Kinara datang ke lokasi syuting dengan wajah cemberut. Sementara Galang menyambutnya dengan senyuman, seolah tak terjadi apa-apa barusan.
Ni orang emang ga bisa liat orang seneng keknya.
"Flo!"
"Hem?"
"Senyum, dong!"
Ya gimana bisa senyum, lagi sama gebetan, lo ganggu!
"Flo, tau nggak, vitamin E itu bagus untuk anti oksidan, mencegah penuaan dini dan pelindung sel tubuh dari kerusakan."
"Hah?"
Kinara segera mengecek list yang dibuat Diandra untuk konsumsi Galang sehari-hari, tidak ada vitamin E. Apa Diandra lupa menuliskannya?
"Besok kubelikan." Malas bertanya, Kinara hanya menanggapi ketus.
"Oh, nggak perlu. Vitamin E nya kan elo," ujarnya sambil menunjuk Kinara.
"E-lo!" tegasnya sekali lagi, karena melihat ekspresi bingung gadis itu. Galang berusaha melucu. Tapi Kinara malah mual-mual dibuatnya. Maksa banget, sih!
"Yok, mulai yok!" Suara sutradara membahana disertai tepukan tangan. Para pemain mulai berkumpul di titik lokasi syuting termasuk Galang. Semua kru bersiap dengan alat tempur masing-masing.
"Yak, action!"
"Sayang, perut aku sakit nih." Malya memulai dialognya.
"Kamu belum makan, Sayang?" Galang menatap, penuh rasa kuatir.
Huek, rasa-rasanya Kinara mau muntah melihatnya.
"Belum, Sayang. Aku kan nungguin kamu." Malya melingkarkan tangan pada perut Galang.
"Cut! cut!" tiba-tiba Kinara berteriak lantang. Malya menoleh ke arahnya seraya melepaskan pelukan.
"Nggak ada adegan peluk-peluk di skrip!" Ia mengibar-ngibarkan skrip yang ada di tangannya dengan berapi-api.
Hening. Sekian detik kemudian Kinara baru sadar, semua mata terpaku menatapnya tanpa dapat berkata-kata.
???
Daripada nganggur ketika Galang syuting, waktu menunggu digunakan Kinara untuk berkeliling lokasi. Sesekali ia memotret dengan ponsel bututnya. Beneran butut karena sebagian layarnya sudah retak dan ada beberapa titik hitam yang mengganggu pandangan.
Karena syuting belum selesai juga saat Kinara puas berkeliling dan memotret, ia lalu terpikir mencari info lebih banyak tentang bosnya yang sekaligus kawan eh musuh bebuyutannya jaman SD itu.
Meski pernah satu sekolah selama dua tahun, ia tak terlalu mengenal lelaki itu. Dimana rumahnya, keluarganya, sifat-sifatnya, ia tidak banyak tahu.
Kinara mulai mengetikkan nama "Galang Arnaldo Rezki" di kolom pencariaan, lalu muncullah semua berita tentang Galang. Mulai dari biodata sampai gosip-gosip yang pernah menerpanya.
Kinara tertegun ketika menemukan berita berjudul "Pacar Hamil, Galang Siap Jadi Ayah?"
Berkali-kali ia mengucap istighfar dalam hati, entah mengapa ada rasa kecewa yang menyelusup ke dalam d**a.
"Kalau kepo sama seseorang itu, tanya langsung. Jangan diem-diem nyari di infotainment." Sebuah suara bariton mengagetkannya.
Hampir saja ponsel terjatuh dari tangan. Duh ketauan deh, stalking.
Galang menggeser kursinya tepat di depan Kinara sekarang. "Silakan, mau tanya apa tuan puteri."
Manis sekali bicaranya, apakah pada semua wanita ia perlakukan begitu? Sampai hamil? Oh, lelaki ini harus diwaspadai.
Kinara memundurkan kursinya. "Jaga jarak, Lang!" ucapnya tegas.
"Udah selesai syutingnya? Kita langsung pulang?" Kinara memberondongnya dengan pertanyaan.
"Kamu mau ke mana dulu?" Galang melirik arloji. "Masih ada waktu."
"Nggak mau ke mana-mana. Mau pulang kosan, tidur."
"Yaudah, kita makan dulu."
Hah? Dasar aneh!
Selepas mengantar Bang Joel, mobil meluncur ke sebuah resto. Di restoran yang sudah dipilihkan Galang, Kinara hanya mengaduk-aduk ramen yang dipesannya. Tak berselera makan. Sesungguhnya ia kepo dengan berita yang belum sempat ia baca sampai tuntas.
Galang menghamili pacarnya? Haruskah ia tanyakan itu pada Galang sekarang? Ia menimbang-nimbang.
"Kenapa, Flo? Ada yang kamu pikirkan?" Galang merasa ada yang tak biasa dari Kinara.
"Udah kaya f*******: aja kamu, nanya-nanya yang kupikirkan." Kinara nyolot namun tampak tak b*******h.
"Dimakan Flo, tidak baik nganggurin makanan," tegur Galang.
"Sini!" Galang merebut garpu yang dipegang Kinara, menggulung mie dan menyodorkan tepat di depan mulut Kinara. "Harus disuapin?"
Kinara menggeleng cepat, mengambil kembali garpunya. Ia memilih menyuap makanannya sendiri. "Aku bisa sendiri, jangan kira aku anak kecil!" Dalam hati ia masih menimpali. Atau perempuan-perempuan yang bisa dengan mudah kau kencani.
"Aku add ke grup SD, ya Flo."
Kinara hampir saja tersedak. "Eh, jangan-jangan, udah kubilang, kan, HP ku penuh!"
"Nih!" Galang mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah ponsel keluaran terbaru. Kemarin, Galang tanpa sengaja melihat ponsel Kinara yang kondisinya memprihatinkan. Ia lalu meminta tolong Bang Joel untuk membeli HP baru. Buat hadiah seseorang, hanya itu yang ia katakan pada Bang Joel.
"Untuk apa?" Kinara menatap heran kotak yang dipegang Galang. Ia tahu HP itu harganya mahal sekali, kamera belakangnya saja ada tiga.
"Biar kamu nggak punya alasan lagi nggak masuk grup." Galang nyengir. "HP ini memorinya besar, dua kali lipat dari punyamu yang sekarang."
Kinara menelan ludah. Mau menghindar dengan cara apa lagi dia sekarang?
"Nggak-nggak!" Nasih bersikeras menolak. "Aku nggak mau berhutang budi, apalagi kalau sampai dipotong gaji. Masih banyak keperluan yang lebih penting."
"Terima, Flo! " Nada bicara Galang mulai arogan. "Aku tak mau orang menganggapku tak menggajimu layak, HP ancur begini saja masih dipakai." Galang mengangkat ponsel Kinara lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Kinara mencebik. Ia lupa bagi seorang selebritis, pencitraan itu penting. Jadi bukan semata-mata karena perhatian padanya?
Jangan-jangan, di rumah makan ini ada kamera tersembunyi. Spontan Kinara mengamati sekeliling, overthingkingnya serasa nyata.
Lalu besok akan muncul headline di infotainment. "BERHATI MALAIKAT, GALANG MEMBERI HADIAH PONSEL MAHAL UNTUK RIVAL SEMASA SEKOLAH YANG SEKARANG JADI PEMBANTUNYA."
Kinara begidik membayangkannya.
"Aku bantu aktifkan, ya."
Tanpa menunggu persetujuan Kinara, Galang membuka dus ponsel, memindahkan simcard dari ponsel lama Kinara ke ponsel baru. Setelah mengutak-atik sebentar, ia serahkan ponsel itu pada Kinara.
"Nih, sudah ku-add sekalian ke grup WA SD."
WHAT?
Kinara terlonjak. "Kok main masuk-masukkin orang aja sih, Lang!" protesnya.
"Lho, katamu nggak masuk grup karena memori HP kecil, udah punya yang besar, nggak masalah dong!" Galang membela diri.
"Haiii, welkambek Kinara."
"Wah, ada ibu ketua kelas."
"Gimana kabarnya? Kerja di mana sekarang, Bu?"
"Udah jadi bu dokter, Bu CEO, apa ibu pengusaha nih?"
"Boleh nih, jadi sponsor acara reuni kita nanti."
Grup ramai menyambut kedatangan kembali Kinara, yang sempat left dengan alasan HP error beberapa waktu lalu.
"Lo nggak ngerti sih, Lang!" Kinara berdecak kesal, hampir menangis.
"Nggak ngerti gimana, Flo?" Galang yang melihat raut wajah marah bercampur sedih Kinara, menjadi merasa bersalah.
"Aku nggak mau berhubungan dengan orang-orang di masa lalu." Kinara akhirnya menjawab jujur.
"Kamu lihat kan, respon mereka di grup. Mereka pikir, Kinara si langganan juara kelas sudah jadi orang besar sekarang. Nyatanya, aku hanya seorang lulusan SMA yang sekarang jadi pembantu saingannya semasa sekolah." Kinara terdiam mengatur napas yang sempat terengah-engah.
"Aku habiskan ini di kosan." Gadis itu benar-benar kehilangan selera makan, tapi tak mau meninggalkan makanannya begitu saja. Mubazir. Diambilnya kotak bekal yang telah kosong dari dalam tas, lalu memindahkan ramennya ke wadah itu.
"Aku mau pulang!" Tanpa menunggu jawaban, ia pergi dari hadapan Galang, mendahuluinya menuju mobil.
Galang menghela napas panjang. Ada sesuatu dari gadis itu yang tak diketahuinya. Ia merasa perlu bicara.