Bab 1. Pesta
Bab 1. Pesta
Entah sudah keberapa kali, Lionel memandangi sang istri yang sedari tadi sibuk dengan pakaiannya. Beberapa lembar baju sudah berserakan di atas ranjang dan juga di atas lantai, sementara sang istri hanya memakai celana dalam dan bara saja di depan cermin. Mungkin sudah sekian puluh baju yang ia coba dan tempelkan pada tubuhnya sambil memiringkan posisi badan dari hadapan cermin untuk melihat apakah pakaian sudah cocok atau belum.
“Honey, apa kamu tidak mau membantuku di sini? Kakiku mulai pegal, tahu!” Katty mulai merengek dan menghentakkan kedua kakinya bergantian.
Melihat tangkah sang istri, Lionel yang semula duduk, sekarang berdiri lalu menghampirinya. Ketika sudah berada di dekat Katty, Lionel merangkulkan kedua tangan pada pinggang ramping itu dari belakang. Lalu, dia memiringkan kepala dan mengecup bagian tengkuk yang bau wangi,
“Apa pun yang kamu pakai, aku akan selalu mengagumi, Sayang.”
“Huuuh!” Katty meliukkan bagian leher dan mengangkat satu pundaknya hingga Lionel menarik wajahnya menjauh. “Jangan bilang begitu. Aku hanya takut pakaianku tidak pas nantinya.”
Katty berbalik badan, lantas memasang wajah cemberut. Dia maju lagi, kemudian meraih kerah kemeja Lionel yang belum terkancing semua itu. Katty mengusap bagian d**a lalu mendengkus lagi.
“Ini pesta besar, aku tidak mau berpenampilan sembarangan. Teman Wanitamu sangat banyak di sana, aku tidak mau terlihat buruk.”
“Kamu tidak pernah buruk, Sayangku. Percayalah, kamu selalu cantik.” Lionel menundukkan wajah dan mendekatkan ke area leher bagian bawah telinga. Dia mengecup bagian itu.
“Jangan memancingku. Aku malas bersih-bersih lagi.” dengan cepat Katty mendorong d**a Lionel.
Lionel tidak marah, dia malah tertawa. Setelah sang istri berbalik menghadap ke cerrmin lagi, dia menepuk bulatan di bawah panggul itu, lalu melenggak pergi ke luar lebih dulu sambil mengancing kemejanya.
Masih di dalam kamar, Katty kembali sibuk dengan pakaiannya. Ini pesta pertama kali yang akan ia hadiri bersama sang suami setelah resmi menikah sekitar satu bulan yang lalu. Ini mungkin hanya sekedar pesta anniversary pernikahan teman Lionel, tapi bagi Katty yang datang sebagai orang baru di antara mereka, tentu menginginkan penampilan yang sempurna.
“Huh, apa mereka akan menyambutku?” desah Katty. Dia menjatuhkan dress hitam yang semula ia tempelkan pada badannya. “Aku bahkan tidak yakin harus memakai baju apa? apa mungkin sebaiknya aku tidak usah datang?”
Katty mengangkat wajah lalu kembali menatap dirinya yang setengan telanjang dari pantulan cermin. Dia memandangi tubuh moleknya yang mulus dan bersih. Badannya tidak begitu putih seperti kebanyakan orang-orang di kota ini, melainkan sedikit lebih gelap. Hal itu karena memang, Katty juga masih keturunan dengan negara lain yang mayoritas memiliki kulit tidak terlalu putih.
Sekitar satu setengah jam berlalu, Katty akhirnya menjatuhkan pilihna terakhir pada dress ketat dengan belahan di bagian paha kiri. Dress itu hanya berlengan satu dan tidak menutupi bagian pundak. Dadanya yang besar, terlihat terangkat dan hampir menyembul.
“Sepertinya ini cocol” celetuknya sambil putar kanan dan ke kiri untuk memastikan.
“Apa ini tidak terlalu terbuka?” tiba-tiba Katty mendadak ragu. “Oh, sebaikanya aku ganti saja.”
Katty buru-buru melepas bajunya dan melemparnya ke sembarang tempat. Dia menggeleng cepat lalu coba untuk focus kembali memilih pakaiannya. Kalau dia terus memilih, yang ada akan terlambat untuk datang ke pesta. Dan lagi, kemungkinan Lionel akan marah karena terlalu lama menunggu.
Katty memungut satu lembar pakaian berwarna ungu muda. Ini tadi juga sempat ia coba, tapi hanya menempelkan pada badannya saja. Setelah dipertimbangkan, sepertinya memang cocok memakai dress ungu ini. Selain tidak terlalu terbuka, dressnya juga terlihat kalem dan polos.
“Apa sudah?”
Pintu terbuka, dan Lionel menembul dari baliknya. Pria itu lantas tersenyum ketika melihat sang istri yang begitu cantik mengenkan dress itu. Rambutnya yang panjang sebagu, ia sisir lebih banyak ke bagian samping, lalu ia sampirkan pada daun telinga.
“Bagiamana?”
“Sangat pas,” sahut Lionel sambil mengacunkan ibu jari.
***
Dari rumah, Katty sudah menyiapkan mental supaya tidak gugup ketika sudah sampai di tempat tujuan. Namun, nyatanya rencana itu tidak semudah yang dia bayangkan. Sebelum turun dari mobil, badan Katty mendadak panas dingin. Dia sampai meremas-remas tangannya sendiri yang berkeringat.
“Tidak perlu gugup begitu,” ucap Lionel mencoba menenangkan. Dia mengusap punggung tangan Katty yang dingin. “Mereka akan meyambutmu dengan baik.”
“Tapi … aku takut tidak setara dengan mereka.”
“Tidak usah khawatir. Mereka semua yang datang adalah teman-temanku.”
Katty menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan dan tersenyum membalas tatapan sang suami yang dalam. Dia kemudian duduk dengan tenang sebentar menunggu Lionel turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya.
Dari dalam mobil, Katty sempat kembali gugup. Dia melihat beberapa tamu yang datang seperti dari Kalangan atas semua. Mereka terlihat begitu modis dan mewah. Apa yang mereka bawa juga sepertinya sebuah kado dengan lembarang banyak untuk bisa membayarnya.
“Ayo …” Lionel mengulurkan tangan untuk membantu Katty turun.
Setelah kedua kakinya menapak di tanah, Katty mulai mengatur napas lalu menyapu pandangan. Mereka yang datang sudah semuanya masuk ke dalam, dan kemungkinan hanya tinggal dirinya dan Lionel.
“Ayo!” Lionel menegur sambil menarik dan mrangkulkan tangan Katty pada tangannya sendiri. Dia menuntunnya masuk ke dalam.
“Apa menurutmu Lionel akan datang?” tanya Gracia. “Kudengar dia menikahi Wanita yang sudah punya anak.”
“Ssshht! Jangan berisik.” Jade menyenggol lengan Gracia seraya mengerakkan kedua alisnya, memberi kode bahwa yang sedang mereka bicarakan sudah datang.
Ini hanya perasaan Katty saja, atau mereka semua menatapnya dengan tatapan aneh. Hampir semua tamu yang datang menoleh ke tika Lionel dan Katty masuk. Tatapa mereka ada yang janggal seolah ada yang salah pada diri Katty. Tatapan penuh rasa penasaran dan juga ketidak sukaan.
“Apa mereka menatapku?” bisik Katty sambil memiringkan kepala hingga menempel pada pundak Lionel. “Aku jadi tidak enak. Mungkin ada yang salah dengan penampilanku.”
Lionel mengusap punggung telapak tangan Katty. “Jangan khawatir, mereka hanya sedang mengagumi betapa cantiknya kamu.”
Apa kalimat itu bisa dipercaya? Tapi kedengarannya hanya sebatas untuk menenangkan saja.
“Halo, Lionel. Apa kabar!” seorang Wanita datang dan langsung memberi pelukan dan kecupan pada kedua pipi Lionel. “Akhirnya kamu datang juga.”
Katty tidak akan cemburu sekarang. dia tahu kalau Wanita yang baru saja memeluk dan mencium suaminya adalah tuan rumah. Tidak lama setelah itu, seorang pria juga menyusul menyambut merka berdua. Dan Katty tebak, pria itu pasti suami Wanita yang sekarang sedang mengajak Lionel bicara.
“Oh, inikah istrimu,” ucapanya sambil menatap Katty. Tatapan itu tidak terlihat semengerikan para tamu undangan. Ini lebih terlihat cukup ramah.
“Hai,” ucap Katty.
“Hai, aku Beatris. Teman Lionel.”
“Aku Katty.”
Diam-diam Beatrice mengamati tampilan Katty. Pakaian yang dikenakan jelas mahal, kerena memang Lionel yang membelinya, tapi bagaimana dandanan yang sederhana itu, membuktikan kalau dia bukan tipe Wanita sosialita.
Hm, sangat cocok denga nasal-usulnya yang tidak jelas itu.
Beatrice tersenyum tipis lalu mempersilahkan mereka untuk bergabung dengan yang lain. Dia mengajak Katty untuk berkenalan dengan yang lainnya. Sebelum dia menyetujui ajakan Beatrice, Katty sempat meneleh sendu ke arah sang suami. Lalu, ketika suaminya berkedip seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja, Katty pun akhirnya melangkah bersama Beatrice menuju teman-temannya yang lain.
***