Kejujuran

1218 Words
Setelah obrolan yg menguras perasaan. Akhirnya aku dan Evan memutuskan untuk pulang. Yaa karena waktu juga sudah semakin larut. Walaupun ngga tau pasti Papah dan Mamah udah pulang atau belum. Aku dan Evan kembali ke mobil. Lalu Evan melajukan mobilnya menuju rumah. Sampai di rumah, aku berjalan lebih dulu. Aku masih tak bisa berkata apapun. Dan sekarang aku semakin merasa canggung pada Evan. Apalagi setelah aku tau tentang perasaannya padaku. " Om Deon dan Tante Zea belum pulang. Aku disini dulu yaa sampai mereka pulang. Kalo kamu mau ke kamar, ke kamar aja Ayara. Aku ngga papa ko disini. " kata Evan sambil tersenyum " Iyaa udah aku ke kamar dulu yaa. Makasih yaa Van buat semuanya. Dan maaf. " kataku sambil menundukkan kepala " It's Oke Ayara. Terkadang perasaan itu tak perlu balasan. Hanya perlu di ungkapkan. " kata Evan sambil tetap tersenyum Lalu aku pergi ke kamar. Sedangkan Evan tetap di ruang tamu. Setelah membersihkan diri, berganti pakaian dan menyiapkan segala sesuatu untuk kuliah. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku masih terngiang-ngiang dg kata kata Evan. Aku sempat berpikir jika aku sangat jahat. Tapi bagaimanapun aku hanya mencintai Satria. Tidak ada yg lain dan tidak bisa di gantikan. Saat aku sedang memikirkan tentang Satria dan Evan. Tiba tiba ponselku berbunyi. Yaa Satria lah yg menghubungi ku. Lalu aku segera menjawab telponnya. " Assalamualaikum Sat. Ada apa? " kataku yg mendahului pembicaraan " Waalaikumsallam sayang. Lagi ngapain? Ooohhh iyaa besok kan terakhir ujian. Gimana kalo besok malam, aku langsung tanya sama Papah kamu? " tanya Satria dg penuh semangat " Lagi tiduran aja nih. Iyaa boleh Sat. Aku juga pengen cepet tau jawaban Papah tentang perjodohan yg pernah aku dengar. " kataku sambil mengingat kata kata Evan " Iyaa sayang. Semoga aja perjodohan itu ngga terjadi yaa. Amin. " kata Satria " Iyaa Amin Sat. " jawabku singkat " Ooohhh iyaa Evan masih suka ke rumah kamu, Ayara? " tanya Satria yg tidak biasanya menanyakan tentang Evan " Iyaa masih Sat. Katanya si dia lagi belajar bisnis. " jawabku jujur " Ooohhh. " jawab Satria singkat Satria menangkap dari jawaban ku bahwa aku sudah mulai dekat dg Evan. Yaa karena Satria tau, dari awal aku kurang suka pada Evan. Tapi saat ini, aku sudah tau maksud Evan di rumah setiap hari. Jadi Satria menyimpulkan bahwa aku perlahan sudah mulai dekat dg Evan. Satria pun berucap dalam hatinya. " Aku tau Ayara, cepat atau lambat kamu dan Evan pasti akan dekat. Ntah dekat seperti apa, tp yg pasti akan terjalin suatu komunikasi dan percakapan berdua. Aku akui aku cemburu saat mendengar jawaban mu. Karena itu menunjukkan kedekatan mu dg Evan yg meningkat satu tingkat. Disitu aku sedikit takut Ayara. Aku takut akan menjadi nyaman dg nya karena kalian sering bertemu. Tp aku juga tak bisa egois dan mengekang mu. Aku akan tetap mengikuti arus Ayara. Aku tak mau melawannya. Karena aku ingin melihat kemana kita akan bermuara. " kata Satria dalam hati sambil memejamkan mata dan berdiam diri untuk beberapa menit " Sat, ko diem? Maaf kalo kamu ngga suka aku berteman dg Evan. " kataku lirih yg tau kenapa Satria tiba tiba diam. Karena aku bisa mengerti tentang Satria " Kenapa minta maaf sayang. Ngga ada yg salah disini. Aku ngga melarang dg siapapun kamu berteman. Aku cuma sedikit takut Ayara. " jawab Satria lembut " Beneran kamu ngga marah? Ngga perlu takut Satria. Selamanya kamu selalu ada di hati dan pikiranku. Dan selamanya aku akan mencintaimu. " jawabku dg yakin dan tulus " Dih udah pinter gombal yaa sekarang. Udah berani mengungkapkan isi hatinya langsung nih. " kata Satria meledek " Iiiiihhhh Satriaaaa... Orang lagi mellow dan serius juga malah ngeledek. " jawabku kesal " Iyaa sayang aku percaya ko sama kamu. Maaf yaa, abis kan ngga biasanya kamu gombal hehehehe jadi tambah gemesh. " kata Satria sambil tertawa kecil " Sebel deh. Ooohhh iyaa besok aku boleh main ke rumah kamu dan ketemu ibu kamu kan Sat? " tanyaku mengalihkan pembicaraan " Boleh dong sayang. Tadinya si aku mau ngajak kamu ke rumah itu lusa setelah aku ngobrol sama Papah kamu. Dan sebelum kita pergi ke sesuatu tempat yg udah aku janjiin sama kamu. " jelas Satria " Ooohhh iyaa aku sampe lupa kalo kamu mau ngajak aku ke sesuatu tempat. Emang tempat apa si Satria? Terus dimana tempatnya? " tanyaku antusias dan penasaran " Rahasia dong sayang. Namanya juga surprise. Pokoknya tempat itu adalah tempat bersejarah buat aku. Aku pengen kamu tau tentang aku dari awal sampai akhir. " kata Satria " Ah ngga seru ah mainnya rahasia rahasiaan Mulu. " kataku berpura pura kesal " Sabar sayang, kan lusa kita pergi. Oke? Yaa udah gih bobo udah malem. Besok aku jemput seperti biasa. " kata Satria " Heeemmm iyaa deh. Iyaa udah bye Satria. " kataku berpamitan " Bye sayang. Good night yaa. Assalamualaikum. " ucap Satria mengakhiri pembicaraan " Night too Sat. Waalaikumsallam. " jawabku singkat Lalu Satria mematikan telponnya. Aku pun meletakkan Hp ku di meja dekat tempat tidur. Aku belum ingin tidur, aku memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Selain mengecek apakah Mamah dan Papah sudah pulang atau belum. Aku juga ingin melihat Evan. Tapi bukan melihat Evan dg tujuan gimana gimana yaa. Tapi hanya ingin melihat apakah dia masih stay menunggu dibawah, atau sudah pulang sebelum Mamah Papah pulang. Karena kalo di pikir pikir kasian juga dia harus menunggu ku dibawah sendirian. Dia jadi seperti bodyguard bukan seperti seseorang yg sedang ingin belajar bisnis dg Papah. Atau mungkin dia yg menawarkan untuk menunggu ku saat Mamah Papah pergi? Ah ntah lah. Tapi yg pasti aku hanya kasian padanya. Udah itu aja. Saat aku menuruni anak tangga. Dari situ aku melihat ternyata Evan masih ada di ruang tamu. Dia masih duduk dg Tv menyala dan ada secangkir kopi. Evan yg mendengar langkahku, segera menoleh dan menatapku dg senyuman. " Ko bangun? " tanya Evan to the poin sambil membenarkan posisi duduknya " Orang belum tidur. " jawabku jutek sambil berjalan ke arahnya " Abis telponan sama Satria? " tanya Evan kepo " Iyaa. Ko tau, kamu nguping yaa? " kataku menuduhnya tp hanya bercanda " Ngapain juga nguping, ngga ada kerjaan banget. Tau lah, yaa namanya juga orang pacaran yaa pasti kalo malem telponan. " kata Evan percaya diri " Sotoy. Mamah Papah kapan pulang si? Udah malem juga. Tumben juga mereka ngga ngabarin aku. " kataku sambil berjalan ke arah pintu dan melihat ke luar, menengok kanan kiri seolah mencari keberadaan Mamah Papah " Sebentar lagi pulang ko. Mereka lagi di jalan. Yaa mungkin karena mereka udah nitipin kamu ke aku, jadi ngga bilang apa apa deh ke kamu. " kata Evan menjelaskan " Dih emang aku barang apa di titip titipin segala. " jawabku kesal dan jutek " Kamu tuh emang aslinya orangnya jutek yaa Ayara? " tanya Evan " Iyaa emang kenapa. Ngga suka? " kataku yg menambah kadar juteknya " Ngga papa. Suka ko, justru aku suka sama kamu karena juteknya. " kata Evan gombal " Heleh gombal. " jawabku sambil berjalan menuju dapur. Evan hanya tersenyum manis Aku pun mengambil minuman dan camilan. Saat di dapur, aku mendengar suara mobil Papah. Yaa berarti Papah dan Mamah udah pulang yeeey, Akhirnya. Aku segera menuju ruang tamu lagi untuk menyambut dan menanyakan darimana sebenarnya mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD