18. Sebuah Cerita

1176 Words

Tawa Arin terhenti saat melihat dua sosok yang berdiri di depan pintu ruang rawatnya. Senyumnya mengembang. "Sini!" seru Arin riang sambil melambaikan tangannya. Kaila dan Aryo pun mendekat. Mereka dapat merasakan aura permusuhan yang diberikan Erlan dan Gio. Sementara Ara menatap mereka lekat. Vando sendiri masih duduk di samping Arin. Ara merasa ada yang berbeda dengan tatapan Aryo dan Kaila. "Mereka sama-sama terluka dengan alasan yang berbeda," gumam Ara pelan, tapi Vando mendengarnya karena Ara berdiri tepat di samping dirinya.  "Itu adalah alasan kenapa aku gak bisa marah, Nona," kata Vando sambil memandang Kaila dan Aryo juga. "Lo dengar, Alien?" tanya Ara. Padahalkan tadi ia bergumam pelan. Apa telinga suaminya itu sangat sensitif? Kok udah kayak gigi aja! Vando mengangguk lal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD