Saat aku dan Satria sedang asyik makan ice cream coklat. Tiba-tiba ada yg tersandung dan menumpahkan air minumnya ke celanaku.
" dug. " suara tersandung
" Aaawww. " reflek aku mengaduh karena tiba-tiba celanaku tersiram air
" Sorry sorry. Gue ngga sengaja. " ucap seorang yg menumpahkan air pada ku
" Divya? Kamu lagi. Kamu lagi. Kamu ngapain si? Ayara kamu ngga papa kan? " kata Satria yg beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati ku dan memberi ku tissue untuk membersihkan celanaku yg basah karena ulah Divya
" Aku ngga papa ko Sat. " jawabku sambil tersenyum dan menerima tissue dari Satria. Lalu membersihkan celanaku yg basah terkena minuman Divya
" Eh Divya kamu sengaja kan? Minta maaf ngga sama Ayara? " kata Satria tegas
" Ooohhh namanya Ayara. Minta maaf? Sorry baby aku ngga ada waktu untuk itu. Aku buru-buru. Bye. " kata Divya sambil melambaikan tangan dan tersenyum penuh kemenangan karena berhasil mengerjai ku
" Divya tunggu. " panggil Satria dg nada tinggi
Satria hendak mengejar Divya. Tapi aku cegah dg meraih tangannya dan menahannya.
" Satria udah. Aku ngga papa ko. Lagian cuma basah sedikit nanti juga kering. " kataku menenangkan Satria
" Astaghfirullah. Divya itu yaa bener bener. " ucap Satria sambil menghembuskan nafas berat
Saat Satria ingin kembali duduk di tempat duduknya. Fay, Freya, Arion dan Arvin pun datang.
" Heeemmm mentang mentang udah resmi. Kita kita di lupain deh. " kata Arvin sambil cengengesan
" Aya kamu kenapa? " tanya Freya yg mengetahui aku sedang membersihkan celana
" Eeemmmm ini tadi ada yg numpahin air. " jawabku ragu
" Sengaja atau ngga? Siapa orangnya? " tanya Fay sambil mengambil posisi duduk
Aku tak menjawab pertanyaan Fay. Satria pun ikut terdiam melihat aku tak menyebut dan tak menyalahkan Divya.
" Bro. Beneran nih kamu juga ngga mau cerita? Tapi kayaknya aku tau siapa orangnya. " kata Arion yg memang pintar menganalisa
" Siapa? " jawab Fay, Freya dan Arvin bersamaan
" Kompak banget keponya. Hehehehe. Ternyata Freya juga kepo yaa orangnya hehehehe. " kata Arion sambil tertawa. Aku dan Satria pun tersenyum mendengarnya
" Siapa Yon malah becanda dan ngurusin Freya. " kata Arvin kesal
" Divya. Bener kan? " jawab Arion dg nada serius. Suasana pun kembali menegang
" Serius Sat, Divya? " Tanya Arvin. Satria hanya mengangguk menanggapinya sambil menatap ku
" Bener bener yaa tuh cewe psiko. " kata Fay
" Bahaya dong buat Aya kalo gitu. Aku takutnya, dia bukan cuma sekedar numpahin air lagi. " kata Freya sambil berpikir
" Iyaa bener tuh kata Freya. Divya bisa aja melakukan lebih dari itu. Jadi kita harus selalu ada di sekitar Aya. Terutama kamu Sat. " kata Arion
" Ada Satria aja Divya berani. " sambung Arvin
" Maka dari itu kita semua ngga boleh ninggalin Ayara terutama Satria. " kata Arion mengulangi penjelasannya dg penuh penekanan
" Iyaa itu pasti. Tanpa kalian suruh juga aku bakal ngelakuin hal itu. Dan aku bakal kasih perhitungan ke Divya secepatnya. Sebelum dia bertindak lebih jauh. " kata Satria tegas
" Udahlah ngga usah di perbesar masalahnya. Toh aku ngga papa. " kata ku menenangkan semuanya
" Kamu ngga tau Divya gimana sayang. " kata Satria
" Ceilah udah sayang sayangan. " ledek Arion
" Iyaa sekarang kamu ngga papa sayang, tapi kan kita ngga tau nanti. " sindir Arvin sambil tertawa
" Sialan kalian. " kata Satria kesal karena di ledek mulu dari tadi
Kemudian kami berenam pun bercerita dan bercanda sambil menikmati minuman dingin berserta camilan. Setelah kami menghabiskan minum dan camilannya, kami pun pergi ke ruangan masing-masing.
Sehabis absen. Ada pengumuman bahwa ujian di laksanakan Minggu depan. Setelah ujian, yg mendapatkan IPK tinggi bisa langsung mengajukan judul skripsi untuk sidang wisuda. Semua mahasiswa panik dan cemas mendengar pengumuman itu. Tapi tidak untukku dan Satria. Bukannya sok pinter, aku tidak panik tp lebih ke takut. Karena ini adalah ujian akhir penentuan. Takut kalo sampai ngga lulus dan ngga bisa mengajukan judul skripsi. Maka harus mengulang kembali tahun depan. Itu berarti akan jadi mahasiswa abadi. Dan aku ngga mau itu.
Tapi dari sejarah perkuliahan selama ini. Aku ngga pernah mengulang ujian. Alhamdulillah IPK ku selalu tinggi. Bahkan aku cukup terkenal sebagai mahasiswa yg pintar dan pendiam. Untuk itu, saat aku pertama kali dekat dg Satria. Banyak gosip beredar di kalangan anak anak mahasiswa, ngga percaya dg hal itu. Karena ngga mungkin seorang wanita pendiam yg kata orang adalah kutu buku bisa dekat dg seorang Satria. Laki laki pintar, tampan dan mempesona itu. Tapi sekarang, anak anak sudah bisa menerima kenyataan. Jika memang aku dan Satria memiliki hubungan yg lebih dari sekedar teman biasa. Memiliki hubungan yg serius.
Bahkan sekarang anak anak mendukung ku dan Satria. Banyak yg bilang kalo kami itu cocok. Sama sama pintar, baik, cuek, cool, ramah dll. Kata anak anak kampus, aku dan Satria memiliki banyak kesamaan sifat yg membuat kami cocok. Yaa itu si penilaian dari orang lain. Penilaian dari nitizen yg melihat kami.
Selesai pengumuman, pembagian jadwal dan ruangan. Anak anak pun pulang, mempersiapkan untuk ujian hari Senin. Tapi aku dan Satria masih ada di kampus. Satria malah mengajakku untuk ke rumahnya.
Awalnya aku menolak, karena aku malu dan gerogi jika harus bertemu dg kedua orang tua Satria. Kalo ibunya Satria, semua orang juga udah tau bahwa beliau adalah dosen di kampus. Semua orang udah pernah melihat dan bertemu dg nya. Termasuk aku. Tapi jika ayahnya? Oh no. Apa ayah Satria galak? tegas? atau malah menyeramkan? Pikiran pikiran negatif ku mulai muncul.
Yaa jika membayangkan seorang ayah pasti yg muncul pertama kali adalah kesan galak, tegas dan menyeramkan. Padahal belum tentu seorang ayah semenyeramkan itu.
" Hey, ko malah bengong. Tenang Papah ku ga segalak Papah kamu ko. Hehehehe. " kata Satria sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. Kemudian dia tertawa kecil
" Tapi aku takut Sat. " jawabku lirih sambil menundukkan kepala
" Takut kenapa, Hm? Takut ngga di restui? Tenang aja Mamah Papah aku udah memberikan lampu hijau dari awal aku cerita tentang kamu. " kata Satria menenangkan ku
" Serius? Kamu ngga boong kan? Bukan cuma pengen nenangin aku doang kan? " tanyaku memastikan
" Serius sayang. Kalo ngga percaya ayoo tanya Mamah. Mumpung masih di kampus. " kata Satria serius yg kemudian menggandeng tanganku
" Iiiiihhhh jangan. Tambah malu lah. Iyaa udah iyaa aku percaya deh. Tadi kamu bilang dari awal kamu cerita tentang aku? Emang kamu cerita tentang aku apa ke orang tua kamu? " kataku sambil menahan tangan Satria agar tak melanjutkan langkahnya untuk menemui ibu Satria di kampus
" Aku cerita kalo aku suka sama cewe cantik, baik, kalem, pinter. Dan ternyata cewe itu manja, suka ngambek, dan jutek. Wle " jawab Satria sambil berlari meledekku
" Iiiiihhhh Satriaaaaaa. Awas yaa. " jawabku sambil mengejar Satria
Saat kami sedang berkejaran di taman kampus. Satria yg berlari mundur pun menabrak seseorang dosen wanita yg tidak lain tidak bukan adalah ibunya sendiri. Yaitu Bu Zea.
" Eh maaf Bu. Ngga sengaja. Maaf banget yaa Bu. " kata Satria sambil menganggukkan kepala meminta maaf karena sudah menabraknya
" Iyaa ngga papa. Lain kali hati hati yaa. Walaupun lagi jatuh cinta. Tetap harus waspada. " kata Bu Zea menggeleng gelengkan kepala tingkah anaknya sambil tersenyum
" Ibu bisa aja. " jawab Satria sambil tersenyum juga
Aku menyaksikan obrolan mereka dari jarak yg tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh. Aku mematung melihatnya. Mereka sama sekali tidak terlihat seperti seorang anak dan ibunya. Meskipun Bu Zea terkenal dekat dan akrab dalam berbicara dg mahasiswanya. Tapi aku rasa dia memperlakukan Satria sama seperti mahasiswa yg lain. Begitu pula Satria, menghormati Bu Zea layaknya seorang guru. Tidak ada kata mengistimewakan walaupun Satria adalah anak kandungnya sendiri. Yaa mungkin itu hanya berlaku di kampus. Bersikap secara profesional antara dosen dan mahasiswa.