Tolong Saya...
"Antar aku pulang sekarang. Sebelum aku kehilangan akal dan menjadikanmu mangsaku malam ini."
Suara berat dan parau itu berbisik tepat di samping telinga Janis. Napas Greyson Michael berhembus panas, membakar kulit leher Janis hingga gadis itu tertahan di tempatnya. Di dalam mobil dinas yang gelap, hawa tubuh pria di sampingnya itu seperti lahar yang siap meledak.
Janis, wanita muda yang baru satu bulan bekerja sebagai karyawan magang di Michael Group, kini tengah meremas lingkar kemudi dengan jemari gemetar. "T-tapi, Pak Greyson... kondisi Anda..."
"Jalan, Janis! Jangan banyak bicara!" potong Greyson tajam, disusul erangan pelan yang berusaha ia tahan. Rahangnya menguat, urat-urat di lehernya menegang. Obat perangsang dosis tinggi yang dicampurkan bawahannya ke dalam minuman Greyson di acara makan malam tadi mulai menguasai seluruh jalan pikirannya.
Mobil sedan hitam itu membelah jalanan kota yang dingin menuju rumah pribadi milik sang CEO. Janis mengerahkan seluruh fokusnya untuk mengemudi secepat mungkin, berharap tugas darurat ini segera usai dan ia bisa melarikan diri dari aura intimidatif atasannya ini.
"Berhenti!" Seru Greyson dengan sangat tiba-tiba hingga mau tak mau Janis pun menepi.
Janis menekan pedal rem sekuat tenaga, membuat roda sedan hitam itu mencicit tajam sebelum akhirnya menepi di bahu jalan yang sepi dan temaram. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa ingin melompat keluar dari dadanya.
Dengan jemari yang masih bergetar di atas kemudi, Janis menoleh ke arah kursi samping. Napasnya memburu. "Pak Greyson? K-kenapa kita berhenti di sini? Rumah Anda masih beberapa kilometer lagi kita..."
Kalimat Janis terputus seketika.
Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, Greyson melepas sabuk pengamannya secara kasar dan mencengkeram kedua bahu Janis. Pria itu menarik tubuh Janis mendekat, lalu menangkup bibir manis gadis itu dengan bibirnya sendiri secara mendadak. Ciuman itu panas, liar, dan menuntut, merampas seluruh pasokan udara yang dimiliki Janis.
Janis membelalakkan mata karena terkejut. Ia mencoba mendorong d**a bidang Greyson, akan tetapi, kekuatannya sama sekali tak sebanding. Otot-otot pria itu keras bagaikan batu, terdorong oleh gairah liar yang dipicu oleh pengaruh obat beracun di dalam darahnya.
Setelah ciuman yang memabukkan itu terlepas sejenak, Greyson menempelkan dahinya ke pelipis Janis. Napasnya berembus memburu dan membakar kulit leher sang gadis. Jemari kokohnya gemetar saat menyusup ke sela-sela rambut Janis, mengunci kepala gadis itu agar tak bisa menjauh.
"Tolong saya... Kamu harus menolong saya," bisik Greyson dengan suara yang parau dan napas yang terengah-engah tepat di dekat indra pendengaran Janis.
Suara itu, yang biasanya dipenuhi keangkuhan dan wibawa seorang pimpinan, kini terdengar seperti permohonan dari seorang pria yang berada di ambang kegilaan. Kesadaran Greyson telah runtuh sepenuhnya, tergerus oleh rasa panas yang melalap seluruh akal sehatnya.
"P-Pak Greyson, jangan... ini salah..."