37. PERMOHONAN LUNA

1500 Words
Randy sudah 2 hari merasakan dinginnya lantai penjara. Dia digiring ke polisi dan dimasukan ke penjara dan terjerat pasal 285 KUHP tentang dugaan atau percobaan melakukan p*********n. Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya b********h dengan dia, dihukum, kerena memperk***, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun. Randy dimasukan ke sebuah sel kecil di Polres Jakarta Selatan. Penjara ini untuk menunggu Penyelesaian Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh polisi ke Kejaksaan. Luas sel Polres sekitar 30 meter persegi, sudah termasuk kamar kecil di dalamnya. Randy bersama belasan tahanan kriminal lain harus menunggu dua bulan di sini. Dunianya tiba-tiba menyusut. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah diperbuatnya. Ia harus merelakan masa depannya hancur. Ia terpaksa drop out (DO) dari kampusnya, kuliahnya yang tinggal satu tahun lagi hancur berantakan. Sekarang dia cuma bisa melihat dinding penjara, teralis besi, dan teman satu selnya. Tidak ada jendela, tidak ada matahari. Setelah BAP nanti keluar, Randy akan dipindahkan ke Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta Pusat. Disana dia akan mengenal dunia keras penjara. Ada Masa Pengenalan Lingkungan (Mapenaling) untuk ‘kijang baru’ (tahanan baru) selama satu bulan. Randy sedang duduk termenung meratapi nasibnya kedepan, tiba-tiba ada seorang Sipir atau petugas lapas mendekati sel tahanannya. “Saudara Randy, ada yang ingin bertemu dengan anda.” Petugas lapas membuka sel tahanan Randy lalu membawanya ke dalam ruangan dimana tempat seseorang yang ingin bertemu dengannya. ‘siapa?’ tanya Randy dalam hati. Seorang wanita cantik yang melakukan penyamaran dengan memakai kaca mata besar dan rambut palsu sedang duduk membelakangi Randy. “Luna?” Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Randy. “Randy, maafkan aku.” ujar Luna dengan wajah sendu. Dirinya benar-benar tidak akan menyangka akhir rencananya akan seperti itu. Randy duduk di bangku panjang berhadapan dengan Luna, mereka hanya dipisahkan oleh meja panjang yang terbuat dari kayu. Luna mengamati wajah tampan Randy yang kini terdapat luka diseluruh wajahnya. Ada luka robek di pelipis matanya. “Sekarang kamu puas kan. Gara-gara rencana kamu itu aku jadi harus mendekam dipenjara.” cibir Randy. “Sumpah, Ran. Aku gak nyangka semuanya akan berakhir kaya gini. Maafkan aku!” katanya memohon. “Sekarang kamu mau apa datang kesini? Bukankah itu hanya akan menimbulkan berita macam-macam untuk kamu karena menemui sepupumu didalam penjara?” “Randy, aku akan berusaha mengeluarkan kamu dari sini. Aku akan meminta Ardy menarik gugatannya.” “Dengan imbalan apa kamu mau meminta Ardy untuk mengeluarkan aku dari sini? Apa dengan menjual tubuhmu?” sahutnya ketus. “Randy! Aku tau aku salah, tapi gak seharusnya kamu mengataiku seperti itu.” pekik Luna. “Udahlah, Lun. Hidupku sekarang sudah hancur. Aku bahkan gak punya bukti untuk menjerat kamu ke dalam penjara karena semua ini ide kamu.” geramnya. “Randy, aku mohon jangan bawa-bawa namaku ke dalam kasus ini. Aku gak mau karier-ku yang aku bangun dari nol hancur begitu aja. Aku janji akan berusaha mengeluarkan kamu.” “Di saat aku seperti ini pun, kamu hanya memikirkan karier-mu.” Seorang sipir kembali membawa Randy kedalam sel tahanan karena waktu jam besuk yang hanya 15 menit telah habis. Luna melangkah keluar penjara dan kembali memakai kaca mata hitamnya agar tidak ada yang mengenali wajahnya. Ia harus menemui seseorang yang bisa membantunya mengeluarkan Randy. *** “Key, bangun sayang.” ujar Ardy mengusap pipi Keyra yang sedang tertidur pulas dengan lembut. Keyra menggeliat pelan lalu membuka matanya perlahan, “Ada apa, Kak?” tanyanya dengan suara khas bangun tidur. “Kamu gak apa-apa saya tinggal ke kantor? Saya ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan.” Keyra mengangguk, “Kakak pergi aja. Key gak apa di rumah.” “Hari ini bi Yati dan pak Pri datang. Jadi nanti kamu gak sendirian. Saya udah bikini kamu sarapan roti bakar dan s**u, jangan lupa dimakan sarapannya. Kalau bi Yati udah datang, minta tolong bi Yati untuk obatin luka kamu ya.” ujar Ardy panjang lebar. “Iya suamiku yang cerewet.” celetuk Keyra sekenanya. “Kamu panggil saya apa?” tanya Ardy menajamkan pendengaran. “Suamiku…” jawab Keyra pelan sambil membenamkan wajahnya keatas bantal karena malu. Ardy terkekeh, “Saya senang kamu panggil saya dengan sebutan itu. Romantis!” ujar Ardy. “Udah ah, Kakak pergi sana. Aku malu.” kata Keyra, masih menutup wajahnya dengan bantal. “Iya saya pergi, tapi…” Ardy menggantung kalimatnya hingga membuat Keyra mendongakkan wajahnya. “Tapi apa?” Ardy menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk sebagai tanda agar Keyra menciumnya. Dengan malu-malu Keyra mencium Ardy, menempelkan bibirnya sekilas. “Mana ada ciumnya begitu.” protes Ardy. “Kakak…” teriak Keyra dengan wajah memerah, masih pagi Ardy sudah menggodanya. “Yaudah saya pergi ya.” kata Ardy sambil merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh Keyra. Ardy memeluknya dengan erat. Mencium puncak kepalanya, mencium keningnya, lalu turun dengan melumat bibirnya lama. Bibir Keyra yang terasa sangat manis menjadi candu baru baginya. "Kita lanjutkan nanti malam." Ardy terkekeh sambil melangkah pergi keluar kamar. (Baru juga ngerasain ciumannya, Ar. Apalagi kalau udah ngerasain yang lain? Wkwkwkwk… Author) *** “Tuan, saya bawakan berkas yang anda minta.” kata Arga saat memasuki ruangan Ardy. “Simpan dimeja.” Ardy sedang mengamati wajah Keyra yang sedang tertidur pulas di dalam ponselnya, foto yang ia ambil sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh Keyra. Di dalam foto, Keyra sedang memakai piyama hello kitty kesukaannya, rambutnya yang kala itu masih panjang membingkai cantik wajahnya. Ardy terlihat senyum-senyum sendiri. “Tuan, apa anda sakit?” tanya Arga, ternyata dari masuk ruangan tadi Arga memperhatikan wajah Ardy yang terlihat sedang senang. “Memangnya aku kenapa?” sahutnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari foto Keyra di dalam ponsel. “Saya kira anda sakit karena dari tadi saya perhatikan anda senyum-senyum sendiri.” kata Arga. Ardy mendengus, “Aku memang lagi senang. Hahaha…” katanya lagi dengan gelak tawa yang memenuhi ruangan. “Syukurlah Tuan, setelah beberapa tahun belakangan ini saya tidak pernah melihat anda tertawa lepas seperti itu. Apa itu karena Nona Keyra?” tebak Arga. “Kau pikir siapa lagi.” ujar Ardy ketus. “Oh iya, bagaimana kelanjutan kasus laki-laki brengs*k itu? Aku ingin dia mendekam di penjara dengan waktu yang lama.” Kini wajah Ardy menatap ke arah Arga dengan tatapan yang serius. “Sekarang ini dia sedang menunggu penyelesaian BAP, Tuan. Nanti polisi akan memanggil Nona Keyra sebagai korban untuk dimintai keterangannya.” jawab Arga. “Baguslah. Pastikan dia tidak akan menghirup udara bebas dalam waktu dekat.” geramnya kesal. Tok Tok Tok Pintu ruangan Ardy diketuk. Mira datang dari balik pintu. “Maaf, Tuan Ardy. Di luar ada Nona Luna ingin bertemu.” kata Mira sopan. “Mau apa lagi dia kemari.” gumam Ardy, “biarkan dia masuk.” ucapnya lagi. “Baik, Tuan.” Mira keluar lalu mempersilahkan Luna masuk, kemudian menutup pintu itu rapat-rapat. Luna memasuki ruangan Ardy dengan senyum manis yang terpasang di bibirnya. Penampilannya cukup mengundang syahwat para lelaki. Ia mengenakan mini dress berwarna merah marun yang hanya sebatas pahanya, mengekspos kulit putihnya yang mulus. Tak lupa ia memakai heels yang cukup tinggi untuk menunjang penampilannya. “Ardy…” “Ada apa kau kemari?” tanya Ardy dingin. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisakah kita hanya bicara berdua saja?” pinta Luna sambil melirik Arga yang masih betah berdiri di samping Ardy. “Maksudmu dia?” tanya Ardy sambil menunjuk Arga yang berada di sampingnya. Luna mengangguk sambil melirik Arga tidak suka. “Biarkan dia dengar pembicaraan kita. Aku tidak mau istriku salah paham karena berbicara berdua denganmu.” Ardy sengaja menekankan kata istri saat berbicara dengan Luna agar Luna tidak berharap apa-apa lagi terhadap dirinya. “Ardy, aku mohon…” “Apa yang ingin kamu katakan? Cepatlah, aku sibuk.” hardik Ardy kesal. Luna tidak menyangka Ardy yang dulu bersikap sangat lembut padanya bisa bersikap sekasar itu sekarang. Luna menghela napas panjang, “Baiklah. Aku hanya ingin membicarakan soal Randy.” Mendengar nama laki-laki yang hendak berbuat asusila terhadap istrinya, membuat amarah Ardy meledak. “Laki-laki brengs*k itu akan mendekam di penjara dengan waktu yang lama.” teriak Ardy marah. Suaranya menggelegar diseluruh ruangan. “Ardy, aku mohon. Cabut gugatannya. Kasihanilah dia. Dia melakukan itu karena sangat mencintai Keyra.” mohon Luna. “Keyra sudah menjadi istriku, harusnya dia tidak melewati batasannya.” Ardy berdecak kesal. “Ardy, aku mohon. Masa depan Randy bisa hancur kalau kamu tidak mencabut gugatannya.” Luna memohon sambil terisak. “Apa dia tidak berfikir sebelum melakukan itu? Dia bisa saja merusak masa depan Keyra.” hardik Ardy lagi. “Ardy, aku tau kamu masih punya hati nurani. Aku mohon kasihani Randy. Aku jamin dia tidak akan mendekati istrimu lagi.” Luna merendahkan dirinya untuk berlutut di hadapan Ardy. Tak peduli ada Arga yang melihatnya berlutut. Kali ini ia menyampingkan egonya, demi masa depan sepupunya itu. Ia sangat merasa bersalah atas masuknya Randy ke penjara. “Kalau kamu terlibat dengan kasus ini, aku pastikan tidak akan segan-segan menyeretmu ke dalam penjara dengan tanganku.” Ancaman Ardy membuat Luna seketika bungkam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD