" Assalamualaikum. " salam Papah dan Mamah saat memasuki rumah
" Waalaikumsallam Om, Tante. " jawab Evan sambil tersenyum dan mencium tangan Papah Mamah
" Kamu belum pulang Van? " tanya Papah
" Belum Om, kan katanya suruh jagain Ayara. " kata Evan
" Seneng yaa jaga Ayara? " tanya Papah meledek. Karena sepertinya Papah tau kalo Evan suka sama aku
" Om bisa aja. " jawab Evan malu
" Terus anak Tante dimana sekarang? " tanya Mamah
" Anak Mamah disini. Mamah Papah darimana si ko baru pulang? " jawabku yg muncul dari dapur sambil membawa minuman dan camilan
" Maaf sayang tadi Mamah nemenin Papah ke acara temannya terus ada rapat dan meeting mendadak. " kata Mamah sambil memeluk ku
" Terus kenapa ngga kasih tau coba. Biasanya juga chat atau telpon. " kata ku sambil cemberut
" Halah kan udah di temenin dan jagain Evan. " ucap Papah sambil menaik turunkan alisnya
" Apaan si Papah. Ooohhh iyaa besok malem Satria mau kesini katanya Pah. Mau ngobrol penting dan serius sama Papah. " kataku mengalihkan pembicaraan
" It's Oke Papah tunggu. " jawab Papah sambil berlalu ke kamar
Evan yg mendengar pun seketika berubah ekspresi. Yaa aku tau, dia pasti cemburu atau kecewa karena mendengar Satria akan membicarakan hal serius. Mungkin Evan sudah bisa menebak pembicaraan apa itu. Yg pasti tidak jauh dari membahas hubungan ku dan Satria.
" Kalo gitu Evan pamit yaa Tante. Kan Tante dan Om udah pulang. " pamit Evan sambil tersenyum dan menganggukkan kepala
" Iyaa makasih yaa Van. Hati hati pulangnya. " jawab Mamah sambil tersenyum
" Aku pulang yaa Ayara. " pamit Evan pada ku sambil tersenyum
" Makasih yaa Van. " jawabku singkat dan membalas senyumnya. Evan hanya mengangguk dan tersenyum
Lalu Evan keluar dari rumah menuju mobil. Dia membunyikan klakson sebelum mobilnya meninggalkan area rumah. Setelah itu, aku dan Mamah pergi ke kamar masing-masing. Kami pun beristirahat setelah seharian merasa penat dg segala aktivitas berat yg menguras tenaga, hati dan pikiran.
Pagi ini terasa lebih indah..
Mentari memeluk dg hangat..
Teka teki akan segera terpecah..
Menyisakan jawaban yg membuat hati semakin erat..
Yaa pagi ini aku bangun dg perasaan yg penuh semangat. Berharap hari cepat menjadi malam. Agar semua tanya mendapat jawaban tak hanya dalam diam. Karena aku sedang bahagia dan semangat, aku bangun lebih awal dari semua penghuni rumah. Aku pun memasak makanan untuk sarapan.
Saat sedang berkutat dg peralatan masak. Tiba tiba aku di kagetkan dg langkah Papah yg memasuki dapur untuk mengambil air minum.
" Tumben anak Papah udah bangun jam segini. Lagi bahagia dan semangat banget kayaknya. " kata Papah sambil melihat jam dinding
" Iyaa dong Pah. Kan hari ini terakhir ujian. Terus besok aku mau pergi sama Satria hehehehe. " jawabku sambil tersenyum bahagia
" Yakin banget kalo Papah bakal ngijinin pergi? " tanya Papah meledek
" Iiiiihhhh Papah ko gitu si. Emang Papah ga bakal ngijinin aku pergi sama Satria gitu? Iiiiihhhh jahat banget Papah. " jawabku kesal sambil memanyunkan bibirku
" Yaa tergantung dari obrolan kita nanti malam seperti apa. Dan tergantung Satria ijin ke Papah juga ngga kalo ngajak kamu pergi. " jawab Papah sambil menaik turunkan alisnya. Aku hanya memanyunkan bibirku pada Papah
Kata kata Papah terakhir membuat ku berpikir. Kenapa aku bisa lupa tentang pertemuan Papah dan Satria nanti malam? Aduh gimana yaa? Gimana kalo obrolan itu ternyata berakhir tak sesuai harapan? Gimana kalo ternyata hasil obrolan itu adalah semua yg aku takutkan? Yaa Allah, semoga semuanya baik-baik aja. Dan semoga semua yg menjadi ke khawatiran ku tidak terjadi. Amin. Itulah doaku dalam hati.
" Masak ko sambil ngelamun si . Nanti gosong Lo. " kata Mamah membuyarkan lamunanku sambil membalikkan ayam yg sedang ku goreng
" Hehehehe maaf mah. " jawabku sedikit malu sambil unjuk gigi
Lalu aku melanjutkan memasak yg akhirnya di bantu Mamah. Selesai masak, aku dan Mamah mempersiapkannya di meja makan. Kemudian aku membersihkan peralatan bekas memasak. Setelahnya aku pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Saat aku kembali turun ke bawah untuk sarapan. Terdengar suara mobil Satria memasuki halaman rumah. Lalu aku segera menuju ke depan menyambut Satria dan membukakan pintu.
" Waalaikumsallam. " ucapku sambil membukakan pintu padahal Satria belum mengucap salam
" Dih bahagia banget kayaknya. Belum juga ngucap salam udah di jawab. " goda Satria sambil tersenyum
" Hehehehe biar cepet. " jawabku asal sambil tersenyum
" Mau ngapain emang cepet cepet, Hm? " tanya Satria sambil menaikkan alisnya
" Sarapan lah. Kamu juga belum sarapan kan? Yuuukkk sarapan bareng sama Mamah Papah juga. " ucapku sambil menggandeng tangan Satria untuk masuk ke dalam
Sesampainya di ruang makan. Papah dan Mamah pun menyambut dg antusias.
" Ooohhh jadi ini alesannya anak Papah bangun subuh terus masak. " ledek Papah sambil tersenyum dan menaikkan alisnya. Aku hanya unjuk gigi pada Papah. Sedangkan Satria menatapku intens dan tersenyum
" Sini nak Satria sarapan bareng. Makanan limited edition Lo ini. Kokinya spesial pula. Soalnya biasanya kalo disuruh masak, moodian kokinya. " kata Mamah yg juga ikut menggoda ku
" Ayoo Sat, silahkan. Santai aja ngga usah deg degan. Deg degannya buat nanti malem aja. " kata Papah sambil mempersilahkan Satria duduk
" Hehehehe iyaa Om Tante. " ucap Satria sambil menarik bangku dan duduk
Aku pun mengikuti yg di lakukan Satria. Kami duduk bersebelahan. Lalu kami mengambil nasi dan lauk pauknya. Saat kami akan mulai makan. Tiba-tiba Evan datang memberi salam.
" Assalamualaikum. Eh maaf Evan ganggu acara sarapan keluarga yaa. " kata Evan yg shock melihat ada Satria di meja makan
" Waalaikumsallam. " jawab kami kompak. Aku dan Satria saling memandang satu sama lain saat Evan datang
" Maaf Om, Evan kesini cuma mau ngasih berkas ini dari Papah. " kata Evan sambil memberikan map dan amplop coklat pada Papah
" Oh iyaa makasih Van. Udah sarapan belum? Ayoo sini sekalian sarapan bareng. " kata Papah sambil menerima berkasnya kemudian menaruhnya di meja
" Udah Om. Saya udah sarapan ko..Kalo gitu saya permisi yaa Om semuanya. " pamit Evan sambil menganggukkan kepala dan sempat sekilas melirikku. Aku hanya terdiam tanpa ekspresi. Sedangkan Satria, Satria seolah sedang membaca situasi dan ekspresi dari Evan
" Beneran nih ga sarapan dulu? " tanya Papah
" Iyaa sini Van gabung aja. " ajak Mamah
" Makasih Om Tante. Saya permisi. " pamit Evan sambil menganggukkan kepala dan undur diri
" Jadi gimana Ayara mau pilih yg mana nih? " tanya Papah menggoda
" Gimana apanya si Pah. " jawabku singkat
" Udah udah lanjut makan lagi. " kata Mamah melerai
Kami pun melanjutkan makan hingga selesai. Sedangkan Evan, Evan keluar dari rumah dg perasaan berkecamuk. Evan berjalan sambil berucap dalam hati. " Yaa mungkin aku harus segera pergi. Aku ngga mungkin merusak kebahagiaan yg sudah sangat sempurna itu. Mungkin memang antara aku dan Ayara hanya teman. Aku ngga mungkin bisa menggantikan posisi Satria di hati Ayara maupun di keluarga Om Deon. Yaa sudahlah mungkin ini memang jalan dari Tuhan. Tapi setidaknya aku sudah mengungkapkan rasa ku pada Ayara. Meskipun aku tau, sampai kapan pun aku tak akan pernah mendapatkan balasannya. " ucap Evan dalam hati