Mulanya seorang, dua orang, tiga orang, lalu entah berapa orang teman SD yang ada di hadapan Kinara saat ini, ia tak sanggup menghitung. Mendadak matanya berkunang-kunang, perutnya mual, badannya mulai limbung.
"Kinara, kamu nggak apa-apa?" Hanya sekilas saja Fitria mengkuatirkan Kinara, selanjutnya perhatiannya tertuju pada lelaki yang dengan sigap menahan punggung Kinara agar tak terjatuh.
"Ya ampuun, Galang, kan!"
Sudah sejak tadi Galang memperhatikan Kinara dari kejauhan. Saat turun dari mobil bersama Kinara lalu berjalan menuju gedung resepsi, seorang kawan SD menyapa dan menariknya begabung dengan kawan lainnya, meninggalkan Kinara yang tengah melihat Fitria di arah berlawanan.
Teriakan Fitria membuat rekan-rekannya yang sedang berkumpul dan saling mengobrol satu sama lain menoleh.
"Gilaa, temen artis kita datang juga!"
"Eh, fotoin dong, tolong!"
"Kinara, fotoin aku ma Galang ya." Salah seorang teman menyodorkan ponselnya pada Kinara.
Hah aku?
Tidak ada yang peduli dengan kondisinya yang sedang kurang sehat saat ini, semua orang hanya fokus dengan Galang, Galang, dan Galang.
"Kalo Galang sekarang jadi artis terkenal, Kinara sekarang jadi apa? Kepo deh dari kemaren di grup nggak ada yang jawab."
"Iya, dulu Galang dan Kinara kan saingan berat."
"Tom n Jerry nya kelas kita."
Tawa membahana diantara mereka. Kinara menelan ludah, entah apa jawaban yang harus diberikan. Kalau di grup ia masih bisa keep silent, sekarang, tatap muka begini, bagaimana caranya menghindar.
Galang memang kurang ajar!
"Kinara sekarang...." Semua mata tertuju pada Galang yang membuka suara. Tak terkecuali Kinara.
Bagus, bongkar aja aibku sekarang, Lang!
"Kinara sekarang partner kerjaku."
Sebuah pilihan kata yang lebih berkelas daripada hanya menyebutnya sebagai asisten. Kinara merasa lega.
"Wah, jadi kalian udah akur sekarang, ya!" celetuk salah seorang teman.
"Emang dulu Kinara kuliah di mana sih?" Masih saja ada yang kepo akan hal ini. Membuat Kinara kesal.
"Kinara nggak kuliah." Galang menjawab enteng, membuat Kinara mendelik. Mati-matian ia menyembunyikan statusnya yang hanya lulusan SMA, kini Galang membongkarnya begitu saja.
"Kinara itu, berwirausaha setelah lulus SMA," terang Galang lagi. "Tapi tahun ini dia mau mendaftar kuliah, kok."
Tidak ada komentar buruk atau pandangan meremehkan dari teman-teman Kinara. Di satu sisi gadis itu merasa lega, mungkin ia perlu berterima kasih pada Galang. Tapi di sisi lain....
Kenapa juga dia bilang aku mau daftar kuliah tahun ini sih? Darimana duitnya coba?
"Lang! Kamu tuh bikin masalah baru tau nggak!" omel Kinara setelah mereka meninggalkan gedung resepsi dan menuju mobil.
"Setelah ini, pasti bakalan ada yang nanya, Kinara kuliah di mana, jurusan apa? Aku harus jawab apaaa?" Gadis itu mencengkram kepalanya dengan kedua tangan, frustasi.
"Ya sekarang aku tanya, kamu kepengen kuliah dimana? jurusan apa?"
Kinara lantas menyebut salah satu universitas begengsi yang ada di Jakarta beserta jurusan yang ia inginkan.
Kalau sudah tau memang dia mau apa?
Galang mengambil ponselnya. "Bang Joel, Senin besok, tolong urus pendaftaran mahasiswa baru untuk Kinara. Dia akan masuk kuliah di tahun ajaran baru ini."
Kinara ternganga.
"Lang, tapi-"
"Kalau dengan kuliah bisa membangkitkan rasa percaya dirimu, aku ingin secepatnya kau mendaftar."
"Tapi, aku belum punya...." Kinara menggantung kalimatnya.
"Soal uang jangan pikirkan, aku yang akan menanggung semuanya." Galang paham apa yang ada di pikiran Kinara.
Tapi harga diri Kinara menolaknya. "Nggak!" sahutnya tegas.
"Akan aku bayar, pasti aku bayar. Jangan meremehkan aku, Lang!"
"Oke, oke. Silakan." Galang tak mau memperpanjang masalah.
"Kau bisa potong separuh gajiku tiap bulan."
"Ya, ya, terserah kau, lah!"
"Tapi, Kak Diandra? Apa dia setuju?" Tiba-tiba Kinara teringat Diandra, yang sudah merekrutnya menjadi asisten Galang.
"Kak Diandra urusanku, akan kubilang padanya, aku yang suruh kau kuliah, karena tak mau punya asisten yang bodoh!"
Kinara mendelik, tak terima disebut bodoh.
"Kenapa? Memang kau bodoh, kan, karena tidak kuliah." Galang bicara enteng.
"Kurang ajar!" Sebuah jitakan mendarat di kepala Galang.
"Memangnya kalau tidak kuliah lantas bisa disebut bodoh? Ilmu bisa didapat dari mana saja, kan, Lang."
"Nah, itu baru pintar." Galang mengusap sekilas pucuk kepala Kinara. "Jadi, jangan pernah lagi merasa rendah diri di hadapan siapapun. Oke?"
Di detik ini, Kinara mendadak bagai anjing kecil manis yang tak berkutik di hadapan tuannya. Lelaki ini bisa berkata benar juga rupanya.
???
Galang dan Kinara check out pagi-pagi dari hotel. Pukul tujuh mereka sudah berangkat menuju Semarang untuk mengecek bisnis kafe milik Galang.
Sepanjang perjalanan, Galang lebih banyak diam. Tak banyak meledek Kinara seperti biasa. Sesekali ia membetulkan kancing dan kerah bajunya, padahal tak ada sedikitpun yang salah dengan itu semua.
"Kenapa, Lang?" tanya Kinara ketika sekali lagi pria itu membetulkan kerah bajunya.
"Sudah rapi, kok." Kinara ikut memperhatikan kerah baju Galang.
"Oh, nggak apa-apa."
Galang lalu mengecek ponselnya. Kancing-kerah baju-ponsel hanya itu fokus Galang selama di mobil. Meski mengaku sudah move on akan patah hatinya dengan Nadia, entah mengapa bakal pertemuannya kembali dengan perempuan itu membuatnya sedikit grogi.
Lelaki itu turun dari mobil dengan mengenakan kacamata hitam. Sebuah kantongan kertas berisi boneka tak lupa dibawanya. Semalam, sepulang dari kondangan, Galang mengajak Kinara mengunjungi toko mainan, membeli pengganti boneka monyet yang sudah diberikannya untuk Kinara.
Dari parkiran, ia dapat melihat kafe yang sudah ramai dengan sekumpulan orang. Mereka nampak sibuk memotret. Ada yang menggunakan kamera HP, ada pula yang menggunakan kamera DSLR.
"Galang!" Seorang lelaki tiga puluh lima tahun yang berpenampilan rapi berjalan mendekati Galang lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Kamu kembali, sudah move on rupanya." Tawanya pecah.
Galang menanggapinya dengan senyuman hangat. "Aku nggak akan lama di sini Bang, cuma mampir sebentar terus balik Jakarta."
"Oh, iya. Kenalkan ini asistenku sekarang. Kinara." Tangan Galang mengarah pada Kinara.
"Oh, Kinara, halo. Saya Wira, yang dipercaya Galang mengelola kafe ini."
Kinara mengangguk hormat.
"Hati-hati ya, Kinara, biasanya jabatan asisten itu hanya modus Galang untuk mendekati wanita," canda Wira yang diikuti tawa kecil oleh Galang.
"Nah, itu korban sebelumnya." Wira menunjuk seorang wanita cantik berhijab yang tengah menggandeng seorang anak balita. "Tapi sayang, mission failed." Lelaki itu tertawa lagi. Sementara Galang yang tak terlalu serius menanggapinya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Kinara ikut tersenyum, bingung juga harus merespon apa.
Hmm, jadi wanita itu yang dimaksud Bang Joel tempo hari?
Tak lama gadis kecil yang digandeng wanita itu menoleh. Galang nampak melambaikan tangannya pada gadis kecil yang menatap terus ke arahnya. Gadis itu pernah dekat dengan Galang, sewaktu sang ibu menjadi asisten Galang selama di Semarang. Tapi itu sudah cukup lama, tiga bulan lalu, dan selama itu mereka tak pernah saling berhubungan. Mungkin saja dia lupa, tapi masih sedikit ingat dengan rupa Galang yang familiar.
Galang memberanikan diri mendekat.
"Halo, Sayang, masih ingat Om, kan?"
Ibu si gadis cilik menoleh. "Pak Galang!" Ia nampak terkejut dengan kedatangan Galang yang tiba-tiba.
"Hai Nadia, apa kabar?" Galang berusaha nampak santai, meski ada sedikit grogi melandanya. "Sepertinya kau sibuk, biar Rania kubawa, ya."
"Nggak juga Pak, cuma ada event food fotografi, nungguin food blogger ambil foto aja sih, terus nanti dipilih foto terbaik untuk mendapat hadiah voucher makan."
Galang manggut-manggut mendengar penjelasan Nadia. Menyadari kehadiran Kinara di sampingnya, ia lalu memperkenalkannya pada Nadia. "Oh, iya, ini Kinara asistenku."
Tersenyum sembari menjabat tangan, Nadiapun menyebutkan nama, lalu berseloroh, "Halo Kinara, yang sabar jadi asisten Pak Galang ya."