10. Kondangan

1001 Words
"Ini baru mau berangkat, Kak!" Galang melotot mendengar jawaban Kinara. Anak ini, nekat mau ketemu Arash? "Oke, sampai ketemu di parkiran." Nampak Arash melambaikan tangan dari layar ponsel. "Udah, tutup dulu teleponnya." "Kakak tutup duluan." "Kamu aja." "Nggak. Kakak kan yang nelpon." "Gapapa, kamu aja." "Kakak-" Tut! Galang merebut ponsel Kinara dan mematikan sambungan telepon. "Kelamaan! Ganjen amat! "Apaan sih, Lang. Masih pagi udah ngerusak kebahagiaan orang aja!" bentak Kinara. "Sama aku, kasar bener. Giliran sama orang lain aja, lemah lembut!" Galang protes. "Ya gimana mau lembut kalo kelakuan lo, kek lelembut gini!" Kinara memutuskan untuk menyudahi pertengkaran dan masuk ke mobil."Jalan, Pak!" perintah Kinara pada Pak Said.Tapi Galang datang memberi perintah berbeda. "Jangan!Kamu ikut aku, Flo." "Nggak mau!" Kinara bersikeras dengan pendiriannya. "Ayo Pak, jalan. Bang Joel udah nungguin." Galang tersenyum sinis. "Yang nunggu bukan Bang Joel, kali!" Sebelah tangannya menahan pintu agar tak tertutup. "Lang, mulai lagi deh!" "Nurut aja kenapa sih, Flo?" Pak Said bergantian menatap Galang dan Kinara. Mana yang harus diturutin sih, ini. "Masih lama berantemnya? Bapak tinggal ngopi dulu ya." "Mal, Kinara ikut kita sekalian," ujar Galang setelah gadis itu mengalah, terpaksa menuruti perintahnya. Malya menatap tak suka. "Yaudah, depan lo!" ujarnya sedikit membentak. "Gue aja yang di depan." Galang membuka pintu mobil bagian belakang."Masuk, Flo!" Setelahnya gantian pintu depan sebelah sopir ia buka, lalu masuk begitu saja meninggalkan Malya yang masih menunggu."Lho, lho, gue nggak dibukain pintu nih?" Malya menghentak-hentakkan kaki. Ketika sadar tak ada yang peduli kecuali semut merah yang berbaris di dinding, ia masuk sendiri ke dalam mobil sambil menggerutu tak jelas. ??? "Tiket pesawat ke Solo udah gue email, Lang," ucap Bang Joel tanpa menoleh. Duduk manis di sebelah sopir dalam perjalanan pulang usai syuting, Bang Joel masih tetap sibuk dengan gadgetnya. Membalas pesan penawaran kerjasama dari beberapa agency. "Mobil sewa di Solo juga udah siap, kamar hotel, tinggal tiket balik lo yang belum. Nyusul ya." "Sip!" jawab Galang singkat lalu mengecek email masuk dari Bang Joel. "Mau pergi?" tanya Kinara yang diam-diam menyimak pembicaraan mereka sambil pura-pura membaca buku. "Iya, jangan kangen ya!" "Dih! Seneng malah, kamu pergi aku bisa liburan." "Liburannya di Solo, soalnya kamu ikut. "Hah? Kinara spontan menutup buku yang dibacanya. "Galang ada kondangan di Solo, Ra," terang Bang Djoel. Bah! Emang aku istrinya, nemenin kondangan segala. "Kondangan doang. Pergi sendiri napa sih, Lang. Nggak bisa ya nggak ngasih kerjaan aku?" omel Kinara. "Bahaya kalo pergi sendiri, Ra. Apalagi abis itu dia ada agenda nengok kafe ke Semarang. Takut nyangkut nggak pulang-pulang." Bang Djoel tergelak, teringat tiga bulan lalu saat kafe baru dibuka, adaaa aja alasan Galang memperpanjang waktu untuk tetap tinggal di Semarang. "Nggak lah Bang, sekarang udah nggak ada alasan lagi gue di sana lama. Udah jadi punya orang." Semarang? Udah jadi punya orang? Maksudnya, Galang punya mantan di Semarang? Kinara penasaran. Mau bertanya langsung namun diurungkannya. Bisa habis diledekin lagi dia nanti. "Emang nggak ada syuting, Lang?" Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya. "Minggu kan libur. Kita berangkat sabtu sore, kondangannya malem, setelah itu ke Semarang, kencan." Kening Kinara berkerut. "Eh, nengok kafe maksudnya. Minggu sore balik." Kinara mencatat di buku agendanya. Termasuk mulai membuat list barang-barang apa saja yang perlu Galang bawa. Sebagai asisten, Kinara tak dapat mengelak. Tugasnya memang mendampingi Galang, kapanpun dibutuhkan. ??? Di bandara, Kinara banyak diam. Apalagi setelah mendengar informasi dari pengeras suara bahwa pesawat mereka akan berangkat, mukanya berubah pucat."Flo, kamu sakit?" tanya Galang sambil memasang sabuk pengamannya. Sebenarnya dari tadi ia sudah mengamati ada yang aneh dari Kinara. Mulai dari wajahnya yang pucat sampai bolak-balik ke kamar mandi untuk buang hajat. Tapi Kinara selalu mengatakan tidak apa-apa tiap kali ditanya. "Aku... aku... takut naik pesawat." Akhirnya gadis itu menjawab jujur. "Pegang tanganku kalau takut, Flo." Galang menengadahkan tangan ke arah Kinara yang hanya dijawab dengan gelengan. Sori ya! "Katanya, memeluk dapat meredakan kecemasan." Kinara menoleh lalu menoyor kepala Galang. "Maksudnya aku harus peluk kamu gitu?" Galang tertawa kecil. "GR aja sih kamu!" Ia merogoh kantongan kertas besar yang dibawanya masuk dalam pesawat. "Peluk ini." Diberikannya sebuah boneka monyet lucu dengan baju overall berdasi pada Kinara. Padahal sebenarnya, boneka itu ia beli untuk hadiah Rania, bocah kecil yang akan ditemuinya di Semarang nanti. "Boneka siapa, Lang?" Kinara heran, ngapain Galang pergi-pergi bawa boneka segala. Apakah itu salah satu kelakuan absurd yang belum diketahuinya? "Oh, itu tadi, pas mampir toko lihat ada boneka bagus, jadi iseng aja beli. Akhirnya bermanfaat juga, kan." "Hem." Kinara memaksakan diri untuk percaya, malas bertanya panjang. "Ya udah, aku pinjam dulu ya." "Buat kamu aja, biar serasa aku temenin terus." Galang mengedipkan sebelah mata, sengaja meggoda Kinara, usilnya kambuh. "Buang tong sampah nih!" ??? Dengan baju batik lengan panjang berwarna cokelat keemasan, Galang datang ke kondangan. Tampak serasi dengan Kinara yang menggunakan dress panjang paduan warna coklat s**u dan coklat tua dengan wajah berhias make up tipis. Berjalan beriringan menuju gedung, dari kejauhan Kinara melihat seseorang yang familiar baginya. Tak lama, nampak seorang lagi yang wajahnya tak asing dalam ingatan. Perasaannya mulai tak enak. "Kinara!" tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Seorang wanita cantik, menggunakan dress biru kombinasi satin dan brokat serta berhigh-heels. "Eh, bener ini Kinara kan?" Perempuan itu mendekat begitu Kinara menoleh. Berarti ia tak salah memanggil orang. "Ra, apa kabar?" Dipeluknya Kinara yang masih berusaha mengingat, ini siapa ya. Menjadi cukup sulit karena wanita itu menggunakan riasan tebal yang menutupi wajah aslinya. Saat menoleh ke samping, ia melihat Galang sudah tak ada."Aku Fitria, lupa ya?" Wanita itu melonggarkan pelukan. "Fitria... teman SD?" Seingatnya ia hanya punya satu teman bernama Fitria, yaitu teman SD nya. "Yaiyalah! Aku pikir kamu nggak datang karena diem aja di grup. Ternyata datang juga. Sama siapa?" Kinara kembali bengong. Jadi Galang kondangan ke nikahan teman SD? Teman SD mereka? Bodohnya, kenapa aku kemarin tidak bertanya. "Eh, itu Chika." Fitria menunjuk sesorang yang melambaikan tangan ke arahnya.Kinara gelisah, tangannya mulai berkeringat. Ia bahkan belum menyiapkan mental untuk bertemu teman-teman SDnya. Jika mereka nanti bertanya, 'Kerja di mana kamu sekarang?' ia mau menjawab apa. Galang sialan! Apa sengaja ia menjebakku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD