Bab 2. Siapa Dia?

1126 Words
Bab 2. Siapa Dia? Seumur hidupnya, Katty baru menginjakkan kaki dalam sebuah pesta yang megah seperti ini. Mereka yang datang jelas sekali dari kalalangan menengah atas semua. Tempat dan makanan yang tersedia, sangat tidak diragukan lagi. mereka menikmatinya tanpa sungkan dan seperti sudah terbiasa. “Tidak perlu gugup begitu,” ucap Beatrice sambil menyenggol lengan Katty. Katty mengangguk dan tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak nyaman di sini. Untuk bisa menyahut obrolan saja, rasanya sangat sulit. Belum lagi, Katty tidak tahu apa topik pembicaraan mereka. Sekitar sepuluh menit berlalu, alah satu dari mereka ada yang melirik Katty. Dia menyikut temannya supaya ikut menoleh. Mungkin tadi mereka tidak terlalu memperhatikan kedatangan Katty dan hanya terfokus pada tuan rumah yang ikut duduk. “Jadi, kamu istri Lionel?” tanya salah Gracia. Katty mengangguk. Tatapan Gracia sangat tidak bersahabat. Cara dia menunjuk bahkan terlihat seolah Katty bukanlah dari kalangan mereka. “Kudengar kamu sudah punya anak?” tanya yang lain. “Ya, aku sudah punya anak.” Katty mencoba menjawab dengan tenang. “Jadi, gossip itu memang benar?” sambung Gracia. “Kalau kamu sudah punya anak sebelum menikah dengan Lionel.” Apa pertanyaan semacam itu perlu? Kenapa mereka terdengar mengintimidasi? Bukankah ini hal pribadi? Katty berdehem pelan lalu tersenyum getir. “Ya, aku sudah punya anak sebelum dengan Lionel.” “Hm … jadi memang gossip itu sangat benar. Aku heran kenapa Lionel mau.” Degh! Katty seketika terpaku diam. Dia merasakan dadanya seperti telah dipukul sesuatu benda keras. Ini bukan sekedar perasaan Katty saja, tapi jelas sekali kalau mereka memang sedang menggunjingnya. Mereka berbicara seolah Katty w************n di sini. Katty tidak menggubris mereka lagi. dia menoleh ke samping ketika pelayan datang dan meraih segelas minuman. Dia mencoba untuk bersikap biasa saja dengan tetap duduk tenang. Dia ingin beranjak, tapi ketika melihat Lionel sedang bicara asyik dengan para sahabatnya, mungkin akan tidak sopan kalau mengganggu. “Bagaimana mungkin kamu bisa menikahinya?” tanya Patrick. “Aku tahu bagaimana selera kamu, Lionel?” “Apa ada yang salah?” “Tentus saja. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan menikahi Wanita perawan. Oh tunggu,tunggu, bukan itu maksudku. Kamu selalu bilang tidak mau menikahi Wanita yang sudah bernah menikah apalagi punya anak.” “Memang, tapi ini beda.” “Apa dia pandai begoyang?” “Sial!” umpat Lionel. Dia spontan menyikut lengan Patrick lalu memelototinya. “Sepertinya dia memang bagus. Parasnya juga cantik, hanya saja kulitnya terlihat lebih gelap dibandingkan perempuan lain.” “Jangan berani berpikiran kotor kamu!” sekarang Lionel menendang kaki Patrick yang ada di bawah meja. “Aku tahu isi otakmu.” “Haha! Kalau begitu, bagilah denganku. Bukankah kita selalu berbagi?” “Sialan kamu!” “Hust, dia datang!” yang lain saling menyikut ketika melihat Katty berlenggak di belakang Lionel. Wanita itu memang terlihat begitu anggun, sayangnya tidak sebanding dengan kelompok mereka yang berasal dari kalangan atas. Katty bediri di samping Lionel lalu berbisik. “Aku ingin pulang.” “Tunggu sebentar, aku baru saja ngobrol dengan mereka, Sayang.” Jawaban Lionel membuat Katty memasang wajah datar. Dia tidak mungkin merengek meminta pulang sekarang, hal itu pasti akan memalukan. “Kalau begitu, di mana toiletnya?” “Kamu bisa ke belakang sana. Nanti kamu tanya pelayan.” “Oke.” Ketika badannya sudah berbalik, wajahn Katty semakin terlihat datar. Wajah cantik dengan polesan tipis itu merengut dan hampir berdecak kesal. Untungnya dia sadar kalau di sampingnya ada orang lain. “Kenapa dia tidak mengantarku? Harusnya dia tahu kalau aku orang baru di sini.” Ketika hampir sampai di pintu menuju ruang belakang, satu kaki Katty menghentak. Dia berdecak kesal sampai bibirnya terbuka memperlihatkan giginya yang saling menekan keras. Ekpresi wajah itu, secara tidak sengaja, berhasil mengundang perhatian seorang lelaku yang duduk di dekat pintu. “Siapa perempuan itu? Aku tidak pernah melihatnya?” tanyanya. “Yang mana?” “Yang baru saja masuk ke toilet.” “Oh, kudengar dia istri baru Lionel.” “Oh ya?” Teman bicaranya itu mengangguk. “Kudengar mereka baru menikah sekitar satu bulan yang lalu.” Lucas mengangguk-angguk lalu meneguk winennya. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia langsung terdiam seperti ada sesuatu. Tidak lama setelah menghabiskan minumannya, Lucas tiba-tiba berdiri, membuat teman-temannya spontan menoleh ke arahnya bersamaan. “Mau ke mana kamu?” “Perutku mulas.” “Bah! Kamu baru minum dua gelas. Mana mungkin sampai mulas?” “Sial! Aku mual juga.” Lucas memegang perut datarnya itu, lalu mendorong kursi ke belakang menggunakan siku dalam lututnya. Lucas pergi menuju ke belakang di mana toilet berada. Dia berdiri di depan pintu toilet pria, tapi tidak buru-buru masuk. Dua matanya, sedang mengintai pintu yang terbuka di sampingnya. Ada beberapa orang yang sudah ke luar dari pintu itu, tapi yang Lionel tunggu tidak kunjung muncul. “Lucas, sedang apa kamu di sini?” tiba-tiba seorang Wanita seksi menyapanya. “Apa kamu sedang menungguku untuk bermain?” Sementara Wanita itu sudah bergelayut, Lucas masih tetap mengintai pintu itu, berharap Wanita yang ia lihat tadi segera muncul. “Lucas … sudah lama aku tidak bermain denganmu.” Dengan entengnya, dua tangan Wanita itu merayap lalu memepet Lucas ke dinding. “Lihat, kamu pasti memang sedang menungguku, kan?” sekarang tangan itu sudah meluncur ke bawah memegang sesuatu di balik relesting. Lucas tidak peduli sudah sampai mana tangan Wanita itu merayap di balik kemejanya dan juga bagian lain. Dia hanya sedang penasaran sekarang. lalu ketika Wanita itu berahsil menurunkan resletingnya, Katty tiba-tiba muncul. Dia yang terkejut dengan cepat menjerit kecil lalu memalingkan wajahnya. “Sialan! Apa yang sedang mereka lakukan di sini?” decaknya dengan suara lirih. “Memangnya tidak ada tempat untuk b******a?” Katty berjalan menyamping supaya tidak melihat kelakuan dua orang yang tengah berbuat m***m itu. Ketika Katty sudah kembali masuk ke ruang pesta, dengan cepat Lucas menyingkirkan Wanita itu. “Hei!” seru Wanita itu saat itu juga. “Aku belum selesai, Lucas!” Lucas sama sekali tidak peduli. Dia berjalan sambil menarik kembali resleting celananya dan juga kemejangnya yang terbuka di bagian atas. “Ada apa dengannya? Kenapa dia menolakku?” Lucas sekarang sudah sampai di ruangan yang sama dengan Katty. Dia mengangkat pandangan lalu menjumpai Katty sudah bersama dengaN Lionel. Mereka berdua berjalan bersama ke luar meninggalkan acara pesta setelah berpamitan dengan tuan rumah. “Sial! Siapa Wanita itu? Kenapa aku merasa ada sesuatu?” decak Lucas sambil menyugar kasar rambutnya. “Banyak Wanita seksi dan menggoda di sini yang sedari tadi mendekatiku, kenapa juga aku malah tertarik dengan Wanita kulit coklat itu?” “Hei!” tegur temannya. “Ada apa? kenapa bengong di sini?” “Ah, tidak. aku hanya sedang merasa gerah.” “Ha?” temannya itu mengerutkan dahi dan sedikit membuka mulutnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD