Pengakuan Evan

1602 Words
Hampir 1 jam aku dan Evan keliling naik mobil mencari sate. Dan akhirnya kita nemu juga sate ayam yg di rekomendasikan Evan. Yg katanya enak dan di jamin pasti ketagihan. Lalu kita turun dan menghampiri tukang sate itu. " Pak satenipun kalih porsi nggih. Ngagem kupat. " kata Evan dg bahasa Jawa Krama Alus yg artinya (Pak satenya dua porsi pake kupat) Aku sempat terkejut karena ternyata seorang Evan bisa berbahasa Krama Alus. Dan yg lebih mengejutkan lagi, dia begitu sopan, manis dan lembut pada orang lain bahkan yg lebih tua. Sedangkan sama aku? Hem jangan ditanya. Dia selalu dingin, cuek dan jutek. Dari situ aku sedikit menaruh simpati padanya. " Maem mriki Mas? " tanya penjual sate sambil mengipasi satenya. Arti pertanyaannya adalah (Makan disini Mas?) " Nggih pak. " jawab Evan sambil duduk di bangku dekat gerobak sate. Arti jawaban Evan (Iyaa Pak) Seketika mataku membulat dg jawaban Evan. Dan berkata dalam hati, Evan main bilang iyaa iyaa aja. Bukannya aku gengsi atau ngga mau makan di pinggir jalan. Tapi aku itu pengen makan di rumah sambil nyantai nonton TV. Evan nih yaa bener bener suka semaunya sendiri. " Sini duduk sini, Ayara. " kata Evan sambil menepuk bangku di sebelahnya. Mau ngga mau, aku pun menurutinya " Ngga usah manyun. Sekali kali makan di pinggir jalan ngga papa kan? " kata Evan sambil menaikkan alisnya " Heeemmm. " jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya Ngga lama kemudian. Sate pesanan kita pun datang. " Monggo mas, mba. " (Silahkan mas, mba) kata tukang sate sambil memberikan piringnya satu persatu kepada ku dan Evan " Matur suwun Pak. " (Makasih pak) jawab Evan sambil menganggukkan kepala dan menerima satu porsi sate. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum saat menerimanya Kita berdua pun makan tanpa ada obrolan apapun. Sesekali penjual sate melirik ke arah ku dan Evan sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba penjual sate itu bertanya yg membuat ku terkejut. " Mas, mba. Pacaran ko diem dieman? Lagi marahan yaa? " kata penjual sate itu sambil membakar sate lagi Aku yg mendengar pertanyaan itu langsung tersedak sate. Dg cepat Evan menyodorkan ku minum. Lalu aku segera meminumnya. Evan pun tersenyum melihat ku. " Iyaa nih pak. Cewe aku emang suka ngambek ngga jelas. " jawab Evan sambil tersenyum jail padaku. Aku pun menginjak kaki Evan " Aaawww. Sakit Ayara. " kata Evan " Siapa suruh jawabnya asal. " kataku kesal Penjual sate hanya tersenyum dan terus menggelengkan kepalanya melihat tingkah ku dan Evan. Selesai makan, aku meminta pada Evan untuk pulang. Karena aku mau membersihkan diri dan istirahat. " Ngga mau jalan jalan dulu gitu? " tanya Evan yg tiba tiba dg nada lembut " Dih tumben lembut. Ngga ah males. Pengen istirahat. " jawabku sambil berjalan menuju mobil " Ayara tunggu. " cegah Evan sambil memegang tanganku. Aku pun menghentikan langkah dan membalikkan badan menghadap Evan " Emang kita ngga bisa berteman walaupun kamu udah punya Satria? " tanya Evan " Berteman? " kataku sambil menghembuskan nafas panjang dan mengerutkan kening Apa Evan bilang? Berteman? Aku berteman sama orang yg mau di jodohin sama aku? Yg berarti orang itu yg akan merusak hubungan ku dg Satria. Walaupun kelihatannya Evan baik tp tetep aja aku udah ngga suka dan males duluan. Coba kalo Evan itu ngga di jodohin sama aku. Pasti dari awal kita ketemu udah bisa jadi temen. Pikirku sendiri. " Iyaa Ayara. Aku tau kamu udah punya pacar, yaitu Satria. Aku juga tau kalo kamu sayang dan cinta banget sama dia. Begitu juga dia. Tapi apa ngga bisa kita berteman baik gitu? " tanya Evan lembut sambil menatapku intens " Berteman baik? Apa bisa aku berteman baik sama orang yg mau ngerusak hubungan ku sama Satria? aku balik bertanya dan melepaskan tangan Evan " Maksud kamu merusak hubungan kamu dan Satria? Aku kan cuma ngajak berteman bukan mau merusak hubungan kamu. " kata Evan menjelaskan " Udahlah. Aku mau pulang sekarang. Kalo kamu ngga mau pulang. Aku pulang sendiri. " kataku sambil mencoba pergi dari hadapan Evan " Tunggu Ayara. Kita harus bicara. Kita harus selesaikan kesalah pahaman ini. Kamu harus jelasin tuduhan kamu ke aku itu. " kata Evan yg kembali meraih tanganku dan menghentikan langkahku " Heeemmm oke lah. " jawabku mengalah sambil menghembuskan nafas berat dan melepaskan tanganku dari Evan " Kita duduk di taman sana gimana? " tanya Evan " Iyaa udah. " jawabku yg masih jutek Aku dan Evan pun berjalan menuju bangku taman yg di tunjuk Evan. Aku duduk lebih dulu di bangku itu. Sedangkan Evan, dia ternyata membeli es krim sebelum duduk. Yaa dia membeli 2 es krim cone. Satu coklat dan satu vanilla. Lalu memberikan padaku yg rasa coklat. Ntah darimana dia tau aku suka coklat. Ah itu ngga penting. Yg penting sekarang adalah apa yg akan kita bahas. Karena tadi Evan bilang salah paham? Salah paham darimana? Apa Evan ngga tau tentang perjodohan kita itu? Apa aku udah salah ngomong kalo gitu? Tp biarlah kalo emang Evan belum tau, lebih baik kalo dia tau sekarang. Biar aku bisa meminta dia membatalkan perjodohan itu. Yaa itulah yg terbesit dalam hati dan pikiranku. " Ayara liat aku. Jawab pertanyaan ku. Tadi kamu bilang kalo kamu ngga mau berteman sama aku, karena aku mau merusak hubungan kamu dan Satria? Maksudnya gimana yaa aku ngga ngerti? " tanya Evan sambil menatapku intens " Huft... Emang kamu ngga tau masalah perjodohan kita? " jawabku masih dg nada jutek lalu memakan ice cream " Perjodohan kita? Maksudnya gimana sih Ayara. Aku tambah ngga ngerti. Orang kamu di tanya malah balik nanya. " kata Evan yg kesal dg ku " Yaa ngga usah marah gitu kali. Jadi gini, setelah aku ngenalin Satria ke Mamah dan Papah. Aku denger mereka ngobrol. Aku denger kalo Papah bakal ngejodohin aku dg anak temennya. Terus setelah itu, aku liat kamu dan om Denny ke rumah. Papah ngenalin kalian. Ditambah lagi kamu sekarang setiap hari kerumah. Jadi siapa lagi kalo bukan kamu yg mau di jodohin sama aku coba? kata ku menjelaskan panjang lebar " Ooohhh gitu. Pertama, aku ngga tau apa apa tentang perjodohan. Karena Om Deon dan Papah ngga bilang apapun ke aku. Kedua, aku setiap hari ke rumah mu itu karena lagi belajar bisnis sama Om Deon, Papah kamu. Aku disuruh megang salah satu perusahaan Papah ku. Tapi aku harus belajar sama om Deon. Karena kalo Papah ku sendiri yg ngajarin ngga akan maksimal dan hasilnya akan beda katanya. Ketiga, kalo pun sampai terjadi aku di jodohin sama kamu. Setelah kita ngobrol gini, apa kamu mau menerimanya? " kata Evan " Yaa ampun Evan, pake nanya lagi. Yaa jelas aku ngga mau lah Evan. Kan aku udah punya Satria. Aku dan dia udah menjalin komitmen. Apapun yg terjadi nanti, kita akan perjuangkan. " kataku dg santai tanpa memikirkan perasaan Evan. Evan pun memejamkan matanya mendengar ucapan ku yg terkesan santai tanpa memikirkannya. Sedangkan aku tetap asyik memakan ice cream coklat. " Heeemmm... Oke kalo itu jawaban kamu, Ayara. Kalo perjodohan kita beneran terjadi, aku juga ngga akan menerimanya. Aku ngga mau jadi perusak hubungan orang. Meskipun aku suka, cinta dan sayang sama kamu Ayara. Tapi kalo kamu dan Satria saling mencintai. Aku ikhlas, aku yg akan pergi dari hidup kalian semua kalo sampai om Deon dan Papah ku membahas perjodohan kita. Karena aku yakin Satria pasti bisa menjaga dan membahagiakan kamu. " kata Evan lirih dan tersenyum kecil " Evan... " ucapku lirih Yaa aku jadi merasa bersalah karena telah mengatakan semuanya pada Evan. Begitu besarnya hati Evan yg akan merelakan semuanya jika perjodohan itu terjadi. Dan yg membuat ku lebih merasa tak enak hati adalah ternyata Evan menyukai ku. Tapi sejak kapan? Aku dan dia kan belum lama ketemu. Yaa mungkin karena setiap hari dia ke rumah. " Iyaa Ayara, sejak pertama bertemu. Aku sudah suka sama kamu. Aku semakin kagum saat aku mencoba meledek mu, tapi kau selalu jutek. Kamu benar benar menjaga perasaan dan hubungan mu dg Satria. Sejak saat itu, aku sadar diri. Kalo aku ngga mungkin bisa masuk dalam hatimu. Dan sejak saat itu, aku hanya menyimpan semua rasa ini. Aku berniat untuk ngga mengungkapkan sama kamu. Tapi karena kamu membahas masalah perjodohan, jadi aku membukanya. Maafin aku yg udah mencintaimu, Ayara. Tapi aku janji, aku ngga akan merusak hubungan kamu dan Satria. Aku akan menolak dan pergi kalo perjodohan itu terjadi. Aku janji Ayara. Aku selalu mendoakan kamu dan Satria. Tapi sebelum ada pernyataan dari orang tua kita, apa kamu mau berteman sama aku? Hanya berteman, ngga lebih. " kata Evan lembut. Dan aku hanya mengangguk menanggapinya Sungguh aku dibuat kelu oleh sikap dewasa Evan. Aku sampai tak bisa berkata apa-apa. Dia bahkan rela mundur untuk ku dan Satria jika semua perjodohan itu benar. Yaa aku merasa cintanya pada ku tulus. Karena dia tak berambisi untuk memiliki. Dia sangat menghargai pilihan ku. Menghargai hubungan ku dan Satria. Bahkan dia selalu memuji Satria di depan ku. Sungguh dia adalah laki laki terbaik nomor 2 setelah Satria. Yaa karena Satria pun memiliki hati yg begitu baik dan besar. Satria selalu mengajarkan ku tentang kebaikan, ketulusan dan kesabaran. Satria juga selalu membuat ku menjadi manusia yg tegar. Dg selalu berkata aku harus siap menerima takdir apapun yg terjadi nanti. Banyak hal hal menakjubkan yg aku pelajari dari sosok Satria. Satria adalah makhluk ciptaanNya yg sangat sempurna di mata ku. Tapi aku tak bisa membalas perasaan Evan. Karena hati dan perasaan ku hanya untuk Satria. Tapi aku merasa sangat beruntung di cintai dan di sayangi oleh 2 laki laki yg baik seperti mereka. Aku juga sangat bersyukur dikelilingi oleh orang orang yg tulus dan berhati besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD