa yg di harapkan. Tapi untuk saat ini. Ayara dan Satria mengesampingkan perasaan was was itu. Mereka lebih memilih untuk fokus menggapai dan membuktikan apa yg ada di depan mata. Mereka memilih untuk memikirkan ujian, skripsi, sidang dan wisuda. Satu satu ingin mereka selesaikan. Karena jika semua itu sudah selesai. Maka langkah mereka selanjutnya akan menjadi mudah. Yaa itulah pikiran mereka. Tapi kita tidak pernah tau, apakah pikiran itu akan sesuai dg kenyataan? Wallahu alam. Aku sudah bersiap berangkat ke kampus. Hari ini aku memakai baju dress hitam panjang dan outer kemeja flannel kotak kotak coklat serta jilbab segiempat polos yg senada dg outernya. Untuk sepatu aku memakai sneakers warna coklat juga. Aku keluar kamar sambil menggendong tas dan memegang hp. Lalu aku menuju ruang makan. Aku makan bersama Mamah dan Papah. " Hari ini kamu ujian yaa? Terus skripsi lanjut wisuda? " tanya Papah " Iyaa Pah. Doain yaa Pah Mah biar semuanya lancar. Amin. " ucapku setelah mengunyah makanan " Iyaa sayang pasti Mamah Papah doain. " jawab Mamah sambil tersenyum " Oh iyaa Pah, kata Satria nanti setelah selesai semuanya, Satria mau ngobrol serius sama Papah. " kataku dg yakin " Boleh. Papah tunggu. Papah juga pengen ngobrol banyak sama dia. " jawab Papah datar " Iyaa Pah. " jawabku singkat lalu melanjutkan makan Tapi disitu sambil sedikit berpikir. Tadi Papah bilang kalo Papah juga pengen ngobrol banyak sama Satria. Ngobrol apa yaa kira kira? Kalo tentang hubungan ku dan Satria itu sudah pasti. Tapi apakah obrolan itu juga berhubungan dg Evan? Heeemmm Papah benar benar senang membuat ku penasaran dan berpikir keras. Yaa semoga aja obrolan Papah dan Satria nanti adalah obrolan yg baik untuk hubungan ku dan Satria. Selesai makan, aku segera berjalan menuju depan untuk menunggu Satria. Ternyata Evan sudah ada di depan rumah. Aku jadi sedikit malas dan ingin masuk lagi. Tapi udah terlanjur ada di depan. Jadi aku memilih untuk duduk di bangku yg ada di teras. Sedangkan Evan berdiri di dekat pintu. " Lagi nunggu jemputan yaa? " tanya Evan sambil menatapku intens " Iyaa. " jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya " Atau mau aku anter? " tawar Evan dg lembut " Ngga usah makasih. Sebentar lagi Satria dateng. " jawabku acuh " It's Oke. Hati hati dan semangat ujian yaa Ayara. " kata Evan sambil tersenyum " Thank you. " jawabku singkat dan sedikit menoleh Tak berapa lama dari obrolan ku dan Evan, Satria datang dg membunyikan klakson mobilnya. Aku pun tersenyum menyambutnya. Sedangkan Evan yg masih berdiri di dekat pintu, hanya melirik dg ekspresi datar. "Assalamualaikum. Maaf yaa sayang kelamaan nunggunya. " kata Satria sambil tersenyum dan menghampiri ku " Waalaikumsallam. Ngga papa ko Sat baru beberapa menit aku duduk disini. " jawabku sambil tersenyum juga padanya Saat aku ingin mengajak Satria berangkat. Mamah dan Papah berjalan menuju ke arah kami. " Evan udah dateng to? " tanya Papah yg melihat Evan " Selamat pagi Om, Tante. " sapa Evan sambil menganggukkan kepalanya " Eh ada Nak Satria juga. Lama yaa kita ngga ngobrol? " kata Papah yg bermaksud mengingatkan Satria " Papah orang mau ujian dll juga malah diajakin ngobrol. " kata Mamah sambil menepuk lengan Papah " Ngga sekarang juga Mamah. Tapi nanti kalo semuanya udah selesai. " kata Papah sambil tersenyum melihat Satria " Ayara udah ngomong sama Om yaa? " tanya Satria yg akhirnya bersuara. Papah hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya " Kalo gitu Om dan Tante duluan yaa. Kalian hati hati yaa Satria, Ayara. Inget harus fokus. Buktikan dan tunjukkan ke Papah. " kata Mamah berpamitan. Lalu aku dan Satria mencium tangan Mamah " Ayoo Evan. " ajak Papah pada Evan yg kemudian mengikutinya dari belakang. Aku dan Satria pun mencium tangan Papah. Sedangkan Evan tersenyum dan menganggukkan kepala saat melewati ku dan Satria " Om akan tunggu Satria. " bisik Papah saat melewati Satria sambil menepuk pundaknya. Satria hanya mengangguk anggukkan kepalanya Setelah semua berangkat ke kantor. Aku dan Satria pun ikut berangkat ke kampus. Mobil Satria meninggalkan rumahku. Melaju dg kecepatan sedang menuju kampus. Sampai di kampus, Satria memarkirkan mobil. Kami pun turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju ruang ujian. Saat kami sedang berjalan. Tiba-tiba banyak anak sedang berkerumun di depan Mading. Seperti sedang melihat suatu pengumuman penting. Aku dan Satria pun penasaran dg hal itu. Akhirnya aku dan Satria menghampiri kerumunan anak anak dan mencoba masuk dalam kerumunan itu untuk melihat apa yg terjadi. Setelah kami berada diantara kerumunan itu. Aku langsung terkejut membaca sebuah berita yg tertempel di Mading. Yaa disitu tertempel sebuah hot news yg berjudul " Anggota Dewan tertangkap karena terbukti korupsi 1 Triliun Rupiah. " Dan disitu terdapat sebuah foto seorang laki-laki berusia sama seperti Papah. Dan semua orang tau siapa laki-laki itu. Yaa tidak lain adalah ayah dari Divya. Divya mantan kekasih Satria. Aku dan Satria pun saling memandang satu sama lain cukup lama. Setelah itu kami berdua keluar dari kerumunan. Aku dan Satria kembali berjalan menuju kelas. Kami tak menanggapi berita itu. Kami hanya cukup tau tentang apa yg terjadi. Saat kami berjalan, tiba tiba kami tertabrak seorang wanita. Wanita itu berjalan terburu-buru sambil menundukkan kepala dan menerobos kami yg sedang berjalan bergandengan. Alhasil kami tertabrak dan genggaman tangan kami terlepas. Wanita itu sempat berhenti dan melihat ke arah ku dan Satria. Setelah itu dia kembali berjalan dg buru buru tanpa meminta maaf atau berkata sedikitpun. Satria berusaha memanggil namun wanita itu tetap tak bergeming. " Divya? " kataku spontan yg melihat wajahnya saat dia menatapku dan Satria tajam " Divya.. Divya.. tunggu. " panggil Satria setelah mendapat persetujuan ku untuk memanggilnya Tapi ternyata Divya tak mengindahkan panggilan kami. Kemudian aku menggandeng tangan Satria dan mengusapnya memberi ketenangan. Sampai di kelas, semua orang pun ramai membicarakan tentang ayah Divya. Termasuk peri gosip kita Fay hehehehe. " Eh kalian udah tau hot news hari ini kan? " tanya Fay pada kita semua sambil melihat wajah kita satu persatu. Kami hanya mengangguk menanggapinya " Siapa yaa yg tega nampilin berita itu di Mading kampus? " tanya Freya " Iyaa aku juga penasaran dg hal itu. Kasian Divya, sekarang pasti keadaannya lagi kacau. " kataku menyambung ucapan Freya " Kasian? Kamu kasian sama cewe kaya gitu? Menurut aku si ini emang pantes dia dapetin. Ini karma buat dia yg suka sombong dan seenaknya sama orang. " kata Fay dg nada emosi " Yaa tapi kan tetep kasian. Dia ngga ada siapa-siapa yg diajak ngobrol. Temen juga ngga ada. " kataku dg suara lirih. Satria tersenyum mendengar ucapanku " Siapa juga yg mau berteman dg orang kaya gitu. Biarin aja biar dia ngerasain dan tau kalo kita hidup butuh orang lain. Walaupun kita sekaya apa juga tetep butuh orang lain. " kata Fay " Udah udah ko malah kita yg berantem si. Kita doain aja Divya semoga kuat menjalani semuanya dan bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini. Dan bisa menjadi manusia yg lebih baik nantinya. " kata Freya bijak. Semua tertegun mendengarnya. Dan semua hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil " Uuuuhhhh ternyata pacar ku ini bijak juga yaa. " kata Arion memecahkan suasana " Hah pacar? " kata Aku,. Satria, Fay dan Arvin bersamaan " Kapan kalian jadian? " tanya Satria " Serius Fre kamu jadian sama Arion? " tanya Fay. Freya hanya menggeleng gelengkan kepala " Aminin aja ngga usah pada nanya. " kata Arion sambil unjuk gigi " Halu Loe dasar. Yuuukkk balik ke kelas. Bentar lagi masuk. Daripada halu Mulu. " kata Arvin sambil menepuk lengan Arion dan berjalan keluar Arion dan Satria pun mengikuti langkahnya. Satria melambaikan tangan dan tersenyum padaku. Aku pun membalasnya. Tidak lama setelah kepergian Satria dan teman teman. Bel masuk berbunyi. Dan itu berarti ujian akan di mulai. Dosen memasuki ruangan. Karena ujian, jadi dosen yg memasuki ruangan adalah dosen yg berbeda dg mata kuliah yg akan di ujikan. Semacam dosen pengawas. Karena ujian ini adalah ujian tertulis. Dan ternyata dosen pengawas hari ini adalah Bu Zea, Ibu Satria. Seketika aku mengaduh dalam hati. Tapi tetap memberikan senyum hormat padanya. Bu Zea pun membagikan kertas ujian. Lalu kami mulai mengerjakan soalnya satu persatu. Sebelum aku mengenal Satria, aku biasa saja saat ujian diawasi Bu Zea. Tapi setelah aku mengenal bahkan dekat Satria, rasanya sedikit berbeda sekarang diawasi Bu Zea. Ada perasaan deg degan, dan malu. Yaa lebih tepatnya adalah mati kutu. Tapi aku tetap fokus pada setiap soal di depan ku. Demi mendapatkan IPK yg bagus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD