( Di Supermarket )
" Biar Ayara aja Bu yg bawa trolinya. " ucapku sambil memegang alih troli belanja
" Makasih Ayara. Oh iyaa panggil Mamah aja biar lebih deket. " kata Bu Zea
" Maaf Bu ngga terbiasa. Ayara panggilnya Ibu aja yaa. Kan ibu itu bisa di panggil kapan aja dan dimana aja. Jadi Ayara ngga usah ganti ganti panggilan ibu kalo pas di kampus atau di rumah. Takut Ayara lupa juga kalo ganti ganti panggilan, Bu. " kataku sambil tersenyum
" Iyaa udah terserah Ayara aja. Seenaknya Ayara aja. Tapi kalo di rumah jangan sungkan sungkan yaa sama ibu. Jangan terlalu formal juga. " kata Bu Zea sambil mengambil beberapa bahan makanan. Lalu di masukkan ke dalam troli yg aku bawa
" Iyaa Bu siap. " jawabku singkat sambil unjuk gigi
Setelah dirasa semua bahan makanan sudah masuk troli. Aku dan Bu Zea pun berjalan menuju kasir. Sepanjang kami berbelanja, kami saling bercerita. Bu Zea menceritakan tentang Satria dan pengalaman pribadinya. Aku yg merasa nyaman pun secara tidak sadar sedikit demi sedikit mengungkapkan apa yg aku rasakan. Aku juga bercerita masalah kampus, sahabat sahabat ku hingga tak sengaja menceritakan tentang aku yg baru pertama kali ini berpacaran.
Respon Bu Zea pun hanya tersenyum. Dia berkata jika bangga dan kagum karena di jaman seperti ini, aku masih bisa menjaga diri. Dan Bu Zea pun berjanji akan menjaga ku meskipun dari anaknya sendiri Satria hehehehe. Tapi aku rasa Satria juga laki laki yg baik yg akan menjagaku. Karena dia tau batasan saat berinteraksi dg ku.
Selesai membayar di kasir. Aku dan Bu Zea pun kembali ke rumah. Berhubung supermarketnya dekat dg rumah. Jadi pulang pergi kami berjalan kaki. Kami berbelanja cukup banyak. Bu Zea membawa 2 kantong belanjaan besar. Aku pun membawa 2 kantong belanjaan besar.
Sampai di depan pintu gerbang. Ternyata Satria dan Papahnya sudah menunggu kedatangan ku dan Bu Zea. Kemudian Satria dan Papahnya yg mengambil alih kantong belanjaan. Benar benar laki laki sejati yg siap siaga. Aku dan Bu Zea hanya tersenyum dan berjalan di belakang dua pria terbaik itu.
Kemudian kita semua menuju dapur. Kami pun bersama sama merapikan belanjaan.
" Mah, mamah mau masak apa? " tanya Satria sambil menoleh ke arah Bu Zea yg sedang memisahkan bahan makanan untuk dimasak
" Ayara sukanya makan apa sayang? " tanya Bu Zea sambil menaikkan alisnya saat melihatku
" Apa aja suka Bu. " jawabku singkat sambil tersenyum
" Oh oke deh kalo gitu. " jawab Bu Zea melanjutkan kegiatannya
" Terus Satria ngga di tawarin gitu mah? " kata Satria sedikit kesal
" Ngapain nawarin kamu. " jawab Bu Zea tanpa ekspresi
" Iiiiihhhh Mamah, kan yg anak Mamah itu Satria mah. " kata Satria dg kesal tp tetep ada nada manja
" Iyaa memang kamu yg anak Mamah. Makannya buat apa Mamah nawarin kamu. Karena Mamah kan udah tau apa yg kamu suka dan ngga suka. " kata Bu Zea menjelaskan sambil tersenyum
" Uuuuu Mamah. " kata Satria sambil menghampiri Bu Zea kemudian memeluk dan menciumnya
Aku pun tersenyum melihat pemandangan itu. Satria sangat menyayangi ibunya. Kata orang, jika seorang laki laki dekat dan sayang kepada ibunya. Maka, ia akan menyayangi istrinya. Bahagia banget yaa kalo aku jadi istrinya nanti. Aku berucap dalam hati sambil membayangkan.
" Ehem ehem diem Mulu dari tadi mba. Senyum senyum sendiri pula. " kata Satria yg ternyata sudah ada di hadapan ku sambil menaik turunkan alisnya
" Iiiiihhhh Satria kaget tau. " jawabku terkejut
" Lagi mikirin apa si Hm? " tanya Satria
" Ngga mikirin apa apa. " jawabku sambil menghampiri Bu Zea dan bermaksud untuk membantu
" Eeemmmm atau lagi ngebayangin kalo kamu yg di peluk dan di cium aku yaa? " goda Satria sambil menaik turunkan alisnya
" Iiiiihhhh apaan sih Sat. " kataku sambil memercikkan air ke wajahnya. Karena aku sedang mencuci sayuran dan buah
" Aaww.. Iyaa kan pengen di peluk dan di cium aku juga? " goda Satria yg mengikuti ku dari tadi
" Ga wle. " jawabku sambil menjulurkan lidah
" Nikah dulu baru boleh begitu. " kata Papah Satria yg berdiri di depan mini bar
" Yuuukkk Aya nikah. " ucap Satria asal sambil tersenyum
" Kuliah dulu selesein, abis itu kerja baru nikah. " sambung Bu Zea
" Tuh dengerin. " kataku pada Satria. Satria hanya tersenyum
Lalu Satria dan Papahnya pergi ke ruang Tv. Sedangkan aku membantu Bu Zea memasak. Kami memasak Sup kimlo bakso, sambel goreng kentang udang, tempe mendoan rawit dan tumis kangkung. Yaa kami memasak cukup banyak. Sangat banyak malah. Aku jadi merasa terharu, tersanjung dan tidak enak. Karena aku, Bu Zea sampai masak sebanyak itu.
Selesai memasak, aku mencuci semua peralatan yg kotor. Sedangkan Bu Zea yg merapikan meja makan dan menghidangkan makanan. Satria tersenyum melihatku yg asyik mencuci peralatan masak. Papah Satria pun memperhatikan Satria dari tadi.
" Udah ngga usah di liatin terus. Ngga bakal ilang ngga, orang lagi nyuci piring. " kata Papah Satria sambil melirik Satria yg terus menatap ku sambil tersenyum
" Hehehehe Papah bisa aja. Satria baru tau ternyata di kampus ada cewe seperti Ayara. Kenapa Satria ngga tau dari dulu yaa. Coba aja Satria kenal Ayara lebih cepet. " kata Satria
" Iyaa ngga kaya mantan kamu itu yaa. " kata Papah Satria menyindir tanpa ekspresi
" Iyaa bener banget Pah. Ayara emang beda. Bukan cuma beda dari Divya, tp beda dari cewe cewe yg lain. " jawab Satria sambil tersenyum bangga
" Iyaa papah akui itu. 11 12 sama Mamah mu. Makannya kalo udah nemu yg istimewa di jaga. " kata Papah Satria sambil melirik Bu Zea
" Pasti Pah. " jawab Satria mantap
Setelah semua siap dan aku pun sudah selesai membersihkan semua. Kami berempat pun makan sore bersama. Kami makan dg tenang tanpa ada percakapan. Hanya sesekali Satria yg menatapku. Dan tatapannya sempat tertangkap tatapan ku. Kita pun saling melempar senyum.
Selesai makan, aku kembali membersihkan dan merapikan piring kotor.
" Udah ngga papa sayang, biar ibu aja. " kata Bu Zea yg menyuruhku berhenti
" Ngga papa Bu biar Ayara aja. " ucapku yg terus melanjutkan kegiatan ku
" Rebutan apa si Mah? Mending rebutan aku aja. " tanya Satria yg kembali memasuki dapur sambil tersenyum
" Iiiiwwww. " ucapku dan Bu Zea bersamaan kemudian tertawa bersama
Satria yg melihat itu merasa senang karena Mamah Zea dan Ayara sangat dekat. Satria pun senang karena kini Ayara sudah tak se kaku dulu. Ayara sangat cepat menyesuaikan. Setelah selesai semua. Aku dan Bu Zea pergi ke ruang Tv. Disana sudah ada Papah Satria dan Satria.
Kami berempat pun mengobrol hal ringan. Sesekali mereka bertanya tentang pribadi ku. Seperti menanyakan nama orang tua, menanyakan tentang diriku dll. Tapi yg aku heran adalah mereka tak menanyakan pekerjaan orang tuaku. Apa mereka sudah mengetahuinya? Atau mereka tak pernah mempermasalahkan soal itu? Jika memang mereka tak pernah mempermasalahkan soal pekerjaan orang tuaku. Berarti mereka tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya. Keluarga yg sangat mengagumkan.
Cukup lama aku di rumah Satria. Akhirnya aku memutuskan untuk pamit. Karena waktu sudah semakin sore. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.
" Bu, Pak. Ayara pamit pulang dulu yaa. Terimakasih untuk semua jamuannya. Maafin Ayara, karena Ayara kesini semuanya jadi harus repot-repot. " ucapku sambil membawa tas
" Ngga ada yg repot ko Ayara. Jangan kapok yaa. Kapan kapan main ke sini lagi. " jawab Bu Zea sambil mengusap rambutku
" Jangan kapan kapan ntar ada yg kangen. Hehehehe. " kata Papah sambil melirik ke arah Satria
" Papah bisa aja. " jawab Satria sambil tersenyum
" Assalamualaikum semuanya. " salam ku lalu mencium tangan Bu Zea dan Papah Satria bergantian
" Waalaikumsallam. " jawab mereka kompak
" Hati hati yaa. " kata Bu Zea lagi sambil melambaikan tangan. Aku pun melambaikan tangan pada beliau
Kemudian aku dan Satria berjalan menuju mobil. Kami masuk ke dalam mobil. Satria pun melajukan mobilnya menuju rumahku.
Sampai di depan rumah. Aku turun dari mobil. Begitu juga Satria. Saat aku dan Satria ingin berjalan masuk rumah. Tiba tiba langkah kami terhenti. Karena melihat ada 2 lelaki keluar dari rumah. Yg satu usianya kurang lebih sama dg Papah. Dan yg satu usianya sekitar diatas aku dan Satria beberapa tahun.
Jantungku berhenti seketika. Nafasku terasa sesak. Aku teringat kata kata Papah yg ingin menjodohkan ku dg anak temannya. Aku menatap ke arah Satria. Satria memegang erat tanganku untuk menguatkan ku. Tubuhku rasanya sangat lemas. Aku tak tau harus apa. Pikiran pikiran tentang 2 orang itupun bermunculan.
Apa itu anak temen Papah yg mau di jodohin sama aku? Tapi masa secepat ini? Aku aja belum lulus kuliah. Papah bilang Satria suruh menyelesaikan kuliah dan bekerja dulu sebelum melanjutkan hubungan ke jenjang yg lebih serius. Tapi kenapa Papah mau menjodohkan ku sekarang? Apa Papah ingin aku mengenalnya dulu? Tapi kan Papah tau aku sekarang dekat dg Satria. Oh Tuhan gimana ini? Itulah pertanyaan pertanyaan ku dalam hati.