Sepertiga Malam

1310 Words
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Alarm Satria dan Ayara berbunyi bersama di kamar masing-masing dan di rumah masing-masing. Ayara segera mematikan alarmnya. Begitupun Satria. Kemudian Satria menelpon Ayara. " Assalamualaikum sayang. Udah bangun? " tanya Satria " Waalaikumsallam Sat. Udah ni baru bangun. Yaa udah kita sholat yuuukkk. " jawabku sambil bangkit dari tempat tidur " Iyaa udah ayoo. Assalamualaikum. " kata Satria mengakhiri pembicaraan " Waalaikumsallam. " jawabku lalu mematikan telponnya Yaa hanya itu yg kami bicarakan di telpon. Selain masih dini hari. Tak ada pembahasan lain lagi. Karena semua sudah di bahas semalam. Kemudian aku dan Satria mengambil wudhu dan melakukan sholat sepertiga malam bersama. Tapi di kamar dan di rumah masing-masing. Saat takbir mengumandangkan cinta. Dalam sujud kami meminta. Kami melangitkan doa agar bisa di persatukan. " Yaa Allah jika memang Satria adalah takdir ku. Dan jika Satria yg terbaik untukku. Maka dekatkanlah aku dg nya. Mudahkanlah jalanku untuk bersamanya. Tapi jika Satria bukanlah untuk ku. Maka lapangkan hati ini untuk menerima ketentuanMu. Karena Engkau yg lebih mengetahui yg terbaik untuk hambaMu. " doaku setelah ku bersujud " Yaa Allah Engkau yg mengirimkan Ayara di hidupku. Engkau pula yg memberikan rasa ini di hatiku. Maka Engkau pula yg mampu menyatukan kami. Aku pasrah kan semuanya pada Mu Yaa Allah. Aku percaya takdir Mu adalah yg terbaik, apapun itu. " itulah doa yg Satria langitkan Setelah selesai sholat sepertiga malam. Aku melanjutkan tidurku. Tapi tidak dg Satria. Ia melanjutkan dg membaca Qur'an hingga subuh. Saat subuh, Satria pun langsung melakukan sholat subuh. Kalo aku? Aku juga bangun untuk melaksanakannya. Meski sedikit telat hehehehe. Sebenarnya untuk sholat sepertiga malam itu bukan hal yg baru untuk ku dan Satria. Aku sering melakukannya meski tak setiap hari. Jika Satria, Satria sangat rajin melakukannya. Sungguh suami idaman dan imam yg sempurna bukan? Itulah sebabnya kenapa aku sangat mencintai dan mengaguminya. Karena bersamanya aku semakin dekat dg Nya. Bersamanya aku menjadi pribadi yg jauh lebih baik. Kini sholat sepertiga malam menjadi rutinitas sehari-hari aku dan Satria. Tak pernah kami melewatkannya. Ibarat sudah menjadi sebuah kewajiban kami yg kedua setelah sholat fardhu. Kecuali jika aku sedang berhalangan. Yaa cinta kami yg begitu besar. Membuat cinta kami ke pada pemilik rasa pun semakin besar. Karena selain usaha membuktikan kepada Papah. Itulah usaha kami melalui jalur ilahi. Dengan begitu bukan hanya manusia yg merestui. Tapi Tuhan juga meridhoi. Hari ini adalah hari Sabtu. Hari yg sebenarnya paling membuat malas untuk pergi ke kampus. Karena sebenarnya tak ada mata kuliah yg berarti di hari ini. Hanya terkadang kami di wajibkan hadir untuk mengisi absen atau mengumpulkan tugas tugas tertentu. Biasanya hari weekend begini, aku selalu diantar Papah ke kampus. Tapi dg sangat mengejutkan. Ternyata Satria sudah menungguku di halaman. Dengan cepat aku turun kebawah membawa tas ku. Aku pun melewatkan sarapan pagi. Saat aku membuka pintu. Papah pun ada bersama Satria sedang berbincang di bangku teras. Pemandangan yg sangat menyejukkan. Tapi jika mengingat percakapan Papah dan Mamah, pemandangan itu menjadi memilukan. Perlahan aku mendekati mereka. Satria tersenyum sangat manis padaku. Aku hanya membalas dg senyuman seadanya. Sedangkan Papah, Papah menatapku tajam. Membuat ku terngiang-ngiang akan perkataan Papah dan Mamah. " Jadi mulai weekend ini, kamu udah ngga berangkat sama Papah? " tanya Papah memulai pembicaraan " Eeemmmm itu Pah... " aku bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya memang bukan aku yg meminta Satria untuk menjemput ku. Tapi dia sendiri yg tiba-tiba datang ke rumah " Eeemmmm begini Om. Semua terserah Ayara aja. Kalo memang Ayara mau berangkat sama Om, silahkan. Saya akan berangkat sendiri. " kata Satria mencoba melindungi ku " Jadi kamu meminta Ayara untuk memilih Papahnya atau kamu gitu? " kata Papah tegas " Bukan begitu Om. Maksud saya gini, saya kan kesini atas kemauan sendiri. Tanpa ada yg menyuruh dan mengundang. Jika memang kehadiran saya disini menganggu dan merusak suasana. Lebih baik saya undur diri. Dan Ayara berangkat sama Om aja. " jelas Satria panjang lebar " Papah udahlah biarin mereka berangkat berdua. Toh mereka udah besar. Harusnya Papah seneng karena sekarang Ayara udah menemukan teman dekat. " kata Mamah yg berjalan menghampiri kami " Iyaa Mah. Tadi itu Papah hanya akting. Papah hanya becanda. Hahahaha bagus kan akting Papah Ayara? Om cocok jadi artis kan Sat? Hehehehe. " ucap Papah sambil tertawa senang karena berhasil mengerjai kami semua " Iiiiihhhh Papah ngga lucu tau becandanya. " kataku kesal " Panik yaa? Panik yaa? Panik lah masa engga. Hahahaha. " kata Papah mengejek " Iiiiihhhh Paapaaah. " jawabku semakin kesal Di saat aku kesal. Mamah hanya menggeleng gelengkan kepala. Sedangkan Satria, Satria bernafas lega dan tersenyum senang. Karena semua itu hanya sandiwara Papah Ayara. Kemudian aku dan Satria pun pamit berangkat. Kami mencium tangan Mamah dan Papah. Lalu kami masuk ke dalam mobil Satria. Setelah memasang seatbelt. Satria melajukan mobilnya. Kami sempat hening beberapa saat. Kemudian Satria mulai membuka obrolan. " Are you oke sayang? " tanya Satria sambil menoleh kearah ku dan menaikkan alisnya " Heeemmm Papah hampir bikin aku jantungan tau tadi. " jawabku sambil memanyunkan bibir. Satria hanya tersenyum mendengar dan melihat ekspresi wajahku " Malah senyum senyum doang. " kataku sedikit jutek " Ko jadi lama lama keluar aslinya yaa. Jutek hehehehe. Perasaan pas awal kenal manis, manis banget malah. " kata Satria menggoda Aku yg notabene belum pernah pacaran mendengar seperti itu. Hatiku menciut seketika. " Maaf. " kataku lirih sambil menundukkan kepala " Ngga papa ko Ayara. Gemesh tau kalo kamu begitu. " kata Satria sambil tersenyum jail " Iiiiihhhh Satriaaaa. Kamu tuh sama aja yaa kaya Papah. " jawabku sedikit kesal karena merasa dari tadi di ledek mulu, ngga Papah ngga Satria sama aja " Maaf sayang becanda. Udah ngga usah cemberut gitu. Jelek tau. " rayu Satria " Biarin wle. " jawabku singkat Lalu tak ada percakapan lagi setelahnya sampai kami tiba di kampus. Saat tiba kampus, sebelum turun dari mobil. " Masih marah, Hm? " tanya Satria sambil melihat ku dan menaikkan alisnya " Ngga ko ngga ada yg marah dari tadi. Cuma kesel aja. " jawabku masih dg nada sedikit jutek " Terus sekarang masih kesel juga? " tanya Satria sambil melepaskan seatbeltnya " Sedikit. " jawabku singkat. Lalu kamipun turun dari mobil " Iyaa udah kalo gitu, ikut aku yuuukkk. Biar ngga kesel. " ajak Satria sambil menggandeng tanganku " Kemana Sat? " tanyaku " Udah ikut aja. " jawab Satria singkat yg terus berjalan menggandeng tanganku Yaa kami berjalan dg bergandeng tangan. Semua mata tertuju pada kami. Sama seperti waktu itu, waktu dimana pertama kali aku kenal Satria. Bedanya saat ini aku lebih memilih bodoamat dg bisikan bisikan anak anak yg membicarakan kami. Dan disudut tempat, ada sepasang mata yg melihat kami dg tatapan api cemburu dan amarah. Siapa lagi kalo bukan Divya. Kami terus berjalan. Hingga akhirnya kami berhenti di depan Cafe. Cafe dimana sering kami kunjungi. Yaa karena Cafe itu dekat dg kampus hehehehe. Satria terus memegang tanganku, menuntunku ke dalam. Kami duduk di sebuah meja dekat taman. Kemudian Satria memesan 2 porsi ice cream coklat spesial. Aku yg masih terdiam. Hanya melihat segala yg Satria lakukan. Ice cream coklat pun datang. Seperti kejadian waktu itu, pelayan memberikan secarik kertas untukku. Kemudian ia pamit undur diri. Aku langsung menatap Satria yg berada di hadapan ku. Karena aku tau, itu pasti dari Satria. Satria tersenyum melihatku menatapnya. Aku pun membuka kertas itu. Kali bukan puisi yg ia tulis. Tapi hanya sebuah kata kata. " Senyummu lebih manis dari coklat. Matamu jauh lebih menyejukkan dari es. Dan rasa kesal di hatimu akan mencair bersama ice cream coklat ini. " Yaa itulah tulisan dalam secarik kertas itu. Selesai membacanya, aku pun tersenyum menatap Satria. Satria pun membalas senyumku dan mengedipkan sebelah matanya. Benar benar Satria hatiku. Mampu menenangkan dan meluluhkan ku. Saat aku dan Satria sedang asyik memakan ice cream coklat. Tiba-tiba ada yg tersandung dan menumpahkan air minumnya ke celanaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD