Selesai acara sarapan bersama. Aku dan Satria pamit pergi ke kampus. Sedangkan Papah dan Mamah memulai aktivitasnya ke kantor. Ntah kenapa hari ini aku merasa sangat bahagia.. Mungkin karena sebentar lagi semua pertanyaan dan ketakutan dalam hati akan segera menemukan jawabannya. Yaa kalo mengingat jawaban, sebenarnya membuat ku sedikit takut. Takut tak sesuai dg apa yg diharapkan dan di bayangkan.
Aku dan Satria sudah sampai di kampus. Kami langsung memasuki ruangan ujian. Karena ini adalah hari terakhir ujian, maka semua mahasiswa bersemangat untuk melakukannya. Yaa bersemangat ingin cepat selesai hehehehe. Setelah ujian tertulis akan masuk ke pembuatan skripsi, sidang lalu wisuda. Tapi sebelum skripsi, ada jeda waktu untuk istirahat atau liburan. Dan itulah yg ditunggu oleh semua mahasiswa. Maka dari itu di hari terakhir ini, semua berangkat tepat waktu, semua bersemangat melaksanakan ujian, semua terlihat lebih fresh. Semua itu dilakukan untuk menyambut liburan.
Ujian berlangsung seperti biasa. Tenang dan fokus. 2 jam berlalu. Ujian akhir telah selesai. Semua mahasiswa berhamburan keluar ruangan dg menghembuskan nafas lega. Karena satu beban telah terlewati. Meski belum tau bagaimana hasilnya nanti. Para mahasiswa pun merayakan selesainya ujian dg berbagai cara. Ada yg bersorak, bernyanyi bahkan menari nari. Dan biasanya setelah ujian selesai. Semua mahasiswa membuat acara masing-masing. Ada yg mendaki, berwisata, nonton, bahkan ada yg membuat pesta kecil-kecilan hanya dg teman dekat saja. Yaa begitulah kira-kira mereka mengekspresikan kebahagiaan mereka karena telah selesai melalui ujian.
Termasuk aku dan Satria yg sudah punya rencana untuk pergi ke sesuatu tempat yg di janjikan Satria. Kali ini kita hanya akan pergi berdua tanpa teman teman yg lain. Kebetulan Fay, Freya, Arion dan Arvin sudah memiliki rencana mereka sendiri. Yaa mereka berempat berencana untuk pergi berlibur ke luar kota beberapa hari. Dan mereka telah menjadwalkan beberapa acara disana.
Sebelum kami pergi untuk mewujudkan acara masing-masing. Kami berenam menyempatkan waktu makan dan ngobrol di Cafe biasa.
" Akhirnya bisa liburan juga. " kata Fay sambil duduk dan menghembuskan nafas lega
" Masih ada skripsi dan sidang kali. " kata Freya mengingatkan
" Ah itu ntar dulu deh. Yg penting liburan dulu. Pusing gue. " kata Fay sambil mengibaskan tangannya. Freya hanya menggeleng gelengkan kepala mendengarnya. Sedangkan aku, Satria, Arion dan Arvin hanya tersenyum
" Oh iyaa kalian berdua serius ngga ikut kita? Ntar nyesel Lo. " tanya Arion sambil menatapku dan Satria. Sedangkan aku dan Satria yg di tatap Arion malah saling memandang satu sama lain
" Ngga deh lain kali aja. Kan bisa di agendakan lagi nanti. " jawab Satria sambil menaik turunkan alisnya
" Iyaa deh yg udah punya ayang. Jadi pengennya kemana mana berdua doang. " kata Arvin meledek
" Lah kamu kan juga udah punya ayang. " balas Satria
" Siapa? " tanya Arvin bingung
" Tuh. Hahahaha " jawab Satria sambil menunjuk ke arah Fay. Sedangkan Fay yg sedang dandan, tetap asyik dg kegiatannya itu karena tak mendengar pembicaraan Satria dan Arvin
" Hadeh. " kata Arvin sambil menepuk jidatnya setelah melihat ke arah Fay. Semua pun tertawa melihatnya
Setelah berbincang dan bercanda cukup lama. Akhirnya aku dan Satria memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Karena hari ini aku udah janji akan bertemu Bu Zea, ibu Satria. Sedangkan teman teman yg lain masih melanjutkan obrolan mereka.
Singkat cerita, aku dan Satria sudah sampai di rumah Satria. Satria mengajakku masuk ke dalam. Ternyata Bu Zea sudah ada di dalam sedang menyiapkan makanan.
" Assalamualaikum. " salam ku dan Satria
" Waalaikumsallam. " jawab Bu Zea yg tetap asyik menyiapkan makanan
" Papah belum pulang Mah? " tanya Satria sambil mencium tangan ibunya. Aku pun melakukan hal yg sama
" Belum lah sayang. Baru jam berapa. Masih siang juga. " jawab Bu Zea sambil melihat jam dinding
" Sibuk banget si Mah. Ni ada yg pengen ketemu Mamah katanya. " ucap Satria sambil melirik ku dan tersenyum
" Yaa emang kita udah janjian yaa Ayara. " jawab Bu Zea sambil menaik turunkan alisnya
" Iyaa wle. " ucapku pada Satria sambil menjulurkan lidah
" Ooohhh gitu, jadi kalian udah mulai setongkol di belakang aku yaa. " kata Satria sambil mengambil kue diatas piring
" Sekongkol Satriaaa. " ucapku dan Bu Zea bersamaan
" Ooohhh salah yaa. Ooohhh iyaa Ayara, aku mau keluar dulu sebentar yaa. Kamu di rumah aja sama Mamah, Oke? " kata Satria sambil unjuk gigi
" Mau kemana emang? " tanyaku curiga
" Keluar sebentar aja. " jawab Satria singkat
" iiikkkuuuttt. " ucapku manja
" Dih manjanya. Sebentar doang sayang. Ada urusan penting, urusan cowo. Oke? " kata Satria sambil tersenyum
" Huh yaa udah deh. " jawab pasrah sambil menghembuskan nafas berat
" Oke aku pamit yaa sayang. Mamah titip Ayara yaa. Assalamualaikum. " pamit Satria sambil melambaikan tangan dan tersenyum
Kemudian Satria pergi menggunakan mobil. Ntah kemana dia akan pergi. Ngga biasanya dia pergi sendiri saat aku di rumahnya. Apalagi perginya ngga bilang mau kemana. Jujur sebenarnya aku curiga. Tapi aku hanya mencoba untuk tetap percaya pada Satria. Meski setengah hatiku curiga, tapi setengah hati aku yakin Satria ngga mungkin macam macam. Yaa aku hanya bisa berdoa semoga Satria baik baik aja dan ngga kenapa kenapa.
Di saat Satria pergi. Aku di rumah bersama Bu Zea. Menonton film, dan ngobrol sambil ngemil. Dalam obrolan Bu Zea banyak menceritakan tentang Satria. Mulai dari cerita Satria kecil yg lucu dan nakal. Sampai semua tentang kesukaannya. Bu Zea juga berkata jika Satria sering menceritakan tentang ku pada beliau. Bu Zea bilang kalo Satria sangat mencintai ku. Yaa aku juga mencintainya jawabku pada Bu Zea.
( ditempat Satria pergi )
Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan. Kemudian Satria memasuki toko itu. Dan memilih sebuah cincin.
" Silahkan Mas, ada yg bisa di bantu? " tanya pelayan toko perhiasan
" Iyaa mba. Mau nyari cincin buat cewe dong mba yg simple, elegan tapi cantik. " jawab Satria sambil melihat lihat berbagai cincin
" Lingkar jarinya berapa yaa mas? " tanya pelayan toko lagi
" Waduh ngga tau mba, Hehehehe. Iyaa kira kira cewenya kaya mba deh jarinya. " jawab Satria sambil menggaruk-garuk kepala yg sebenarnya ngga gatal
" Ooohhh baik sebentar Mas. " kata pelayan toko
Kemudian pelayan toko itu menunjukkan beberapa model cincin sesuai dg ukuran yg Satria maksud. Satria pun melihatnya dan memegangnya satu persatu. Karena Satria yg awam dg dunia perhiasan. Jadilah Satria bingung untuk menentukan yg mana yg akan di pilihnya. Bagi Satria semua model yg di tunjukkan padanya bagus bagus. Terlihat sama cantiknya.
" Aduh bingung Mba. Semuanya bagus bagus. Kira kira kalo menurut Mba nih, cewe bakal lebih suka yg mana diantara semua yg Mba ambil ini? " kata Satria sambil unjuk gigi
" Eeemmmm sebenernya selera setiap cewe beda beda si Mas. Mas mau ngasih surprise buat ceweknya yaa? " tanya balik pelayan toko
" Iyaa Mba. Jadi yg mana kira kira? " tanya Satria lagi
" Eeemmmm Oh iyaa toko perhiasan kami baru aja mengeluarkan model paling baru dan unik mas. Mas mau coba liat dulu? Siapa tau sesuai dg Mas. " kata pelayan toko itu
" Boleh Mba. " jawab Satria singkat
Lalu pelayan toko itu pergi mengambil cincin yg di maksud. Pelayan toko itu keluar dg membawa kotak perhiasan yg unik. Saat di depan Satria, pelayan itu membuka kotaknya. Terlihatlah sepasang cincin yg memang unik dan beda dari cincin yg lain. Cincin itu adalah cincin rustic.
Cincin yg memiliki sentuhan alam. Cincin untuk wanitanya di desain seperti ranting yg melingkar dan ada beberapa permata biru yg menghiasi. Sedangkan yg untuk laki-laki cincinnya berbentuk bulat biasa dan agak lebar. Di sertai grafir yg melingkar dan beberapa permata biru juga yg menghiasi. Karena cincin itu adalah cincin rustic, cincin itu berwarna hitam kecoklatan seperti cincin antik kerajaan.
Pertama kali melihat cincin itu, Satria langsung suka dan tersenyum. Apalagi setelah melihat detail dan penjelasan dari pelayan toko tentang cincin itu. Di tambah lagi, cincin itu adalah cincin limited edition. Yg hanya sekali di produksi oleh toko perhiasan itu. Sehingga hanya ada satu di dunia. Tanpa pikir panjang, Satria pun segera memilih cincin itu dan membayarnya.
" Oke Mba, Aku ambil yg ini sekalian sama kotaknya yaa. " kata Satria tegas dan penuh keyakinan
" Baik Mas, tunggu sebentar. " jawab pelayan toko itu sambil membungkus cincinnya. Kemudian menulis sebuah kwitansi pembayaran
Setelah selesai semua. Satria pun mengeluarkan kartu untuk membayarnya. Begitu transaksi selesai, Satria pun segera membawanya pulang dg perasaan sangat bahagia.