Curiga

1298 Words
Sudah lebih dari satu jam Satria pergi. Tapi belum juga pulang. Sudah beberapa kali juga aku melihat jam tangan dan jam dinding bergantian. Tapi Satria belum menampakkan dirinya. Akhirnya aku mencoba untuk mengirimkan pesan padanya. To : Satria Sat lagi dimana? Ko lama banget ngga pulang pulang si. (emot sedih) (di dalam mobil saat perjalanan pulang) Satria yg sedang mengendarai mobil sambil menikmati musik. Tiba tiba mendapatkan sebuah pesan dari Ayara. Dengan cepat Satria membuka dan membaca pesannya. Satria hanya tersenyum melihat pesan Ayara tanpa membalasnya. Dia sempat berucap dalam hati. " Ayara Ayara. Makin lama makin gemesh aja si. Semakin keliatan manja dan posesifnya. Walaupun masih dalam batas wajar. Tapi lucu aja gitu. Karena awal kita ketemu, kamu keliatan pendiam dan jutek. Hehehehe. " ucapnya dalam hati sambil tersenyum lalu melihat pesan Ayara lagi. Kemudian Satria meletakkan kembali ponselnya dan mempercepat laju mobilnya. (di Rumah Satria) Tak berapa lama setelah aku mengirim pesan. Terdengar mobil Satria memasuki halaman rumah. Kemudian Satria membunyikan klaksonnya. Tanpa berlama-lama aku pun menuju ke depan untuk membukakan pintu. Aku berjalan dg cepat sambil tersenyum. Lalu aku membuka pintu dan tersenyum. Satria yg baru turun dari mobil pun membalas senyum ku. " Ko chat ku ngga di bales si tadi? " ucapku sambil memanyunkan bibir saat Satria sudah sampai di hadapan ku " Kenapa Hm? Kangen? " tanya Satria sambil menaikkan alisnya bermaksud menggoda ku. Dia yg tak menjawab pertanyaan ku malah balik nanya " Iiiiihhhh serius Satria. Orang perginya lama banget udah gitu ngga bilang mau kemana. " jawabku kesal karena melihat ekspresi Satria yg bercanda " Iyaa maaf sayang. Tadi pas kamu chat, aku udah lagi jalan pulang. " jawab Satria serius sambil tersenyum " Ooohhh terus darimana emang? " tanya ku " Rahasia. " jawab Satria sambil unjuk gigi dan berlari masuk rumah " Iiiiihhhh Satriaaa. " ucapku sedikit teriak sambil mengejar Satria ke dalam Sampai di dalam. Satria sudah sedang bersembunyi di belakang Bu Zea, sambil memeluk beliau. Bu Zea hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. " Mah, tuh calon menantu Mamah nakal. " rengek manja Satria seperti anak kecil " Dih... Orang kamu yg nakal pergi lama banget ngga bilang bilang. " jawabku membela diri " Kan tadi udah bilang kalo mau pergi. " kata Satria sambil menjulurkan lidah mengejekku " Kan ngga bilang tujuannya kemana. " jawabku sambil cemberut " Udah udah jangan berantem. Emang kamu darimana Sat? " lerai Bu Zea. Kemudian Satria menjawab dg berbisik pada beliau sambil melirikku. Aku yg melihat lirikannya, membuang muka. Satria dan Bu Zea tersenyum melihat ekspresi ku " Ooohhh iyaa udah gih makan dari tadi kan kamu belum makan. " kata Bu Zea sambil melepaskan pelukan anaknya dan pergi ke kamar " Iyaa Mah. Sayang kamu udah makan? " tanyanya padaku " Udah. Pulang yuuukkk. " jawabku singkat " Marah yaa Hm? " tanya Satria yg berjalan mendekati ku " Ngga. " jawabku jutek " Beneran ngga marah? Ko jutek si, Hm? " tanya Satria yg duduk berlutut di hadapan ku yg sedang duduk di sofa " Iyaa. Udah yuuukkk pulang. Udah males, udah BT. " jawabku tanpa melihat ke arah Satria " Maaf sayang, aku kan cuma bercanda. " kata Satria dg nada menyesal. Aku tetap tak menoleh " Hey Ayara. Maaf yaa. Kamu ngga mau maafin aku nih? Maaf kalo bercanda ku keterlaluan. " katanya sambil memegang tanganku. Aku tetap tak meresponnya. Malah air mataku jatuh menetes dan Satria melihat itu " Hey ko malah nangis si? Maaf sayang, Maafin aku yaa? " kata Satria memohon sambil memberikan tissue padaku. Kemudian aku menerima dan mengusap air mataku " Ayara... Maaf yaa, maaf aku ngga bermaksud bikin kamu nangis. " kata Satria lagi sambil menundukkan kepala " Iyaa ngga papa ko Sat. Aku nangis bukan karena bercandaan kamu. " jawabku sambil masih sesenggukan " Terus karena apa? " tanya Satria heran " Karena kamu ngga bales chat aku dan ngga mau ngomong kamu darimana. Kan kamu ngga biasanya gitu. " jawabku sambil menoleh ke arah Satria sambil memanyunkan bibirku " Jadi kamu cemburu atau curiga nih, Hm? " tanya Satria sambil menaikkan alisnya " 22 nya. " jawabku sambil unjuk gigi. Satria malah tersenyum saat aku mengatakan itu " Ko malah senyum si. " jawabku kesal dan heran " Iyaa aku seneng kalo kamu cemburu dan curiga berarti cinta dan sayang aku. Tapi kamu harus tau Ayara, aku ngga mungkin macem macem di belakang kamu. Insha Allah aku akan tetap setia. " jawab Satria menyakinkan ku " Jadi tadi abis darimana? " tanyaku lagi yg terus mendesaknya untuk jujur, karena aku sangat penasaran " Kalo itu masih rahasia sayang, hehehehe. " jawab Satria sambil unjuk gigi lalu pergi ke meja makan dan mengambil makan " Iiiiihhhh tuh kan Satria. Mau emang aku nangis lagi. " kataku sedikit mengancam " Yaa udah nangis aja. Nanti ngga aku anterin pulang nih. " kata Satria yg balas mengancam ku " Iiiiihhhh ko gitu si Sat. " jawabku sambil menghampirinya " Iyaa sayang, nanti aku anter pulang. Tp aku makan dulu yaa. Eh yaa kenapa kamu pulangnya ngga malem aja Ayara, sekalian pas aku mau ngomong sama Papah kamu. Biar aku ngga bolak balik. " kata Satria " Eeemmmm gimana yaa? Ngga enak kelamaan disini. " jawabku jujur " Ngga enak kenapa. Santai aja kali. " jawab Satria " Iyaa udah gih kamu makan dulu. " kataku " Kamu beneran udah makan? " tanya Satria memastikan " Udah tadi sama ibu. " jawabku singkat Kemudian aku menemani Satria makan. Aku duduk di sebelahnya sambil bermain Hp. Yaa iseng iseng buka sosmed. Dan ternyata Evan mengirimkan permintaan pertemanan. Karena aku sudah mengenalnya walaupun sebentar dan singkat. Jadi aku langsung menerima pertemanannya di sosmed. Karena sudah saling mengikuti, jadi Evan bisa melihat semua postingan ku. Begitu pula sebaliknya. Selesai Satria makan. Dia mencuci piringnya sendiri. Sungguh sangat mengagumkan. Aku pun tersenyum melihatnya. " Sat kamu mau pergi? " tanya Bu Zea sambil menuruni anak tangga " Eh iyaa Mah. Satria belum ngomong ke Mamah karena belum ijin ke Papahnya Ayara. " jawab Satria sambil mematikan keran karena telah selesai mencuci piring " Ooohhh mau pergi kemana emang? " tanya Bu Zea sambil berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman " Ke Purwokerto Mah. " jawab Satria singkat sambil unjuk gigi " Ooohhh iyaa udah hati hati yaa. Jagain Ayara. " kata Bu Zea yg kemudian berjalan ke ruang Tv " Iyaa Mah pasti. " jawab Satria tegas Aku yg masih duduk di ruang makan hanya terdiam mendengarkan percakapan ibu dan anak. Tapi ada yg membuat ku berkata dan bertanya dari percakapan itu. Jadi Satria mau mengajakku ke Purwokerto? Tapi Purwokerto itu tempat siapa? Dan buat apa Satria ngajak aku kesana? Itulah pertanyaan ku dalam hati Ingin rasanya aku bertanya. Tapi aku malu dan takut jika tak mendapat jawaban lagi seperti tadi. Karena Satria bilang kalo itu adalah surprise. Kalo surprise ngga boleh dikasih tau, katanya. Jadi aku ragu untuk bertanya. Walaupun sebenarnya aku penasaran. Lagi lagi Satria yg seolah bisa membaca pikiran ku dan mendengar suara hatiku. Dia berkata... " Aku ceritain semuanya besok kalo udah sampai. " kata Satria tiba tiba " Apaan si? " tanyaku pura pura tidak mengetahui maksud ucapan Satria " Dih pura pura ngga tau. Padahal dari tadi lagi bengong penasaran Purwokerto itu tempat siapa dan ngapain kita mau kesana kan? " kata Satria menebak. Yg sebenarnya tebakannya itu 100% benar Aku juga suka heran, ko bisa yaa dia tau semua apa yg aku pikirkan dan aku inginkan. Apa aku yg mudah terbaca olehnya. Atau memang Satria memiliki keahlian khusus. Keahlian membaca pikiran dan mendengar suara hati, hehehehe. " Ih sok tau. " jawabku singkat " Taulah udah ketebak ko, wle. " kata Satria sambil menjulurkan lidahnya lalu pergi ke ruang Tv menyusul Bu Zea yg sudah sedang menonton film.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD