" Papah serius mau menjodohkan Ayara dg anak temen Papah? " tanya Mamah lagi memastikan
" Iyaa tadinya. Kalo Ayara belum punya temen cowo juga sampai lulus kuliah. Tapi ternyata Ayara sudah punya temen cowo yg Papah liat tadi. " jawab Papah sambil tersenyum
" Huh syukurlah Pah kalo begitu. Mamah udah sangat khawatir kalo itu terjadi. " kata Mamah bernafas lega
" Kenapa memangnya Mah? " tanya Papah
" Iyaa Mamah melihat kalo Ayara sangat mencintai Satria. Begitu juga sebaliknya. " kata Mamah
" Iyaa Papah tau. Satria juga anak yg baik, sopan dan sangat rendah hati. " kata Papah sambil tersenyum
" Rendah hati maksud Papah? " tanya Mamah sambil mengerutkan kening karena tidak mengerti dg perkataan Papah
" Iyaa tadi Satria bilang kalo ayahnya adalah bendahara perusahaan. Bagi orang yg ngga tau pasti mengiranya yaa bendahara. Tapi karena Papah tau apa artinya, Papah hanya tersenyum. " jelas Papah panjang lebar
" Bendahara perusahaan? Maksud Papah? Mamah masih ngga ngerti Pah. " tanya Mamah yg belum juga paham
" Direktur Keuangan Mamah. Jadi Papahnya Satria yg berwenang masalah keuangan di Perusahaannya. " jelas Papah
" Ooohhh Direktur Keuangan. Tapi jelas jabatan Papah lebih dari Papah Satria dong, kan Papah CEO? " kata Mamah sambil menaik turunkan alisnya
" Memang Mah. Tp yg menjadi Direktur Keuangan itu juga bukan orang sembarangan Mah. Terus kata Satria ibunya adalah seorang guru. Tapi Papah curiga, kayaknya ibunya juga bukan guru SD, SMP atau SMA. " kata Papah
" Iyaa si Pah. Terus guru apa dong pah? " tanya Mamah
" Papah rasa si dosen. Karena awalnya aja dia udah merendah, pasti kesananya juga akan merendah. " jawab Papah
" Iyaa juga Pah. Berarti anak kita ngga salah pilih dong yaa. " kata Mamah tersenyum bahagia
" Iyaa Mah, tapi tetep harus inget kata kata Papah. " jawab Papah tegas
" Iyaa Pah. " jawab Mamah singkat
Jika di kamar Ayara, Ayara sedang menangis karena mendengar ucapan orang tuanya yg tak ia dengar sampai selesai. Sementara di kamar Satria. Ia sedang berbaring di atas tempat tidur. Membayangkan seharian ini, ia habiskan dg Ayara. Mulai dari baksos ke panti asuhan hingga melihat indahnya Senja bersama. Kemudian Satria mengingat jika Ayara memberikan sebuah amplop padanya. Ia pun mengambil dan membukanya.
Ternyata sebuah puisi balasan dari Ayara. Satria tersenyum manis meski baru membaca judul puisinya. Senyum itu semakin merekah saat Satria mulai membaca semua isinya.
Satria Maharprana
Kau hadir dalam istana cinta..
Membuka pintu hati yg terkunci..
Kau duduk dalam tahta..
Memimpin harapan dan imajinasi..
Kau jaga dan lindungi istana ku..
Kau memerangi setiap ketakutanku..
Mengingatkan ku pada kebaikan..
Dan mengajarkan ketulusan..
Kaulah Satria dalam hidupku..
Satria Maharprana..
Hatimu setulus cintamu..
Kesungguhanmu segigih perjuanganmu..
Satria Maharprana..
Kaulah laki laki yg aku cinta..
Tak akan pernah terganti..
Selamanya terpatri di hati..
Ayara Minara
Ayara, ternyata kamu pintar membuat puisi. Kemaren kamu bilang ngga bisa berpuitis. Ayara, Ayara. Ucapnya dalam hati sambil tersenyum. Setelah membaca puisi itu. Satria berniat untuk menghubungi Ayara. Kemudian ia mencari nomor Ayara dan menekan tombol telpon warna hijau.
Cukup lama Satria menunggu panggilannya di jawab Ayara. Hingga akhirnya sambungan telponnya pun diangkat oleh Ayara.
( di kamar Ayara )
Ayara masih menangis tersedu mengingat percakapan orang tuanya. Tangisnya berhenti saat ponselnya berdering. Saat Ayara melihat nama yg tertera di layar, air mata Ayara kembali menetes.
Satria? Yaa Ampun apa aku harus menjawab telponnya? Apa yg harus aku katakan? Apa aku harus menceritakan semuanya? Tapi pasti nanti dia akan kecewa. Begitulah pikir ku.
Tapi aku harus mengangkatnya. Dan aku harus bersikap biasa aja. Ngga boleh keliatan habis nangis. Ucapku dalam hati. Aku pun segera menghapus air mataku. Aku mengatur nafas dan perasaan ku. Di rasa semuanya sudah seperti biasa, baru lah aku mengangkat telpon Satria.
" Assalamualaikum Ayara. Kamu udah tidur yaa? Ko lama banget ngangkatnya. Oh iyaa aku udah baca puisi dari kamu. Puisinya sangat bagus Ayara. Aku suka. Dari puisi itu berarti kamu juga suka sama aku kan Ayara? Gimana kalo kita menjalin hubungan atau lebih tepatnya komitmen? " tanya Satria
" Waalaikumsallam Sat. Ngga ko aku belum tidur. Tadi aku habis dari belakang. Maaf yaa lama. Syukur deh kalo kamu suka sama puisinya. Masalah komitmen... " kataku dg suara parau karena habis menangis dan sedikit berpikir
" Ayara kamu kenapa? Kamu habis nangis yaa? " tanya Satria yg mulai curiga dg suara ku
" Hem? Ngga papa ko Satria. Tadi abis makan pedes pedes jadi gini deh hehehehe. " jawabku berbohong
" Bener ngga papa? Ayara, aku harap hubungan ini di mulai dg kejujuran. Karena kalo awalnya ngga jujur, pasti kebelakangnya akan ngga jujur juga. Aku siap jadi pendengar setia kamu ko. Aku akan berusaha selalu ada saat kamu butuh. Dan kamu tau kan kalo aku ngga suka di bohongi. Mungkin kamu juga sama. Karena ngga akan ada orang yg suka dg kebohongan. " kata Satria dg lembut
Kata kata itu membuatku semakin tak menentu. Air mata yg sudah mengering, kini kembali mengalir. Oh Tuhan, begitu baik dan tulusnya Satria. Apa aku tega untuk mengatakan apa yg aku dengar tadi. Pasti akan menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi jika aku berbohong dan menyimpannya sendiri, tanpa mencari solusi bersama. Dan benar kata Satria, ngga akan ada orang yg suka di bohongi. Meskipun itu berkedok untuk kebaikan. Karena sejatinya tak ada berbohong untuk kebaikan. Kebohongan tetaplah kebohongan. Dengan bismillah aku akan coba untuk mengatakannya. Ucapku dalam hati.
" Ayara.. ko malah nangis lagi. " panggil Satria menyudahi pikiranku
" Satria.. " ucapku ragu
" Iyaa kenapa Ayara. " tanya Satria masih dg nada lembut sangat lembut
" Tadi setelah kamu pulang, aku denger Mamah dan Papah ngobrol. Papah bilang kalo akan menjodohkan aku dg anak temannya Papah Satria. " ucapku lalu aku menangis sejadi jadinya lagi
Setelah itu tak ada respon dari pernyataan ku. Mungkin Satria terkejut atau justru kecewa dan sakit hati. Yg pasti cukup lama Satria terdiam. Kemudian ia menghembuskan nafas berat dan berkata...
" Ayara tenang yaa. Apa yg kamu dengar belum tentu benar. Lebih baik kamu pastikan dulu semuanya. Kamu tanya langsung ke Papah mu. " kata Satria yg coba menenangkan ku. Walaupun aku tau, dia pun terluka dg kejujuran ku
" Tapi Sat, kalo Papah udah ngomong pasti itu bener. " kataku percaya diri sambil masih tersedu-sedu
" It's Oke. Kamu percaya the power of love? Apa kamu mau berjuang bersama ku? Kita perjuangkan cinta kita yg baru dimulai ini sama sama. Oke? Kita tunjukkin ke Papah kamu, kalo hubungan kita itu hubungan yg sehat, positif dan memotivasi. Hubungan kita juga hubungan yg serius dan saling mencintai. Gimana? " tanya Satria
" Apa kamu yakin Sat? Kamu ngga menyerah dan mundur setelah tau semuanya? " tanyaku balik karena heran dg sikap lapang d**a Satria dan kesungguhan cintanya
" Seorang Satria tidak akan pernah mundur untuk sesuatu yg dia mulai. Tapi Satria juga butuh penguat agar selalu bisa memperjuangkan semuanya. Apa kamu mau jadi penguat Satria? " tanya Satria dg kata kata puitisnya
" Iyaa aku mau Satria. Tapi aku juga takut Sat. Aku takut kalo akhirnya tidak sesuai dg harapan kita. Dan Papah tetap akan menjodohkan ku dg anak temannya. " jawabku lirih
" Ayara, masalah akhir itu masalah nanti. Masalah akhir itu masalah takdir. Yg penting kita udah berjuang mempertahankan dan membuktikan cinta kita pada semua orang. Jika kita berjodoh, sekuat apapun orang mencoba memisahkan, dan sejauh apapun jaraknya. Kita pasti akan tetap bersatu. Tapi jika kita tidak berjodoh, sekuat apapun kita berusaha, dan sedekat apapun jaraknya. Pasti tidak akan bersatu. Jadi untuk hasil akhir kita serahkan semuanya sama Allah, Ayara. Jangan lupa untuk bangun di sepertiga malam. Biar jalan dan hajat kita di permudah. " nasehat Satria panjang lebar. Nasehat yg benar benar menenangkan hati dan jiwa
" Makasih yaa Sat. Makasih kamu selalu bisa menenangkan ku. Aku mencintaimu Satria. " ucapku yg mulai mengatur nafas normal
" Sama sama Ayara sayang. Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Yaa udah bobo gih. Jangan lupa nanti bangun di sepertiga malam yaa. Pasang alarm. Atau nanti aku bangunin deh yaa. " kata Satria
" Iyaa Sat. Yaa udah yaa, kamu juga istirahat yaa. Sekali lagi makasih buat semuanya. " jawabku
" Iyaa Ayara. Good night sayang. Sweet dreams yaa. " kata Satria
" Night and sweet dreams too Sat. Assalamualaikum. " ucapku mengakhiri pembicaraan
" Waalaikumsallam. " jawab Satria singkat
Setelah Satria mematikan telponnya. Aku pun pergi membersihkan muka, menghilangkan dari segala risau dan air mata yg sudah mengering. Lalu aku memasang alarm di pukul 3 pagi, untuk melakukan sholat sepertiga malam. Aku pun tertidur setelah semuanya selesai.
( di kamar Satria )
Setelah sambungan telepon berakhir. Satria pun berpikir. Memikirkan semua perkataan Ayara. Benarkah Papah Ayara mau ngejodohin Ayara? Tapi tadi perasaan Papah Satria enjoy dan seneng ngobrol sama aku. Apa aku harus tanya langsung kali yaa ke Papah Ayara? Heeemmm iyaa mungkin aku harus bertanya langsung biar semuanya jelas. Ucap Satria dalam hati.
Yaa aku harus memastikan semuanya. Karena aku pun ngga mau kehilangan kamu Ayara. Cerita kita baru dimulai. Aku tak mau mengakhiri begitu saja. Hanya karena sebuah ujian. Semoga cinta kita abadi Ayara. Dan semoga ini adalah cara Tuhan untuk memberikan kebahagiaan yg sempurna di akhir cerita kita nanti. Amin. Itulah monolog Satria.
Yaa setelah doa dan harapan Satria di panjatkan. Kemudian ia pun pergi tidur. Sebelumnya, Satria juga memasang alarm di sepertiga malam. Lalu Satria pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Apakah mereka bisa membuktikan kesungguhan cinta mereka?
Apakah perjuangan sepertiga malam mereka membuahkan hasil?
Dan apakah the power of love itu mampu menyatukan keduanya?
Atau justru akan ada cobaan cobaan lagi dalam hubungan mereka?
Kita lihat saja nanti, hehehehe.