Bab 3. Tiada Waktu

1129 Words
Bab 3. Tiada Waktu “Kupikir aku tidak akan pernah cocok dengan teman-temanmu.” “Kenapa?” Katty menghela napas, lalu meletakkan dompetnya di atas meja. Dia kemudian duduk dan menyilang kaki sambil melepas sepatunya yang setinggi sekitar lima senti meter. “Mereka sepertinya tidak menyukaiku. Aku juga merasa tidak pantas ketika berada di antara mereka.” Lionel yang tengah melepas kancing kemejanya tertawa. “Mungkin hanya perasaanmu saja, Sayang. Kamu kan orang baru.” Sekarang, Lionel ikut duduk. Jelas sekali apa yang Katty rasakan ketika berada di pesta. Mereka semua seperti begitu risih melihat kehadiran Katty yang memang bukan dari kelas mereka. Ketika dua sepatunya sudah terlepas semua, Katty kembali menghela napas. “Aku memang bukan kelompok mereka, jadi aku tidak akan akrab dengan mereka. Tidak apa-apa, kan?” Lionel tersenyum lalu mengusap pipi sendu itu. “Tentu saja tidak apa-apa. kamu bisa pelan-pelang dekat dengan mereka.” Katty kemudian berdiri. Dia tidak melepas pakaiannya dan langsung pamit pergi ke lantai bawah lagi. “Aku mau melihat Zack.” “Untuk apa? pasti dia sudah tidur.” Nada bicara Lionel seperti berniat mencegah. Dia juga berdiri dan melingkarkan tangannya pada pinggang Katty. “Sebaiknya kita tidur. Zack sudah ditemani suster.” Satu kecupan dan sapuan lidah di bagian leher, membuat Katty spontan memejamkan mata. Tanpa dikendalikan, di sudah memiringkan lehernya hingga membuat Lionel lebih leluasa bermain di area sana. Katty tidak akan pernah bisa menolak ketika Lionel, mengajaknya berhubungan intim. Meski di awal terasa lembut, tapi sering terjadi Lionel bermain sesuka hati tanpa memberi waktu Katty untuk lebih menikmati. Tidak masalah sebenarnya, toh Katty sama sekali tidak keberatan. Di saat kegiatan terus berlanjut dan masih saling berpautan, Lionel mengangkat tubuh Katty ke atas ranjang. Dia membaringkangnya di sana dan memulai aksinya. Dia tampan. Aku baru mengenalnya beberapa bulan, dan dia langsung bersedia menikahiku yang sudah memiliki anak. Bukankah dia sangat sempurna? Katty memandangi wajah pria yang berada di atasnya dengan seutas senyum merekah. Dia menikmasti bagaimana ritme yang terus berlangsung hingga menit berikutnya Lionel terkulai lemas—jatuh—di sampingnya. Tidak ada percakapan apa pun selelah ini, yang ada hanya terdengar dengkuran halus yang memperlihatkan kalau Lionel sudah nyenyak dalam tidurnya. “Huh! Selalu saja seperti itu,” decak Katty. Katty merangkak turun dari atas ranjang, lalu mencari jubah handuknya. Dia tidak mungkin malam-malam pergi mandi, tapi sebaiknya memebrsihkan Sebagian saja. Tubuhnya juga terasa lengket dan tidak nyaman. Ke luar dari kamar mandi, Katty berjalan meninggalkan kamar. Lionel sudah tidur nyenyak, dia tidak akan tahu kalau Katty pergi ke bawah untuk melihat keadaan Zack. “Sekarang sudah jam Sembilan, pasti Zack sudah tidur,” gumamnya ketika menuruni tangga. Langkah semakin dekat, Katty mencoba menapakkan kaki dengan perlahan supaya suaranya tidak terdengar karena takut mengganggu. Dan ketika tepat di depan pintu, Katty menekan knop pintu ke bawah hingga terbuka. Lampu sudah dimatikan dan hanya menyisakan lampu meja saja. Semakin melangkah maju, Katty melihat putranya itu sudah tidur lelap dengan posisi miring me kanan sambil memeluk bantal. Sementara suster Brown terlihat tidur tidak jauh di sampingnya. Sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut, Katty sempat mengecup pelan pipi Zack. Dia merasa sedih ketika melihat wajah tenang yang sedang tidur itu. Sudah satu bulan ini, Zack tidak pernah tidur dengan Katty lagi karena memang tidak diizinkan oleh Lionel. Mulanya Katty tidak setuju dengan itu, tapi ketika Lionel menjelaskan alasannya, dia akhirnya mengalah. “Terima kasih suster Brown. Kamu merawat putraku dengan baik,” lirihnya, lalu Katty menutup pintu kamar dengan perlahan. Pagi harinya, Katty bangun lebih awal seperti biasanya untuk membantu pelayan menyiapkan sarapan. Tidak lama setelah semua siap di atas meja, terlihat Zack berlari dengan cepat menghampiri Katty. “Mommy!” serunya. Katty dengan sepat berjongkok dan menyambut pelukan dari putranya itu. “Selamat pagi, Sayang. Bagaimana tidur kamu malam ini?” sebuah kecupan mendarat di pipi Zack. Wajah Zack berubah cemberut seperti hendak menyampaikan kluh kesah. “Mommy tidak pernah mau tidur denganku sekarang. Mommy hanya terus bersama Papa.” “Oh, maaf sayang, bukan begitu. Kapan-kapan Mommy akan tidur denganmu.” “Sungguh?” Sambil mengusap pipi putranya, Katty mengangguk dengan senyuman. Sebuah senyuman seperti menyimpan rasa bersalah. “Sini, mommy bantu kamu duduk.” Katty mengangkat tubuh Zack lalu meletakkannya di atas kursi. Raut wajahnya saat ini, terlihat sekali ada sebuah kesedihan. Katty tahu kalau Lionel sudah dengan senang hati menerimanya sebagai istri di sini, satu bulan berlalu, Lionel selalu memenuhi segala kebutuhannya dan juga kebutuhan Zack. Katty tidak pernah kekurangan karena memang Lionel soerang pengusaha yang kaya raya. Namun, ada sesautu yang terus mengganjal di hati Katty sampai saat ini. Lionel seperti belum bisa menerima Zack sepenuhnya. Katty akan mencoba memaklumi hal itu, karena mungkin memang membutuhkan waktu. Selama Lionel tidak berkata buruk pada Zack, sepertinya tidak menjadi masalah. Setelah Katty mengambilkan s***p untuk putarnya yang berumur delapan tahun itu, dia berbalik badan untuk meninggalkan ruang makan. Dia hendak menuju kamarnya untuk memanggil sang suami. “Hei! Sudah mau langsung berangkat?” serunya tiba-tiba ketika melihat sang suami sudah berada di dekat ruang tamu. Katty berlari menghampiri. “Kenapa tidak sarapan dulu? Aku sudah menyiapkannya untuk kamu.” Lionel mengangkat satu lengannya dan menatap arloji yang melingkar di sana. “Aku sudah kesiangan. Pagi ini aku ada meeting mendadak.” “Tapi …” Cup! Dengan cepat Lionel menarik kepala Katty dan memberi sebuah kecupan singkat. “Aaku berangkat dulu. Tidak enak kalau klienku menunggu terlalu lama.” Katty hanya melongo ketika Lionel sudah melanggak pergi sampai akhirnya tidak terlihat lagi. ini perasaan Katty, atau hanya sekedar banyak pikiran saja. Namun, sepertinya memang ada yang berbah dari Lionel. Dia tidak seromantis ketika dua minggu sejak menikah. Sekarang dia semakin sibuk dengan alasan banyak pekerjaan. “Ah, sebaiknya aku tidak usah berpikir yang macam-macam.” Katty dengan cepat bergidik lalu berbalik badan menuju ruang makan lagi. “Suster, hari ini biar aku yang mengantar Lionel pergi ke sekolah,” ucap Katty sesampainya di ruang makan lagi. “Benarkah?” Zack yang langsung menyahut dengan girang. Katty mengangguk dan mengusap pucuk kepala putranya itu. “iya, Sayang.” “Hore!” Zack melompat turun dari kursinya dan berjingkrak-jinkrak sambil mengangkat ke dua tangannya. Melihat reaksi itu, entah kenapa Katty merasa sedih. Dia sudah menghabiskan banyak waktu hanya bersama Lionel sejak menikah. Dia sampai mengabaikan sang putra yang seharusnya masih dekat dengannya. “Apa tidak apa-apa?” tanya Suster Brown sambil memakaikan Zack tas punggung. “Tidak apa-apa. toh Lionel sedang sibuk kan? Mungkin saja dia akan lupa menelponku seperti kemarin, jadi aku mau menghabiskan waktu bersama Zack.” Katty menuntun tangan Zack penuh semangat sampai tangan mereka terombang-ambing seperti sebuah ayunan. Karena tidak disediakan mobil oleh Lionel, Katty terpaksa pergi naik taksi. Sebenarnya ada lebih dari tiga mobil di dalam garasi, tapi Lionel tidak mengizinkan Katty untuk mengemudi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD