9. Ponsel Baru

1108 Words
Setelah meminta pelayan resto membungkus makanan yang baru terjamah sedikit, Galang menyusul Kinara ke mobil. Gadis itu membuang muka begitu ia membuka pintu. "Flo...," panggil Galang setelah sekian lamanya mereka saling diam. "Flo, kenapa...." Galang tak melanjutkan ucapannya, merasa tak enak karena ada Pak Said yang mendengar perbincangan mereka. Melanjutkan obrolan via chat mungkin lebih baik, pikirnya. Ponsel Kinara berbunyi, ada notifikasi pesan masuk. "Flo, marah?" Pesan pertama dari Galang, namun tak dipedulikannya. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak. "Flo, maaf." Tak menyerah Galang mengirimkan pesan lagi. “Flo, haloooo!” “Flo, emang enak dicuekkin?” "Flo, i love uuuu" - massage delete for every one. Klik! Merasa brondongan notifikasi tak mampu menggoyahkan diamnya Kinara, akhirnya Galang bicara langsung kepadanya, "Flo, ponselmu bunyi, ada pesan masuk, kayaknya." Dari gue sih. Kinara masih tetap diam. "Flo, siapa tau ada orang mau kirim duit 100 juta!" Mulai ngelantur karena kehabisan ide, Kinara hanya menanggapinya dengan tatapan sinis. Memangnya aku orang bodoh? "Flo-" "Cerewet amat, sih!" Kinara berbalik menatap Galang, ia mulai naik pitam. Tapi justru itu yang membuat Galang lega. Akhirnya, Flo-nya mau bicara juga. "Buka hpnya, ya?" kali ini Galang lebih terdengar memohon. Karena bosan dirongrong terus oleh Galang, Kinara mengalah, ia mengambil ponsel dari dalam tas, menyentuh layarnya untuk membuka pesan. Ga ada yang penting juga! Kinara melirik sekilas pada Galang, lalu meletakkan ponselnya kembali dalam tas. Yaaah.… "Flo, bales," bisik Galang. "Napa sih, Lang. Kamu cerewet banget, udah kek emak-emak. Diem! Aku lagi pengen menikmati kesunyian." Akhirnya Kinara membalas juga, membuat hati Galang lega. “Butuh teman cerita, Flo?” "Nggak, makasih!" Galang mengembuskan napas, menoleh pada gadis keras kepala di sampingnya dan memilih tak lagi mendesak Kinara untuk bercerita. Di kos, usai bebersih diri, Kinara mengambil ponsel barunya dari dalam tas. Di depan Galang tadi, ia seolah tak peduli, tapi sebenarnya excited juga. Sudah lama ia ingin mengganti ponselnya yang telah uzur. Namun tabungannya selalu terpakai buat ini dan itu. Kinara membolak-balik dus ponsel, lalu mengetikkan merek ponsel barunya itu di pencarian internet. Kepo, berapa sih harganya? Matanya membelalak ketika melihat deretan angka yang senilai lebih dari setengah tahun gajinya. Wow! Meski menyebalkan, Galang baik juga ternyata. Nggak potong gaji kan ini? Denting notifikasi di ponselnya kembali berbunyi bertubi-tubi. Ia melihat cukup banyak pesan baru bermunculan di grup SD. Galang sialan! Sekarang mau left lagi, bingung kan pakai alasan apa. Sama sekali tak berminat untuk membuka, ia malah menonaktifkan settingan centang biru. Pesan-pesan yang telah dibaca saat Galang baru saja menambahkannya dalam grup bahkan tidak dibalasnya. Kinara membaringkan tubuh. Sambil memainkan ponsel baru, pikirannya menerawang. Ia sedang memperhitungkan, dengan gajinya yang sekarang, kapan bisa mendaftar kuliah. Mungkin dengan begitu ia mulai bisa membuka diri lagi dengan orang-orang di masa lalu. Gadis itu bukan tak pernah mencari info beasiswa. Ia sudah melakukannya, namun kebanyakan beasiswa hanya untuk fresh graduate. Sementara ijazah terakhirnya sudah berusia enam tahun, sudah kadaluarsa. Kesibukan membantu ibu mencari nafkah dan memikirkan masa depan adik-adiknya, membuat ia abai begitu lama dengan masa depannya sendiri. Apalagi di tahun-tahun awal meninggalnya sang Ayah, psikis ibunya sempat terguncang, menyebabkan fisik beliau ikut terganggu. Bersyukurnya semua itu telah berlalu, namun ia sadar telah ketinggalan jauh. "Flo, bagaimana HP barunya? Kamu suka?" pesan dari Galang yang langsung nampak di layar ponsel membuyarkan lamunannya. "Hem, makasih," balas singkat Kinara yang masih kesal dengan perbuatan Galang sewenang-wenang tadi. "Kalo sama yang ngasih, suka nggak?" Galang mencoba bercanda meski sebenarnya serius. “Suka. Suka pengen nimpuk." ??? Sebelum berangkat ke lokasi syuting, Kinara sarapan bersama Galang di rumah mewahnya. "Enak nasi gorengnya, Flo?" tanya Galang di sela-sela kegiatan makan bersama mereka. "Enak." Kirana menjawab lalu menyuap sendok terakhir nasi gorengnya. "Siapa dulu dong, yang masak," sahut Galang dengan nada jumawa. Kinara menoleh, ada perasaan takjub yang berusaha disembunyikan. "Kamu, yang masak?" "Bukan. Mbok War." Galang nyengir dengan wajah tanpa dosa. Kinara yang merasa ditipu melempar serbet ke wajahnya. “Dasar!” "Makasih lho, udah diambilin serbet. Lain kali ngasihnya yang lembut dikit ya, Flo. Ini Mas, gitu." Mendengar ucapan Galang yang sok manis, sontak bikin Kinara melotot. Serbet di atas meja kembali dilemparkannya ke arah Galang, yang ditanggapi lelaki itu dengan tawa. Sarapannya kini tak lagi berteman sunyi, ada Kinara yang menemani. Ya, sebelum ini, kecuali jika Diandra dan keluarganya datang, Galang sarapan sendirian. Sesekali Pak Said, Mas Sardi tukang kebun, atau Mbok War asisten rumah tangganya menemani jika diminta. Candaan kedua muda mudi itu di meja makan berakhir ketika mereka mendengar suara ketukan sepatu high heels yang beradu dengan lantai. "Hai, lagi pada sarapan, ya?" Malya langsung mendekati meja Galang, mengambil sesendok nasi goreng dan menyuapkan ke mulutnya sendiri tanpa permisi. "Hmmm, enak." Diambilnya lagi sesendok, disodorkan pada Galang, "Aaak" Ia memberi kode agar Galang mau membuka mulut namun lelaki itu enggan. "Biar aku sendiri." Diambilnya sendok dari tangan Malya, yang ditanggapi dengkusan kesal wanita itu. Sigap Malya mengambilkan minum ketika melihat Galang selesai mengunyah, lalu menyapukan tisu ke bibir lelaki itu, membersihkan noda minyak yang menempel. Woo mesra sekali Bunda, udah kek pasutri aja. Jengah melihat pemandangan di depannya, Kinara memutuskan keluar rumah duluan dan langsung masuk ke dalam mobil, setelah memastikan tak ada barang Galang yang tertinggal. "Naik mobil gue aja, kaya kemarin." Malya menjejeri langkah Galang keluar rumah. Lelaki itu sebenarnya enggan, tapi mau bagaimana lagi, ia tak kuasa menolak permintaan Prodesur dan Sutradara demi sinetron mereka tambah laris di pasaran. “Ke mobil duluan, Mal. Gue mau bicara sama Pak Said.” “Oke, gue tunggu di mobil, ya.” Begitu Malya menjauh, Galang menghampiri Pak Said yang sudah siap di depan kemudi. "Pak, saya naik mobil Malya, ya. Jemput Bang Joel, terus ke lokasi syuting," perintah Galang pada lelaki tua yang sudah hampir sepuluh tahun mengabdi menjadi supir keluarganya itu. "Flo." Galang melongok dari jendela mobil yang masih setengah terbuka. "Ya, ya, pergilah!" Kinara yang merasa tahu apa yang akan diucapkan Galang menjawab sinis. "Ikut aku." Tak sesuai dugaan Kinara, ternyata Galang memintanya untuk ikut. "Nggak!" Membayangkan menjadi obat nyamuk diantara Galang dan Malya membuatnya menolak tegas. "Aku ikut Pak Said aja." “Kenapa? Biar bisa ketemu Arash di apartemennya?” Hah? Kinara sesungguhnya sama sekali tak kepikiran sampai ke situ, tapi ucapan Galang membuatnya berpikir 'Bagus juga sih, kalau bisa ketemu Arash. Itu namanya sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.' "Ya emang kenapa, kalo ketemu Kak Arash." "Aku nggak suka." "Yang ngga suka situ, kok sini yang ga boleh ketemu." “Flo, nurut!” "Nggak!" "Flo!" Perdebatan mereka terhenti saat ponsel Kinara berdering. Video call dari Kak Arash? Kenapa Bisa sekebetulan ini. "Ya, Kak?" ucap Kinara setelah mengusap tombol terima panggilan. "Kinara, kok belum jemput Bang Joel? Udah gue tungguin lama lho, di parkiran."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD