Pagi ini, Kinara menjalani tugasnya sebagai asisten Galang dalam diam. Pagi-pagi, dengan ojek ia sudah tiba di rumah Galang. Jarak rumah dengan kosnya tidak terlalu jauh memang, tapi kalau harus berjalan kaki gempor juga.
Seperti hari kemarin, Kinara membawakan Galang air minum dalam tumbler, vitamin, baju ganti, pembersih wajah, dan segala macam printilan lainnya. Daftarnya sudah dibuat oleh Diandra, Kinara tinggal mengeksekusinya saja.
"Flo, semalam HP mu tidak bisa dihubungi." Galang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap bungkam Kinara. Lebih baik Kinara mengomel, marah-marah, atau bahkan menjadikannya sasak tinju seperti biasa, daripada didiamkannya begini.
"Flo, marah?"
Pakai tanya.
Bagaimana Kinara tidak marah, Galang meninggalkannya semalam. Sempat berpikiran baik, Galang hanya pergi sebentar, tapi ternyata malah Pak Said datang menjemput ke dalam, sementara Galang pergi dengan wanita lain.
Kinara menyesal, bisa-bisanya ia terlena dengan sepenggal ucapan Galang semalam.
Cuih! Harusnya aku tahu seperti apa Galang dari dulu. Dia suka melambungkan orang tinggi-tinggi lalu menghempaskan ke bumi.
"Flo? Sariawan? Sakit gigi?" Galang terus berusaha membuat Kinara bicara.
"Sakit hati!" jawabnya ketus lalu membawa barang-barang Galang keluar rumah untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Aku bawakan Flo, berat." Galang menghadang langkah Kinara. Tangannya sudah terulur memegang tas yang Kinara bawa, tapi dengan kasar Kinara menepisnya.
"Nggak usah sok baik!"
"Ini perintah, Flo," ucap Galang arogan. "Kalau kau tidak mengijinkan aku membawa tasnya, kau yang akan kugendong sampai mobil."
Kinara melotot, lalu melemparkan tas yang cukup berat itu ke tubuh Galang, membuat lelaki itu hampir terjatuh. Untung saja kakinya yang kokoh berhasil menopang tubuh.
Dasar Flo! Tapi ini lebih baik daripada ia hanya diam.
Galang tersenyum sembari menggelengkan kepala. Dari dulu Flo-nya memang begitu. Galak, jutek, kasar, tapi itulah yang membuatnya rindu. She's different.
Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Galang mempersilakan Kinara masuk ke dalam mobil. Sebelum ke lokasi syuting, mereka akan menjemput Bang Joel terlebih dahulu.
"Silakan tuan puteri." Galang mengayunkan lengan ke arah mobil, dengan badan sedikit membungkuk.
"Nggak usah lebay!" Melirik dengan sinis, kali ini ia tak mau terlena akan perlakuan manis Galang.
Baru saja Galang hendak menyusulnya masuk, tiba-tiba sebuah mobil menepi. Galang melongok ke arah pagar.
"Laaang!" Seorang wanita tergopoh-gopoh turun dari dalam mobil kemudian berlari masuk.
Malya. Mau apa dia ke sini.
"Untung gue belum telat." Ia mengusap dahinya dengan tisu.
"Kita berangkat bareng, Lang. Yuk, ikut mobil gue aja." Malya menarik tangan Galang yang nampak enggan.
"Udah baca pesan Pak Produser?"
Galang menggeleng, membuat perempuan itu menarik napas kesal.
"Tempat syuting kita nanti kan agak terbuka, masyarakat bisa nonton, jadi Pak Produser
pengen kita turun bareng dari mobil, dadah-dadah gitu."
Galang berdecak, mendengar permintaan produser yang mengada-ada. "Buat apa, sih?"
"Nih!" Malya memberikan ponselnya usai memencet tombol panggilan. "Lo tanya sendiri deh."
Dengan enggan Galang menerima ponsel Malya yang sudah terhubung dengan Pak Produser.
"Lang, penonton lagi baper-bapernya sama kalian berdua, jadi gue mau kalian harus lebih sering barengan ya. Ga harus pacaran juga, paling nggak beri mereka harapan lah. Tapi kalau jadian bener, bagus juga sih." Terdengar kekehan Pak Produser dari ujung telepon.
Galang hanya mengiyakan. Dalam salah satu pasal perjanjian kerjasamanya untuk syuting sinetron ini, memang tercantum kesediaan melakukan gimmick untuk keperluan promosi.
"Pak, saya berangkat dengan mobil itu. Bapak sama Kinara jemput Bang Joel terus ke lokasi syuting ya." Galang memberi arahan pada Pak Said sebelum ia pergi.
"Flo." Ia beralih melihat Kinara. Tapi yang dilihat sudah membuang muka terlebih dulu, menatap keluar dari balik jendela mobil.
"Flo, ketemu di tempat syuting ya."
Sampai Galang menutup mobil, Kinara sama sekali tak melihatnya. Kesalnya dengan kejadian kemarin belum reda, ditambah lagi hari ini.
Tapi kenapa pula harus kesal?
Profesional Kinara. Apa urusanmu Galang pergi dengan siapa. Tugasmu hanya mendampinginya saat diperlukan dan menyiapkan segala keperluannya, seperti arahan Kak Diandra tempo hari. Lakukan saja tugasmu dengan baik, terima gaji, daftar kuliah, dan cari pekerjaan lain yang lebih baik suatu hari nanti.
Kinara bermonolog panjang dalam hati. Hingga tanpa sadar mobil sudah berhenti di parkiran apartemen Bang Joel.
"Bentar ya, Ra," sahut Bang Joel ketika Kinara menghubunginya lewat sambungan ponsel.
"Ini istri gue masih di kamar mandi, jadi gue nemenin anak dulu bentar."
Daripada menunggu di mobil, Kinara memilih keluar. Ia ingin mengirup udara segar sembari melihat lebih dekat apartemen orang kaya di ibu kota seperti apa.
Baru beberapa langkah keluar dari mobil, seseorang memanggil Kinara.
Saat menoleh, betapa kagetnya ia mendapati Arash di hadapannya.
"Lho, Kak Arash?"
Apa ini yang dinamakan jodoh?
Hush Kinara, masih pagi mimpi aja!
"Mau jemput Bang Joel ya?" tebak Arash.
"Iya, kakak ngapain?"
"Apartemen gue juga di sini, Ra."
"Oh...."
"Eh semalem gue tunggu-tunggu, lho."
"Eh, tunggu apa, Kak?"
"Gue pikir, semalem lo bakal langsung hubungin gue, setelah dikasih kartu nama."
Maunya juga gitu, Kak. Tapi gara-gara si Galang sialan itu….
Kinara kembali geram mengingat saat Galang menyobek kartu nama Arash, meremas lalu membuangnya ke tong sampah.
"Gue mau hubungin lo duluan juga ga punya nomernya. Boleh minta nggak?"
"Eh?"
"Minta nomer lo, boleh?" Arash mengulangi pertanyaannya.
"Oh boleh-boleh, Kak." Kinara menyebutkan sederetan angka yang langsung disimpan Arash di phonebook ponselnya, lalu mengirimi pesan pada Kinara supaya gadis itu bisa menyimpan nomornya juga.
"Nggak barengan Galang, ya? Elo, asistennya kan?"
"Iya, Galang udah berangkat duluan, Kak. Dengan Malya." Kalimat terakhir terasa pahit di kerongkongan Kinara saat menyebutnya.
"Tapi, kalian akrab banget ya?" Arash tau hubungan asisten dan artis tidak ada yang seperti Galang dan Kinara, sampai punya panggilan khusus segala. Flo. Dia mendengar jelas, kemarin Galang mengatakan, hanya dia yang memanggil Kinara dengan "Flo".
"Bukan akrab sih, Kak. Lebih ke ... musuhan malah." Kinara tertawa kecil.
"Musuhan?"
"Iya, jadi Galang tuh temen SD, eh kok temen sih, musuh maksudnya. Lah, kok setelah tiga belas tahun, malah ketemu lagi. Apes bener."
Arash tertawa mendengar cerita Kinara yang polos dan apa adanya. Obrolan mereka terhenti ketika Pak Said datang memanggil sambil menyodorkan ponselnya.
"Mbak, Mbak Kinar. Mas Galang nelpon nih, eh video call."
Kinara dapat melihat wajah Galang yang memenuhi layar ponsel.
Pakai video call segala ngapain sih, merusak suasana aja nih orang.
"Bentar ya, Kak. Terima telepon dulu."
Arash tersenyum sambil mengangguk. Galang dapat melihat itu dari layar ponselnya.
"Flo, masuk ke mobil sekarang," titahnya.
"Kenapa Lang?"
"Masuk aja, nggak usah tanya."
"Aku masih nunggu Bang Joel!" Kinara beralasan.
"Tunggu di dalam mobil, Flo! Ini perintah, jangan membantah!"