Saat Satria berbincang dg Bu Zea. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tiba-tiba Bu Zea melihatku. Mataku dan mata beliau bertemu. Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala padanya. Satria yg melihat itu pun memanggil ku.
" Ayara sini deh. " panggil Satria sambil mengkodekan tangannya agar aku mendekat
" Iyaa ada apa Sat? " tanyaku sambil berjalan mendekat
" Udah tau belum? " tanya Satria sambil mengacungkan ibu jarinya menunjuk pada Bu Zea
" Udah. Bu Zea ibu kamu kan? " jawabku sambil mengangguk dan tersenyum. Bu Zea pun terlihat tersenyum
" Galak ngga? " tanya Satria sambil unjuk gigi
Pertanyaan yg tak seharusnya ditanyakan. Apalagi di depan orangnya. Satria ini yaa, semakin lama semakin dekat dg nya. Ternyata dia anaknya usil dan suka becanda juga. Tak jarang membuat ku kesal. Tapi lucu si hehehehe
" Iiiiihhhh Satria. " ucapku lirih lalu mencubit perut Satria
" Aaww. Bu ni Bu penganiayaan. Udah gitu pegang pegang lagi. Kan belum muhrim. Atau udah pengen di muhrimin nih? " tanya Satria menggodaku
" Iiiiihhhh Satria. " jawabku sambil memukul pundak Satria
" Gini nih Bu mahasiswa ibu dan calon mantu ibu kelakuannya. " kata Satria lirih sambil menoleh kanan kiri melihat ada orang atau tidak saat dia mengatakan itu
Aku hendak memukulnya lagi karena kesal. Dari tadi dia menggoda dan meledekku terus. Apa Satria ngga tau, betapa aku groginya saat ini berhadapan dg ibunya Satria yg notabenenya adalah dosen di kampus. Oh my God, Satria Satria. Please jangan bercanda terus kenapa yaa. Ucapku dalam hati.
" Udah udah. Ayara mau pulang bareng ibu? " tanya ibu Zea padaku
Seketika mataku membulat mendengar pertanyaan itu. Hah pulang bareng Bu Zea? Oh no. Jelas aku ragu untuk berkata iyaa. Di depannya aja aku grogi, apalagi harus satu mobil dg nya. Bisa mati gaya aku nanti. Yaa walaupun beliau terkenal sebagai dosen yg humble tetap saja kan aku tidak enak hati. Apa kata anak anak lain di kampus nanti kalo melihat aku pulang bersama Bu Zea. Pasti gosip akan semakin hot.
" Terimakasih Bu. Saya pulang sama Satria aja. " jawabku sopan sambil menganggukkan kepala
" Ngga mau jauh jauh dari aku yaa, hehehehe. Ngga papa lagi pulang bareng sama Mamah. Toh sama aja sama aku atau Mamah, nyampenya juga ke rumah aku. " kata Satria sambil tersenyum lalu unjuk gigi
" Ngga ah sama kamu aja. Nanti apa kata anak anak lain di kampus kalo aku pulang bareng Bu Zea. Masih banyak anak anak yg belum pulang juga. " jawabku polos
" Heeemmm kamu tuh yaa seneng banget ndengerin kata orang. " kata Satria sambil menghembuskan nafas berat
" Iyaa udah kalo gitu. Ibu tunggu di rumah aja yaa Ayara. Assalamualaikum. " kata ibu Zea sambil tersenyum. Aku pun tersenyum dan mencium tangannya sebelum beliau berlalu dari hadapan ku
Kemudian aku dan Satria pun mengikuti beliau dari belakang menuju parkiran. Aku dan Satria sudah menaiki mobil. Tapi Satria tak langsung melajukan mobilnya. Ia menunggu Bu Zea terlebih dahulu. Ia pun mempersilahkan Bu Zea untuk melaju lebih dulu. Sungguh sopan bukan? Yaa begitulah Satria dg segala sifat dan sikapnya yg sempurna. Membuatku semakin cinta.
Setelah melihat Bu Zea melaju. Satria pun menyusulnya. Di perjalanan pun, mobil Satria tetap berada di belakang mobil Bu Zea. Tak pernah menyalip. Bahkan di lampu merah pun, ia memilih untuk di belakangnya. Sama seperti yg Satria lakukan padaku saat awal mengantar ku pulang.
Akhirnya kami sampai di depan rumah yg indah dan menyejukkan. Rumah yg tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Setelah memasuki halaman. Kami pun turun dari mobil.
" Ayoo sini Ayara masuk. " kata Bu Zea yg sudah menunggu kita di depan pintu
" Iyaa Bu. " jawabku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala lalu berjalan mendekati beliau. Sedangkan Satria mengikuti ku di belakang
" Ngga usah terlalu formal kalo udah di rumah. Panggil aja Tante atau Mamah. " kata Bu Zea sambil tersenyum dan mengusap punggung ku
" Mamah? " tanyaku memastikan karena merasa aneh jika harus memanggil dosen dg sebutan Mamah
" Iyaa Mamah mertua. " kata Satria sambil unjuk gigi dan menaik turunkan alisnya. Aku pun berhasil memukul Satria saat berlari melewati ku
" Mamah nih calon menantunya mukul mukul Mulu. KDHP tau. " kata Satria dg nada manja dan memeluk Bu Zea dari belakang
" KDHP? " tanyaku dan Bu Zea serempak
" Kekerasan Dalam Hubungan Pacaran. Hehehehe. " ucap Satria sambil tertawa kecil
Sungguh pemandangan yg berbanding terbalik dg saat di kampus tadi. Jika di kampus Satria dan ibunya menjaga jarak. Bersikap layaknya seorang dosen dan mahasiswa. Tapi saat dirumah, mereka terlihat begitu dekat, akrab dan saling menyayangi. Aku juga baru tau jika ternyata Satria itu sangat manja pada ibunya.
" Kamunya juga si Sat suka usil. " kata Bu Zea sambil menepuk nepuk punggung tangan Satria
" Iiiiihhhh ko Mamah malah belain Ayara si. Kan yg anak Mamah itu Satria bukan Ayara. " kata Satria dg nada kesal manja
" Iyaa udah berarti sekarang Ayara adalah anak Mamah juga. " kata Bu Zea sambil merangkul ku. Kita pun berpelukan
Benar benar keluarga yg hangat dan harmonis. Yaa sebenarnya sama seperti keluarga ku. Hanya keluarga ini lebih sering menunjukkan dg sikap dan kata kata. Melakukan hal hal kecil yg sangat manis. Aku pun merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Aku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Meski baru pertama kali bertemu, tapi keluarga Satria memperlakukan ku seperti sudah lama mengenal dan menyambutku dg sangat baik.
Sepintas aku jadi teringat dg Papah. Dan bayangan percakapan Papah dan Mamah malam itu pun kembali muncul. Aku merasa semakin tak enak hati dg Satria. Orang tuanya begitu baik padaku. Tapi orang tuaku malah tidak menyetujui hubungan ku dg Satria. Oh Tuhan kenapa harus begini? Tanyaku dalam hati. Satria yg melihat ku tiba-tiba termenung pun berinisiatif untuk menghiburku.
Tapi belum sampai mengeluarkan candaannya. Tiba-tiba Papah Satria datang. Menghampiri kami bertiga yg masih dalam posisi berpelukan. Oh yaa tunggu, berpelukannya bukan berpelukan yg bersentuhan dg Satria yaa. Karena aku berhijab pasti itu tidak mungkin di lakukan. Jadi posisi berpelukan kami yaitu Satria memeluk Bu Zea dari belakang. Sedangkan aku di peluk Bu Zea di depan hehehehe Lucu kan posisinya.
" Ko Papah ngga diajak berpelukan si? " kata Papah Satria mendekat
" Bubar aja yuuukkk bubar. " kata Satria sambil melepaskan diri dari memeluk Bu Zea. Aku pun melepaskan diri dari pelukan Bu Zea
" Loh ini siapa Mah? Ini Ayara yg waktu itu Satria ceritain yaa? " tanya Papah Satria
" Ayara Om. " sapa ku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala lalu mencium tangan Papah Satria
" Cantik. Kamu memang pinter memilih cewe Satria. Ngga sia sia bakat Papah, Papah turunin ke kamu. " kata Papah Satria
" Dih bakat Papah yg mana coba? Papah mah semua cewe di bilang cantik. " kata Satria meledek
Harus aku akui. Papah Satria dan Satria memang seperti kakak adik. Sama sama tampan dan bertubuh atletis. Yaa mungkin itulah yg disebut buah jatuh ngga jauh dari pohonnya. Dan benar kata Papah Satria, kalo bakat bakatnya memang menurun dari beliau. Mulai dari bakat tampan sampai bakat usil dan humoris. Keluarga ini terasa sangat sempurna.
Setelah perkenalan dan acara bercanda selesai. Bu Zea mengajak ku untuk berbelanja makanan di supermarket terdekat. Beliau berniat untuk memasak makanan spesial yg katanya sebagai penyambutan ku. Awalnya aku ragu untuk menerima ajakannya. Tapi akhirnya Satria menyakinkan ku. Dan aku pun pergi bersama Bu Zea.