Dengan masih sangat kaget, Dara berlari meninggalkan gedung kantor. Ia terlihat begitu gemetar dengan koper besar yang ditariknya paksa. Kini keinginan Dara hanya satu, pergi dari sini dan melupakan semua yang barusan ia lihat. “Bu Dara!!” teriak Firly mengejar Dara yang terlihat berjalan di hadapannya. “Ahh ... aku merindukan Ibu” ucapnya memeluk tubuh Dara. “Ibu tidak datang ke kantor? Pak Hein mana?” tanya Firly lagi. Dara memijat tengkuknya, “Sepertinya aku langsung pulang saja, badanku sakit” dalih Dara menyembunyikan kesedihannya saat ini. “Aku akan naik taxi di depan, dadah Firly aku duluan” pamit Dara kembali berjalan. Firly terdiam sambil terus menatap Dara, “Bu Dara naik taxi? Biasanya dia naik bis atau angkot? Apa ini mimp

