Prolog
Pukul 4 subuh Rani sudah bangun, dia terbiasa bangun di pagi buta untuk membersihkan rumah dan mencuci piring dan pakaian,pakaian orangtua rani, kakak dan adiknya pun Rani yang mencucinya.
Sebelum berangkat mengajar dia harus menyelesaikan semuanya.
Rani bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di kotanya, dia hanya tamatan sekolah menengah atas, gajinya pun tidak seberapa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Orang-orang mengenal Rani berasal dari keluarga berada.
Ayah Rani mempunyai pabrik garmen cukup besar,ibu Rani seorang penata rias terkenal di kotanya.
tanpa meraka tahu bagaimana kehidupan sebenarnya yang Rani alami.
Jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi, Rani sudah rapi dengan seragamnya, dia harus berangkat untuk mengajar.
tempat mengajar Rani tidak terlalu jauh dari rumahnya,dia terbiasa menggunakan motor pinjaman dari kepala sekolah tempatnya mengajar.
sesampainya di sekolah Rani memarkirkan motornya,Rani masuk ke ruang guru untuk menyiapkan materi mengajarnya.
"Pagi semua.. " sapa Rani kepada para guru yang berada di ruangan itu.
"Pagi ran.. " jawab bu dita.
"Pagi juga Rani" jawab bu imel.
"Duhh yang pagi-pagi udah seger banget" canda bu dina,yang memang terbiasa dengan candaannya.
lalu Rani duduk di mejanya dan mulai menyiapkan beberapa materi untuk mengajar.
tidak lama seorang penjaga sekolah masuk memberikan segelas teh hangat untuk Rani (penjaga sekolah memang terbiasa menyiapkan minuman untuk para guru)
"Pagi bu Rani ini tehnya seperti biasa" sapa bu ida si penjaga sekolah sambil tersenyum kepada Rani.
Rani hanya tersenyum menatap bu ida.
"Oh iya bu seperti biasa juga ada salam dari pak Ardi, katanya kenapa pesannya jarang di respon bu" tanya bu ida.
sekali lagi Rani hanya menjawab dengan senyuman.
bu ida hanya menghela napas dengan jawaban Rani, "gagal lagi deh dapat cuan dari pak Ardi" batin bu ida.
"Ardiansyah Rajak",seorang lelaki yang beberapa bulan ini gencar sekali mendekati Rani.
Seorang pekerja proyek yang sedang menangani pembangunan sebuah villa mewah di dekat tempat mengajarnya,karna setiap hari sering melewati sekolah tempat Rani mengajar dari situlah mereka sering bertemu tanpa sengaja.
Beberapa bulan lalu..
Flashback on..
"haii.. boleh saya duduk di sini" sapa seseorang,dia ardiansyah.
"silahkan ini tempat umum" jawab Rani.
mereka bertemu tanpa sengaja ketika sedang membeli bakso di dekat sekolah Rani mengajar.
"sendirian aja nih" tanya lagi Ardi.
"engga ko tadi barengan sama guru lain tapi lagi balik ke sekolah ketinggalan dompet katanya" jawab Rani.
"saya sering liat kamu di sekolah itu,sudah lama mengajar di sana? " tanya lagi Ardi.
"hhmm.. lumayan lah" jawab Rani datar.
sedikit kurang nyaman,entahlah dari dulu Rani paling anti di dekati laki-laki. apalagi setelah kejadian beberapa tahun lalu, Rani benar-benar menutup diri kepada para lelaki yang mendekatinya.
Ardiansyah selalu menggunakan berbagai cara untuk bisa mengenal Rani lebih lagi, dari meminta nomer HP kepada bu ida si penjaga sekolah sampai mengikuti rani ke rumahnya.
Ardi mengakui dia memang menyukai Rani dari pandangan pertama.
Ardi selalu berusaha mendekati Rani di setiap ada kesempatan.
Ardi selalu menghubungi Rani setiap hari walaupun Rani jarang sekali meresponnya
flashback off..
Jam sudah menunjukan pukul 12 siang, Rani yang sudah selesai mengajar segera menuju motornya yang terparkir di parkiran sekolah untuk pulang.
Rani di haruskan pulang tepat waktu setelah selesai dengan urusan mengajarnya.
setelah sampai di rumah,Rani memarkirkan motornya di samping halaman rumahnya,Rani masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian,setelahnya Rani bergegas ke dapur duduk di meja makan dan mulai makan siang seorang diri.
Yaa.. rani terbiasa makan sendiri karna orangtua,kakak dan adik Rani sudah makan terlebih dahulu sebelum Rani pulang mengajar.
Setelah selesai makan Rani membersihkan meja makan dan membawa piring-piring kotor ke tempat cucian piring kemudian mencucinya.
setelah selesai Rani beranjak ke halaman belakang di mana tempat menjemur pakaian yang tadi pagi Rani jemur,membawa pakaian yang sudah kering lalu melipatnya dengan rapi.
Rani terbiasa mengerjakan semua pekerjaan rumah sedari masih sekolah dulu,ibunya hanya memasak.
Padahal orangtua Rani mampu untuk membayar seorang pekerja untuk bekerja di rumahnya tapi mereka lebih memilih Rani untuk melakukannya, mereka bilang "anak perempuan harus serba bisa, jangan manja" ..
Rani hanya menghela napas saat teringat kata-kata itu.
terkadang Rani merasa apakah dia anak kandung orangtuanya atau hanya anak pungut yang mereka ambil di panti asuhan hanya untuk mereka perbudak.
Sedang asik melamun atas nasibnya Rani di kagetkan dengan bentakan dari ibunya "SEDANG APA KAMU RANI, DARI TADI DI PANGGIL DIAM TERUS".
Rani yang kaget hanya bisa menundukan kepalanya, tanpa berani menjawab.
" Di tanya malah diem" dengus ibunya Rani.
"Di luar ada nak Ardi tuh, sana temuin, jangan pasang muka judes, jadi perempuan harus ramah banyak senyum" kata ibu Rani.
Yah.. Ardi memang sering datang ke rumah Rani ini salah satu cara Ardi mendekati Rani juga, Ardi sengaja mendekati orangtua Rani agar Ardi bisa mengambil hatinya Rani.
Rani menemui Ardi yang sedang duduk di ruang tamu.
"ada apa mas, ada keperluan apa mas ke sini" tanya Rani.
"saya engga di tawarin minum dulu nih,sengaja saya datang ke sini mau ngobrol sama kamu, habisnya kamu engga respon pesan saya semalam sih" jawab Ardi.
Lalu Rani beranjak ke dapur untuk membuatkan Ardi minuman,tanpa menanyakan mau di buatkan minuman apa Rani melenggan begitu saja.
Rani kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa segelas kopi untuk Ardi.
"Di minum mas, cuma ada ini" kata Rani.
"Tau aja kamu kalau saya belum ngopi siang ini" jawab Ardi sambil tersenyum.
Rani hanya menanggapi dengan senyuman datar.
setelah meminum sedikit kopinya Ardi mulai berbicara dengan Rani.
"kenpa pesan saya semalam tidak kamu balas" kata Ardi.
"Maaf saya ketiduran mas" jawab Rani.
"perasaan masih jam 9 malam saya kirim pesan ke kamu, jam segitu kamu sudah tidur" tanya Ardi.
"mungkin karna kelelahan jadi saya ketiduran mas" jawab Rani.
"hhmm.. besok kamu ada waktu.?" tanya Ardi.
"saya mau ajak kamu jalan, sekalian ada yang mau saya bicarakan" ajak Ardi.
"saya harus ijin ayah ibu dulu mas" jawab Rani.
"saya sudah meminta ijin ayah sm ibu kamu tadi" jawab Ardi.
Yapp, sebelumnya Ardi sudah menemui orangtua Rani untuk meminta ijin mengajak Rani jalan besok.
Setelah Ardi pulang Rani melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
merapihkan semua pakaian, menyapu halaman belakang dan halaman depan rumahnya.
setelah selesai Rani memasuki kamarnya dan merebahkan badannya ke kasur, masih ada waktu sebelum nanti membantu ibunya untuk memasak makan malam nanti pikir Rani.
menjelang petang Rani sudah sibuk di dapur membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam nanti.
dengan cekatan Rani membantu ibunya karna sudah terbiasa melakukan ini sejak dahulu.
"Besok kamu jadi pergi sama nak Ardi" tanya ibu Rani.
"iya bu jadi" jawab Rani sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.
"ingat yaa ayah sama ibu sudah setuju dengan nak Ardi, suka atau tidak kamu harus sama nak Ardi,jangan kecewakan kami lagi" kata ibu Rani.
Rani hanya bisa diam kalau ibunya sudah berbicara seperti itu.
sekuat tenaga Rani menahan air matanya agar tidak keluar.
mereka tidak tau, mereka tidak mengerti, mereka tidak merasakan apa yang Rani rasakan selama ini.
mereka hanya menyalahkan Rani terus menerus tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.
setelah selesai makan malam,Rani harus membereskan meja makan dan membersihkan smua piring kotor.
selesai dengan rutinitas pekerjaan rumah tanggal, Rani memasuki kamarnya dan merebahkan badannya di kasur, capek rasanya seharian ini, rutinitas yang sama yang setiap hari dilaluinya.
Pikiranya melayang beberapa tahun lalu saat dirinya masih bersekolah,Rani harus memenuhi kebutuhannya seorang diri tanpa bantuan dari orangtuanya.
Rani hanya di beri uang jajan yang sedikit,berbeda dengan kakaknya yang selalu dapat uang jajan lebih besar dari Rani, untuk memenuhi kebutuhannya Rani rela kehilangan masa remajanya. setiap pulang sekolah Rani harus segera pulang kerumah untuk membantu ibunya membereskan pekerjaan rumah tangga, selesainya Rani membantu mengasuh adiknya yang masih berusia 5 tahun(ketika usia Rani 12 tahun, ibunya melahirkan seorang adik lelaki)
di sela-sela mengasuh adiknya, Rani membuat kerajinan tangan untuk di jualnya kepada teman sekolahnya, dan para guru di sekolahnya juga, ada tas, dompet, kalung, gelang, bros, dan lainnya.
uang hasil dari penjualannya Rani pakai untuk memenuhi kebutuhannya.
Rani menghela napas, kenapa nasibnya harus seperti ini,kapankah nasib baik dan kebahagiaan akan datang kepadanya..