Madu Dibalas Tuba

1205 Words
1 jam berlalu. Ujian mata kuliah pertama telah selesai. Kami mengumpulkan kertas jawaban di meja Bu Zea. Setelah itu anak anak berhamburan keluar ruangan untuk beristirahat. Termasuk Fay dan Freya yg keluar lebih dulu. Saat aku mau keluar menyusul mereka. Tiba tiba aku di panggil Bu Zea. " Ayara. " panggil Bu Zea tegas " Iyaa Bu. Ada yg bisa saya bantu? " tanyaku sopan " Tolong bawakan ini yaa. Dan taruh di meja kantor ibu. Ayo. " kata Bu Zea sambil menunjuk tumpukan buku milik beliau " Baik Bu. " jawabku sambil menganggukkan kepala dan mengambil buku buku itu Aku dan Bu Zea pun berjalan menuju kantor. Banyak pasang mata yg lagi lagi berbisik saat aku dan Bu Zea melewatinya. Yaa semua tau jika Bu Zea adalah ibu Satria. Mungkin mereka berfikir macam macam saat aku berjalan dg Bu Zea sekarang. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku tetap berjalan dg pandangan ke depan. " Bagaimana tadi ujiannya Ayara? " tanya Bu Zea memulai pembicaraan " Iyaa Alhamdulillah Bu. Doain yaa Bu biar semuanya lancar dan bisa dapet IPK tinggi. Amin. " jawabku sambil tersenyum " Amin Ayara. Ibu yakin kamu pasti bisa. " jawab Bu Zea sambil mengangguk dan tersenyum " Kapan mau main lagi ke rumah? " kata Bu Zea pelan agar tak di dengar mahasiswa yg lain " Nanti kalo udah selesai ujian Bu. Insya Allah. " jawabku sambil tersenyum " Iyaa semoga kamu dan Satria sukses yaa. Ibu tunggu kedatangannya di rumah. Makasih yaa Ayara udah bantuin ibu. " kata Bu Zea sambil tersenyum dan mengambil buku yg ada di tanganku untuk di taruh di mejanya. Yaa karena aku dan Bu Zea sudah sampai di kantor. Tepatnya di depan meja Bu Zea " Amin. Iyaa Bu sama sama. Saya permisi yaa Bu. Assalamualaikum. " kataku sambil menganggukkan kepala " Waalaikumsallam. " jawab Bu Zea sambil tersenyum Lalu aku keluar dari ruangan Bu Zea. Aku berjalan santai. Aku melihat Divya sedang duduk sendiri menundukkan kepala di sudut taman kampus. Kemudian aku perlahan menghampirinya sambil membawakan minuman dingin. " Assalamualaikum. Boleh aku duduk disini? " tanyaku sedikit hati hati sambil memberikan minuman " Waalaikumsallam. Ayara? Ngapain Loe kesini " jawab Divya dg jutek dan terkejut saat menengadahkan kepalanya " Boleh aku duduk disini? " tanyaku sekali lagi " Ngga boleh. Udah sana Loe ngga usah disini. " kata Divya dg nada tinggi " Oke kalo ga boleh ngga papa. Nih ambil siapa tau bisa nenangin diri kamu. Semua cobaan pasti akan segera berlalu. Tetap semangat yaa. " kataku sambil tersenyum dan mencoba memberikan minuman dingin itu lagi " Ngga usah sok nasehatin. Loe seneng kan liat gue begini. Dan Loe ngerasa menang karena ngga akan ada yg ganggu Loe dan Satria. " kata Divya sambil menampik minuman itu hingga terjatuh " Aku sama sekali ngga gitu Divya. Aku cuma pengen jadi temen berbagi suka duka kamu. Aku siap jadi pendengar setia buat kamu. " kataku sambil mengambil minuman yg jatuh " Ngga usah sok peduli deh. " kata Divya sambil mendorong ku ke belakang. Hingga aku hampir jatuh terlentang. Tapi untungnya ada Satria yg memegangi ku " Eh Divya bisa ngga si ngga main kasar orang. Hargai niat baik orang sedikit aja. " kata Satria tegas sambil membantu berdiri " Bilangin ke cewe Loe ngga usah sok peduli dg urusan orang lain. " kata Divya jutek " Maksud Ayara itu baik Divya. Dia cuma pengen berteman dan membantu ngeringanin beban kamu. " kata Satria yg mulai melembut " Gue ngga butuh. " jawab Divya acuh lalu pergi begitu saja. Satria menghembuskan nafas berat Kemudian Satria mendudukkan ku di bangku. Aku menyandarkan tubuhku sambil menghela nafas panjang. Satria membukakan minuman yg aku bawa. Yg seharusnya minuman itu untuk Divya. Tapi karena dia menolak. Jadi minuman itu akhirnya aku minum sendiri. " Minum dulu Ayara. Kamu ngga papa kan? " tanya Satria sambil memberikan minuman yg sudah ia buka " Makasih Satria. Aku ngga papa ko. " jawabku sambil tersenyum lalu meminum minuman itu " Aku tau maksud kamu baik Ayara. Dan kamu memang wanita yg sangat baik. Beda dari wanita yg lain. Karena itu aku sangat mencintai kamu. Tapi percuma kamu lakukan hal tadi ke Divya, Ayara. Dia itu keras kepala. Jadi sia sia aja setiap usaha kamu. " kata Satria menasehati " Tapi Sat aku cuma pengen bisa jadi temen dia disaat dia kena musibah yg berat ini. " jawabku lirih " Aku tau Ayara. Tapi Divya itu susah untuk di kasih tau dan di baikin. Jadi udah lah ngga usah melakukan apapun. Kita doain aja semoga Divya bisa melewati semuanya. Dan bisa menjadi orang yg jauh lebih baik lagi. " kata Satria menggenggam tanganku. Aku pun hanya mengangguk " Yaa udah kita makan di kantin yuuukkk sebelum ujian di mulai lagi. " Ajak Satria sambil ia beranjak dari tempat duduknya " Ayoo aku juga udah laper, Hehehehe. " kataku mengiyakan ajakannya sambil unjuk gigi. Lalu berdiri dan mengikuti langkah Satria Kami berdua pun berjalan bersama ke kantin. Disana kami memesan makanan yg cukup berat. Selain karena ujian yg menguras tenaga dan pikiran. Kejadian dg Divya tadi juga membuat kita lapar. Hehehehe Setelah makan. Kami pergi ke ruangan masing-masing. Masih ada waktu beberapa menit sebelum tanda masuk. Tapi anak anak sudah ada di dalam ruangan semuanya. Ada yg mempergunakan waktu dg membaca, bermain Hp, ngobrol alias bergosip. Bahkan ada yg sempat sempatnya membuat tik tok. Bener bener yaa jaman sekarang. " Eh Ayara emang bener tadi kamu di dorong Divya? " tanya Freya. Aku hanya mengangguk menanggapinya " Lagian si kamu udah di bilangin. Ngga usah ngebaikin orang kaya Divya percuma. " kata Fay kesal " Udah lah ngga usah di bahas. Toh aku udah ngga papa. " jawabku santai " Iyaa sekarang ngga papa. Ga tau nanti. " kata Fay dg nada yg masih " Yaa jangan gitu juga doainnya Fay. " kata Freya " Bukannya doain. " kata Fay sedikit menggantung " Udah udah bentar lagi masuk. Gih duduk di bangku sendiri. " kataku yg menyela ucapan Fay Fay dan Freya pun mengikuti perkataan ku dg menghembuskan nafas kasar. Kemudian bel tanda masuk berbunyi. Ujian kedua di mulai. Sama dg ujian pertama, ujian kedua pun berlangsung satu jam. Tapi dg dosen pengawas yg berbeda. Semua mahasiswa terlihat sangat fokus mengerjakannya. Sampai tak terasa waktu pun habis. Semua mahasiswa mengumpulkan kertas jawaban ke depan. Lalu mereka keluar ruangan untuk pulang. Yaa karena ujian hari sudah selesai. Aku, Fay dan Freya pun keluar dari ruangan. Tak lama setelah kami keluar, Satria dan temannya datang menghampiri kami. Lalu kami berenam pulang ke rumah masing-masing. Tapi kali ini Fay dan Freya tetap satu mobil. Tak bertukar pasangan dg Arion dan Arvin. Mungkin Arion dan Freya malu karena tadi Arion mengatakan kalo mereka sudah pacaran hehehehe. Kalo aku ngga usah ditanya. Jelas aku selalu sama Satria. Kami melajukan mobil keluar dari area kampus. Kami berpisah di persimpangan. Karena arah rumah kami yg berbeda. Selama ujian, Satria hanya mengantar ku sampai di depan halaman rumah. Ia tak mau masuk untuk sekedar mampir dulu. Ia langsung berpamitan pulang. Katanya karena lagi ujian, jadi dia tak mau mengganggu konsentrasi ku. Karena nanti akan ada saatnya setelah selesai semua urusan kampus, Satria akan menemui Papah dan berbicara serius tentang hubungan kami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD