bc

Love Me After Rain

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
others
drama
tragedy
comedy
twisted
sweet
humorous
lighthearted
serious
kicking
like
intro-logo
Blurb

Seorang lelaki dengan luka di masa lalu menanti gadis yang berjanji akan mencarinya ketika dewasa. Lelah, dengan penantian. Ia memilih menyerahkan cintanya pada orang yang mencintainya. Hingga suatu ketika ia muncul dan menagih janjinya. Siapa yang akan dipilihnya?

chap-preview
Free preview
10 tahun berlalu
Pagi yang dingin meski jam sudah menunjukkan pukul 9. Rey menggeliat dan beringsut turun. Berjalan menuju jendela, memandang hamparan pantai di kejauhan yang tak pernah bosan ditatapnya setiap membuka mata. Dibuka jendela dan merasakan hawa pegunungan yang perlahan masuk melalui celah bajunya. Tangannya bersedekap, mengurangi dingin yang menggigit raga. "Sepuluh tahun berlalu, apa kamu masih mengingat janjimu?" tanyanya pada angin yang berhembus, menyibak rambut yang sebagian menutupi dahinya. Dihembuskan nafasnya berharap angin akan menyampaikan pesan yang telah ditunggu jawabannya. Lama ia memandang hingga akhirnya sebuah panggilan menyudahi acara nostalgianya pagi itu. "Ya, baik nanti aku temani. Kalau tidak kamu bisa pesan online saja yang lebih cepat. Ok, nanti ku jemput saja." Panggilan dimatikan, Rey bergegas mandi. Ada janji sepagi ini dengan Fiona, calon tunangannya. Dipakai kemeja lengan panjang berwarna biru yang ditekuk ke atas juga celana panjang hitam dengan sepatu sneaker berwarna senada. Disisir rambutnya yang masih sedikit basah ke samping kanan, tak lupa menyemprot parfum di titik tertentu tubuhnya. Ia pun bergegas turun. "Selamat pagi Rey!" sapa Anita, wanita berparas keibuan yang memakai kacamata dengan rambut sebahu tersenyum padanya. Dia adalah istri Ray. "Pagi? Gak salah! Ini sudah setengah sepuluh." sindir Ray sambil melirik Rey yang baru saja menuruni tangga. Rey tersenyum kecil menanggapi sindiran kakaknya. "Paman Rey!" pekik anak perempuan yang berusia empat tahun. Ia berlari mendekatinya, dengan sigap seolah tahu apa yang menjadi kemauan anak itu, Rey menggendong dan memutar- mutar tubuhnya di udara. Anak kecil itu tertawa girang dan meminta diulang. "Udah, paman mau sarapan." kata Ray membuat gadis kecil itu kecewa. Ia menolak uluran tangan Ray seraya memoncongkan bibir. Kesal. "Baru sebentar ayah!" protesnya pada Ray. Meskipun ia kesal namun ia tak memberontak ketika Ray mengambilalihnya. "Jangan dibiasain bangun siang. Sarapan selalu lewat. Gimana mau jaga anak orang, jaga kesehatan aja malas- malas!" Rey mencebik tak memperdulikan omelan Ray dan menuju mini bar. Nasi goreng dan segelas susu hangat. "Mau salad buah?" tawar Anita membuka pintu kulkas dan mengeluarkan salad buah yang baru saja dibuatnya ke hadapan Rey. "Ish, kakak tahu aja." puji Rey dan Anita menjawab dengan senyuman. Ia kembali ke belakang mengurusi pakaian yang belum sempat dijemurnya. Tak sampai sepuluh menit, sarapan telah tandas. Rey berlari ke arah Nia dan kembali menggoda dengan menggelitikinya. "Udah paman!" teriak Nia tidak tahan. Rey menghentikan dan Nia duduk di pangkuannya. "Udah main apa aja tadi?" tanya Rey dan anak kecil itu berceloteh tentang kegiatannya pagi itu. Rey mendengarkan dengan seksama sesekali membelai rambutnya yang mulai panjang. Ray memperhatikan sikap Rey yang beberapa hari ini suka melamun. "Kamu masih memikirkannya?" Rey terkesiap mendengar pertanyaan Ray. "Heran kakak. Kamu tunangan tapi masih mikirin anak kecil itu. Apa ini alasanmu tidak kunjung menikah dan memilih tunangan? Kamu berharap bisa bertemu dengannya lagi? Memang apa yang mau kamu lakukan jika bertemu dengannya? Membatalkan pertunangan lalu menikahi anak kecil itu?" Ray memberondong dengan berbagai pertanyaan. Rey menghela nafas dan meletakkan Nia di sebelahnya. "Aku hanya sedikit merindukannya. Sekarang, pasti ia sudah menjelma gadis yang cantik." Pandangan Rey menerawang jauh seolah telah membayangkan gadis yang telah dinantinya selama ini lalu tersenyum. "Kalau dia udah jadi cantik, seleranya udah bukan kamu juga kali!" "Setidaknya, aku sudah melihatnya." Rey mencebik. Tidak suka dengan gurauan kakaknya. Ray berusaha menahan senyumnya. Ia tahu adiknya masih mengharapkan gadis yang sama. Namun ajakan pertunangan dari Fiona tak mampu ditolaknya seolah ia telah lelah dengan penantian. "Jujur, aku takut dengan pernikahan. Luka dari masa lalu seolah masih menyisakan ketakutan di hatiku. Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama seperti yang ayah lakukan?" "Sudah ku katakan bahwa kamu tak seperti ayahmu Rey!" ucap Ray menenangkan adiknya. "Itu karena aku belum mempunyai anak, kak. Bagaimana jika...." "Hentikan Rey!" Rey meremas jemarinya kasar. Ia begitu ketakutan jika tak bisa menjadi dirinya ketika menjadi seorang ayah dan kehilangan kontrol hingga mengulangi kesalahan yang sama. "Jadi itu alasannya? Bukan karena kamu menunggu gadis kecil itu?" Rey mengangguk dan Nia mengusap punggungnya seolah tahu apa yang tengah dirasakannya. "Paman!" celetuk Nia mengagetkan Rey dan menggelendot manja. "Lihat, Nia saja begitu menyukaimu. Dia bisa merasakan kasih sayang yang selama ini kamu berikan. Tentu kamu bisa memberikan apa yang tak kamu dapatkan sebelumnya pada anakmu kelak. Kamu hanya tidak menyadarinya bahwa kamu berbeda." Ray mengingatkannya. Rey terdiam. Ia baru menyadari bahwa ketakutannya tak beralasan. Bukti bahwa ia justru memberikan apa yang tidak pernah dia dapatkan semasa kecil baru saja Ray jabarkan. Meski ada sedikit keraguan. "Percaya dirilah. Kamu itu berbeda!" Rey menatap kakaknya yang selalu mensupport dan tersenyum. "Tapi yakin bukan karena gadis bernama..." Rey menggantung kalimatnya. "Mei." "Entah!" "Ish, gaje banget punya adik. Umur aja yang tiga puluhan tapi soal cinta kalah sama anak smp." Rey mencebik dan Ray tertawa. Nia yang tidak tahu apa- apa ikut tertawa. ***** "Bagus warna yang mana sayang?" tanya wanita yang wajahnya mirip Luna Maya, Fiona. Tinggi semampai dengan hidung mancung dan bibir mungil. "Coba saja dulu semuanya. Tapi aku lebih suka warna silver." kata Rey yang tengah menemani Fiona di butik langganannya. Setelah mendapatkan jawaban, ia pun masuk ke fitting room dan memanggil Rey begitu selesai memakainya. "Aku pakai warna yang sesuai rekomendasimu. Apa ini pas?" tanyanya memastikan. Rey mendekat dan melihat Fiona dalam pantulan kaca. Sekilas bukan wajahnya yang terlihat namun Mei yang selalu dirindukan. Ia tersenyum. "Sepertinya kamu menyukainya. Baik aku ambil ini saja!" kata Fiona menyadarkannya dari lamunan. Ditepis bayangan Mei dari ingatan, dihadapannya wanita yang terus memberinya cinta tak pantas disia- siakan. "Iya, itu saja."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
619.6K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
11.0K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
824.6K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
36.4K
bc

The Lone Alpha

read
125.8K
bc

Bad Boy Biker

read
8.8K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook