Terhalang Restu

1371 Words
Setelah jingga berubah menjadi malam berbintang. Aku dan Satria memutuskan untuk pulang. Satria mengantar ku ke kampus untuk mengambil mobil. Lalu seperti biasa, Satria akan mengantar ku sampai ke rumah dg mengikuti ku dari belakang. Seperti biasa, mobil Satria selalu berhenti agak jauh dari ku. Tapi tetap masih terlihat oleh ku. Saat aku melambaikan tangan pada Satria. Tiba tiba Mamah keluar dari rumah dan memperhatikan ku. " Kamu lambaikan tangan sama siapa Aya? " tanya Mamah sambil menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang " Sama temen mah. " ucapku lalu unjuk gigi " Yg di mobil itu? " tanya Mamah sambil menunjuk ke arah mobil Satria. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Sedangkan Satria yg tau sedang di bicarakan dan di perhatikan pun tersenyum pada Mamah " Kenapa ngga disuruh masuk? " tanya Mamah " Emang boleh mah? " tanya ku " Boleh lah sayang, kenapa ngga boleh. " jawab Mamah sambil tersenyum dan mengusap rambutku Sebelum aku menelpon Satria untuk masuk. Ternyata Satria sudah lebih dulu melajukan mobilnya menuju rumahku. Yaa Satria memang seperti bisa membaca situasi, orang dll. Jangan jangan Satria punya indra ke enam. Ujarku dalam hati. Setelah Satria memarkirkan mobilnya di depan rumahku. Satria turun dari mobil dan tersenyum padaku juga Mamah. " Assalamualaikum Tante. " salam Satria sambil mencium tangan Mamah " Waalaikumsallam. Udah sering yaa nganterin Ayara begitu? " tanya Mamah to the poin " Iyaa Tante. " jawab Satria tegas " Kenapa ngga masuk ke rumah aja. Daripada di jalan gitu? " tanya Mamah sambil menaikkan alisnya " Takut Ayara ngga ngijinin Tante. Kan Ayara juga ngga mau diantar satu mobil. Jadi yaa udah begitu aja. " jawab Satria sambil tersenyum melirikku. Ayara hanya tertunduk malu " Ada siapa si Mah. Ko perasaan dari tadi di luar ngga masuk masuk. " kata Papah sambil berjalan menuju tempat kami berdiri " Assalamualaikum Om. " salam Satria sambil tersenyum dan menganggukkan kepala lalu mencium tangan Papah " Waalaikumsallam. Temennya Ayara? " tanya Papah tegas " Iyaa Om. " jawab Satria sambil menganggukkan kepala " Satu kampus? Jurusan apa? " tanya Papah yg mulai seperti polisi sedang mengintrogasi " Mending tanya jawabnya di dalem Pah. Biar enak sambil duduk, minum dan ngemil. Yaa ngga Nak? Siapa namanya? " kata Mamah " Satria Tante. " jawab Satria singkat " Ah iyaa nak Satria ayoo masuk dulu. Kita minum minum dulu, sambil menjawab pertanyaan Papah Ayara yg kaya polisi. Hehehehe. " kata Mamah yg berhasil sedikit mencairkan suasana tegang karena Papah Kami semua pun masuk. Disitu aku merasa takut dan deg degan. Karena Papah yg selalu bertanya dg tegas n menatap tajam Satria. Aku takut Papah akan memarahinya dan tak menyetujui hubungan ku dg Satria. Kemudian kami duduk di ruang tamu. Mamah pamit ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil camilan. Aku pun akhirnya memilih untuk membantu Mamah. Sedangkan Satria bersama Papah mengobrol disana. Ntah apa yg mereka obrolkan. Aku takut untuk mendengarnya. Tapi sepertinya hanya obrolan ringan, seputar bertanya tentang Satria dan keluarganya. Karena aku lihat sesekali mereka tertawa. Huh, syukurlah jika tidak ada kejadian serius seperti yg aku pikirkan. Aku dan Mamah datang membawa minuman dan camilan. Kami pun ikut duduk bersama Satria dan Papah. " Silahkan di minum nak Satria. " kata Mamah sambil mempersilahkan pada Satria " Iyaa terimakasih Tante. Jadi ngerepotin yaa. " jawabku sambil tersenyum " Ngga ko ngga repot. Tante malah seneng kalo ada temen Ayara. Karena dari dulu setau Tante, temen Ayara cuma Fay dan Freya, hehehehe. " kata Mamah sambil melirikku " Berarti saya yg pertama yaa Tante? " tanyaku sambil tersenyum " Iyaa. Makannya kamu jangan nyakitin Ayara. Om minta tetap fokus kuliah. Karena sebentar lagi kalian lulus. Setelah lulus, kerja dan baru lah memikirkan hubungan. Om ngga mau kalo hubungan kalian sampai mengganggu kuliah kalian. Dan satu lagi jaga diri sendiri baik baik. Jangan sampai terbawa nafsu. Karena kalo sampai hal buruk terjadi sama anak Om. Maka orang pertama yg Om cari adalah kamu Satria. " kata Papah tegas " Papah. " kata Mamah mencoba untuk menenangkan Papah " Siap Om. Insya Allah saya akan menuruti semua kata kata Om. " jawab Satria sambil menganggukkan kepala " Yaa udah kalo gitu silahkan kalian ngobrol. Mamah dan Papah kedalem dulu. " kata Mamah sambil mengajak Papah masuk Setelah mereka masuk. Satria meminum minumannya. Aku pun sedikit menggeser posisi dudukku agar sedikit lebih dekat dg Satria. " Maafin kata kata Papah yaa. Papah emang suka overprotektif. " kataku memulai pembicaraan " Iyaa ngga papa ko Ayara aku ngerti. Namanya orang tua pasti ingin yg terbaik untuk anaknya dan ingin anaknya baik baik aja. " jawab Satria sambil tersenyum " Makasih yaa Satria. Kamu udah selalu mengerti aku dan semuanya. " kataku sambil tersenyum " Oh yaa tadi Papah nanya apa aja sama kamu? " tanyaku lagi " Sama sama Ayara. Ngga nanya apa apa ko. Cuma yaa ttg kampus dan orang tua ku. " jawab Satria sambil tersenyum " Syukur deh kalo ngga aneh aneh. " kataku sambil unjuk gigi " Ooohhh iyaa Aya, aku pamit yaa udah malem. Seneng akhirnya bisa main ke rumahmu dan ketemu orang tua kamu. Boleh panggilin mereka ngga, aku mau pamit. " kata Satria. Dan aku hanya mengangguk " Pah Mah, Satria mau pamit. " panggil Ayara sambil berjalan menghampiri tempat Mamah Papah " Loh ko pamit. Masih sore kok. Baru sebentar. " kata Mamah sambil berjalan menuju Satria " Iyaa Tante udah malem kok. Takut Ayara dan yg lain mau istirahat. " jawab Satria sambil tersenyum dan menganggukkan kepala " Ooohhh iyaa udah hati hati Satria. Jangan lupa main main lagi. " kata Mamah sambil tersenyum " Iyaa Tante. Kalo gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum. " pamit Satria sambil mencium tangan Mamah dan Papah " Waalaikumsallam. " jawab Mamah Papah kompak Lalu Aku mengantarkan Satria ke depan. Setelah mobil Satria berlalu meninggalkan rumah. Aku pun masuk ke dalam rumah. Aku sempat mendengar pembicaraan Mamah dan Papah yg membuat ku cukup terkejut. " Pah, emang tadi papah ngga terlalu keras ngomong gitu ke Satria di depan Ayara? " tanya Mamah " Ngga lah mah, kan apa yg papah omongin itu bener mah. " kata Papah sambil duduk di sofa " Iyaa si pah, tapi kan Satria itu temen cowo pertamanya Ayara pah. " kata Mamah yg juga ikut duduk di samping Papah " Justru itu mah. Karena Satria yg pertama makannya Papah tegasin. Sebenernya Papah berniat ingin menjodohkan Ayara dg anak temen Papah mah. " kata Papah sambil menatap Mamah " Menjodohkan Ayara dg anak temen Papah? " tanya Mamah menyakinkan karena takut salah dengar " Iyaa mah. " jawab Papah singkat Aku yg mendengar percakapan itu, seketika merasa lemas. Tak terasa air mata jatuh begitu saja. Merasa bahwa hatiku hancur. Aku yg baru mengenal dan menemukan cinta, harus di hadapkan dg situasi seperti ini. Sakit hati saat semuanya baru dimulai. Parahnya lagi sakit hati itu karena ulah orang tuaku sendiri. Terus gimana nanti aku cerita ke Satria? Apa yg harus aku lakukan untuk hubungan ku dan Satria yg baru di tahap saling mengungkapkan. Aku yakin Satria sudah menganggap ku kekasihnya. Walaupun kami belum resmi berpacaran. Aku pun demikian. Aku tak mau selain Satria. Karena yg aku mau hanya Satria. Satria yg mampu membuka pintu hatiku. Satria yg mengenalkan ku pada rasa yg bernama Cinta. Satria yg selalu ada di setiap aku butuh. Satria yg selalu menghargai, mengerti dan memahami setiap keadaan ku. Satria yg sudah mengawali cerita ini. Jadi Satria pula yg harus mengakhirinya. Maka dari itu, kalo ia dengar ini semua pasti akan membuatnya sakit hati. Lebih sakit dari setiap penolakan ku di awal dulu. Satria aku harus gimana? Aku cuma mau sama kamu. Ucapku dalam hati. Apa aku harus ceritakan ini semua padanya? Tapi kalo dia jadi sedih, sakit hati dan marah, terus ngga mau berhubungan dg ku lagi gimana? Air mataku kembali menetes saat pertanyaan pertanyaan itu muncul dalam benakku. Kemudian aku berlari ke kamar. Aku mengunci kamar dan aku menangis sejadi jadinya. Dan ternyata saat aku pergi ke kamar, Mamah dan Papah belum menyelesaikan pembicaraan mereka. Dan yaa apa yg aku dengar itu hanya sepotong saja. Karena masih ada kelanjutan pembicaraan mereka yg tak aku dengar dan tak aku tau. Yg membuatku jadi salah paham dalam waktu yg cukup lama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD