1
"Kamu mau dinikahkan sama Rio?" ucap Diego sedikit membentak adiknya.
Dian yang tahu siapa Rio bergindik ngeri membayangkan pria yang sama sekali tidak ada senyum sama sekali itu.
Mengetahui adiknya takut dengan Rio membuat Diego tersenyum "kalau kau mau aku akan bicarakan masalah pernikahanmu dan Rio dengan ayah ibu setelah mereka pulang dari diklat luar kota" ucap Diego semakin membuat Dian ketakutan.
"Memang mas tega nikahin aku sama monster itu? " tanya Dian sedikit lantang.
"Untuk adik yang suka membangkang sepertimu mas akan tega melakukannya" ucap Diego. " Dengarkan mas, mas melakukan ini semua untuk kebaikanmu, Andika itu tidak sebaik yang kamu tahu" imbuh Diego.
"Lantas yang mas sebut baik itu seperti apa? apa seperti Rio itu yang mas sebut baik? " Dian semakin emosi lantaran alasan yang disebut Diego bahwa Andika tidak baik namun malah berniat menikahkan dirinya dengan Rio yang semua orang tahu Rio itu bukan pria baik.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Diego, Dian pun pergi meninggalkan Diego menuju kamarnya. Diego berusaha mengejar Dian, namun sebelum Diego sampai pintu kamar telah lebih dahulu ditutup dari dalam.
*****
Keesokan harinya, Dian telah bersiap untuk kesuatu tempat membeli keperluan pribadinya. Saat akan melewati pintu keluar sang kakak menghentikannya.
"Mau kemana lagi? ketemuan? " tanya Diego.
"Kalau iya kenapa masalah buat Mas? "
jawab Dian sekenanya.
"Kamu gak boleh keluar rumah kalau tujuanmu untuk menemui pria madesu itu!" perintah Diego.
"Huuh, aku cuma mau ke minimarket, apa mas tetap gak kasih izin aku keluar? " tanya Dian.
"Lebih baik kau masuk ke kamarmu lagi dan jangan mimpi kau bisa mengelabuhi mas mu ini! " perintah Diego.
"Okey, nih uang tolong mas beliin aku p******t, yang bersayap ya ukuran 23cm terserah mau merk apa yang penting bersayap". pinta Dian sambil tersenyum penuh kemenangan ia pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Diego yang masih melongo di depan pintu.
Diego seperti bocah SD yang kebingungan, mau berangkat sekolah tapi belum mengerjakan PR. Setelah sadar dari lamunannya ia pun bergegas mengejar adiknya.
Di depan kamar Dian, ia mengetuk pintu kamar sang adik. tok tok tok "Yan buka gih ini uangnya mas balikin, kamu beli sendiri gih! " ucap Diego.
"Udah mas aja yang beli, aku sudah gak mood! " teriak Dian sambil tertawa kecil membayangkan wajah sang kakak.
"Ya kali mas beli yang begituan dek?" tanya Diego.
Dian keluar dari kamar dengan muka sedikit ditekuk. "hish, mas berisik deh, tadi bilang aku gak boleh keluar, sekarang aku minta tolong mas buat beliin aku p******t mas gk mau, trus aku mau pakai apa mas? " tersenyum tipis Dian melihat wajah sang kakak.
"Dah sekarang kamu boleh keluar, nih uangmu". jawab Diego.
Dian tersenyum penuh kemenangan, ia segera pergi dengan motor kesayangannya. Tidak hanya membeli keperluan pribadinya, ia juga berhenti di tempat kerja Andika untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting yang Gak bisa ia katakan lewat handphone.