Ini adalah hari pertama Dara kembali melakukan aktifitas seperti biasa di kantor pusat setelah dua minggu menjadi mentor di kantor cabang Surabaya. Dara tengah berada di toilet, ia kembali memoleskan bedak pada wajahnya, akibat menangis semalam suntuk kini ia harus mengaplikasikan berbagai foundation menutupi lebam dan kantung mata. “Dara!! Demi Tuhan ini kamu?” pekik Tasya segera memeluk tubuh Dara erat. “Astaga, aku tidak sedang bermimpi? Jadi kata-kata Firly di grup itu benar? Aih, aku kira dia kesambet setan halte” cerocos Tasya kembali mempererat pelukannya. “Hei, kamu ini seperti melihat orang mati yang hidup kembali! Sadarlah!” jawab Dara terkekeh, ia menepuk-nepuk punggung Tasya pelan. Mereka melepaskan pelukannya, kemudian kembali merapikan

