Bab 4

1090 Words
“Lantai ini hanya berisi sampah,” komentar Rizky setelah membunuh monster jelly ke-15 di lantai kedua itu. Tidak ada perlawanan berarti sejauh ini, hingga dia melihat tiga monster dengan pakaian jubah ksatria. “Ah, ini baru,” komentar Rizky melihat tiga monster itu. Ketiga monster itu melihat ke arah Rizky dan salah satu dari mereka tampak menaikkan pedangnya, lalu aura merah menyelimuti mereka bertiga. “Aku tidak suka itu,” komentar Rizky seraya mengeluarkan tongkat miliknya. Dia tidak akan tinggal diam dan menerima mentah-mentah serangan dari monster-monster itu. “Lindungilah tuanmu dalam selimut yang menyala, Pyrkagiá.” Api hitam segera menyelimuti Rizky, membantunya bersiap untuk melawan musuh-musuh barunya itu. Tiga ksatria berpedang itu segera maju ke arah Rizky. “Katára spathí.” Api hitam meliuk-liuk keluar dari pedang milik Rizky. Dia pun mulai beradu ayunan pedang dengan tiga monster itu secara bergantian. Rizky harus beradu dengan satu, dan menghindari yang lainnya secara bersamaan. Mungkin, jika dia tidak sendirian, akan lebih mudah baginya untuk bisa mendapatkan sedikit keunggulan di pertarungan ini. Rizky mencoba bermanuver, menebas salah satu monster itu kala dia manuver dari monster yang lain. Kekuatan dari api pedangnya dengan cepat menelan monster yang terkena tebasannya. Satu monster ksatria jatuh, dua tersisa. “Ah, masih bisa dalam satu serangan asal tidak diblokade ya. Menarik,” komentar Rizky. Dia pun mengeluarkan tongkatnya setelah menjauh dari dua monster yang tersisa. “Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” Dengan cepat, api hitam meluncur ke arah dua monster ksatria, yang keduanya segera menghindar darinya. Rizky segera memanfaatkan celah momentum itu untuk membuat serangan kejutannya. “Katára spathí: Kápste.” Pedang Rizky tertancap ke tanah, dan dengan cepat api menyala di dekat salah satu ksatria yang langsung menghindar dengan paniknya. Api itu mengunci jalan belakang untuk kabur para ksatria itu. Rizky segera menembakkan serangan lain dengan tongkatnya ke arah kedua ksatria itu. “Mávri Fotiá.” Api hitam menjalar ke arah kedua monster ksatria itu. Bergabung dengan api dari serangan sebelumnya, kedua serangan itu membuat dua monster ksatria itu terjepit di tengah. Melihat mereka kesulitan bergerak, Rizky ingin memastikan mereka benar-benar musnah. “Katára spathí: Kápste.” Ledakan api hitam tepat di bawah kedua monster itu mulai menelan tubuh para monster itu. Mereka meliuk-liuk, menelan apapun yang ada pada tubuh dua monster ksatria itu. Teriakan kesakitan terdengar di telinga Rizky, yang hanya menonton dan tersenyum. Api itu terus berdansa, menelan hingga tak bersisa. Kala api itu semua pudar karena Rizky mendekat, dia melihat kumpulan uang dan sebuah pedang yang tidak tertelan api. “Apakah pedang ini lebih bagus daripada pedang yang aku miliki?” gumam Rizky menimang pedang milik ksatria itu. Dia lalu melihat ke arah pedangnya, dan sekilas dia tidak bisa menilai yang mana yang lebih baik. “Aku rasa aku simpan saja dulu pedang ini,” komentar Rizky seraya menyimpan pedang itu. Dia lalu mengambil kumpulan uang dari monster-monster itu. Rizky mengambil napas lega. “Kalau mereka tadi tidak tamat, mungkin aku ada di ambang batasku. Sepertinya, aku perlu perlengkapan lebih baik untuk bisa melanjutkan jalur ini,” komentar Rizky lagi melihat ke sisa dari lantai dua menara itu. Dia melihat sebuah benda misterius di dekat posisinya saat ini, dan memilih untuk memeriksa. Kala dia berada sangat dekat dengan benda misterius itu, benda itu bersinar dan ponselnya tiba-tiba mengeluarkan suara. “Berhasil mengaktifkan teleporter. Anda bisa melakukan teleportasi dari pintu masuk ke tempat ini mulai sekarang,” ucap suara ponselnya itu. Rizky menatap sekilas ke benda misterius di depannya, tidak percaya. “Teleporter? Jadi ada benda seperti ini di dunia aneh ini?” ucap Rizky tidak percaya. Dia pun meraba benda itu, dan ponselnya memberikan sebuah pesan suara. “Teleporter siap dipakai. Tujuan yang tersedia adalah lantai dua dan pintu masuk menara. Jika menolak, harap ucapkan menolak. Silakan pilih tujuan anda,” ucap ponsel itu. Rizky menggelengkan kepalanya. “Menolak.” “Teleporter batal digunakan,” ucap ponselnya. Rizky menggelengkan kepalanya. “Aku harus terbiasa dengan semua keanehan di dunia ini,” gumam Rizky seraya melihat ke arah benda bernama teleporter itu. Rizky mengecek perlengkapannya, dan dia rasa masih memungkinkan untuk sedikit maju lagi. “Baiklah, aku harap aku bisa melakukan ini sampai akhir lantai ini,” harap Rizky seraya berjalan maju lagi. Dia yakin lantai ini tidak kalah ramai dengan lantai sebelumnya. Dia tidak salah, ada banyak monster ksatria dan monster jelly yang berkeliaran di sebuah ruangan besar serupa aula di akhir jalannya. Dia melihat ke sekitar, berpikir apakah ide bagus jika dia charge ke tengah keributan itu. Saat dia menelaah, dia menyadari ada sebuah platform dimana dia bisa menembak dari jarak jauh, perkaranya, apakah ada cara untuk naik ke sana? Dia melihat ke sekeliling, dan menemukan sebuah tangga memutar di sisi kanan aula dekat pintu dia berada. Jika dia bisa menyelip ke sana, semua akan jauh lebih mudah. Tiba-tiba, Rizky merasa dia mendapatkan sebuah kemampuan baru. Sebuah kemampuan yang setelah Rizky pertimbangkan, akan sangat berguna kali ini. Sebuah kemampuan yang akan membuat suasana lebih menarik. “Ignesco. Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” Rizky memfokuskan pandangannya pada titik tangga itu. Dia seakan melepaskan sebuah sihir ke titik utama yang jadi fokus pandangannya. Hanya saja, tidak ada yang muncul kala dia selesai berkonsentrasi. Seakan, dia hanya menggertak ke titik yang dia baru saja pandang. Rizky mengambil posisi seakan seorang atlet lari, kali ini dia siap berlari menuju tangga itu dan menyerang lawan-lawannya dari atas. Sebagai seseorang yang kemampuan bertempurnya jarak jauh dan dekat, akan menguntungkan untuk jarak jauh di kala banyak musuh seperti ini. “Berlarilah bersamaku, Mávros ánemos: Kápste.” Itulah yang dipilih oleh Rizky. Menggunakan kekuatan angin dalam dirinya, dia mempercepat gerakannya hingga memancing perhatian, tetapi memancing perhatian itu tidak cukup untuk membuat dia khawatir karena dengan cepat dia sudah berada di posisi yang dia inginkan, tepat di atas para monster itu. “Huh? Suara apa itu?” celetuk salah satu monster. Monster yang lain mendengar pula suara dari sihir yang digunakan Rizky untuk bergerak cepat itu, dan mereka saling menoleh. “Seperti ada angin cepat lewat,” komentar yang lain. “Bodoh! Cepat periksa!” maki salah satu monster yang sepertinya senior di sana. Beberapa monster mulai melihat ke sekeliling, dan menemukan jejak api dan angin dari gerakan Rizky. Mereka berkumpul ke dekat tangga di sisi kanan aula. “Apa ada penyusup?” pikir salah satu monster di sana. Rizky yang mengamati dari atas hanya tersenyum melihat monster-monster itu terlihat bodoh. “Rasakan amarah dari neraka. Ignesco.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD